Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Naga Langit dan Bayangan Tengkorak Hitam
Angin gunung Lawu mendesir panjang, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa hangus energi yang berbenturan.
Di tengah arena yang hancur, Yue Liang Shu berdiri tegak. Pedang gelapnya terangkat sejajar dada, namun ada yang berbeda dari cara ia menggenggam hulu pedang itu.
Sorot matanya telah berubah total. Bukan lagi tatapan tajam seorang pemburu yang haus kemenangan, melainkan sebuah tatapan kosong yang penuh kepasrahan. Ia seolah-olah sudah melepaskan ikatannya dengan dunia fana.
Wang Long, dengan intuisi naganya yang tajam, segera menyadari perubahan frekuensi energi di depannya. "Kau… berniat mati?" tanyanya datar, namun ada nada keprihatinan yang terselip di sana.
Yue Liang Shu tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit dari seorang pria yang merasa jalannya sudah buntu. "Pendekar bayaran sepertiku tidak boleh gagal dua kali dalam satu tugas, Anak Muda. Itu adalah hukum rimba kami."
Tiba-tiba, tenaga dalamnya melonjak liar. Namun, alih-alih memancar ke luar untuk menyerang, energi itu justru berputar ke dalam, menusuk meridian utamanya sendiri.
Ia memaksa jantung dan dantian-nya bekerja di luar batas kemanusiaan, membakar esensi hidupnya menjadi bahan bakar kekuatan terakhir.
Beberapa tetua di balkon langsung terbelalak, wajah mereka memucat.
"Itu teknik penghancur meridian!"
"Gila! Dia akan meledakkan inti tenaganya sendiri untuk membawa musuhnya ke liang lahat!"
Yue Liang Shu meraung keras. Aura hitam di sekujur tubuhnya berubah menjadi merah gelap yang mengerikan, sewarna dengan darah yang menggumpal.
Urat-urat di leher dan dahinya menonjol seperti akar pohon yang hendak pecah. Pedang di tangannya bergetar hebat, mengeluarkan dengungan kematian.
"Jurus Terakhir… Bayangan Menelan Jiwa!"
Langit di atas Lawu seakan meredup, seolah-olah cahaya matahari pun takut pada kegelapan yang sedang dimampatkan.
Seluruh tenaga dalam Yue Liang Shu terkumpul dalam satu titik merah yang berdenyut di ujung pedang. Namun di saat yang sama, retakan-retakan halus mulai muncul di kulit tangannya, mengeluarkan uap panas.
Jika jurus itu dilepaskan, ia akan hancur menjadi debu, dan ledakan energinya akan menyapu siapa pun dalam radius lima tombak tanpa sisa.
"Menjauh! Cepat menjauh dari arena!" teriak para murid dalam kepanikan.
Sin Yin mengepalkan tangannya hingga bergetar, matanya tak lepas dari Wang Long.
"Bodoh! Apa yang kau tunggu?!" desisnya cemas. Sementara Yue Lan hanya bisa menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkeram jubahnya sendiri.
Namun, Wang Long tidak bergerak mundur. Ia justru melangkah maju dengan tenang, seolah berjalan di taman bunga.
"Kau tak perlu mati hanya untuk membuktikan harga dirimu yang semu itu," ucapnya.
Yue Liang Shu tertawa pahit, suaranya parau. "Kau terlalu muda untuk mengerti hitam-putihnya dunia kami, Naga!"
Tanah di bawah kaki Yue Liang Shu mulai retak membentuk lingkaran sempurna, dan pedang gelap itu kini menyala merah darah yang menyilaukan. Satu detik lagi, ledakan itu akan membinasakan segalanya.
Tepat pada saat kritis itu, Wang Long menarik napas panjang. Kedua matanya memantulkan kilau emas yang sangat terang dan murni.
Aura hangat yang sangat luas menyelimuti tubuhnya—bukan aura tajam yang memotong, melainkan aura agung yang menenangkan badai.
"Tenaga Naga Langit…"
Wang Long mengangkat telapak tangannya perlahan. Gerakannya sangat anggun. Ia tidak menghantam, tidak pula memukul. Ia hanya mendorongkan telapak tangannya dengan lembut ke arah dada Yue Liang Shu.
"Tapak Naga Menenangkan Badai."
Plak!
Telapak tangan Wang Long menyentuh dada Yue Liang Shu tepat di atas titik dantian. Dalam sekejap, aura merah gelap yang liar itu bergetar hebat, persis seperti api yang disiram hujan deras.
Tenaga naga langit yang murni mengalir masuk ke tubuh Yue Liang Shu, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membungkus dan menekan inti tenaga yang hendak meledak tadi.
"Tidak…! Bagaimana bisa…?" Yue Liang Shu membelalak, ia merasa energinya yang liar tiba-tiba dipaksa tunduk oleh kekuatan yang jauh lebih besar dan tenang.
Cahaya di ujung pedangnya padam. Retakan di kulit tangannya menghilang perlahan.
Aura merah gelap itu meredup, terhisap kembali ke dalam tubuhnya, lalu lenyap tak bersisa. Pedang gelap itu terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting di atas batu.
Trang!
Yue Liang Shu terhuyung, tubuhnya terasa ringan namun kosong. Ia tidak meledak. Ia tidak mati.
Ia hanya terduduk lemas di atas tanah, napasnya tersengal. Dantian-nya kini kosong melompong, namun ajaibnya, organ dalamnya tetap utuh tanpa kerusakan permanen.
Sunyi senyap menyelimuti seluruh arena. Seorang tetua berbisik dengan suara gemetar, "Dia… dia sanggup menghentikan teknik bunuh diri tingkat tinggi tanpa melukai pelakunya sedikit pun. Pengendalian tenaga yang mustahil…"
Ketua Perguruan Awan Putih menatap Wang Long dengan tatapan yang kini penuh dengan rasa hormat dan syukur. "Anak muda itu… memiliki kebijaksanaan yang melampaui usianya."
Sin Yin akhirnya bisa bernapas lega, sebuah senyum bangga tersungging di bibirnya. "Dia memang selalu begitu, tidak bisa melihat orang mati sia-sia," gumamnya.
Yue Lan mengangguk kecil, menatap sosok Wang Long dengan binar ketertarikan yang lebih dalam. "Dan dia memilih untuk memberikan pengampunan di saat ia punya hak untuk menghakimi."
Yue Liang Shu menunduk, menatap telapak tangannya yang gemetar. "Kau… kenapa kau menyelamatkanku?"
"Karena aku tidak ingin darahmu tumpah untuk alasan yang sia-sia," jawab Wang Long tenang sembari menurunkan tangannya. "Dan karena kau masih punya pilihan untuk hidup lebih baik."
Pria itu tertawa kecil, sebuah tawa yang sarat akan beban masa lalu. "Kau benar-benar tidak tahu apa yang sedang kau hadapi, Naga Muda… Konspirasi di balik kehadiranku di sini bukan sekadar masalah uang."
Semua orang di arena mendadak menegang, menajamkan pendengaran mereka.
"Ada tokoh-tokoh besar dunia persilatan yang bergerak di balik layar, menggerakkan bidak-bidak mereka," lanjut Yue Liang Shu.
"Siapa? Siapa yang berani mengusik ketenangan dunia persilatan?!" tanya Ketua Awan Putih dengan suara berwibawa.
Yue Liang Shu menyeringai tipis, matanya menatap tajam ke arah Wang Long. "Partai Tengkorak Hitam."
Nama itu jatuh seperti petir di siang bolong. Wajah para tetua seketika berubah pucat pasi, seolah-olah baru saja mendengar nama iblis.
"Tidak mungkin… organisasi sesat itu sudah lama lenyap dibasmi puluhan tahun lalu!"
"Tidak," sahut Yue Liang Shu pelan.
"Mereka tidak pernah benar-benar lenyap. Mereka hanya bersembunyi di balik bayangan, mengendalikan arus dunia persilatan dari kegelapan. Dan kemunculanmu, Naga… dianggap sebagai ancaman bagi keseimbangan palsu yang mereka bangun selama ini."
Sunyi panjang kembali menyelimuti arena. Namun, Wang Long tidak tampak terkejut. Ekspresinya tetap datar, seolah ia sudah menduga bahwa takdirnya tidak akan pernah sederhana.
"Kalau begitu, sampaikan pesan ini pada mereka jika kau bertemu lagi," kata Wang Long dengan suara yang bergema kuat. "Aku tidak mencari musuh. Tapi jika mereka memilih untuk datang padaku… aku tidak akan pernah mundur selangkah pun."
Yue Liang Shu menunduk perlahan, memberikan penghormatan tulus. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kalah telak—bukan hanya oleh kekuatan fisik, tetapi oleh kelapangan hati sang pemuda.
Namun, suasana tegang itu tidak berlangsung lama. Begitu berita kemenangan mutlak Wang Long menyebar ke seluruh halaman luar perguruan, atmosfer berubah drastis. Gadis-gadis dari berbagai perguruan tamu yang hadir mulai berbisik-bisik genit di balik kipas mereka.
"Lihat… itulah dia, Sang Pewaris Naga. Gagah sekali, bukan?"
"Wajahnya juga sangat tampan, tatapannya begitu menenangkan…"
"Dan dia sangat baik hati, bahkan menyelamatkan musuhnya sendiri. Sungguh pendekar idaman!"
Beberapa gadis mulai memberanikan diri mendekat ke arah arena, berpura-pura ingin menanyakan kondisi kesehatan Ketua Perguruan, namun mata mereka jelas-jelas terkunci pada sosok Wang Long yang sedang berdiri sendiri.
Sin Yin, yang masih berdiri tak jauh dari sana, merasakan sesuatu yang panas membakar dadanya—dan itu bukan tenaga dalam. Alisnya berkerut tajam.
"Apa perguruan mereka tidak mengajarkan etika dan jadwal latihan? Kenapa mereka semua berkumpul di sini?" gumamnya dengan nada yang sangat dingin.
Yue Lan, yang menyadari perubahan ekspresi sahabatnya, tersenyum geli. "Sepertinya pesona naga jauh lebih menarik bagi mereka daripada mempelajari jurus pedang baru, Sin Yin."
Salah satu gadis paling berani dari Perguruan Bunga Melati melangkah maju mendekati Wang Long.
"Tuan Muda Wang… apakah kau terluka? Baju bahumu robek… biar aku bantu membalutnya dengan kain sutraku," ucapnya dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
Sebelum Wang Long sempat menjawab, Sin Yin sudah melesat berdiri tepat di antara mereka. "Tidak perlu repot-rekan," ucap Sin Yin dengan senyum yang terlihat manis namun sorot matanya setajam belati.
"Dia baik-baik saja di bawah perawatanku."
Gadis itu langsung mundur dengan wajah canggung, merasakan aura membunuh yang keluar dari Sin Yin. Namun, dua gadis lain justru muncul dari sisi lain, mencoba menyapa Wang Long.
Wang Long yang biasanya tenang menghadapi musuh bersenjata, kini terlihat kebingungan dan kikuk menghadapi kerumunan gadis.
"Aku… aku benar-benar tidak apa-apa, sungguh. Terima kasih atas perhatiannya…"
Sin Yin menoleh dan memelototi Wang Long dengan tatapan yang sanggup membekukan api. "Kau. Diam saja."
"Eh? Kenapa?" tanya Wang Long polos.
"Diam!" bentak Sin Yin singkat.
Yue Lan hanya bisa menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir meledak. Bidadari Maut yang biasanya dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin dan tanpa emosi, kini menunjukkan aura cemburu yang membumbung tinggi hingga ke tingkat dewa.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Wang Long merasa bahwa menghadapi puluhan gadis yang merayunya jauh lebih sulit dan melelahkan daripada menghadapi pendekar bertopeng emas dengan jurus bunuh diri.
Di bawah langit Lawu yang kembali cerah, Sang Naga muda kini menyadari bahwa perjalanannya baru saja memasuki babak baru yang tak kalah berbahaya.
Bukan hanya badai konspirasi dari Partai Tengkorak Hitam yang mengancamnya, melainkan juga badai yang jauh lebih rumit bernama… cinta dan kecemburuan.
Bersambung...