di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Rina melirik jam dinding dengan gelisah. Pikirannya berputar mencari strategi baru. Ia tahu, kalau ia tetap di dapur, cepat atau lambat Rohman akan menyeretnya kembali ke "zona bahaya". Mata tajam Rohman yang terus memperhatikannya sambil menyeruput teh itu benar-benar membuat Rina merasa seperti buronan kelas kakap.
"Bun... Bunda, sekarang Rina mau keluar ya!" ucap Rina tiba-tiba sambil meletakkan sisa tempenya dengan terburu-buru.
Bunda menghentikan aktivitas menggorengnya dan menoleh dengan kening berkerut. "Lho, mau keluar ke mana, Nak? Ini baru jam lima pagi lho! Toko-toko saja belum buka. Dan kenapa nggak minta izin sama suaminya saja, kok malah sama Bunda?"
Rina melirik Rohman sekilas, pria itu hanya menaikkan satu alisnya, terlihat sangat menikmati kepanikan istrinya.
"Gawat ini, Bunda! Aku... aku harus pergi keluar sekarang juga! Kunci motor Supra aku mana? Aku harus pergi ke rumah Salsa... eh, maksudnya ke rumah dosen! Iya, ke rumah dosen mau ambil berkas penting yang ketinggalan!" seru Rina asal-asalan, memberikan alasan yang bahkan telinga orang awam pun tahu kalau itu bohong.
Imron yang baru saja muncul dari arah kamar mandi sambil menggosok rambutnya dengan handuk, langsung menyambar, "Dosen apaan yang jam lima pagi sudah nerima mahasiswa ambil berkas, Dek? Dosen gaib? Lagian rumah Salsa kan di ujung kota, motor Supra lo bensinnya sudah tipis semalam gue pakai beli pulsa."
Rina melotot ke arah kakaknya. "Cak Imron diam saja deh! Pokoknya Rina harus pergi!"
Rohman meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas meja. Bunyi denting keramiknya terdengar begitu tenang namun berwibawa.
"Berkas apa yang begitu penting sampai kamu mau pergi di jam segini tanpa cuci muka dulu, Sayang?" tanya Rohman dengan nada yang sangat lembut, namun matanya mengunci mata Rina. "Kalau memang penting, Mas saja yang antar. Pakai mobil lebih hangat, daripada kamu kedinginan naik motor sendirian."
"Nggak! Nggak usah!" tolak Rina cepat. "Aku... aku mau naik motor saja biar cepat nyelip-nyelip!"
"Rina," panggil Ayah yang baru saja masuk dari pintu depan setelah pulang dari masjid. "Suamimu benar. Jam segini di luar masih gelap, rawan. Lagian, kamu itu baru saja sah jadi istri semalam, masa pagi-pagi sudah mau keluyuran ninggalin suami? Nanti dikira orang kalian lagi berantem."
Rina merasa terjepit. Ayah, Bunda, dan Imron sepertinya berada di pihak Rohman semua.
"Mas temani ya?" tawar Rohman lagi. Ia berdiri dari kursinya dan melangkah perlahan menuju Rina. "Mas juga ingin kenal sama Salsa atau dosenmu itu. Siapa tahu Mas bisa bantu diskusi soal berkasmu."
Rina memundurkan langkahnya sampai mentok ke tembok dapur. "E-eh... tiba-tiba aku ingat, Mas! Ternyata berkasnya... berkasnya digital! Iya, ada di email! Nggak jadi pergi deh!"
Rohman tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat renyah namun "mengancam" bagi Rina. Ia berhenti tepat di depan Rina, menghalangi jalan keluar gadis itu.
"Oh, jadi ada di email?" Rohman mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di depan wajah Rina yang memucat. "Kalau begitu, karena tidak jadi pergi, kita punya banyak waktu untuk melanjutkan pembicaraan yang tertunda di kamar tadi, kan? Ayo, Bunda sudah mau mulai masak besar, kita jangan mengganggu di sini."
Bunda mengangguk setuju. "Iya, Nak Rohman, bawa saja Rina ke kamar. Dia dari tadi ganggu Bunda goreng tempe saja."
"Bunda! Ayah! Tolongin Rinaaa!" teriak Rina saat Rohman dengan santainya merangkul bahunya dan membimbingnya kembali menuju lorong kamar.
"Semangat, Dek! Jangan lupa latihan napas!" teriak Imron tanpa perasaan dari meja makan, yang langsung disambut lemparan serbet oleh Rina—namun sayangnya meleset karena Rohman sudah lebih dulu menariknya masuk ke dalam kamar.
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang sangat mematikan bagi nyali Rina. Rohman benar-benar memutar kunci itu dua kali, lalu menyimpannya di saku sarungnya dengan tatapan yang sangat tenang, namun sarat akan maksud tertentu.
Rina menelan ludah. Ia melirik ke arah ranjang, lalu ke arah Rohman yang kini berjalan perlahan mendekatinya. Otak jenius—atau lebih tepatnya otak licik—Rina segera berputar 180 derajat. Strategi "kabur" gagal total, maka sekarang saatnya menggunakan strategi "diplomasi maut": Menjadi istri yang lemah lembut agar sang Ustadz luluh dan urung melakukan "pembalasan dendam".
Rina merubah raut wajahnya dalam sekejap. Matanya yang tadi liar mencari jalan keluar, kini dibuat sayu dan sedikit berair. Ia melangkah kecil menuju Rohman, lalu dengan gerakan perlahan, ia melingkarkan lengannya di pinggang suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Rohman yang masih hangat.
"Mas Rohman sayang..." panggil Rina dengan suara yang sangat lembut, bahkan hampir seperti desahan halus. "Adek... Adek tiba-tiba ngantuk banget, Mas. Kepalaku agak pusing karena tadi malem kurang tidur mikirin Mas terus."
Rohman terdiam, tangannya masih menggantung di udara sebelum akhirnya mendarat di bahu Rina. Ia bisa merasakan detak jantung istrinya yang sebenarnya masih balapan, meski suaranya dibuat semanis madu.
"Oh, jadi sekarang pusing?" tanya Rohman, suaranya terdengar sedikit geli namun tetap rendah.
"Iya, Mas... peluk ya? Ya? Pliss..." Rina mendongak, menatap Rohman dengan mata puppy eyes andalannya. "Kita tidur sebentar saja lagi, ya? Mas jadi guling aku, Adek janji nggak akan nakal lagi, nggak akan ngeraba-raba sarung Mas lagi... beneran deh!".
Rohman menatap wajah istrinya lekat-lekat. Ia tahu betul ini adalah jebakan maut agar ia kehilangan niat untuk "menghukum" kebohongan Rina tadi. Namun, melihat wajah Rina yang memang tampak lelah—dan cantik sekali dengan rambut yang masih lembap—pertahanan Rohman sedikit goyah.
"Hanya tidur?" panggil Rohman meyakinkan.
"Iya, peluk aja. Tapi Mas jangan berubah jadi macan ya? Jadi kucing aja yang lucu," rengek Rina sambil menggesekkan hidungnya ke dada Rohman, sebuah gestur manja yang membuat jakun Rohman naik turun.
Rohman menghela napas panjang, ia akhirnya menyerah pada pesona istrinya yang luar biasa ini. Ia menuntun Rina menuju ranjang, membiarkan Rina merebahkan diri lebih dulu, lalu ia ikut berbaring di sampingnya. Begitu Rohman menarik Rina ke dalam dekapannya, Rina langsung memeluk suaminya erat-erat, seolah takut Rohman akan berubah pikiran.
"Nah, begini kan enak, Mas Arab..." gumam Rina sambil memejamkan mata, merasa sangat aman di markas perlindungan barunya.
"Tidurlah," ucap Rohman sambil mengelus rambut Rina. "Tapi jangan pikir Mas lupa ya. Mas cuma kasih waktu jeda untuk kamu istirahat. Nanti setelah kamu bangun dan segar... Mas tidak akan membiarkan rayuan 'lemah lembut' ini bekerja untuk kedua kalinya."
Rina hanya tersenyum tipis dalam tidurnya. Dalam hati ia bersorak, 'Satu sama, Mas Arab! Skor kita imbang!'