NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34

Rutinitas Kantor tetap berjalan.

Rapat tetap berlangsung.

Target tetap harus dicapai.

Tapi Ken tidak lagi sama.

Di ruang meeting, tatapannya sering kosong.

Presentasi berjalan, suara klien terdengar, tapi pikirannya melayang.

Ke rumah.

Ke kamar tempat Kakek Jo terbaring.

Kakek yang dulu tertawa paling keras.

Yang suka sekali jahil hanya untuk menggoda.

Yang berjalan cepat meski usia tak muda lagi.

Kini…

Duduk diam di kursi roda.

Kakinya tak bergerak.

Bicaranya terbata, bahkan sering tak keluar suara.

Semua harus dibantu.

Ken menutup laptopnya tiba-tiba.

“Kita lanjut besok.”

Zara menatapnya lembut.

“Kamu mau pulang?”

Ken mengangguk pelan.

“Aku nggak bisa fokus.”

Zara berdiri tanpa ragu.

“Aku ikut.” Dan mereka berdua pulang ke rumah Maheswara.

 Beberapa hari setelah insiden kecelakaan kakek, Ken berbicara pelan pada Zara.

 “Zara aku ingin membicarakan sesuatu.”

“Soal pernikahan…?”Zara memotong pembicaraan ken

Zara sudah tahu.

Ia mengangguk duluan.

“Kita tunda saja.”

Ken menatapnya, ada rasa bersalah di matanya.

“Kamu nggak keberatan?”

Zara tersenyum.

“Ken...”

Ia memegang tangan lelaki itu.

“Kesehatan Kakek jauh lebih penting.”

Bibi Zara pun setuju.

“Kami nggak buru-buru Ken...yang penting kakek sembuh dulu.”

Ken hampir tak bisa berkata apa-apa.

Ia memeluk Zara.

Pelukan yang penuh syukur.

 Setiap hari, Ken pulang lebih awal, ia ingin cepat-cepat bersama kakeknya.

Zara pun tak jarang selalu ikut ken untuk pulang menemui kakek.

Mereka mendorong kursi roda Kakek ke taman kecil di halaman.

Zara berbicara lembut,

“Kakek, lihat bunganya mekar lagi.”

Ken jongkok di depan kursi roda.

“Kakek harus cepat sembuh ya…aku belum menikah.” Goda ken

Sudut bibir Kakek bergerak sedikit.

Seperti ingin tersenyum.

 Tapi tak jarang juga

Saat Zara datang ke kamar Kakek dengan niat membantu.

Eve sudah lebih dulu di sana.

Sedang menyuapi.

Sedang mengganti selimut.

Sedang membersihkan tangan Kakek.

“Oh, Zara. Sudah selesai kok. Tadi Ken bantu angkat Kakek ke kursi.”

Kalimat itu selalu terdengar biasa.

Tapi selalu membuat Zara datang terlambat.

Suatu malam, Ken dan Eve bersama-sama mengangkat Kakek ke tempat tidur.

Zara berdiri di pintu.

Terlambat lagi.

Eve menoleh.

“Tadi Ken yang bantu aku. Berat juga ya kalau sendirian.”

Ken mengangguk lelah.

“Iya. Tapi nggak apa-apa.”

Zara tersenyum.

Tetap manis.

Tetap sabar.

Tapi ada jarak yang tak terlihat.

Eve semakin sering berada di kamar Kakek Bersama ken.

Ia tahu jadwal obat.

Ia tahu posisi tidur yang nyaman.

Ia tahu kapan Ken paling rapuh.

Suatu malam, Ken duduk di kursi dekat tempat tidur Kakek.

Wajahnya kusut.

“Seharusnya aku bisa melindungi kakek, harusnya semua ini tidak terjadi jika aku lebih perhatian."

"Lihatlah tubuh tua ini, yang biasanya tidak bisa diam sekarang hanya tidur dan duduk di kursi roda."

 Eve duduk di sampingnya.

Pelan.

“Ini bukan salah kamu.”

Ken menunduk.

“Kalau saja aku lebih…”

Eve menyentuh tangannya.

Sentuhan yang seolah memberi kekuatan.

“Kamu selalu terlalu keras pada diri sendiri.”

Kalimat yang dulu sering ia ucapkan bertahun-tahun lalu.

Ken terdiam.

Zara berdiri di luar pintu kamar.

Mendengar sebagian.

Melihat siluet mereka dari balik cahaya lampu.

Dekat.

Terlalu dekat.

Ia tidak masuk.

Ia memilih kembali ke ruang tamu.

Duduk sendirian.

Menarik napas Panjang, lalu Kembali pulang…sendiri.

Zara tidak pernah protes.

Tidak pernah menuntut waktu.

Tidak pernah meminta diprioritaskan.

Justru ia membantu sebisanya.

Mengajak Kakek jalan-jalan sore.

Menceritakan cerita lucu, meski tidak bisa membalas tawa zara namun memberi isyarat lewat matanya bahwa ia juga tertawa.

Membawakan makanan favorit Kakek.

Tapi Eve selalu satu langkah lebih dulu.

Selalu ada di momen paling emosional Ken.

Dan pelan-pelan.

Ken mulai terbiasa melihat Eve di sana.

Di sampingnya...Saat ia rapuh.

Malam itu, Eve duduk di depan cermin kamarnya.

Ia tersenyum puas kali ini.

ada keyakinan kecil.

Jika pernikahan ditunda…

Jika Ken terus bergantung padanya untuk urusan Kakek…

Maka jarak dengan Zara akan tercipta sendiri.

Tanpa perlu dorongan.

Tanpa perlu gosip.

Ia hanya perlu sabar.

Dan sabar… adalah hal yang sudah ia pelajari selama bertahun-tahun.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!