NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 : Hampir

Pagi itu datang dengan langit kelabu tipis.

Wilayah timur yang berada di bawah kekuasaan Duke Albrecht justru terlihat… terlalu tenang.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada keributan antara manusia dan beastman.

Tidak ada provokasi kecil yang biasanya cukup untuk memicu baku hantam.

Semuanya berjalan seperti hari biasa.

Dan penyebabnya jelas.

Di pusat distribusi makanan, dua sosok berdiri berdampingan.

Phino, dengan sikapnya yang santai namun cekatan, mengatur antrean tanpa terlihat memerintah.

Di sampingnya, Lyra membagikan roti dan sup hangat satu per satu, memastikan tidak ada yang terlewat.

“Yang tadi belum dapat, maju sedikit. Tenang, semuanya kebagian,” ujar Phino dengan nada ringan, namun cukup tegas.

Beastman dengan telinga serigala menerima mangkuknya dengan anggukan hormat.

Seorang ibu manusia di belakangnya mengucapkan terima kasih.

Dan tidak ada tatapan sinis di antara mereka. Tidak ada bisik-bisik penuh curiga.

Setiap hari, tepat waktu.

Setiap hari, tanpa pilih kasih.

Manusia dan beastman mulai berdiri dalam antrean yang sama. Bahkan terkadang saling bercakap kecil. Hal yang dulu hampir mustahil terjadi.

Lyra tersenyum tipis melihat dua anak—satu manusia, satu beastman—duduk bersebelahan sambil makan.

“Sepertinya efeknya mulai terasa,” gumamnya pelan.

Phino menyeringai kecil.

“Perut kenyang itu cara paling cepat meredam konflik.”

Namun di balkon bangunan utama, sepasang mata mengawasi dengan dingin.

Duke Albrecht berdiri dengan tangan di belakang punggung.

Jubahnya tertiup angin pagi.

Ekspresinya tetap datar.

Namun rahangnya mengeras.

“Sudah tiga hari,” gumamnya pelan.

Tiga hari tanpa kerusuhan.

Tiga hari tanpa alasan untuk mengerahkan pasukan.

Tiga hari tanpa ketegangan yang bisa ia manfaatkan.

Ia menatap ke arah kerumunan.

Seorang manusia membantu beastman tua berdiri.

Beastman lain membalas dengan memberi tempat duduk pada wanita manusia yang membawa anak kecil.

Terlalu akrab.

Terlalu cepat.

“Hubungan yang terlalu baik,” desisnya pelan, “akan melahirkan keberanian.”

Dan keberanian adalah sesuatu yang tidak ia sukai.

Ia tidak butuh rakyat yang saling percaya.

Ia butuh rakyat yang saling mencurigai.

Karena ketakutan lebih mudah dikendalikan daripada harapan.

Duke memalingkan wajahnya.

“Biarkan mereka,” ucapnya singkat pada pengawal di belakangnya.

Namun nada suaranya tidak menunjukkan kepasrahan.

Melainkan perhitungan.

Jika mereka semakin akrab…

Maka cukup satu percikan yang tepat untuk membakar semuanya lebih besar dari sebelumnya.

Sementara itu di bawah sana, Phino menyeka keringatnya.

“Stok cukup untuk dua hari lagi,” katanya pada Lyra.

Lyra mengangguk.

“Selama distribusi lancar, tidak akan ada alasan untuk ribut.”

Phino menoleh ke arah istana duke yang menjulang.

Tatapannya menyipit sedikit.

“Yang jadi masalah bukan mereka,” katanya pelan.

“Yang jadi masalah adalah orang yang tidak suka melihat mereka damai.”

Angin pagi bertiup.

Wilayah timur terlihat damai.

Namun di balik ketenangan itu—seseorang mulai merasa kehilangan kendali.

Dan orang seperti itu… tidak akan tinggal diam terlalu lama.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Suasana istana jauh lebih sunyi dibanding wilayah timur.

Di ruang santai berlapis karpet lembut dan jendela tinggi yang membiarkan cahaya pagi masuk perlahan, tiga gadis duduk mengelilingi meja rendah.

Licia bersandar dengan tangan terlipat, wajahnya terlihat tenang—terlalu tenang untuk ukuran dirinya.

Noa duduk di sampingnya, memegang cangkir teh yang sudah lama tidak ia sentuh.

Di hadapan mereka, Eliza menunduk.

Rambut silvernya kembali seperti biasa. Mata birunya jernih.

Seolah kejadian kemarin hanyalah mimpi buruk.

Namun tidak bagi mereka.

“Itu bukan kau, kan?” suara Licia akhirnya memecah keheningan.

Nada suaranya tidak tajam.

Justru terlalu lembut.

Eliza menggenggam ujung rok gaunnya pelan.

“Bukan...”

Noa menatapnya lekat.

“Tapi itu tubuhmu.”

Eliza mengangguk perlahan.

“Aku merasakannya. Aku sadar. Tapi aku… tidak bisa menggerakkan tubuhku.”

Hening lagi.

Ingatan kemarin terlalu jelas. Aura roh Eliza yang meledak. Perubahan rambutnya menjadi hitam pekat. Matanya yang gelap. Dan sikapnya yang… posesif.

Licia memejamkan mata sesaat. “Dia mencium Ferisu,” ucapnya pelan, namun tegas.

Noa menggigit bibirnya. Jelas sekali mereka cemburu.

Bukan hanya karena tindakan itu.

Tapi karena kenyataan pahit—bahkan mereka belum pernah melakukannya.

Eliza menunduk lebih dalam.

“Maaf…”

Licia langsung menatapnya.

“Jangan minta maaf untuk sesuatu yang bukan salahmu.”

Noa mengangguk cepat.

“Yang salah itu… entitas itu.”

Eliza mengangkat wajahnya perlahan.

“Namanya Reliza.”

Kedua gadis itu terdiam.

“Kau tahu namanya?” tanya Noa.

Eliza mengangguk.

“Aku mendengarnya di dalam kesadaranku. Dia seperti… bagian dariku. Tapi juga bukan.”

Licia menyipitkan mata.

“Kepribadian lain?”

“Lebih seperti roh… yang terikat di dalam jiwaku,” jawab Eliza lirih.

“Dia memiliki atribut kegelapan.”

Kata itu membuat ruangan terasa sedikit lebih berat.

Kegelapan.

Noa mengingat sesuatu.

“Kemarin… setelah dia mencium Ferisu, aku merasakan gelombang energi yang aneh.”

Licia menoleh cepat.

“Aku juga.”

Eliza membeku.

“Energi apa?”

“Kegelapan,” jawab Licia pelan.

“Dan roh.”

Mata Eliza membesar.

Eliza memegang dadanya. Jika benar energi kegelapan itu mengalir ke Ferisu… Maka hanya ada satu kemungkinan.

Reliza.

Dan jika itu benar—berarti entitas itu bukan hanya mengambil kendali tubuhnya. Ia juga… memberi sesuatu.

Licia berdiri perlahan. “Untuk sekarang, kita fokus pada satu hal,” katanya tegas.

“Ferisu-sama harus bangun.”

Noa ikut berdiri.

“Tapi kalau Reliza muncul lagi—”

Licia menatap lurus ke depan.

“Kali ini, kita tidak akan diam.”

Sementara jauh di dalam kesadaran Ferisu, percikan kegelapan masih berputar tenang.

Tidak liar.

Tidak berbahaya.

Namun jelas bukan miliknya sepenuhnya.

Dan tanpa mereka sadari—seseorang di dalam jiwa Eliza sedang tersenyum dalam kegelapan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu—

Di ruangan lain yang lebih sunyi, Erica duduk di tepi ranjang Ferisu.

Tirai jendela tertutup separuh.

Cahaya pagi jatuh lembut di wajah Ferisu yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Erica menggenggam tangannya dengan hati-hati.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu…” bisiknya pelan.

Ia menunduk sedikit, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.

Ia mengusap punggung tangan Ferisu dengan ibu jarinya.

Kamar itu tenang.

Terlalu tenang.

Hanya suara napas Ferisu yang pelan dan teratur yang terdengar di antara dinding putih dan tirai setengah tertutup.

Erica duduk di samping ranjang, jemarinya masih menggenggam tangan Ferisu sejak tadi.

Sudah lama ia di sana. Sendirian. Tanpa Licia, dan yang lainnya. Hanya dia… dan Ferisu.

Erica menatap wajahnya. Tenang. Terlihat rapuh. Berbeda dari biasanya. Dan entah kenapa, ingatan kemarin kembali terputar di kepalanya.

Reliza.

Tubuh Eliza yang berubah. Tatapan posesif itu. Dan—ciumannya.

Jantung Erica berdetak lebih cepat. Tanpa sadar, pandangannya turun. Ke bibir Ferisu.

Hening.

Beberapa detik terlalu lama. Erica tersentak kecil dan langsung menggeleng keras.

“Tidak—tidak! Apa yang kupikirkan?” bisiknya cepat, wajahnya mulai terasa panas.

Ia menoleh ke arah lain. Menarik napas. Berusaha tenang.

Tapi…

Beberapa detik kemudian, tanpa sadar, matanya kembali melirik. Bibir itu terlihat begitu dekat.

Dan untuk pertama kalinya, tidak ada yang melihat.

Tidak ada Licia.

Tidak ada Noa.

Tidak ada siapa pun.

Hanya dia.

Erica menelan ludah pelan.

Tangannya yang bebas perlahan terangkat, menyibakkan sedikit rambut Ferisu yang jatuh ke dahinya.

“Aku cuma… ingin memastikan kau baik-baik saja,” gumamnya pelan, seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Ia sedikit membungkuk.

Lebih dekat.

Wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajah Ferisu.

Ia bisa merasakan napas hangatnya.

Bibirnya hampir—

Hampir—

Klik.

Suara pintu terbuka.

Erica membeku.

Ia menoleh cepat ke arah suara.

Di ambang pintu, Risa berdiri dengan nampan berisi teh dan camilan ringan di tangannya. Telinga kelincinya sedikit menunduk. Matanya membesar. Ia mematung.

“A-ah… Maaf,” ucap Risa pelan, jelas salah tingkah.

“Apa aku mengganggu…?”

Waktu terasa berhenti.

Wajah Erica langsung berubah merah menyala.

Ia tersentak mundur terlalu cepat sampai hampir kehilangan keseimbangan.

“A-aku tidak melakukan apa-apa!” ucapnya spontan, yang justru terdengar sangat mencurigakan.

Risa berkedip pelan.

“Aku… tidak bilang apa-apa…”

Erica makin panik.

“I-itu bukan seperti yang kau pikirkan!”

Risa menatap mereka berdua bergantian. Lalu menatap bibir Ferisu. Lalu kembali ke Erica.

Telinga kelincinya bergerak pelan.

“Oh…”

Erica menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ahh… kenapa harus sekarang…”

Risa buru-buru masuk dan menutup pintu pelan dengan kakinya.

“Aku benar-benar minta maaf,” katanya lagi, masih canggung. “Aku cuma ingin mengantarkan teh.”

Erica berusaha menenangkan diri, tapi wajahnya masih merah.

“Kau… tidak melihat apa-apa, kan?”

Risa terdiam sejenak. “Aku melihat Nona Erica sangat dekat dengan Tuan Ferisu.”

Erica ingin tenggelam rasanya.

“Itu—itu hanya untuk memastikan napasnya stabil!”

Risa mengangguk cepat, meski jelas tidak sepenuhnya yakin.

“Tentu. Aku mengerti.”

Suasana menjadi canggung.

Sangat canggung.

Namun di atas ranjang, Ferisu tetap tertidur.

Tak bergerak.

Tak sadar.

Tanpa tahu bahwa—dua pasang mata baru saja memperdebatkan sesuatu yang bahkan belum terjadi.

Dan di dalam ruang kesadarannya, percikan kegelapan bergetar lembut.

Seolah merasakan sesuatu yang hampir terjadi di dunia nyata.

Dan entah kenapa—energi itu terasa… sedikit tidak senang.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
angin kelana
karakter baru
angin kelana
wah kemaren2 op.skarang lemah..
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
cih 😒...msh blom berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!