Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Zea mengusap darah di telapak tangan Naka lalu membantunya bangun dan duduk kembali di tempat semula. "Tunggu sebentar." Ia mengambil kotak P3K, lalu kembali ke meja makan, menarik kursi, duduk disamping Naka.
"Pelan-pelan, perih," sentak Naka saat Zea mengoleskan obat.
"Ini sudah sangat pelan, tapi mungkin yang bikin sakit, adalah emosi anda sendiri. Terus berteriak, membuat otot Anda ketarik, jadinya malah sakit."
"Sok tahu kamu."
"Kenyataannya saya memang lebih tahu dari anda. Buktinya sekarang, saya bisa mengobati anda, sementara Anda, apa Anda bisa mengobati diri sendiri? Enggakkan?"
Naka mendengus kesal.
"Gak usah gengsi, anda butuh bantuan. Saya dipekerjakan di sini memang untuk membantu Anda. Saya dibayar, jadi repotkanlah saya, itu tidak apa-apa. Jangan malah bilang tak butuh bantuan saya, karena nanti bisa saja saya dipecat karena dirasa Tuan memang tidak butuh bantuan."
"Bisa diam gak, banyak omong!"
"Ya sudah saya akan diam, tapi tolong Anda juga diam."
"Kamu nyuruh saya?" sentak Naka, rahangnya mengeras.
"Gak nyuruh, tapi menghimbau. Tapi kalau gak mau, ya terserah." Zea bangkit setelah selesai mengobati. "Saya kembalikan kotak P3K dulu, setelah itu saya bantu kembali ke kamar." Ia tak berharap banyak Naka menuruti ucapannya karena ego laki-laki itu sangat tinggi, selain itu dia juga emosian, bawaannya ngamuk, mungkin hidupnya tak lengkap jika sehari gak ngamuk.
Namun di luar dugaan, Naka tetap anteng sampai ia kembali, padahal cukup lama karena ia ke dapur dulu untuk mengambil makanan baru.
"Lama sekali," protes Naka mendengar suara langkah Zea.
"Saya sekalian mengambilkan makanan di dapur," kembali duduk di kursinya tadi.
"Saya gak mau makan."
"Jangan seperti itu. Di luar sana banyak orang yang kelaparan, harusnya Anda bersyukur masih bisa makan enak."
"Bersyukur?" Naka menyeringai tipis. "Apa yang harus di syukuri dengan keadaan saya sekarang, saya buta, tak bisa melihat."
"Tapi Anda masih bisa bernafas, masih bisa jalan, masih ada uang, masih bisa membayar orang untuk masak, untuk merawat Anda. Tidur juga masih di kasur yang empuk dan kamar yang ada AC nya. Kalau semua hal saya sebutkan, bisa-bisa sampai lebaran gak selesai-selasai, dan itu pun Anda masih bilang apa yang harus disyukuri," membuang nafas kasar sambil geleng-geleng.
"Sementara saya, saya tak bisa lanjut kuliah karena keterbatasan biaya," lanjut Zea. "Saya juga hanya makan ayam kalau ada yang selametan, hanya tidur di kasur kapuk yang keras, dan hanya pakai kipas angin. Itu pun saya gak mengeluh terus seperti Anda. Saya berusaha mencari hal yang patut disyukuri, misalnya, alhamdulillah saya sehat, saya gak kelaparan meski setiap hari cuma makan sama tahu tempe. Dan alhamdulillah lagi saya cantik," ia tertawa cekikikan.
Naka berdecih, "Gak tahu malu, memuji diri sendiri. Palingan yang bilang kamu cantik, cuma Ibu kamu doang," ledeknya.
"Kalaupun iya, tidak masalah, yang penting masih ada yang muji, daripada enggak. Eh, tapi bukan hanya Ibu saya saja kok. Teman-teman saya juga bilang saya cantik, bahkan 99 dari 100 teman laki-laki saya di SMA, bilang saya cantik."
Naka tak tahan untuk tidak tertawa, "Sepertinya kamu halu."
"Kok tahu sih," Zea ikutan tertawa. "Kehaluan saya baru 99 persen, coba Anda puji saya cantik, biar lengkap 100 persen." Keduanya lalu tertawa bersama.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Naka.
"Selamat pagi," sapa Dokter yang baru masuk, ditemani oleh seorang perawat.. "Adiknya lagi makan ya? Enak gak makanannya?" berjalan ke arah ranjang.
Zea segera turun dari ranjang, meletakkan makanan yang belum habis ke atas nakas.
"Pagi juga Om Dokter," balas Arka.
"Gimana kabarnya, Arka?" tanya Dokter Sofyan, spesialis anak. Mengangguk sopan sambil tersenyum pada Zea dan Naka.
"Arka sudah sehat, Dok," Arka menyentuh keningnya. "Udah gak panas."
"MasyaAllah, keren sekali," Dokter Sofyan mengangkat jempolnya. "Padahal kita baru ketemu hari ini loh, tapi Arka sudah sehat aja."
"Karena Ibu udah pulang," menoleh Ibunya, memegang tangannya.
"Emang sebelumnya Ibu kemana?"
"Kerja di luar negeri."
"Jauh sekali."
Suster mengambil termometer, mengecek suhu badan Arka terlebih dahulu.
Arka mengangguk, "Iya, jauh. Untungnya ada Om Bos yang jemput Ibu," menoleh pada Naka.
"Om Bos?" kening Dokter Sofyan dan suster sama-sama mengernyit. "Bukan Papanya Arka ya?"
Zea hampir kesedak ludah mendengar itu.
"Bukan," Arka tertawa tipis. "Ayahnya Arka sudah meninggal, sudah bahagia di surga."
"MasyaAllah, Arka anak yang pintar," puji Om Dokter. "Tapi, Arka sama Om bos mirip banget loh, sampai Dokter fikir ayahnya."
Naka memperhatikan wajah Arka, bukan hanya Rizal saja, ternyata orang lain juga melihat kemiripannya dengan Arka. Apa jangan-jangan, Arka memang anaknya?
"Arka sayang banget sama Ibu ya, makanya gak mau ditinggal Ibu?" Dokter Sofyan mengajak ngobrol sembari memeriksa Arka.
Arka mengangguk, menatap Ibunya sambil tersenyum.
"Arka, tahan bentar ya," Suster menyiapkan sebuah suntikan.
"Mau di suntik, Tante Suster?" tanya Arka.
"Diambil darahnya dikit."
"Untuk apa ya, Sus?" tanya Zea. "Bukannya kemarin sudah diambil darahnya untuk cek lab?"
"Masih ada satu pemeriksaan lagi Bu, butuh sample darah."
"Pemeriksaan apa lagi kalau boleh tahu."
Jantung Naka tiba-tiba dah dig dug, takut Suster keceplosan untuk kebutuhan tes DNA. Kemarin ia sudah meminta untuk hal ini dirahasiakan.
"Untuk uji lab agar lebih akurat saja."
"Anak saya sudah gak panas, sudah keliatan lebih sehat, kenapa masih harus cek lab lagi ya, Dok?" Zea merasa ada yang janggal.
"Masih butuh pemeriksaan lanjutan Bu, mengingat kemarin Arka sempat kejang," sahut Dokter.
"Udahlah Ze, nurut aja, Dokter lebih faham daripada kamu," ujar Naka.
Itu semua karena kebohonganmu 🙄