Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi
Teriakan Isna yang semakin keras membuat mereka panik, mereka sedikit emosi dan langsung mencengkram mulut Isna dengan kuatnya.
"Diam gak kamu!!!"
Krek!
Isna dapat merasakan daging pipinya sobek tertekan giginya sendiri. Rasa manis dan getir darah dapat ia rasakan dari mulutnya. Berkali kali wajahnya di tampar.
Isna sama sekali tidak di berikan kesempatan sekedar untuk berucap apalagi berteriak.. satu persatu pakaiannya di lepas dengan paksa. Ia hanya bisa menangis takala satu pemuda mengeluarkan belati dan menempelkannya di leher Isna.
"Satu kata keluar dari mulut kamu, saya gorok leher kamu! Ngerti? Cukup diem... ngerti nggak?!" Ancam pemuda yang menempelkan belati itu.
Isna hanya bisa menangis menutup matanya. Dengan harapan bahwa kejadian yang menimpanya hanyalah mimpi dan ketika ia membuka mata semuanya baik baik saja.
Namun itu semua hanya anganan Isna.
Sugeng menerabas jalanan yang di guyur hujan lebat dengan motor supranya. Ia baru saja pulng setelah membeli 4 bungkus bakso. Hape yang ia beli sudah di taruh di jok, aman tak mungkin terkena air.
Sugeng semakin kencang melajukan motornya takala ia sudah berada di dekat gapura desa Bojongbata.
Di dekat gubuk itu Sugeng sama sekali tak menyadari adanya keanehan, ia terus menerabas jalan buru buru sampai kerumahnya.
Namun ketika ia melintas di depan gubuk seekor kucing melintas di depannya. Membuat Sugeng terpaksa mengerem secara mendadak.
"Wuoooohh! Kucing kampret! Reflek elite nyebrang sulit!" Gerutu Sugeng. Ia hendak kembali menggas motornya. Namun kucing itu kembali melintas di depan Sugeng membuat Sugeng terpaksa mengurungkan niatnya.
Ia menatap kucing itu dengan ekspresi jengkel.. kucing itu berjalan dan berhenti di atas kain berwarna putih.
Sugeng menyipitkan matanya, "kain putih itu kayak nggak asing.." batin Sugeng, sedetik kemudian ia melebarkan matanya, "itukan Jilbab Isna!" Pekik Sugeng ia sangat familiar dengan jilbab itu, karena Sugeng sempat melihat Isna yang meninggalkan rumah sembari membawa tas.
Perasaan Sugeng semakin gelisah... ia merasa terjadi sesuatu kepada Isna. Sontak Sugeng langsung turun dari motornya.
Baru saja Sugeng mencabut stop kontak motornya sebuah suara parau terdengar dari dalam gubuk kosong pinggir sawah.
"Ghaaa!" Bunyi suara itu. Mata Sugeng semakin melebar. Ia berlari ke dalam gubuk kosong itu dan membuka pintu gubuk yang tertutup.
Betapa terkejutnya Sugeng melihat Isna dalam posisi terlentang setengah telanjang sedang di rudapaksa oleh ketiga lelaki bejat.. darah sugeng naik pitam hingga menyentuh akal sehatnya.
Tatapan Sugeng menarget Satu pemuda yang sibuk berusaha menarik turun celana hitam panjang dan celana dalam Isna.
"Brengsek kalian!!" Teriak Sugeng, sekuat tenaga ia menginjak kepala pemuda yang sibuk menarik celana Isna.. Sugeng sudah tak perduli kepala pemuda itu remuk atau tidak.
Kedua pemuda yang tersisa langsung menyerang Sugeng, satu tersungkur dan guling guling memegangi kepalanya yang sakit. Dua lainnya mengeroyok Sugeng...
Mereka berkelahi hingga berjatuhan dan terguling guling di lumpuran pinggir sawah.
Isna bersyukur Sugeng datang tepat waktu dan menyelamatkannya. Tetapi rasa syukurnya berubah menjadi khawatir saat melihat Sugeng di keroyok tiga orang sekaligus. Isna bangkit, ia memakai pakaiannya secepat mungkin kedua tangannya menggenggam kemeja yang tak ada kancingnya itu agar tertutup. Isna berlari ke arah jalanan berharap ada seseorang yang melintas. Ia hendak meminta bantuan...
Tetapi sayang, Isna melihat kanan dan kiri seujung jalan tak ada satupun kendaraan yang melintas.
Isna hanya bisa menangis sembari berteriak meminta tolong.. hingga tangisnya berhenti takkala melihat kedua pemuda itu menaiki motor butut mereka sembari menggendong satu rekan mereka yang pingsan.
Isna hendak lari karena berpikir ketiga pemuda itu masih ingin berbuat nekad. Namun ternyata tidak, mereka bertiga pergi dengan panik.
Isna tak jadi kabur, "ma.. mas Sugeng?" Isna sadar Sugeng tak kunjung terlihat.. Isna berlari ke arah gubuk, ia berteriak histeris penuh kepiluan melihat Sugeng terkapar dalam posisi tengkurap di pinggir sawah dengan belati kecil yang menancap di punggungnya.
"MAS SUGEEENGGG!!!" Teriak Isna sembari berlari ke arah Sugeng.
Ternyata Sugeng masih sadar, "is-- isna.. kamu ngga papa?" Tanya Sugeng sembari meringis kesakitan.
"Nggak papa.. mas.. m.. mas tolong bertahan, aku cari bantuan dulu.." ujar Isna sembari menghapus air matanya.
Isna pun berlari menuju ke desa, sekencang mungkin.
Sugeng menggenggam tanah sawah yang ada di bawahnya penuh rasa dendam yang teramat dalam kepada ketiga pemuda itu.
"Brengsek kalian!! Juan, Santo, Arga!!!" Ucapnya, pandangannya mulai kabur... kesadarannya mulai menghilang dan menutup matanya dalam sekejab.
***
Di tempat lain... tepatnya di kamar Sugeng..
Tiba tiba kaca lemari di kamar Sugeng sedikit bergetar. Sepasang tangan terlihat muncul di sana, perlahan lahan sesosok wanita cantik keluar dari dalam lemari menembus kaca bagaikan adegan hantu Sadako yang keluar dari tv.
"Hihihihi..." wanita itu tertawa sangat lirih sebelum akhirnya menghilang.
Tak lama kemudian Nenek Ratmi melintas tepat di depan kamar Sugeng..
"Kok kayak bau wangi orang mati ya?" Tanya Nenek Ratmi dalam hatinya, ia kemudian membuka gorden kamar Sugeng namun ia tak melihat apapun.
***
Setelah berlari cukup lama dari gubuk Isna melihat sebuah mobil pick up hitam.
Ia langsung menghadang mobil itu di tengah jalan. Mobil itu pun berhenti, seorang pria paruh baya keluar dengan ekspresi penuh tanya.
"Pak tolong, pak! Di sana.." Isna tak punya waktu lagi, ia pun bergegas menuju ke gubuk.
"Loh dek... ada apa?" Pria paruh baya yang khawatir itu pun bergegas mengikuti Isna hingga tiba di pinggiran sawah.
"Sugeng!!!!" Ia kaget bukan kepalang melihat Sugeng tergeletak di sana dengan darah yang terus menerus keluar di punggungnya.
Pria itu langsung menggendong Sugeng dan ia masukan ke mobilnya.
"Adek pulang aja, biar bapak yang bawa Sugeng kerumah sakit.. nanti adek nyusul aja.. ganti pakaian adek.." ucap Pria itu kemudian bergegas menuju mobil tanpa menunggu jawaban Isna.
Isna menangis tersedu sedu, ia merasa sangat bersalah karena semua kejadian ini terjadi karena dirinya. Andai saja dia tak keluar kejadian ini tidak mungkin terjadi.
Isna pun berjalan pulang dengan perasaan sedih bercampur bersalah..
***
Di sebuah rumah sederhana di desa Pener...
Sebuah motor baru saja terparkir di sana.
Kedua pemuda turun sembari menggendong satu pemuda yang pingsan.
Mereka buru buru masuk ke dalam rumah dan membaringkan pemuda yang pingsan itu di lantai ruang tamu begitu saja.
"Huuhhhh... sialan! hampir aja kita bisa cobain cewek cantik itu... malah Sugeng si bisu itu datang dan sok jadi pahlawan.. mampus kena tusuk, semoga aja mati!" Ucap Santo pemuda yang tampak bersender di tembok.
"Bajingan emang sih Sugeng itu, Sok banget dia!" Timpal temannya yang bernama Juan.
kalo bisa up nya jgn lama2 ya min