Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
opening warung
Siang hari Sugeng sudah kembali kerumahnya ia tampak sangat lelah.
Sesampainya di rumah ia masih harus menyusun barang dan menghafalkan harga serta modal tiap barang dagangannya.
"Geng, kamu beli gula pasir satu karung?" Tanya Nenek Ratmi.
"Kan kebutuhan pokok nek, lebih murah, gak busuk juga dari pada bolak balik. Namanya juga harus di jual lagi, ya harus beli karungan kalau mau untung." Jawab Sugeng.
"Jadi ngemasin sendiri ya geng?"
"Iya nek, gak banyak yang di kemasin juga. Paling seperempat apa setengah, jarang di kampung gini beli gula satu kilo."
"Iya ya... anu geng itu pintunya udah di pasang, bawahnya masih di semen. Gak boleh di buka katanya, kuncinya masih di bawa mereka. Besok baru mau mulai ngecat, tadi katanya mereka ngga bawa alat cat."
"Oh iya nek."
Sementara itu seorang polisi penyidik tampak menggaruk garuk kepalanya dengan bingung menatap foto foto kasus, hilangnya uang Wanto, kasus kematian Mbah Suro, dan yang terbaru perampokan di rumah Linda.. polisi itu bernama Yusuf yang bertugas menangani kasus kasus tersebut selain Jaya.
Ia tampak berusaha mengait ngaitkan kasus tersebut.
"Kesimpulan yang bisa aku ambil pelakunya adalah laki laki dewasa. Pasti pelaku ini adalah pelaku yang sama dengan kasus hilangnya uang Wanto, dan perampokan di rumah Linda...
Pelakunya pasti orang sekitar daerah itu, karena ia beraksi hanya di sekitar sana. Kemungkinan paling besar adalah Sugeng.. dia yang paling memiliki dendam dengan Linda dan secara mengejutkan mampu melunasi hutang Linda. Namun di setiap waktu kejadian Sugeng selalu memiliki alibi yang kuat! Ia selalu berada di gardu setiap malam walaupun bukan jadwal rondanya... sialan! Kasus ini benar benar membingungkan, kalau bukan Sugeng siapa lagi?
Pak Jaya juga mengatakan bahwa kunci pintu utama rumah Linda berputar sendiri, seperti ada yang sengaja membukakannya untuk sang pelaku. Namun siapa? Apa pelakunya ada dua? Atau justru pelakunya memiliki semacam Jin perewang?" Batin Yusuf ia memijat kepalanya yang pusing karena memikirkan kasus ini.
Pelaku ini begitu rapi dan cerdik, tetapi suatu saat nanti ia pasti akan terkena apesnya. Sepandai pandainya tupai melompat ia pasti akan jatuh juga. Sampai mana kau pandai menyembunyikan bangkai kebusukanmu?"
2 hari kemudian Sugeng dan neneknya pagi pagi sekali sudah sibuk menyusun barang dagangan di warungnya. Sementara Isna berangkat sekolah, dan Sekar kini bekerja di semacam toko percetakan.
Sugeng menyusun bungkus bungkus rokok di etalase kecil, ia menulis harga rokok di etalase kecil, ia menulis harga rokok di etalase kecil yang ia isolasi dan ia tempel di dekat etalase tersebut.
Sementara neneknya menyusun mie mie instan di rak yang di buat oleh Sugeng.. terdengar sebuah suara notor rx king berhenti di depan warung.
"Weii opening ya...!!! Gratis nih..!!" Teriak Sodri.
"Gratis Gundulmu!!" Jawab Sugeng..
Sodri turun dari motor sembari melepaskan tali karet di jok motornya yang melilit sebuah derigen 30 liter.
"Taruh teras aja... berapa mas?" Tanya Sugeng.
"Ya kan minta sesuai rundingan, aku minta seribu per liter.. ini 32 liter."
"Jadi aku ngitungnya lebihin seribu perliternya ya?"
"Iyalah, gak dapet bati aku kalau gitu."
Sugeng menghitung menggunakan kalkulator di ponselnya dan ia langsung membayarnya kepada Sodri.
"Apa itu Sod?" Tanya Nenek Ratmi yang baru keluar dari warung.
"Bensin bude." Jawab Sodri.
"Owalah... kirain apa. Emang ada botolnya kamu geng?"
"Ada nek, botol bekas mbak Lasmi dulu. Dulu kan dia pernah dagang jamu sebelum dagang pecel. Bagus botolnya, kaca agak gede gitu."
"Oh iya juga ya, boleh di minta?"
"Diminta apanya! Di suruh bayarin iya!"
"Woalah wong kikir!! Botol ngga di pake aja di suruh bayarin..!!" Gerutu Nenek Ratmi.
"Aku tak terus ya geng, kalau udah habis kabarin, ya." Ujar Sodri.
"Iya Sod, oh iya Sod kalau ada canel etalase seken ya, kecil aja."
"Etalase barang apa etalase konter geng?"
"Barang sama konter juga."
"Oke, ntar kalau ada lokak aku kabarin."
***
Kehidupan Sugeng berjalan dengan sangat mulus, saat ini ia sudah membuka usaha berupa warung rumahan berukuran 3×4 meter. Warung rumahan biasa yang terlihat rapi untuk ukuran di sebuah kampung.
Sugeng juga kembali membeli anak anak kambing kali ini tak hanya kambing namun dua ekor sapi juga Jantan dan betina.
Keseharian Sugeng hanya berada di warung, mencari rumput dan memberi makan hewan hewan ternaknya.
Setiap pagi sekitar pukul 9 pagi ia membuka warungnya dan akan tutup sekitar pukul 9 malam.
Tak hanya sembako dan kebutuhan sehari hari yang Sugeng jual, ia juga menjual token listrik, pulsa, bensin eceran dan lain lain. Walaupun tak seberapa ramai namun ia tetap mendapatkan uang sekitar 300-500 ribu perharinya, tentu itu pendapatan kotor. Setidaknya ia tak merugi dan warga tidak akan mencurigainya ketika suatu saat nanti ia akan sukses.
Usaha dan ternak yang Sugeng jalani saat ini hanya sebagai gimik semata mata agar warga dan polisi tak curiga.
Pagi hari sekali sekitar pukul 11 Sugeng memanggil neneknya untuk minta tolong, "nek jagain warung sebentar, Sugeng mau mandi sama kasih makan ternak." Ujar Sugeng
Nenek Ratmi menghentikan aktifitasnya di dapur dan berbalik, "iya, jangan lama lama." Jawabnya.
Sugeng bergegas ke kamarnya untuk mengambil pakain ganti dan langsung menuju ke kamar mandi. Sugeng memang biasa mandi pagi di jam sebelas, sepuluh bahkan sering tak mandi pagi.
Sedangkan nenek Ratmi terlihat duduk di kursi plastik, menjaga warung dengan santai.
Nenek Ratmi menyipitkan matanya ketika seorang wanita cantik berjalan dari kejauhan dan mendekati rumah dengan tangan menutupi wajahnya seperti menangis.
"Loh... Sekar!" Nenek Ratmi kaget karena wanita itu adalah cucu pertamanya.
Ia langsung bangkit dan menghampiri Sekar.
"Ada apa nduk? Kok kamu nangis nangis? Jam segini kok udah pulang kerja?" Cecar nenek Ratmi.
"Sugeng mana nek?" Sekar justru bertanya sembari menghapus air matanya.
"Dia lagi mandi.."
"Sekar mau curhat sama nenek."
Nenek Ratmi menarik nafasnya dalam dalam. Ia tahu ini pertanda Sekar sedang di landa masalah ketika Sekar berkata ingin curhat.
Nenek Ratmi pun menuntun Sekar masuk ke warung.
"Jadi kenapa nduk kok kamu pulang pulang nangis? Pipi kamu juga kenapa merah?" Tanya Nenek Ratmi.
"Sekar di pecat nek... Bos toko percetakan tempat Sekar itu kan laki laki. Ngga tau kenapa tiba tiba dia ngajak Sekar nanti malam kehotel. Ya Sekar ngga mau, tapi dia maksa maksa bahkan sampe jambak rambut Sekar. Sekar terpaksa nampar dia. Ngga taunya istri dia lihat, istri dia minta penjelasan apa yang terjadi. Sekar udah jelasin semuanya tapi istrinya ngga percaya dan justru bos Sekar fitnah sekar yang engga engga... dan akhirnya gitu, Sekar di pecat dan di tampar sama istrinya dia lebih percaya ucapan suaminya..."
"Ya Allah."