Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Mantan Sari Datang Menyerang
Ketenangan hari Minggu sore di Wisma Lavender hancur berantakan ketika sebuah mobil sedan hitam dengan knalpot bising yang sudah dimodifikasi berhenti tepat di depan gerbang. Mesinnya meraung-raung provokatif, sengaja memanggil perhatian seluruh penghuni kos yang sedang menikmati waktu senggang mereka. Arka, yang baru saja selesai mengolesi perutnya dengan minyak kayu putih—sisa perjuangan pasca tragedi lomba masak yang menguras energinya—langsung waspada. Ia segera berdiri dari sofa ruang tengah begitu mendengar suara teriakan kasar dan cacian yang mulai terdengar dari arah teras depan.
"Sari! Keluar kamu sekarang! Jangan bersembunyi di balik pagar itu seperti pengecut!" Suara pria itu terdengar berat, serak, dan penuh tuntutan yang tidak sehat, memecah kedamaian sore yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi para mahasiswi dan pekerja di sana.
Sari muncul dari balik pintu ruang tengah dengan wajah yang mendadak sepucat kapas. Bibirnya sedikit bergetar, dan tangannya tampak gemetar hebat saat ia menggenggam ponselnya dengan sangat erat, seolah benda itu adalah satu-satunya pegangannya. "Itu Rendy, Ka. Dia... dia nggak pernah mau terima kalau kita sudah putus secara baik-baik tiga bulan lalu. Dia terus meneror gue lewat pesan singkat, menelepon dari nomor yang berbeda-beda, dan sekarang dia nekat datang ke sini setelah tahu lokasi kos gue," bisik Sari dengan suara yang nyaris hilang karena ketakutan yang mendalam.
Arka segera berdiri tegak, mengabaikan sisa rasa mual yang masih sedikit melilit di perutnya. Insting pelindungnya bereaksi lebih cepat daripada logikanya. "Dia sering melakukan intimidasi begini ke lo?"
Sari mengangguk lemah, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang sayu. "Dia sangat posesif dan obsesif, Ka. Selama kami pacaran, dia merasa aku ini adalah miliknya seutuhnya, bukan seorang manusia yang punya kehendak. Kalau aku nggak keluar menemui dia sekarang, dia bisa nekat memanjat pagar, merusak fasilitas kos, atau bahkan mulai berteriak hal-hal yang mempermalukan aku di depan tetangga. Aku... aku benar-benar nggak tahu harus bilang apa lagi supaya dia pergi dan berhenti mengganggu hidupku."
Melihat Sari yang biasanya tampak begitu tangguh sebagai calon dokter kini berubah menjadi sosok yang begitu rapuh dan ketakutan, Arka merasakan desakan protektif yang asing sekaligus kuat di dadanya. Tanpa pikir panjang dan tanpa butuh waktu untuk menimbang risiko, ia mengambil jaket kulit hitamnya yang tersampir di kursi. "Ikuti gue di belakang. Jangan bicara apa-apa, tetap diam dan biarkan gue yang mengambil alih seluruh percakapan ini."
"Tapi, Ka, dia orangnya impulsif, dia bisa saja kasar kalau sedang emosi—"
"Gue juga bisa jauh lebih kasar kalau memang diperlukan, Sar. Percaya sama gue," tegas Arka, suaranya rendah namun penuh keyakinan yang menenangkan. "Sekarang, pegang lengan gue dengan erat. Kita harus buat dia percaya sepenuhnya kalau alasan lo nggak bisa kembali sama dia adalah karena lo sudah punya orang lain. Orang yang jauh lebih menghargai lo daripada dia."
Begitu mereka melangkah keluar ke teras, sosok Rendy yang tampak berantakan dengan mata merah kelelahan langsung menatap tajam ke arah mereka. Rambutnya kacau dan pakaiannya tampak lusuh, mencerminkan kondisi mentalnya yang tidak stabil. Ia tampak siap meledak dengan segala makian, namun langkahnya tertahan seketika saat melihat Sari tidak sendirian. Sari berjalan berdampingan, bahkan menggandeng erat lengan seorang pria yang posturnya lebih tegap, pundaknya lebih lebar, dan tampak jauh lebih tenang menghadapi amarahnya.
"Siapa cowok ini, Sar? Oh, jadi ini alasan kamu memblokir semua nomor aku? Karena cowok bengkel ini?" ejek Rendy dengan nada meremehkan yang kental, matanya memindai dengan sinis kaus hitam Arka yang sedikit terkena noda oli di bagian ujung bawahnya—jejak pekerjaan pagi tadi.
Arka tidak terpancing sedikit pun oleh ejekan rendahan itu. Ia justru melangkah satu tindak lebih maju ke depan, memposisikan dirinya sebagai tameng hidup yang membuat Sari sedikit terlindung di belakang bahu lebarnya. "Nama gue Arka. Dan menurut pendapat gue, kalau seorang cewek sudah memblokir semua akses komunikasi lo, itu adalah sinyal universal yang sangat jelas buat berhenti jadi pengganggu. Lo nggak punya hak, alasan, atau urusan apa pun lagi di sini."
"Halah, nggak usah berlagak jadi pahlawan! Paling ini cuma akting murahan! Sari nggak mungkin punya selera rendah dengan memilih modelan kasar kayak kamu!" bentak Rendy, mencoba melangkah maju untuk menarik tangan Sari, namun Arka dengan sigap menahan dada pria itu dengan satu telapak tangan yang besar dan kuat.
"Lo dengar baik-baik ucapan gue," suara Arka kini terdengar sangat dingin dan menusuk, seperti deru mesin yang sedang mengalami overheat dan siap meledak jika ditekan sedikit lagi. "Sari sekarang pacar gue. Dia aman di sini, di bawah perlindungan gue dan Wisma Lavender. Kalau lo masih berani menginjak satu inci saja lantai teras ini atau mengirim satu saja pesan sampah ke ponselnya, gue nggak akan ragu untuk lapor polisi atas dasar pengancaman, penguntitan, dan perbuatan tidak menyenangkan. Atau, kalau lo memang lebih suka cara yang lebih manual dan cepat, gue bisa kasih lihat secara langsung gimana cara seorang mekanik 'memperbaiki' mulut yang nggak tahu aturan."
Tekanan telapak tangan Arka di dada Rendy tidak main-main. Arka yang setiap hari terbiasa membongkar mesin berat dan memutar baut berkarat memiliki kekuatan genggaman yang membuat Rendy sedikit meringis menahan sakit. Di belakang mereka, ketegangan itu mulai menarik perhatian penghuni kos lainnya. Ziva dan Dira mulai mengintip dengan cemas dari balik jendela ruang tamu, bahkan Dira sudah memegang ponselnya dengan posisi horizontal, kamera menyala dan siap merekam segala bentuk intimidasi yang dilakukan Rendy sebagai bukti hukum jika diperlukan.
"Sari, kamu serius memilih dia dibandingkan aku? Setelah semua yang pernah kita lewati?" tanya Rendy, suaranya kini mulai bergetar antara amarah yang memuncak dan rasa malu yang luar biasa karena ia mulai menjadi tontonan warga sekitar dan penghuni kos lainnya.
Sari, yang merasakan keamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di balik punggung Arka yang kokoh, akhirnya menemukan kembali keberaniannya yang sempat hilang. Ia mengeratkan pegangannya di lengan Arka, memberikan sinyal dukungan, dan menatap lurus ke arah mantan kekasihnya dengan tatapan dingin. "Iya, Ren. Arka jauh lebih menghargai aku, menghormati privasiku, dan memperlakukan aku dengan layak daripada kamu selama ini. Sekarang pergilah, atau aku benar-benar akan panggil satpam komplek dan polisi untuk menyeretmu dari sini."
Rendy mendengus kasar, wajahnya merah padam karena harga dirinya runtuh seketika di depan orang banyak. Ia menyadari bahwa kehadirannya tidak lagi memiliki taji. Dengan umpatan kasar yang ditujukan pada Arka, ia akhirnya berbalik dengan langkah terhentak, masuk ke dalam mobilnya, dan menginjak gas sedalam-dalamnya hingga asap knalpotnya yang hitam memenuhi udara di depan wisma, meninggalkan suara deru mesin yang memuakkan.
Begitu mobil hitam itu hilang di tikungan jalan, Arka langsung mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya. Seluruh ketegangan di bahunya merosot seketika. Ia berbalik dan menoleh ke arah Sari yang masih berdiri mematung di tempatnya. "Lo oke? Dia nggak sempat menyakiti lo secara fisik, kan?"
Sari perlahan melepaskan pegangannya di lengan Arka dengan gerakan yang canggung, wajahnya yang tadi pucat kini mulai merona merah karena rasa malu dan campur aduk emosi. "Maaf banget ya, Ka. Gue benar-benar merasa bersalah karena terpaksa melibatkan lo dalam drama pribadi nggak mutu ini. Dan... terima kasih banyak sudah bersedia jadi 'pacar' pura-pura gue buat sepuluh menit paling menegangkan tadi. Gue nggak tahu apa yang bakal terjadi kalau lo nggak ada."
Arka hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba menyembunyikan detak jantungnya sendiri yang ternyata juga berpacu sangat cepat—bukan karena rasa takut pada Rendy, melainkan karena kehangatan sisa genggaman tangan Sari di lengannya yang masih terasa membekas. "Nggak apa-apa, Sar. Anggap saja itu latihan akting dadakan buat gue, siapa tahu gue mau pindah profesi jadi aktor. Tapi, serius... lain kali kalau ada hal semacam ini lagi, atau ada siapa pun yang mengancam lo, jangan pernah ragu untuk kasih tahu gue. Gue nggak keberatan harus jadi juri masak makanan aneh atau jadi pacar palsu sementara, asal itu semua bisa bikin lo merasa aman tinggal di sini."
Malam itu, Wisma Lavender kembali ke dalam ketenangannya yang semula, meski Arka harus bersiap menghadapi gelombang godaan dan ejekan jenaka dari Ziva, Gendis, dan penghuni lainnya yang sejak tadi menonton penuh antusias dari balik jendela. Mereka terus-menerus memuji betapa "keren", "berwibawa", dan "gentleman" mekanik kebanggaan mereka saat mengusir sang mantan toksik dengan satu tangan, sebuah kejadian yang dipastikan akan menjadi topik hangat di meja makan selama seminggu ke depan.