NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Resonansi di Dinding Hijau

Warna Mint Dream itu akhirnya mengering sempurna pada Rabu pagi. Di bawah cahaya matahari Melbourne yang tipis dan pucat, tembok itu memberikan karakter baru pada unit 3B. Ruangan itu tidak lagi terasa seperti tempat transit bagi dua orang dengan visa kerja; ia mulai terasa seperti sebuah pernyataan. Namun, seperti semua perubahan besar, ia menuntut penyesuaian yang tidak nyaman.

"Baunya masih tajam, Al," keluh Arka saat mereka sarapan dengan roti panggang yang agak gosong. Dia membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin Carlton yang menggigit masuk dan mengacak-acak tumpukan kertas model bisnisnya.

"Setidaknya ini bau baru," sahut Alya, mengoleskan mentega. "Bukan bau debu tahun 90-an lagi."

Pagi itu, ketenangan mereka dipecah oleh ketukan di pintu. Bukan ketukan ragu-ragu, tapi ketukan yang menuntut. Saat Alya membuka pintu, dia mendapati seorang pria tua dengan sweter rajut berwarna mustard dan alis yang menyambung.

"Mr. Henderson?" tanya Alya. Dia ingat pria ini; tetangga unit 3A yang pernah ia lihat sekali sedang memaki-maki kotak surat karena tagihan gas yang terlambat.

"Bau catnya masuk ke ventilasi saya," gerutu pria itu tanpa salam. Matanya mengintip ke dalam ruangan, melewati bahu Alya, menatap tembok hijau yang mencolok itu. "Kalian penyewa baru, kan? Aturan gedung melarang perubahan permanen tanpa izin manajemen. Warna itu... terlalu terang. Merusak harmoni koridor."

Alya tertegun. Di Jakarta, tetangga mungkin akan bertanya "masak apa?" kalau ada bau tajam. Di sini, estetika dinding adalah masalah hukum. "Kami hanya mengecat satu sisi, Sir. Dan kami akan mengembalikannya ke warna asli saat pindah nanti."

"Kalian orang-orang muda selalu berpikir semuanya bisa 'dikembalikan'," Mr. Henderson mendengus, lalu berbalik pergi sambil bergumam soal "anak-anak ekspatriat yang tidak mengerti struktur bangunan tua".

Arka muncul di belakang Alya, memegang cangkir kopinya. "Selamat datang di kehidupan bertetangga yang sesungguhnya," godanya, meski matanya menunjukkan sedikit kecemasan. "Satu masalah lagi untuk daftar 'risiko' minggu ini."

Namun, masalah Mr. Henderson hanyalah gangguan kecil dibandingkan dengan apa yang menunggu Alya di kantor.

Pukul 11.15, Alya dipanggil ke ruang kaca Regional Head. Kali ini, tidak ada guyonan "Chief". Di atas meja ada laporan audit vendor karbon dari Jakarta yang ia kirim kemarin. Ada banyak coretan merah di sana.

"Tim Jakarta merasa kamu terlalu kaku, Alya," kata bosnya, menyandarkan punggung ke kursi kulit. "Mereka bilang kamu memotong anggaran logistik mereka tanpa melihat konteks lokal. Mereka merasah dikendalikan dari jarak jauh oleh seseorang yang 'tidak mau turun ke lapangan'."

Alya merasakan panas menjalar ke lehernya. "Saya memotong anggaran itu karena ada kebocoran efisiensi sebesar 15% di rantai pasok mereka, Sir. Jarak jauh atau tidak, data mentahnya tidak berbohong."

"Data tidak berbohong, tapi orang bisa sakit hati," balas bosnya dingin. "Keputusanmu untuk tidak terbang ke sana mingguh depan dianggap sebagai bentuk 'ketidakpedulian'. Regional Director di Singapura mulai bertanya kenapa kita menunjuk seseorang yang punya keterikatan domestik terlalu kuat di saat proyek ini butuh mobilitas tinggi."

Kalimat itu sepertih tamparan. Keterikatan domestik. Istilah profesional untuk "kamu terlalu sibuk mengurus rumah dan suamimu".

Alya keluar dari ruangan itu dengan tangan gemetar. Dia duduk di meja kerjanya, menatap layar yang menampilkan rute trem 96 di peta digital. Dia ingin menelepon Arka, ingin mengeluh bahwa dunia sedang menghukumnya karena memilih untuk tidak menjadi mesin. Tapi dia teringat wajah Arka tadi pagi—wajah yang sudah cukup terbebani oleh valuasi investor yang turun.

Dia memilih untuk diam. Dia mengetik balasan email ke tim Jakarta dengan nada yang lebih diplomatis, meski hatinya memberontak. Dia menghabiskan sore itu dengan menelan harga dirinya, menjelaskan satu per satu baris di spreadsheet lewat panggilan video yang penuh dengan sindiran halus dari rekan-rekannya di sana.

Pulang kerjah, Alya tidak langsung naik ke apartemen. Dia berjalan memutar ke arah taman di University Square. Dia duduk di bangku kayu, menonton mahasiswa-mahasiswa yang tertawa sambil membawa buku-buku tebal. Dia merasa sangat tua di usia 29 tahun. Dia merasa terjepit di antara dua dunia: dunia yang menuntutnya untuk terbang setinggi mungkin, dan dunia di unit 3B yang memintanya untuk menapak di bumi.

Saat dia akhirnya sampai di rumah, hari sudah gelap. Dia menemukan Arka sedang duduk di lantai, di depan tembok hijau itu, tapi dia tidak sedang bekerja. Dia sedang memainkan gitar tua yang ia beli di toko loak kemarin sore. Suaranya sumbang di beberapa bagian, tapi melodinya tenang.

"Gimana kantor?" tanya Arka tanpa berhenti memetik senar.

Alya meletakkan tasnya, melepas sepatu, dan duduk di samping Arka. Dia menyandarkan kepala di bahu suaminya. "Mereka benci aku, Bang. Karena aku di sini."

Arka berhenti memetik gitar. Dia menaruh instrumen itu di sampingnya dan merangkul Alya. "Aku juga dapet kabar kurang enak. Partnerku di Sydney mulai bicara soal memisahkan kepemilikan. Mereka mau jalan sendiri kalau aku nggak bisa 'komit' secara fisik di sana."

Mereka berdua terdiam, menatap tembok hijau mint yang semalam terasa seperti kemenangan, tapi malam ini terasa seperti beban. Ternyata, memilih untuk menetap adalah sebuah tindakan radikal yang memiliki konsekuensi mahal. Dunia tidak didesain untuk orang yang ingin "pulang" setiap hari.

"Masih layak?" tanya Alya pelan.

Arka menatap tembok hijau itu, lalu menatap tanaman lidah mertua di ambang jendela yang mulai menunjukkan tunas kecil di bagian bawah. "Lihat itu, Al," Arka menunjuk ke tunas baru itu. "Dia tumbuh karena dia nggak dipindah-pindah lagi. Mungkin kita akan kehilangan proyek, mungkin kita akan kehilangan valuasi, tapi kita nggak akan kehilangan diri kita sendiri."

Arka mencium puncak kepala Alya. "Besok kita beli tanaman lagi. Sesuatu yang merambat. Biar tembok hijaumu ada temannya."

Alya menutup matanya. Resonansi suara Arka di ruangan itu terasa lebih nyata daripada ancaman bosnya atau sindiran tim Jakarta. Mereka mungkin sedang membangun rumah di atas tanah yang goyah, tapi setidaknya, mereka membangunnya bersama.

Di luar, Mr. Henderson lewat di koridor, langkah kakinya yang berat terdengar sampai ke dalam. Tapi malam itu, Alya tidak peduli. Dia menarik napas dalam, menghirup bau cat yang mulai memudar, digantikan oleh aroma teh melati yang diseduh Arka.

"Bang," panggil Alya saat mereka sudah bersiap tidur.

"Ya?"

"Makasih sudah beli gitar sumbang itu. Aku lebih suka dengar suara gitarmu daripada suara notifikasi email."

Arka terkekeh. "Besok aku belajar kunci C yang bener. Janji."ditutup dengan sunyi yang berbeda. Bukan sunyi karena kesepian, tapi sunyi karena kesepakatan bahwa besok, badai apa pun yang datang ke unit 3B, mereka akan menghadapinya dengan kaki yang tetap berpijak di atas karpet warna oats yang sudah mulai mereka cintai.

Izinnn

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!