NovelToon NovelToon
Temukan Aku Dengan Bismillah

Temukan Aku Dengan Bismillah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Namira Ahsya

Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.

Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.

Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.

Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.

Hanya satu jalan.

Temukan dia dengan Bismillah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 - Rahasia di Hati Ayin

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring.

Tanda bahwa kegiatan belajar hari itu telah selesai.

Para siswa mulai keluar dari kelas mereka.

Suasana koridor sekolah dipenuhi suara langkah kaki, tawa, dan percakapan para murid yang hendak pulang.

Isya merapikan buku-bukunya dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam tas.

Ayin yang sudah berdiri di samping meja langsung menepuk bahu Isya.

“Isyaaa… ayo pulang.”

Isya mengangguk kecil.

“Iya, sebentar ya.”

Mereka berjalan keluar kelas bersama seperti biasanya.

Namun saat sampai di gerbang sekolah, Ayin tiba-tiba menarik tangan Isya.

“Eh, eh… ke sini dulu.”

Isya yang ditarik mendadak berhenti.

“Loh? Mau ke mana?”

Ayin tersenyum misterius.

“Kita ke taman sebentar yuk.”

Isya langsung mengerutkan dahi.

“Taman? Ngapain?”

“Ya duduk-duduk aja.”

Isya menggeleng pelan.

“Aduh Ayin… Isya harus pulang. Banyak kerjaan di rumah. Nanti malam juga kerja.”

Ayin langsung merangkul bahu Isya.

“Sebentar aja syaa… cuma bentar kok.”

Isya menatap Ayin dengan curiga.

“Kamu kenapa sih? Biasanya juga langsung pulang.”

Ayin tertawa kecil.

“Ya sesekali lah santai.”

Isya menghela napas.

“Hmm… yaudah sebentar aja ya.”

“Yeeey!”

Ayin langsung menarik tangan Isya dengan semangat.

Mereka pun berjalan menuju taman kecil yang tidak terlalu jauh dari sekolah.

 

Tidak lama kemudian mereka sampai di taman.

Taman itu cukup sederhana namun sangat nyaman.

Pohon-pohon besar tumbuh rindang di sekelilingnya. Angin sore berhembus lembut, membuat daun-daun bergoyang pelan.

Beberapa anak kecil terlihat berlarian bermain.

Ada juga orang-orang yang duduk santai di bangku taman sambil berbincang.

Di dekat jalan setapak, seorang pedagang kecil menjual jajanan seperti cilok dan es teh.

Isya memandang sekeliling taman dengan wajah tenang.

“Enak juga ya tempatnya.”

Ayin mengangguk.

“Iyaa… adem.”

Mereka berjalan pelan melewati jalan setapak yang dipenuhi bayangan pohon.

Sinar matahari sore menyelinap di antara daun-daun, menciptakan cahaya hangat yang jatuh di tanah.

Isya duduk di salah satu bangku taman.

Angin sore menyentuh wajahnya dengan lembut.

Ia menghela napas panjang.

“Masyaa Allah… sejuk banget.”

Ayin duduk di sampingnya sambil tersenyum melihat ekspresi sahabatnya itu.

Di kejauhan, burung-burung kecil terdengar berkicau.

Suasana taman terasa damai dan tenang.

Untuk sesaat, Isya bisa melupakan lelahnya hari itu.

 

Angin sore masih berhembus lembut di taman itu.

Isya dan Ayin duduk berdampingan di bangku kayu, memandangi anak-anak kecil yang berlarian di lapangan rumput.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Isya menoleh ke arah Ayin.

“Yin… kamu tadi katanya mau cerita. Cerita apa sih?”

Ayin tampak sedikit gelisah.

Ia memainkan ujung kerudungnya sambil menunduk.

“Hmm… Isya…”

Isya memperhatikan wajah sahabatnya itu.

“Kenapa?”

Ayin menarik napas panjang.

“Aku… kayaknya suka sama seseorang.”

Isya langsung membelalakkan mata.

“Hah?!”

Isya menatap Ayin tidak percaya.

“Kamu serius?”

Ayin mengangguk pelan sambil menahan malu.

Isya langsung mendekat lalu mencubit pipi Ayin.

“Sadarr… sadarr…!”

“Aduuuh sakit!”

Isya menatap Ayin dengan wajah setengah kesal namun tetap lembut.

“Yin… kamu lupa ya?”

Isya lalu berkata dengan pelan namun tegas.

“Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an.”

"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk."

(QS. Al-Isra: 32)

Isya menatap Ayin lagi.

“Liat kan? Mendekati aja gak boleh… apalagi kamu bilang mau pacaran.”

Ayin langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Iyaa syaa… aku juga tahu…”

Isya menepuk bahu Ayin dengan lembut.

“Perasaan suka itu manusiawi kok, Yin. Tapi jangan sampai kita salah jalan.”

Ayin mengangguk pelan.

“Hmmm…”

Ia lalu menatap ke arah langit yang mulai berwarna jingga.

“Tapi bingung syaa…”

“Kenapa?”

“Perasaan ini kadang kepikiran terus.”

Isya tersenyum kecil sambil menatap sahabatnya.

“Hmmm iya yin… memang begitu.”

Isya mengangguk pelan.

“Toh kita memang diciptakan Allah dengan perasaan seperti itu. Jadi wajar kalau kadang kagum atau suka sama seseorang.”

Ayin mendengarkan dengan serius.

Isya lalu mencondongkan sedikit badannya sambil berkata pelan.

“Tapi awas yaa…”

Ayin langsung menoleh.

“Awas?”

Isya tersenyum kecil sambil mencubit pipi Ayin lagi.

“Iyaa awas… itu bisa jadi bisikan setan.”

“Aduhh syaa!”

Isya tertawa kecil.

“Nanti kamu mulai ingat dia terus…”

“Terus kebayang-bayang…”

“Terus galau sendiri.”

Ayin menutup wajahnya.

“Ishhh kamu tau aja!”

Isya tersenyum lembut.

“Dari situ biasanya setan gampang masuk.”

Ayin menatap Isya lagi.

“Maksudnya?”

Isya menjawab dengan tenang.

“Kalau hati kita terlalu sibuk memikirkan seseorang, kadang kita jadi lalai.”

“Lalai dari apa?”

“Lalai dari Allah.”

Angin sore kembali berhembus pelan di taman itu.

Isya menatap langit yang mulai redup.

“Makanya perasaan itu harus dijaga, Yin. Jangan sampai kita ikuti kemana-mana.”

Ayin mengangguk kecil.

“Hmmm iya juga…”

Isya lalu tersenyum lagi.

“Sekarang cerita deh.”

“Memangnya apa sih yang bikin kamu suka sama dia?”

Ayin langsung tersenyum malu.

Matanya berbinar seakan mengingat sesuatu.

“Jadi gini syaa…”

 

Hari itu Ayin pulang sendirian.

Isya pulang lebih dulu karena ada urusan di rumah, jadi Ayin harus berjalan sendiri melewati jalan kecil menuju rumahnya.

Langit sudah mulai berwarna jingga.

Di sebuah gang kecil, beberapa anak laki-laki sedang duduk nongkrong di pinggir jalan.

Saat melihat Ayin lewat, salah satu dari mereka bersiul.

“Hei lihat tuh… anak sekolah.”

Yang lain tertawa kecil.

Ayin mencoba tidak peduli dan tetap berjalan.

Namun salah satu dari mereka berdiri dan menghalangi jalannya.

“Kenapa buru-buru? Takut ya?”

Ayin menatap mereka dengan kesal.

“Tolong minggir.”

Bukannya pergi, mereka justru tertawa.

Salah satu dari mereka menarik buku yang ada di tangan Ayin.

“Belajar terus… pinter nggak sih?”

Ayin langsung mencoba merebut bukunya kembali.

“Itu bukuku!”

Namun saat mereka saling tarik, tiba-tiba terdengar suara kertas robek.

“Sreeettt!”

Buku Ayin terbelah di bagian tengah.

Semua anak itu tertawa keras.

Ayin terdiam.

Matanya langsung berkaca-kaca.

Buku itu adalah buku yang sering ia pakai belajar bersama Isya.

Melihat bukunya robek membuat hatinya benar-benar sedih.

“Balikin!”

Ayin mendorong salah satu dari mereka dengan kesal.

“Jangan kurang ajar!”

Anak-anak itu malah tertawa lebih keras.

“Wah galak juga.”

Tiba-tiba terdengar suara sepeda berhenti di dekat mereka.

Sebuah suara tenang berkata,

“Sudah.”

Semua menoleh.

Seorang siswa dari sekolah lain berdiri di sana.

Dia turun dari sepedanya dan berjalan mendekat.

Dia melihat buku yang robek di tangan Ayin.

Kemudian menatap anak-anak itu dengan serius.

“Kalau tidak ada kerjaan, jangan ganggu orang.”

Salah satu dari mereka tertawa sinis.

“Wah… sok pahlawan.”

Yang lain ikut berdiri.

“Berani juga kamu sendirian.”

Salah satu dari mereka mencoba mendorongnya.

Namun dengan cepat dia menepis tangan itu.

Gerakannya sangat cepat.

Buk!

Satu pukulan lurus mengenai perut anak itu.

Dia langsung mundur kesakitan.

Yang lain mencoba menyerang.

Namun dia menghindar dengan lincah lalu memberikan dua pukulan lagi.

Buk! Buk!

Dalam beberapa detik saja mereka sudah tidak berani mendekat.

Namun salah satu dari mereka tiba-tiba mengambil ikat pinggang dari celananya.

“Berani juga kamu ya!”

Ia mengayunkan ikat pinggang itu dengan keras.

Plakk!

Ikat pinggang itu mengenai kepala anak yang membela Ayin.

Ayin langsung menjerit kaget.

“Heyyy! Hentikann!”

Anak itu sedikit terhuyung.

Tangannya menyentuh kepalanya sebentar.

Namun dia hanya menghela napas pelan, lalu menatap mereka lagi dengan tenang.

Seolah pukulan itu tidak membuatnya gentar sedikit pun.

Ayin panik.

“Kamu… kamu nggak apa-apa?”

Anak itu hanya berkata singkat.

“Aku tidak apa-apa.”

Melihat itu, anak-anak nakal tadi semakin kesal.

“Masih kuat juga rupanya!”

Dua orang langsung maju bersamaan.

Anak itu mundur satu langkah, lalu menghindar dengan cepat.

Buk!

Satu pukulan lurus mengenai bahu lawannya.

Yang lain mencoba menendang.

Namun ia menangkis dan membalas dengan pukulan cepat ke arah perut.

Buk!

Anak itu benar-benar seperti sudah terbiasa bertarung.

Gerakannya cepat, rapi, dan terkontrol.

Beberapa saat kemudian mereka mulai kewalahan.

Salah satu dari mereka tiba-tiba berhenti.

Matanya tertuju pada tas olahraga yang dipakai anak itu.

Di tas tersebut terdapat logo klub boxing yang cukup terkenal.

Anak itu menyipitkan mata.

“Eh… tunggu dulu.”

Ia menarik temannya dan berbisik pelan.

“Itu… bukannya dia yang juara emas boxing tingkat kota kemarin?”

Temannya langsung menoleh lagi dengan wajah kaget.

“Serius?”

Yang lain ikut melihat dengan lebih teliti.

Wajah mereka berubah tegang.

Perlahan-lahan mereka mulai mundur.

“Sudahlah…”

Salah satu dari mereka berkata pelan.

Mereka mulai menjauh sedikit demi sedikit.

Namun sebelum pergi, salah satu dari mereka menunjuk dengan wajah kesal.

“Awas kamu…”

“Jangan merasa jadi pahlawan.”

Mereka akhirnya kabur meninggalkan tempat itu.

Gang kecil itu kembali sunyi.

Ayin masih berdiri dengan jantung yang berdebar kencang.

Ia menatap anak yang membelanya tadi.

Di kepalanya masih terlihat sedikit bekas pukulan dari ikat pinggang tadi.

Ayin menunduk melihat bukunya yang robek.

Air matanya jatuh pelan.

Anak itu mengambil buku tersebut dengan hati-hati.

“Maaf…”

Ia menyerahkannya kembali kepada Ayin.

Ayin menerima buku itu dengan tangan sedikit gemetar.

“Terima kasih…”

Angin sore berhembus pelan melewati jalan kecil itu.

Untuk pertama kalinya Ayin melihat wajahnya dengan jelas.

Dan entah kenapa…

Sejak saat itu, wajah anak itu selalu teringat di pikirannya.

 

Isya yang mendengar cerita itu langsung berubah panik.

“ahhh… Yin, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Isya cepat. Wajahnya terlihat khawatir.

Ayin menggeleng pelan. “Aku nggak apa-apa… cuma bukuku robek.”

Isya menghela napas, lalu menatap Ayin dengan lembut.

“Ya Allah… aku kira kamu kenapa. Kalau sampai mereka nyakitin kamu gimana? Aku pasti sedih banget.”

Ayin terdiam sejenak, lalu berkata pelan.

“Entah kenapa… sejak saat itu, wajah anak itu selalu teringat di pikiranku.”

Selanjutnya isya mencoba menjadi dewasa untuk menghibur sahabat nya supaya tidak sedih.

Kemudian isya menarik pelan hidung Ayin.

“Hee… gimana nggak klepek-klepek yaa. Ada pahlawan kesiangan yang datang tiba-tiba begitu.”

Isya tersenyum kecil.

“Hihi…”

Ayin langsung memanyunkan bibirnya.

“Isyaa…”

Isya lalu menatap sahabatnya dengan lembut.

“Ayinnnn… "

"Cinta itu sebenarnya rahmat yang Allah beri ke hati manusia.”

“Tapi rahmat itu akan jadi indah kalau kita menjaganya di tempat yang halal.”

Isya berbicara pelan, seperti menasehati adik sendiri.

“Kalau dijaga dengan baik, nanti yang datang bukan cuma kebahagiaan… tapi juga pahala dan kebaikan.”

Ia melanjutkan dengan lembut.

“Nabi juga mengajarkan… kalau memilih pasangan itu yang paling utama adalah agamanya.”

“Karena kalau agamanya baik, dia akan paham tanggung jawabnya.”

Isya menepuk pelan bahu Ayin.

“Ayin harus pintar cari pemimpin yang baik.”

“Kalau perasaan ini dijaga di jalan yang salah… percaya deh…”

“Jalan maksiat bisa terbuka sedikit demi sedikit. Dari hal kecil… bisa jadi dosa yang lebih besar.”

Isya lalu menyenggol pelan sahabatnya.

“Heyy… semutt.”

Ayin menoleh.

“Ingat yaa… kalau kamu pacaran, yang paling rugi itu kamu.”

“Karena kamu wanita.”

“Dan suatu hari nanti kamu akan jadi seorang ibu.”

Isya tersenyum hangat.

“Bayangkan nanti kamu punya anak…”

“Bukankah indah kalau anakmu bangga… karena ibunya dulu menjaga dirinya.”

“Seperti mutiara yang tersimpan rapi.”

Isya lalu mengutip ayat Al-Qur’an.

“Allah menggambarkan kemuliaan itu seperti mutiara yang tersimpan baik.”

QS Al-Waqiah ayat 23

"Ka'amtsaalil lu'lu'il maknuun"

Laksana mutiara yang tersimpan.

Lalu isya tersenyum jahil lagi.

“Hihii… udah deh, jangan galau.”

Ia berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya.

“Ayo!”

Isya mengeluarkan uang dari sakunya.

“Isya baru terima gaji kemarin.”

“Sini sini… kita makan bakso dulu.”

Ayin langsung berbinar.

“Ehh, Serius?”

“Tapi… utang yaaa.”

Ayin tertawa keras.

“Hahaha! Siap deh Ustadzah Isyaa.”

Ia mengangkat tangannya seperti bersumpah.

“Tapi bayarnya… di akhirat yaa.”

Isya langsung memukul pelan bahunya.

“Hee dasar semut!”

Tawa mereka berdua pecah di taman kecil itu.

Sore pun perlahan menutup hari mereka dengan hangatnya persahabatan.

1
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝑀𝑎 𝑆𝑦𝑎𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑖𝑙𝑚𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑝-𝐾𝑎𝑛𝑛 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝚗𝚘𝚟𝚎𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚛𝚒𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚒 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚗𝚊𝚖𝚞𝚗 𝚍𝚒 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚊𝚗𝚢𝚊𝚔 𝚖𝚊𝚔𝚗𝚊 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝚊𝚔𝚞𝚞 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚗𝚊𝚖𝚊 𝚋𝚎𝚋𝚢 𝚒𝚝𝚞 𝚠𝚊𝚗𝚒𝚝𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚌𝚊𝚗𝚝𝚒𝚔 𝚍𝚒 𝚜𝚎𝚔𝚘𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚞𝚞 𝚔𝚊𝚗𝚗 ..

. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝚑𝚒𝚑𝚒 𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚔𝚎𝚔 𝚊𝚙𝚊𝚊 𝚊𝚓𝚓 𝙿𝙳-𝙽𝚢𝚊𝚊𝚊 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝑑𝑒𝑓𝑖𝑛𝑖𝑠𝑖 𝑐𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑑𝑖𝑟𝑖-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 ,, 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛 𝑝𝑢𝑛 𝑑𝑖 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑐𝑎𝑛𝑡𝑖𝑘 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑘𝑎𝑙𝑎ℎℎ ..

. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝑗𝑎𝑑𝑖𝑖𝑖𝑖 𝑏𝑎𝑝𝑒𝑟𝑟𝑟 𝑏𝑎𝑐𝑎-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 ,,
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..

. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐧𝐞𝐱𝐭
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐚𝐡𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐩𝐞𝐫 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 ,,
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐴ℎ𝑛𝑎𝑓𝑓 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑢𝑢𝑢 ,, 𝑙𝑜𝑣𝑒 𝑙𝑜𝑣𝑒 𝑠𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑘𝑒𝑒𝑒𝑏𝑜𝑜𝑜𝑜𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔𝑔𝑔𝑔 ..

. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝒓𝒆𝒌𝒐𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒔𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒆𝒕 𝒏𝒐𝒗𝒆𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒊𝒍𝒎𝒖 𝒂𝒈𝒂𝒎𝒐-𝑵𝒚𝒂𝒂𝒂 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐷𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑝𝑎ℎ𝑎𝑚 ,, 𝑏𝑎ℎ𝑤𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑠𝑎𝑖 𝑛𝑜𝑚𝑒𝑟 𝑠𝑎𝑡𝑢 ..

. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..

. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐃𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦 ,, 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐬𝐨𝐬𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐧𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐚𝐝𝐢𝐤-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 ..

. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐊𝐞𝐭𝐢𝐤𝐚 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭-𝐋𝐚𝐡𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐣𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐢𝐬𝐚𝐢 ..

. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐀𝐲𝐚𝐭 𝐤𝐞 𝐬𝐮𝐤𝐚𝐚𝐚𝐧-𝐊𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫𝐢𝐚𝐧𝐧 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 .

. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 ..

. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐞𝐦𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐮 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐬𝐮𝐣𝐮𝐝" 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐮𝐮 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢𝐠𝐚 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐨'𝐚 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐚𝐝𝐳𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐛𝐮𝐛 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐮𝐦𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠 ..

. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..

. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐡𝐢𝐡𝐢 ,, 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐠𝐞𝐣𝐞𝐤 𝐠𝐚𝐤 𝐬𝐢𝐡𝐡𝐡 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 𝐥𝐢𝐚𝐭 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐞𝐫𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐢𝐬𝐡𝐡 𝐢𝐬𝐡𝐡𝐡 𝐢𝐬𝐡𝐡𝐡 ,, 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐤𝐞𝐤 𝐤𝐢𝐭𝐚𝐚𝐚𝐚 .
. khaizzura azzoe cayesa ahsya
. 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐤𝐮𝐫𝐨 😗😗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!