Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.
Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Armada Malam Abadi
Surga Kedua - Langit di Atas Kota Roda Besi.
Tiga dewa telah hancur menjadi debu, namun ketakutan yang mereka tinggalkan masih mencekik tiga puluh dua kapal perang emas raksasa yang melayang di udara. Ratusan ribu prajurit elit Surga Kesembilan mereka yang dulunya memandang fana sebagai kotoran di bawah kuku mereka kini berdiri membeku di atas geladak.
Di tengah kesunyian yang menulikan itu, Shen Yu melayang santai. Sabit Pemutus Samsara Primordial di bahunya masih memancarkan dengungan rendah, seolah belum puas melahap keabadian.
Salah seorang Komandan Tertinggi armada, seorang ahli di batas Dewa Fana Tahap Puncak, menelan ludah dengan susah payah. Ia mengumpulkan sisa-sisa keberanian abadinya dan melangkah ke ujung haluan kapalnya.
"K-Kaisar Malam..." suara Komandan itu bergetar, merendahkan nada bicaranya hingga terdengar seperti cicitan tikus. "Kami telah menerima pesanmu. Kami akan kembali ke Surga Kesembilan dan menyampaikan peringatanmu kepada Pengadilan Langit. Tolong... biarkan armada ini pergi."
Shen Yu perlahan memutar kepalanya. Mata kirinya yang memancarkan kilat perak dan emas menatap Komandan itu dengan seringai yang membuat darah sang prajurit membeku.
"Pergi?" Shen Yu terkekeh pelan, sebuah tawa yang merambat membelah udara kelabu Surga Kedua. "Kalian salah paham. Pesan itu hanya perlu disampaikan oleh jiwa yang ketakutan. Siapa yang bilang kalian diizinkan membawa pulang kapal-kapal ini?"
Komandan itu membelalakkan matanya. "T-Tapi... ini adalah armada suci Pengadilan Langit! Jika kau merampasnya, Kaisar Taiyi tidak akan pernah—"
Shen Yu tidak membiarkan pria itu menyelesaikan kalimatnya.
Sang Tiran mengangkat tangan kirinya. Api Ketiadaan meledak, menutupi seluruh langit di atas Kota Roda Besi seperti selimut malam yang menelan matahari. Tekanan gravitasi dari Tulang Besi Naga Bintang-nya menghantam tiga puluh dua kapal perang emas itu secara serentak.
KRAAAAAK!
Kayu perunggu dan logam surgawi dari kapal-kapal itu mengerang keras. Kapal-kapal raksasa itu dipaksa turun puluhan tombak oleh tekanan murni Dantian Shen Yu. Puluhan ribu prajurit elit jatuh berlutut, tulang punggung mereka nyaris patah.
"Armada suci?" Shen Yu mencemooh, melesat dan mendarat dengan suara debuman berat di atas geladak kapal utama, tepat di hadapan Komandan Tertinggi tersebut. "Di hadapanku, tidak ada yang suci. Semua yang melayang di atas tanahku, bernapas di udaraku, adalah milik Malam Abadi!"
Shen Yu menancapkan Pemutus Samsara Primordial ke geladak kapal. Urat emas dan perak di bilah sabit itu memancarkan denyut yang menyedot sisa-sisa formasi pertahanan kapal.
"Aku memberitahu kalian dua pilihan," deklarasi Shen Yu, suaranya menggelegar ke seluruh tiga puluh dua kapal perang. "Pilihan pertama: kalian mengikuti dewa-dewa kalian menjadi abu Ketiadaan, dan aku akan melebur kapal-kapal ini menjadi rongsokan."
Shen Yu mencabut sabitnya dan menunjuk ke arah lautan prajurit elit yang berlutut di geladak.
"Pilihan kedua: Serahkan Sumpah Darah kalian. Buang kesetiaan kalian pada Surga Kesembilan. Mulai detik ini, kalian bernapas, bertarung, dan mati hanya untuk Sekte Malam Abadi!"
Kesunyian kembali turun. Membelot dari Pengadilan Langit adalah dosa yang tak terampuni, hukuman yang menanti jiwa mereka adalah siksaan abadi. Namun, melihat pemuda berambut putih di hadapan mereka yang baru saja membelah Dewa Sejati seolah memotong rumput... siksaan abadi terasa jauh lebih ringan daripada kemurkaan instan Sang Tiran.
Komandan Tertinggi itu menggertakkan giginya. Ia adalah seorang pejuang yang menghargai nyawa di atas kehormatan kosong. Dengan tangan gemetar, ia menggigit ujung jarinya dan memeras setetes Darah Esensi Jiwa-nya.
"Hamba... Komandan Jian... bersumpah setia pada Kaisar Malam!" teriaknya, menundukkan kepala hingga menyentuh geladak emas.
Melihat atasan mereka menyerah, bendungan pertahanan mental puluhan ribu prajurit elit itu pun jebol. Satu per satu, lalu ratusan, dan akhirnya seluruh armada raksasa itu memeras Darah Esensi Jiwa mereka, membiarkan tetesan-tetesan merah bercahaya itu melayang ke udara.
Shen Yu menyeringai. Ia membuka telapak tangannya, menggunakan pusaran Ketiadaan yang dicampur dengan Dao Waktu untuk menyerap puluhan ribu Sumpah Darah tersebut.
Begitu darah itu menyatu dengan Dantian Shen Yu, sebuah tanda teratai hitam kecil muncul di leher setiap prajurit. Itu bukan sekadar sumpah; itu adalah kutukan waktu. Jika ada satu helai pun niat pengkhianatan di benak mereka, Dao Waktu akan langsung mempercepat usia mereka jutaan tahun, mengubah mereka menjadi abu sebelum mereka sempat mencabut pedang.
Shen Yu berbalik, memandang ke bawah ke arah alun-alun Kota Roda Besi.
"Mo Han! Naik ke sini!" titah Shen Yu.
Dari bawah, Mo Han yang masih terluka memaksakan diri melesat ke udara, mendarat di belakang Shen Yu dengan napas terengah-engah. Matanya membelalak melihat puluhan ribu pasukan surga yang dulunya tidak bisa ia tatap, kini bersujud di bawah kaki junjungannya.
"T-Tuan Shen..."
"Katakan pada Divisi Besi, mereka baru saja mendapatkan mainan baru," kata Shen Yu santai. Ia menunjuk armada emas di sekelilingnya. "Ambil alih kapal-kapal ini. Gunakan dari darah sisa-sisa monster besi di hutan untuk menghitamkan lambungnya. Turunkan panji Pengadilan Langit. Malam ini, bendera Malam Abadi akan berkibar di tiga puluh dua tiang utama!"
"H-Hamba laksanakan!" Mo Han berteriak histeris, fanatismenya mencapai puncak tertinggi. Dengan armada ini, faksi mereka tidak hanya menguasai daratan Surga Kedua, tetapi mengklaim dominasi udara mutlak.
Lin Xue melayang naik dan mendarat dengan anggun di sisi Shen Yu. Pedang teratainya telah disarungkan. Ia memandang ke arah kapal-kapal yang kini mulai dikendalikan oleh pasukan campuran dari alam fana dan mantan elit surga.
"Kita telah menelan sepotong besar langit, Guru," kata Lin Xue lembut. "Pengadilan Langit Kesembilan kini akan mencoret nama kita dengan tinta merah mutlak. Armada selanjutnya yang mereka kirim tidak akan hanya dipimpin oleh Dewa Sejati tingkat awal."
"Aku tahu," jawab Shen Yu. Mata kirinya menatap celah awan di atas yang perlahan menutup. "Tapi wadahku juga membutuhkan waktu untuk mencerna hukum dewa yang baru kucuri. Armada ini akan menjadi perisai yang bagus sementara aku mengkonsolidasikan kekuatanku."
Shen Yu memutar Pemutus Samsara Primordial miliknya sebelum membiarkannya menyatu kembali ke dalam lengannya.