NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Tidur Bareng

Ninja hitam milik Fattah mulai memasuki markas besar geng motor LEVIAN, di sambut para anggota.

Selain di jadikan markas tempat berkumpul, markas ini di lengkapi tempat bermain Billiard, kafe dan bengkel motor di bagian depan.

Bengkel itu sendiri di tangani oleh anggota LEVIAN yang sudah duduk di bangku kuliah jurusan teknik mesin.

Sementara kafe di kelola oleh Evan dan temannya. Mereka anak jalanan yang pernah menolong Fattah saat di keroyok geng Devan dulu. Setelah itu, Fattah menjadikan mereka anggota LEVIAN.

"Gimana? Udah pada kumpul semua?" tanya Fattah yang memang menyuruh anak buahnya berkumpul di markas, sesuai titahnya di grup.

"Belum, bos. Beberapa masih di jalan," balas Mattew.

"Ya udah, nanti jam 7 kumpul di ruang tengah," balasnya memasuki basecamp.

Fattah memilih mendudukkan diri di sofa sambil menghisap rokoknya-sementara matanya tak lepas dari HP.

Satu persatu anggota mulai memasuki basecamp dan berkumpul.

"Fat, Noel juga datang," lapor Jefan membuat Fattah tersentak samar.

"Mana?"

"Tuh!" Jefan mengerakkan dagunya menunjuk.

Pandangan semua anak LEVIAN menoleh sepenuhnya pada Noel yang baru datang dan di rangkul oleh Mattew.

Tentu saja mereka semua tau konflik yang terjadi antara ketua mereka dan cowok itu.

"Kenapa pada lihatin gue? Gue masih anggota inti LEVIAN, kan?" balasnya mencoba tenang.

Fattah mengalihkan wajah dan berdehem sesaat, "Duduk semua!"

Noel dan lainnya merapat-memandang Fattah yang mulai mengatakan apa tujuannya.

"Devanka Bhalendra Arutala, dia balik berulah. Kata Evan, dia habis serang kafe tadi bareng anggotanya yang lain." Fattah menyebutkan nama bosgeng SMK Bhakti Utama.

Wajah-wajah tegang dan geram mulai menghiasi wajah mereka satu-satu.

Selain XLOVENOS, LEVIAN juga memiliki musuh lain yaitu BLACK EAGLE. Bedanya, jika XLOVENOS bermarkas di Jakarta Pusat, maka BLACK EAGLE bermarkas di Jakarta Selatan, sama seperti LEVIAN.

"Jadi gue udah putusin, buat kita serang SMK Bhakti Utama besok," terangnya membuat yang lain mengangguk patuh.

"Buat jam-nya?" tanya Mattew.

"Lihat sikon besok di sekolah gimana. Usahain jam 12 siang udah kumpul di warung belakang sekolah. Ngerti?"

"Ngerti, bos." Mereka mengangguk.

Kali ini, Fattah mulai mengambil spidol dan membuat coretan di papan tulis di dekatnya mengenai taktik penyerangan yang mereka lakukan besok.

Dia juga menyebutkan berapa banyak anggota yang harus ikut tawuran.

"Ya udah, kalian bisa bubar sekarang!"

titahnya membuat mereka satu-persatu berdiri dari duduknya.

Meninggalkan Fattah dan tiga anggota inti lainnya yang duduk di sofa.

Keadaan jadi canggung.

"Khem, kayaknya gue mau ke kafe beli minum. Aus gue," kata Jefan membuat Fattah terkejut kaget. Jefan segera beranjak tanpa peduli tatapan tajam dari Fattah.

Fattah mengangkat alis melihat Mattew ikut berdiri, "Mau kemana?"

"A-ah? Mau ke toilet. Kebelet kencing gue.

Duluan!" pamitnya lalu berlari menaiki tangga menuju ke lantai dua.

Ruangan mendadak hening.

Fattah hanya melirik Noel di sebelahnya dengan ujung mata dan berusaha tetap tenang.

Merasa keadaan canggung, Fattah berdecak pelan dan mengetikkan chat ke Aqqela.

Fattah: Za, temenin gue chat!

Aqqela: Apaan? Gue ngerjain tugas kelompok, nih. Alay banget kayak anak ABG minta di temenin chat.

Fattah: Canggung banget ini, Noel di samping gue.

Aqqela: Yang lainnya mana?

Fattah: Pada pergi semua anjis. Sengaja banget mereka, gue tau.

Aqqela: Bagus, lah. Baikan sana!

Fattah: Nggak mau.

Aqqela: Halah, padahal gue tau kalau lo sebenarnya kangen Noel. Lo nggak tega diemin dia.

Fattah: Najis. Sok tau banget.

Aqqela: Wkwkwk, udah ya! Tugas gue numpuk nih. Gue harus cari materi buat makalah.

Fattah langsung merenggut kecil dan dengan sebal menghubungi Jefan.

Fattah: ANJING, LO SENGAJA, KAN?

Jefan: Sorry, Fat! Idenya Mattew tuh. Tadi dia kode-in gue suruh keluar.

Fattah: Sialan. Balik nggak!

Jefan: Udah deh, betah-betahin aja kalian berduaan, mumpung sepi. Kali aja jadian.

Fattah: Bacot

Fattah tanpa sadar memicingkan matanya sinis ke arah Noel, dengan cowok itu menoleh padanya juga.

Keduanya sama-sama tersentak dan membuang muka kompak.

"El, elo kan jagoan, ajak ngobrol duluan aja! Kan elo yang salah. "Suara hati Noel tiba-tiba bicara.

Tapi cowok itu menggeleng pelan, "Jangan deh, nanti gue di injek sama dia, kan nggak lucu. Fattah masih marah sama gue."

Walaupun lebih tua, Noel memang ciut setiap bersama Fattah.

Boro-boro di tonjok, baru di chat, "El, gue mau tanya," gini doang, dia udah merinding sebadan-badan dan mikirin dosa apa yang sudah dia lakukan ke Fattah sampai di hubungi duluan.

Tinjuan Fattah yang tadi siang saja, membuat wajahnya mati rasa dalam sekejab.

"Ehm."

Noel hampir terloncat saking kagetnya saat Fattah tiba-tiba berdehem.

Untung saja tidak jadi. Bisa hancur lebur image kalem yang coba Noel bangun dari tadi.

"Ngapain lo ke sini? Pengen gue hajar lagi?" celatuknya datar membuat Noel hampir mendelik.

"Elo yang suruh kumpul," balas Noel ngeles.

Fattah berdecih sesaat terdengar sinis, membuat Noel merenggut. Was-was jika mau di hajar lagi.

"Tadi sampai ke ICU lo?"

Noel mendelik, "Kagak. Banyak cewek gue noh yang antri pengen ngobatin gue," katanya tanpa dosa, membuat Fattah mengumpat.

"Hati lo sendiri gimana? Aman, bor? Pedih ugh diem-diem ternyata di selingkuhin."

"Anjing!" Fattah menendang kesal kaki Noel, membuat cowok itu jadi mengaduh.

Naufal meringis dan hampir terkekeh, "Sorry, ya!"

Alis Fattah terangkat tinggi.

"Gue minta maaf buat semuanya! Termasuk gue yang pernah cium Sandrina waktu itu.

Lagian, dia mancing duluan. Gue cowok sih ya gas aja, kalau dapat umpan."

Fattah melengos keras dan berdecak geram, "Tuh cewek, sialan banget emang," umpatnya sambil menghisap rokoknya emosi.

"Lo pernah ML sama dia?"

Fattah terlonjak saat di berikan pertanyaan itu, "Lo pikir gue segila itu?"

"Lah, Jakarta kan bebas. Apalagi ini Jaksel. Gue aja pernah. Sering malah," balas Noel tanpa beban. Dia memang player sejati.

"Gue bukan elo."

"Elo dapat cewek kayak Sandrina, masa nggak pernah di ajakin?"

Alis Fattah terangkat. Diam-diam agak malu, "Ya pernah."

Noel membelalak, "Yang bener? Terus, elo mau?"

Keduanya mendadak akrab lagi karena malah ghibah santai.

"Nggak, nggak." Fattah menggeleng cepat, "Paling ciuman doang."

"Ciuman bibir? Wah-wah..." Noel menggeleng-geleng sok kaget dengan ekspresi berlebihan, "Gue cepu-in deh ke Aqqela habis ini."

Fattah membelalak panik, "Ya jangan, lah!"

"Kenapa? Takut Aza ngambek, ya?" godanya.

"Ck, awas lo ngadu!" katanya tak main-main, membuat Noel jadi meledakkan tawanya pelan.

***

Di rumah Catu, Aqqela terlihat merunduk ke laptop Fattah yang dia pinjam untuk kerja kelompok kali ini. Untung wifi di rumah Catu lancar, jadinya dia dengan mudah cari materi untuk makalah kelompoknya.

"Anak-anak pada kemana sih, elah? Ngaret banget. Udah mau setengah 8 belum pada nongol tuh bulu hidung mereka," gerutu Catu yang datang membawakan cemilan dan minum, "Makan, Qell!"

"Thanks, ya! Eh, gue udah dapat materinya, nih. Nanti elo yang bikin PPT-nya, ya!"

"Aman." Catu langsung duduk di sebelah Aqqela, "Eh, laptop siapa nih? Buset, mahal banget ini. Bokap gue punya."

"Punya Fattah, bukan punya gue."

"E ciyee, makin lengket aja lo sama dia," ledek Catu super semangat.

"Apaan, sih?" Aqqela mendengus masa bodoh dan masih berkutat dengan laptop-nya.

"Guys, sorry-sorry gue telat! Tadi ban motor gue ke-tusuk mawar berduri," rengek Aya.

Catu hampir mengumpat, dengan Vania tidak lama muncul.

"Eh, gimana-gimana? Udah sampai mana?

Maaf ya telat, abang gue tuh nyebelin banget motor gue di pakai sama dia," gerutunya sebal.

"Nih-nih, kalian pelajari materi-nya, biar Minggu depan pas presentasi nggak kaku-kaku banget," ujar Aqqela.

"Oke, deh." Aya mengangkat jempolnya, dengan tangannya sudah menari-nari menyomot brownies.

"Heh, ingat ya, pokoknya besok lusa kerja kelompok di rumah Vania jam 2, jangan ada yang ngaret lagi!" kata Catu sewot sendiri.

"HMM," dehem Vania melirik sinis.

"Udah ah, santai aja! Pokoknya lusa jam 1 gue udah sampai sana," balas Aya super percaya diri.

"Halah taek."

"Padahal enakan di apartemen Aqqela, tengah-tengah gitu," ujar Vania membuat Aqqela hampir saja tersedak.

"Bukan gue yang punya rumah," katanya sambil meneguk minuman.

"Oh iya, jangan deh! Fattah serem. Bakalan ngamuk dia kalau apartemen dia di pakai kita kerja kelompok."

"Gue masih penasaran deh, kok kalian bisa tinggal bareng, sih?" tanya Aya.

"Bokap gue meninggal. Fattah kenal bokap gue. Ya... gitu, deh. Gue di pungut sama dia."

Catu hampir mengumpat, "Eh btw, lo tinggal se-atap sama Fattah gitu, pernah gitu-gitu, nggak?" Catu malah menyatukan jari telunjuknya dan tersenyum nakal, "Aw-aw."

Vania dan Aya malah tersenyum jahil.

"Aw-aw apaan?" tanya Aqqela polos.

"Ya ampun, Biologi Qell, Biologi. Materi reproduksi," kata Vania.

Aqqela membelalak kaget dan menepuk kepala mereka satu-satu pakai buku tebal.

"Gila lo ber-tiga? Masih SMA bego," balasnya kesal, "Gue sama dia aja pisah kamar."

"Yang bener?" tanya Aya, "Kok Fattah bisa tahan anjir?"

Aqqela mengerutkan kening. Serius dia tidak paham.

"Emang harus begituan, ya?"

"Bukan gitu. Kan kalian tinggal bareng, ya!

Bukan se-darah. Terus Fattah cowok normal, masa dia nggak ngerti begituan?"

"Malu kali, mau ngajakin Aqqela, tapi anaknya garong gini," balas Catu.

"Jefan aja yang kalem-kalem begitu, kalau tau rumah sepi dikit aja, auto mepet-mepet dan cium gue terus," kata Aya tanpa malu.

"Haisshh, kenakalan remaja." Aqqela menggeleng-geleng miris.

"Ciuman doang elah, Qell. Nggak aneh-aneh kok," kata Catu di balas anggukan oleh Aya, "Jakarta mah udah nggak aneh sama hal-hal beginian."

"Sorry ya Ca, gue mah classy," balas Vania percaya diri.

"Elo mah dasarnya jomblo pe'a," omel Catu, "Lah Fattah sama Aqqela kan udah pacaran. Masa ciuman nggak pernah?"

Aqqela membelalak. Mendadak gelagapan dan malu sendiri.

"Udah, nggak usah bahas begituan, deh! Mesum lo semua. Lanjut tugas," katanya di sambut sorakan tak minat teman-temannya.

Vania mencuatkan bibir, "Gue sih yakin yah, Fattah sebenarnya udah pengen cium-cium elo. Apalagi gue pernah tuh, pergoki dia, Noel, sama Mattew malah asik nonton video bokep di gudang belakang anjirrrr," katanya histeris.

"Cowok mah wajar. Apalagi Fattah badboy gitu. Eh, tapi Noel kayaknya main-nya yang udah paling jauh nggak, sih? Apalagi pacaran sama Amanda yang cabe gitu."

"Iya, benul. Eh bestie-bestie, waktu itu aja gue pergoki mereka lagi ciuman panas di dekat danau. Si Noel grepe dada Amanda juga najis. Bentar gue jadi lemah kalau ingat," kata Aya lebay.

"Jangan sampai deh Mattew ketularan dia.

Merinding gue," kata Catu bergidik.

Kuping Aqqela mendadak jadi panas karena pembahasan frontal mereka.

Diam-diam meruntuki diri kenapa harus memikirkan obrolan ke-tiga sahabat laknatnya.

Masa Fattah pernah nonton bokep? Buat apaan? Bandel banget tuh anak.

"Eh, pada kumpul-kumpul, nih? Rame banget," seruan seseorang membuat Aqqela mengerjap dan menoleh.

Raut wajahnya mendadak berubah melihat Ambar-dokter yang pernah dia temui di rumah sakit yang Aqqela tau adalah ibu Sandrina ada di sini.

"Itu nyokap tirinya Catu. Sebelum lo pindah, bokapnya Catu nikah lagi. Kan ibu kandung Catu udah nggak ada," bisik Vania.

Aqqela melebarkan mata, "O-oh gitu..." Dia mengangguk pelan.

"Malam tante!" sapa Aya, sementara Catu menopang dagu-menatap ke laptop dengan tidak peduli.

"Malam Aya!" Kepala Ambar tak sengaja menoleh ke Aqqela, "Ehh?" serunya reflek.

Alis Ambar terangkat sebelah, "Kamu pacarnya Fattah, kan?"

Aqqela tersentak kaget saat di tembak pertanyaan itu.

"Iya, dia pacarnya Fattah! Udah sana!" usir Catu kesal. Dari dulu memang tak menyukai wanita ini setelah menikah dengan papanya.

"Catu, jangan begitu sama mama kamu!" tegur sang ayah sembari menarik koper hitam.

"Iya-iya, udah sana! Jangan ganggu! Aku lagi kerja kelompok, malas buat debat lagi," kata Catu serius.

"Udah mas, nggak papa. Namanya juga anak-anak," kata Ambar sambil tersenyum, membuat Catu mendecih.

Walaupun tak terang-terangan menjadi ular khas ibu tiri lainnya, tetapi Catu memang belum menyukai wanita itu.

"Mama, kamar aku dimana? Sumpah, koper aku berat banget ini." Seruan seorang gadis, membuat kepala mereka kompak tertoleh.

Ekspresi wajah Aqqela seketika memucat melihat wajah gadis itu.

"Sandrina?" gumam Aqqela, sementara Catu menoleh, di ikuti yang lainnya.

"Eh?" Gadis berwajah blesteran itu terlihat mengerjap dan menoleh kaget, "Kamu kenal Sandrina, ya? Sorry, tapi gue Sendi, hehe."

Sendi menjulurkan tangannya ke arah Aqqela, "Gue saudara kembarnya Sandrina.

Panggil Sendi aja. Oke?"

Aqqela tersenyum canggung, "G-gue Aqqela. Salam kenal!"

Sendi tersenyum dan mengajak yang lainnya bersalaman.

Ambar merapatkan bibir menatap Aqqela, lalu melengos keras, "Ayo pa, kita ke atas!"

***

Sedari tadi, Aqqela merasa kikuk dan canggung ketika Sendi terus-terusan mengajak dirinya mengobrol.

"Kok bisa kenal Odit, sih? Seriusan, gue nggak nyangka kalau dia masih punya temen bener begini," cerocos Sendi tanpa sadar nyinyir, "Lo tau nggak kelakuan asli dia? Sumpah ya, playing victim banget gitu. Bokap gue aja lebih sayang sama dia, karena dia suka ngadu aneh-aneh tentang gue."

Aqqela mengerjap-ngerjap pelan. Bingung harus menanggapi apa.

"Kerjaannya aja keluar masuk club. Ya gue juga

sih. Tapi gue nggak sok polos kayak dia gitu, dih. Apalagi sejak SMA dan pisah sekolah sama pacarnya, dia makin deh tuh, menjadi-jadi. Padahal cowoknya udah cakep beut pakai begete," cerocosnya menggebu.

"Fattah?" Ceplos Catu.

"Hooh. Temen lo, kan? Eh gimana dia sekarang? Udah punya cewek belum?" tanya Sendi berbinar-binar.

Tidak ada yang menjawab. Mereka hanya saling lirik dengan raut wajah sulit di artikan.

"Kenaikan kelas 12 nanti, gue rencananya mau pindah sekolah di sana aja! Kos sendirian di Surabaya nggak enak banget," katanya.

Aqqela merapatkan bibir, "Di SMA Taruna Jaya Prawira?"

"Iya, hehehe."

Alis Catu terangkat tinggi, menatap Sendi tak senang. Catu menyenggol lengan Aqqela, menyuruhnya tidak usah memikirkan.

Tapi gimana bisa?

Wajah Sendi dan Sandrina sama persis. Mungkin mata mereka yang berbeda.

Sendi dengan mata birunya dan Sandrina bermata coklat.

Fattah pasti seneng nggak sih kalau ketemu kembarannya Sandrina?

"Semoga aja habis ini gue bisa di notice sama Fattah. Tau nggak sih, dari dulu gue naksir banget sama dia. Tapi karena adik gue suka dia, ya gue ngalah, lah. Terus-"

TIN TINNNNN!!

Klakson motor tiba-tiba terdengar membuat mereka mengerjap pelan.

Aya menoel lengan Aqqela memberi kode, "T -tuh Qell, jemputan lo udah datang kayaknya."

"Pacarnya, ya?" Sendi mengerling.

Aqqela segera berkemas, memasukkan laptopnya ke dalam tas dan berdiri, "Gue duluan, ya!" pamit cewek itu.

"Gue antar Qell," kata Catu ikutan berdiri di susul Aya dan Vania.

Aqqela melangkah keluar dan mendekati Fattah yang duduk di motornya setelah melepaskan helm.

"Udah selesai?" Suara berat itu menyambutnya.

Aqqela mengangguk, "Pegang dulu tas gue!"

Fattah mengambilnya dan meraih helm pink yang Fattah berikan.

"Lusa ke rumah Vania. Anterin, ya?" pintanya sambil memakai helm.

Fattah mengangguk, "Sini dulu bentar!" Fattah meraih lengannya dan membenarkan pengait helm gadis itu membuatnya meringis.

"Fat, hati-hati lo bawa temen gue! Awas aja lo ajak kecelakaan," seru Catu yang baru keluar rumah.

"Bawel lo," sinis Fattah, walau kini alisnya terangkat tinggi melihat gadis yang sangat dia kenali keluar rumah.

"Loh, Fattah?" Sendi mendekatinya dengan berbinar, "Hai, apa kabar?" tanyanya ramah.

Aqqela mengulum bibir dan menarik tasnya dari tangan Fattah.

"Baik." Fattah mengangguk dan melirik Aqqela, "Ayo naik! Nunggu apa lagi?"

Aqqela menurut dan naik ke atas motor. Sedari tadi diam-diam ingin memperhatikan ekspresi wajah Fattah saat melihat Sendi yang mirip dengan Sandrina.

Sendi jadi tersentak, "Eh, ini siapa lo, Fat?

Adik lo, ya?" tanyanya karena ingat Fattah punya adik cewek, tapi gadis itu lupa namanya.

"Bukan. Ini cewek gue," balasnya singkat.

Kratak!

Bunyi hati Sendi yang patah.

"Duluan!" Motor itu langsung melaju pergi, meninggalkan Sendi dalam kebekuan.

"Jangan ngebut, Fat!" teriak Aya.

***

Suara geledek nyaring membuat Fattah berguling di ranjang dan mendecak karena tidak bisa tidur. Berkali-kali mencoba memejamkan matanya, tetapi tidak bisa.

Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam dan beranjak ingin ke dapur mengambil minum.

Cowok itu hanya mengenakan boxer dan bertelanjang dada.

Tapi saat melewati kamar Aqqela, dia berhenti.

Ceklek!

Kepalanya melongok ke dalam ingin melihat apa yang gadis itu lakukan.

"Udah tidur ternyata..." gumamnya melihat Aqqela sudah terlelap.

Fattah memutuskan untuk masuk ke dalam -berniat membenarkan selimutnya.

"Sleep well!" Fattah tersenyum tipis sambil mengusap kepala Aqqela lembut.

Aqqela menggeliat merasa tidurnya tidak nyenyak. Bibirnya bergumam dan mengeratkan selimutnya merasa kedinginan.

Fattah segera mengecilkan suhu AC dengan remote dan malah dengan tak ber-dosanya naik ke atas ranjang yang sama.

"Eh, jangan deh! Nanti dia marah kalau gue ikut tidur di sini," ucapnya pelan.

Nggak papa Fat, kan dia istri lo. Udah halal.

Suara hatinya tiba-tiba bicara.

"Oh iya bener," katanya tersenyum simpul.

Lagian, Fattah tidak bisa tidur malam ini.

Fattah menarik selimut menutupi tubuhnya sambil mengangkat sedikit kepala Aqqela, menaruh lengan kirinya di bawah leher gadis itu, kemudian menariknya mendekat.

Cowok itu merunduk, melihat wajah Aqqela yang tanpa sadar di cerukkan ke dada bidang Fattah-mencuri kehangatan, membuat Fattah menggigit bibir-menahan gemas.

Tiba-tiba terpikirkan soal Sendi yang tiba-tiba muncul di depannya.

Wajahnya memang sama persis dengan Sandrina, tapi Fattah tidak pernah tertarik padanya.

Fattah tau, se-liar apa kehidupan cewek itu.

Fattah menunduk lagi, menyingkirkan helaian rambut di wajah Aqqela.

"Elo nggak perlu khawatir. Keberadaan dia nggak berpengaruh buat gue sama sekali," ujarnya serak.

Ingat betul bagaimana cemas menghiasi wajah Aqqela tadi.

Aqqela tertidur nyenyak, membuat Fattah diam-diam mencium kening gadis itu lembut.

"Elo cantik banget. Dan gue gemes banget sama lo. I just want you. Gue nggak tau kenapa gue segitu terobsesi buat dapatin elo," gumamnya sambil mengeratkan dekapannya.

Entah apa yang dia pikirkan sebelumnya, karena perlahan, Fattah mengikis jarak mereka dan menempelkan bibirnya tepat pada bibir gadis itu.

Tangan Fattah di pipi kiri Aqqela dan semakin menekan bibir Aqqela dengan bibirnya, lalu melumat bibir itu pelan-takut membangunkan.

Tapi hal itu membuat Aqqela bangun dan terengah-engah karena kehabisan napas.

"Fattah..." gumam Aqqela di sela ciuman Fattah.

Aqqela mengerjap-ngerjap, mencoba mengumpulkan kesadaran.

Lalu terkesiap dan melotot melihat Fattah yang bertelanjang dada.

"ELO NGAPAIN?" jeritnya panik.

BUGH!!

"Anjing!" umpat Fattah ketika tubuhnya di tendang oleh Aqqela dan terjatuh mengenaskan sampai pantatnya mencium lantai.

"Elo ngapain, sih? Jangan macem-macem lo, ya!" kata Aqqela menatapnya horor, sambil duduk dan mengeratkan selimut.

"Apaan, sih?" Bingung Fattah kenapa cewek itu menatapnya takut, "Gue cuma cium elo."

"Bohong. Elo pasti mau aneh-aneh, kan? Elo aja nggak pakai baju. Gue nggak mau. Kita masih SMA. Minggat!" usir Aqqela lalu melempar bantal ke muka Fattah.

"Asem," kesal Fattah merasakan mukanya sakit.

Cowok itu bangkit dan malah sengaja naik ke kasur-memeluk pinggang Aqqela membuatnya menjerit histeris.

"Lepasin! Nggak mau," panik Aqqela memukul-mukuli dada Fattah agar menjauh, "Pergi!"

Cowok itu malah tertawa melihat kepanikannya, "Gue nggak akan aneh-aneh. Seriusan."

Aqqela tetap meronta dan mendorong muka Fattah, sementara tawanya kian pecah.

"Hei, kenapa sih? Habis mimpi gue apa-apain, ya?" tebaknya.

Aqqela menahan napas ketika Fattah semakin merengkuhnya dalam posisi duduk dengan jarak wajah sangat dekat.

"Bukan." Aqqela menggeleng.

"Terus?" Alis Fattah terangkat tinggi.

"Tadi Catu sama yang lainnya bahas, kalau lo nggak mungkin tahan buat nggak apa-apain gue, karena elo juga hobby nonton bokep," katanya agak mencicit.

Fattah hampir tersedak walau mulutnya kosong. Pipinya tiba-tiba memanas dan jadi malu.

"Kok tau gue suka nonton bokep?"

"Vania katanya pernah pergoki kalian nonton di gudang," katanya gemetaran. Apalagi saat matanya melihat dada bidang Fattah yang tidak di lapisi apa-apa, membuatnya gemetaran.

"Namanya juga cowok, normal."

"Makanya gue suruh lo keluar karena elo berbahaya," omelnya.

"Kita suami istri. Gue cium lo kayak gini juga wajar," katanya sambil mencium bibir Aqqela singkat, membuat cewek itu melotot.

"Anjir!" Aqqela menjambak sesaat rambut Fattah agar menjauh, "Kita masih SMA, nggak usah aneh-aneh deh lo!"

Fattah merintih kecil lalu tersenyum, "Oh, kalau udah kuliah mau?" tanyanya mengerling nakal.

Aqqela makin melotot dan menatapnya sangar.

"Pergi! Gue mau tidur!" usirnya.

"Gue pengen tidur di sini," katanya masa bodoh.

Aqqela memicingkan mata, "Ya udah, gue yang tidur di kamar lo," katanya hendak beranjak.

"Eh?" tahan Fattah menariknya cepat, membuat tubuh Aqqela jadi terjatuh ke arahnya dan segera di dekap kuat.

Aqqela menelan ludah gugup dan takut ketika kaki Fattah mengunci tubuhnya dengan posisi wajah cowok itu ada di atasnya.

"Nggak usah lebay! Gue janji, bakalan tahan buat nggak apa-apain lo," kata Fattah meraih kepala Aqqela-menenggelamkan pada dada bidangnya, "Meskipun susah, karena elo cantik banget walaupun cuma pakai daster hello kitty, tapi gue janji nggak akan aneh-aneh, sebelum lo yang kasih izin. Oke?" ucap Fattah seraya mengusap-usap lembut kepala belakang Aqqela, tidak peduli kicauan rontaan gadis itu.

"Cowok berandal kayak lo tuh nggak bisa di percaya. Lepasin! Tidur di kamar lo sendiri," katanya berusaha mendorong dada Fattah.

"Nggak mau, ah. Pengen tidur sama istri aku," katanya malah sengaja memancing emosi Aqqela.

"Oh, iya." Fattah merunduk padanya, membuat Aqqela mendongak.

"Apa?"

"Soal Sendi ..."

Aqqela tiba-tiba terdiam dan menatap cowok itu sepenuhnya.

"Gue harap, kedatangan dia nggak bikin lo ragu sama gue dan mikir aneh-aneh."

"Kenapa? Gue pikir, lo bakalan suka dia karena dia mirip Sandrina. Cantik lagi."

Fattah mati-matian menahan senyum tengilnya, "Nggak usah jealous juga kali, Za."

Aqqela melotot sebal dengan bibir mencuat.

Fattah yang melirik bibir gadis itu dan jadi berdehem.

"Oh ya, gue emang janji buat nggak unboxing lo"

Aqqela hampir tersedak karena ucapan frontalnya.

"Tapi gue nggak janji buat nggak cium lo..."

katanya sambil membungkam bibir Aqqela dengan bibirnya sendiri.

"Fattah..." Aqqela mengerang menatapnya gusar.

Fattah menggigit bibir bawah Aqqela.

Mendesakkan lidahnya ke dalam mulut Aqqela-melumatnya rakus, lalu melepaskannya saat Aqqela menabok bahunya merasa kehabisan napas.

"Ya udah tidur. Udah malam. Good night!"

Fattah tersenyum kecil dan menciumi pipi Aqqela gemas, lalu menarik kepalanya agar bersandar di dadanya.

Diam-diam Fattah mendesah berat, meruntukki debaran jantungnya yang menggila.

Sialan. Dia sepertinya benar-benar kalah dan sudah jatuh cinta.

Fattah melirik Aqqela. Gadis itu sudah mulai terlelap nyenyak sepertinya, membuat Fattah menopangkan pipi kirinya ke kepala gadis itu.

"Za, mungkin bener yang lo bilang, luka yang buat takdir bikin kita ketemu," kata Fattah serak.

"Pernikahan ini nggak pernah ada dalam rencana hidup kita. Tapi gue janji, gue nggak akan kemana-mana, sebelum lo sendiri yang minta gue pergi."

Fattah tersenyum simpul, "Tau nggak?

Rencananya, setelah kita lulus SMA nanti, gue pengen bawa lo ke Belanda. Kita kuliah dan hidup bareng di sana. Soal biaya, elo tenang aja. Gue udah bilang papi."

"Atau kalau mau cari beasiswa ke negara manapun, juga boleh. Tapi gue boleh ikut elo, kan?"

Fattah merunduk dan mencium pipi bulat Aqqela sekali lagi.

"Gue pengen bareng elo terus." Fattah menggigit bibir dan menelan ludah tercekat, "Mimpi gue berubah sejak kita ketemu..."

Fattah tersenyum kecil, "Kayaknya seru kalau kita kuliah bareng di negara orang berdua, tinggal bareng dan ngabisin waktu sama-sama. Terus tiap weekend, kita pergi jalan-jalan keliling kota di Belanda dan piknik bareng."

"Itu pun kalau kita masih sama-sama..."

katanya berubah lirih.

Dia tidak tau, apa yang akan terjadi di masa depan nanti.

"Karena sampai detik ini, gue selalu pengen tau satu hal. Tapi gue malu buat tanya." Fattah meneguk ludah, "Kapan lo mau sayang gue...?" gumamnya menatapi gadis itu sendu.

Untuk kali pertamanya, dia di buat bertekuk lutut hanya karena seorang perempuan.

Mendapatkan Sandrina tidak sesusah itu.

Mereka bahkan pedekate hanya dalam waktu beberapa hari, lalu jadian.

Dia tidak tau, hubungan ini akan bertahan sampai sejauh mana. Dia hanya manusia yang tidak tau tentang rencana Tuhan.

Kantuk mulai menguasai, membuat Fattah memutuskan tidur.

Aqqela yang belum benar-benar tertidur bisa mendengar itu.

Dadanya berdesir aneh tiba-tiba. Air matanya tanpa sadar menetes di pipi. Dia mendongak melihat wajah tampan dengan rahang tegas itu tampak tertidur pulas.

Aqqela tersenyum getir.

"Mimpi lo indah. Semoga gue bisa gabung ke mimpi lo," katanya lalu menyematkan ciuman lembut ke pipi Fattah.

Tangannya terulur mengusap kepala Fattah yang terlelap, "Good night my possessive badboy!"

***

Sejak pukul lima pagi, Fattah sudah terbangun. Memandangi wajah lelah Aqqela yang masih terlelap nyenyak di pelukannya.

Sesekali hidung dan bibirnya di cerukan ke dada Fattah, membuat cowok memejamkan matanya dan mati-matian menahan desahan.

Ternyata cukup menyiksa harus tidur bareng gadis ini.

"Tukang tidur," cibir Fattah menyentil hidung cewek itu, membuat Aqqela menggeliat merasa terusik.

Ceklek!

Pintu tiba-tiba terbuka lebar.

"Kak Fattah, ayo sar-"

PRAK!!!!

Mata Rebecca melotot lebar dengan mulutnya ternganga hampir jatuh ke mata kaki, melihat kakaknya sudah bertelanjang dada dengan seorang gadis di dekapannya.

Saking syok-nya, ponsel di tangannya sampai jatuh ke lantai.

Aqqela dan Fattah sama-sama terkesiap dan terlonjak. Keduanya duduk panik dan terkejut melihat Rebecca masih terpaku di tempat.

"Kita bisa jelaskan!" Keduanya berseru kompak dan saling menoleh kaget.

"Wah, jadi gini kelakuan lo, kak? Pantesan jarang pulang," omelnya.

"Eca, enggak gitu-"

"MAMI, KAKAK BAWA PACARNYA KE SINI.

MEREKA TIDUR DI KAMAR BERDUA," teriaknya mengadu membuat Fattah makin membelalak, "MARAHIN ΜΙ!"

Mampus gue.

"Eca, ada apa teriak-teriak? Mami lagi siapin sarapan buat kalian." Sosok Amanda-ibu mereka muncul.

"Mi, lihat tuh kelakuan anak sulung kesayangan mami!" katanya sambil menunjuk dengan gaya mengadu, "Omelin mi, omelin!"

Kepala Amanda menoleh ke dalam dan membelalak melihat Fattah tidur di ranjang yang sama dengan seorang gadis. Dan anaknya...tidak memakai baju.

"YA ALLAH. Heh, apa-apaan kalian?" koar Amanda meradang.

Aqqela mengumpat pelan dan meruntuk cemas.

Dia kemudian meringsek ke belakang punggung Fattah-ingin sembunyi melihat tatapan galak ibu Fattah.

Tak berbeda jauh dengan Fattah yang menggerakkan bola mata gelisah, bingung hendak menjelaskan apa.

Tamat riwayat gue.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!