NovelToon NovelToon
MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

MENOPANG LANGIT Di ATAP YANG ASING

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Hamil di luar nikah / Berbaikan / Tamat
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.

Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.

Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.


Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Pagi itu, suasana meja makan terasa lebih dingin dari es di dalam lemari es. Ayah duduk di kursi ujung, menyeduh kopi hitamnya dengan mata yang terpaku pada surat kabar, seolah-olah barisan berita politik lebih menarik daripada ketegangan yang nyaris meledak di depannya.

Alana keluar dari kamar dengan sebuah koper kecil. Suara rodanya yang beradu dengan lantai keramik terdengar seperti genderang perang.

"Jadi kamu benar-benar mau pergi?" Ibu berdiri di dekat dapur, tangannya memegang lap yang diputar-putar gelisah. "Alana, pikirkan lagi. Ibu bukan melarangmu liburan, tapi kenapa harus sekarang? Kenapa harus bawa mobil sendiri? Kalau ada apa-apa di jalan, siapa yang repot?"

Alana berhenti, namun ia tidak meletakkan kopernya. "Alana hanya pergi 3 hari, Bu. Alana butuh udara yang tidak berbau tagihan dan tuntutan."

"Kamu bicara seolah Ibu ini beban!" suara Ibu meninggi, air mata mulai menggenang di sudut matanya—senjata pamungkas yang biasanya membuat Alana berlutut. "Ibu yang membesarkanmu, tapi sekarang kamu bicara soal tuntutan? Ayah, lihat anakmu ini! Kenapa diam saja?"

Alana menoleh pada Ayah. Pria itu menurunkan korannya sedikit. Matanya menatap Alana, datar dan tak terbaca.

"Alana sudah besar, Bu," ujar Ayah singkat, suaranya parau. "Kalau dia mau pergi, biarkan."

Hanya itu. Tidak ada pembelaan untuk kelelahan Alana, juga tidak ada larangan. Ayah kembali ke korannya, memilih untuk menjadi penonton dalam drama keluarganya sendiri sebagaimana yang ia lakukan selama dua puluh tahun terakhir. Diamnya Ayah adalah belati yang berbeda; jika Ibu melukai dengan api, Ayah melukai dengan dinginnya es.

"Yah, tapi—"

"Alana berangkat, Bu. Assalamualaikum," Alana memotong kalimat Ibunya sebelum rasa bersalah itu berhasil menjerat kakinya lagi.

Ia menyeret kopernya keluar. Di halaman, ia melihat Rian berdiri di samping mobil, menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Kak, serius? Terus aku ke kampus naik apa? Motor aku mogok tadi pagi, sengaja nggak aku benerin karena kupikir bisa pakai mobil Kakak."

Alana tidak menjawab. Ia membuka bagasi, memasukkan kopernya, lalu duduk di kursi kemudi. Ia mengunci pintu dari dalam. Dari kaca spion, ia melihat Ibunya keluar ke teras, masih dengan wajah merana yang dibuat-buat, dan Rian yang menendang ban motornya dengan kesal.

Alana menginjak pedal gas.

Saat mobilnya keluar dari gerbang perumahan, sesuatu yang aneh terjadi. Dadanya yang sejak semalam terasa seperti dihimpit batu besar, perlahan-lahan mulai melonggar. Ia terus menyetir tanpa tujuan pasti, melewati kemacetan yang biasanya membuatnya stres, namun kali ini ia tidak peduli.

Hingga ponselnya yang diletakkan di dasbor menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk.

Pradipta: Cek email-mu. Saya mengirimkan koordinat sebuah vila di daerah Sentul. Milik keluarga saya, kosong dan tenang. Kuncinya ada di kotak pos depan gerbang hitam. Jangan kembali ke Jakarta sebelum matamu tidak lagi terlihat seperti orang yang ingin tenggelam.

Alana menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia menatap layar ponsel itu dengan tangan gemetar. Ia belum pernah menceritakan pada Pradipta bahwa ia tidak punya tujuan, bahwa ia sebenarnya hanya ingin kabur namun tidak tahu ke mana.

Pria itu seolah selalu selangkah lebih maju dalam memetakan kehancurannya.

Alana mengetik balasan singkat: Terima kasih, Pak.

Ia segera memutar kemudi, mengikuti koordinat yang diberikan. Sepanjang jalan menuju perbukitan, Alana mulai menurunkan kaca mobilnya. Angin gunung yang dingin mulai membelai wajahnya, menghapus sisa-sisa bedak dan kepura-puraan yang ia pakai sejak pagi.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Alana tidak merasa sebagai "si sukses", "si tulang punggung", atau "si batu karang".

Di jalanan yang menanjak dan sepi itu, ia hanyalah Alana. Seorang perempuan yang akhirnya berani berlari demi menyelamatkan dirinya sendiri.

1
falea sezi
resain lah oon
falea sezi
jangan betele tele
falea sezi
prett bgt muter doank. g jelas. ne novel. pantes g ada like wong peran utama. oon bkin mual
Lilack Sunrise: pakai lah bahasa Indonesia yang baik dan benar , kamu kayaknya yang oon semua tulisan di kasih titik.gagap loe
total 1 replies
falea sezi
resain pergi jauh dr. dipta yg. plin plan. pengecut dr ortu toxic
falea sezi
Resain aja alana pradipta aja goblok
falea sezi
bodoh di manfaatnya ortunya diem aja pergi lah bego
Desi Santiani
yaa tamat thor
RM
bagus bgt kenapa sepi pembaca y
byyyycaaaa: Terim ma


terimakasih sudah mampir kak🙏🤗
total 1 replies
RM
bagus banget kenpa sepi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!