Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Keseleo
"Neng!" Ogi langsung berjongkok di samping Arisa.
Arisa meringis sambil memegangi pergelangan kakinya. "Aduh… sakit Kang…"
Ogi terlihat panik. "Coba lihat dulu atuh."
Dengan hati-hati dia memegang kaki Arisa. Begitu sedikit digerakkan, Arisa langsung merintih.
"Aduhh!" Arisa meringis lebih keras.
Ogi buru-buru melepaskannya. "Kayaknya keseleo atuh, Neng…" katanya cemas.
Arisa mengangguk pelan sambil menahan sakit. "Kayaknya iya… sakit banget kalau digerakin."
Ogi membantu Arisa duduk lebih tegak. "Coba berdiri pelan-pelan."
Arisa mencoba berdiri sambil berpegangan pada lengan Ogi. Baru menapak sedikit, "Aduh… nggak bisa Kang… sakit…" pekiknya.
Tubuhnya langsung oleng. Ogi refleks menangkapnya.
"Neng jangan dipaksa atuh," kata Ogi.
Arisa menghela napas kecil. "Aku nggak bisa jalan…"
Ogi terlihat berpikir beberapa detik. Lalu dia menguatkan diri. "Ya sudah… aku gendong saja."
Arisa menatapnya kaget. "Hah? Nggak usah Kang…"
Tapi sebelum Arisa selesai bicara, Ogi sudah meraih tubuhnya dengan hati-hati. Sekejap kemudian Arisa sudah berada dalam gendongan Ogi.
Wajah Ogi langsung merah. "Ih… enteng pisan atuh…" gumamnya gugup.
Arisa ikut salah tingkah. Tangannya tanpa sadar melingkar di leher Ogi. Jantung mereka berdua sama-sama berdebar.
Di luar, hujan masih turun deras disertai suara angin yang sesekali menghantam dinding rumah.
Ogi berjalan pelan menuju kamar. Arisa bisa merasakan detak jantung Ogi dari jarak sedekat itu. Cepat sekali.
Arisa tersenyum kecil. "Kenapa deg-degannya kencang begitu Kang?"
Ogi langsung gugup. "Ih… capek atuh… ngangkat Neng."
Arisa menahan tawa. Begitu sampai di kamar, Ogi menurunkan Arisa perlahan ke atas ranjang.
"Nah… pelan-pelan," ucap Ogi.
Arisa duduk sambil masih memegangi kakinya.
Ogi terlihat gelisah. "Aduh… kayaknya harus dipanggil tukang urut deh."
Arisa langsung menatapnya. "Jangan Kang!"
"Lah kenapa?"
"Aku takut sendirian."
Ogi menoleh ke arah jendela yang diguyur hujan deras. "Sebentar saja atuh."
Arisa menggeleng cepat. "Nggak mau. Aku takut. Lagian kan di luar masih hujan, Kang!" Nada suaranya terdengar benar-benar memohon.
Ogi akhirnya menghela napas. "Ya sudah atuh…" Dia berpikir sejenak. "Kalau begitu aku pijitin saja sedikit ya. Sebisanya."
Arisa mengangguk pelan. "Iya Kang… makasih…"
Ogi duduk di tepi ranjang. Dia menelan ludah saat melihat kaki Arisa yang harus dia pegang.
"Astagfirullah…" gumamnya dalam hati. Dia lalu memegang pergelangan kaki Arisa dengan sangat hati-hati.
Tubuh Arisa langsung merinding. Entah kenapa sentuhan itu terasa hangat. Berbeda dengan biasanya.
"Kang… pelan-pelan ya…"
"Iya atuh…"
Ogi mulai memijat pelan. Tangannya kaku sekali seperti takut salah. Kadang tekanannya terlalu pelan sampai hampir tidak terasa.
Arisa membuka mata sedikit. "Kang… dipijat bukan dielus."
Wajah Ogi langsung merah. "Oh… iya punten." Dia mencoba lagi sedikit lebih kuat.
Arisa meringis kecil. "Iya begitu…"
Beberapa menit kemudian suasana jadi aneh. Sunyi sekali. Yang terdengar hanya suara hujan di luar dan napas mereka berdua. Ogi bahkan tidak berani mengangkat wajahnya.
Sementara Arisa diam-diam memperhatikan Ogi. Pipinya merah. Ekspresinya serius sekali.
Arisa tersenyum kecil. "Kang Ogi…"
"Iya?"
"Akang baik banget ya."
Ogi langsung berhenti memijat sesaat. "Ih… biasa saja atuh."
Arisa menggeleng pelan. "Serius."
Ogi kembali memijat dengan gugup.
Arisa tiba-tiba berkata pelan, "Wanita yang akan jadi istri Kang Ogi pasti sangat beruntung," ungkapnya.
Jleb!
Jantung Ogi langsung berdentum keras. Tangannya sampai berhenti lagi. Entah kenapa perkataan itu membuat hatinya sedikit sakit. Mungkin karena Arisa seolah tak mengakui dirinya sebagai istri sebenarnya Ogi. Itu sebenarnya masuk akal. Mengingat pernikahan mereka hanyalah kontrak.
"Ih… Neng mah ngomongnya begitu," balas Ogi berlagak biasa saja.
Arisa tersenyum. "Memang begitu kok."
Beberapa saat kemudian Arisa berkata lagi dengan nada ringan.
"Kang…"
"Iya?"
"Kentutku kemarin beneran harum?"
Ogi langsung tersedak ludah sendiri. "Hah?!"
Arisa tertawa kecil.
Ogi langsung salah tingkah. "Ih… Neng Arisa mah aya-aya wae."
Arisa tertawa makin geli. Suasana kamar yang tadinya canggung berubah hangat.
Di luar hujan masih turun deras. Sedangkan di dalam kamar kecil itu, dua orang yang awalnya hanya terikat pernikahan kontrak perlahan mulai merasa seperti pasangan sungguhan.