NovelToon NovelToon
Its Always Been You, Fraya

Its Always Been You, Fraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Juno Bug

Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.

Sampai Fraya Alexandrea datang.

Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.

Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Rindu. Candu. Obsesi.

Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

White Dress, Dark Knight, and Intoxicated Kiss

Damian membalikkan badan saat pintu kaca balkon berderit pelan, menampakkan sosok Axel Rosewood yang berdiri santai dengan sebelah tangan di saku, memancarkan aura aristokrat yang selalu berhasil memicu kekesalan Damian.

​"Want one?" Axel menyodorkan sebatang rokok dari saku celana linen nya ke arah Damian dengan gerakan yang sangat tenang.

​Damian menggeleng tipis, matanya menatap Axel dengan penuh selidik dan ketidaksukaan yang nyata. "Aku sudah lama berhenti," ujarnya tegas, suaranya sedingin es.

​Axel hanya mendengus meremehkan, lalu menyelipkan rokok itu di sela bibirnya sendiri sebelum menyulutnya dengan pemantik emas yang berkilau. Ia mengisapnya dalam-dalam dengan gerakan dramatis, seolah sedang menikmati setiap detik sari-sari kehidupan yang ia hirup.

Saat ia mengembuskan asap putih itu tepat ke arah wajah Damian, sepupunya itu langsung mendengus sembari memalingkan wajahnya dengan gusar.

​"Sejak kapan? Sejak kamu mulai sibuk jatuh cinta sama si Alexandrea itu?" tanya Axel, nadanya terdengar seperti sebuah ejekan yang dibungkus pertanyaan santai.

​Damian melirik Axel dari ekor matanya, berusaha keras menjaga raut wajahnya agar tetap datar. Disampingnya, Axel masih tampak sangat tenang—jenis ketenangan yang Damian yakini sedang menyimpan badai destruktif yang bisa merusak jiwa siapa saja kapan saja.

​"Aktingku meyakinkan sekali, ya? Sampai kamu benar-benar berpikir kalau aku sudah jatuh cinta dengan gadis itu?" Satu kebohongan meluncur begitu mulus dari bibir Damian, meski ia harus mengerahkan seluruh kekuatannya agar suaranya tidak bergetar.

​Sambil meloloskan kepulan asap dari bibirnya, Axel memandang sepupunya itu dengan tatapan yang sangat damai, namun mematikan.

"Yakin yang kamu lakukan sekarang cuma akting, Nick? Atau sebenarnya dari awal, kamu memang tidak pernah ber akting seperti rencana kita di awal?"

​Damian bersedekap, dadanya mulai naik turun karena napasnya diam-diam mulai memburu. "Bagaimana aku bisa menjalankan perintah yang kamu berikan kalau tidak kubuat meyakinkan? Kalau gadis yang mau kita taklukkan itu modelnya seperti Fraya Alexandrea, kamu harus membuatnya tampak nyata. Harus seolah-olah perasaanku ini murni agar dia tidak curiga."

​Ulu hati Damian terasa seperti dihantam palu godam saat mendengar dirinya sendiri bicara begitu rendah tentang Fraya. Sisi hatinya yang terdalam ingin sekali berteriak, memaki dirinya sendiri karena telah menyangkal gadis yang kehadirannya saja sudah sanggup melumpuhkan seluruh saraf di sekujur tubuhnya.

Ia hanya bisa berharap dalam hati agar kebohongan ini tidak berbalik menyerangnya menjadi karma yang akan menghancurkannya suatu saat nanti.

​Axel mengangguk-angguk samar, seolah menerima penjelasan itu. Pandangannya kemudian terlempar jauh ke arah air mancur yang terletak persis di tengah serambi bawah rumah Robert Hastings.

​"Kamu tahu kan, file itu bisa bocor kapan saja ke publik?" Axel berucap lirih namun penuh ancaman. "Kamu tahu persis apa akibatnya kalau seluruh dunia tahu tentang bagaimana citra Harding yang sebenarnya selama beberapa tahun belakangan ini kalian simpan dengan sangat rapi? Nama besar mu, kehormatan ayahmu... semuanya bisa hancur dalam semalam."

​Tangan Damian mengepal sangat keras di balik lipatan lengannya. Pergolakan emosinya mulai bergejolak hebat, seolah kemarahannya tengah membalikkan dunianya ke titik paling bawah dalam sekejap.

Ia menghunus tatapannya dengan sangat tajam ke arah Axel yang masih santai menyesap sisa rokoknya yang tinggal setengah.

​"You know what, Rosewood, you can't keep doing this to my family. Ayahku sudah melakukan hampir segalanya untuk keluarga kalian. Hutang budi macam apa yang kalian anggap tidak akan pernah lunas? Bahkan sebenarnya keluargamu hanya punya urusan dengan Ayahku. Pakai dia saja untuk membalas semua hutang budinya, jangan bawa aku ke dalamnya!"

​Tawa rendah yang terdengar dingin lolos dari bibir Axel di tengah kepulan asap rokok.

"Perjanjiannya tidak begitu, Nicholas. Harusnya kamu bersyukur, yang ku minta darimu cuma hal se sepele ini. Cuma sekadar membuat seorang gadis bodoh jatuh bertekuk lutut, lalu kamu tinggalkan dia begitu saja setelah dia memberikan segalanya, seperti kebiasaanmu pada gadis-gadis di luar sana. Tidak ada susahnya, kan?"

​Meskipun Damian berusaha mati-matian menjaga raut wajahnya tetap tenang meski raganya ingin sekali mematahkan leher sepupunya itu, Axel tetap bisa merasakan luapan emosi dari sepasang mata biru Damian. Axel tahu usahanya untuk meyakinkan itu sia-sia, karena ia sudah terlalu sering melihat reaksi spontanitas Damian setiap kali kehadiran Fraya muncul didepan wajahnya.

​Axel membuang puntung rokoknya yang sudah tinggal sedikit dengan gerakan sembarang, membiarkannya memantul jatuh ke tanah halaman di bawah.

Ia memasukkan tangannya kembali ke dalam saku linen nya.

​"Imbalannya setimpal, Nick. Ayahmu pasti akan sangat berterima kasih pada keluargaku kalau kamu berhasil menyelesaikan ini tepat waktu."

Axel menepuk pundak Damian yang menegang kaku, lalu beranjak pergi meninggalkan balkon untuk kembali menyatu dalam pesta liar di dalam rumah Robby.

...°°°°°...

​"Wanna dance with me, pretty ladies?"

​Fraya menoleh di tengah dentuman musik yang hentakannya terasa semakin menggila di telinga.

Seorang cowok yang sama sekali tidak dikenalinya tengah berdiri di depan Florence sambil memegang sebotol bir. Gelagatnya tidak se genit cowok pertama yang menggodanya tadi, dan ajakan itu terdengar cukup sopan di tengah kebisingan pesta.

​Florence menoleh ke arah Fraya dan berseru keras agar terdengar, "Kamu mau berdansa sama cowok ini, tidak?"

​Fraya langsung menggeleng mantap.

"Tidak! Kamu saja. Sepertinya dia memang lebih tertarik mengajakmu."

​Florence mengulum senyum tersipu, lalu menerima uluran tangan cowok berambut cokelat yang punya senyum manis itu. Florence mengangguk, lalu membiarkan dirinya digandeng menuju tengah lantai dansa di antara kerumunan orang-orang yang mulai lepas kendali.

​Fraya memilih untuk berdiri di pinggir ruangan, mengamati sahabatnya yang tampak sangat bahagia menari. Florence sesekali menoleh ke arahnya sambil menggoyangkan bahu, seolah sedang meledek Fraya yang hanya diam menonton, membuat Fraya terkekeh ditempatnya berdiri menyaksikan mereka.

​Sementara itu, tidak jauh dari sana, Alana Highmore tidak melepaskan tatapannya yang sedingin es pada sosok Fraya. Setiap detik yang ia habiskan untuk mengamati gadis itu, semakin besar rasa benci yang menganga di hatinya.

Alana bangkit dari sofa, berjalan menuju bartender, dan menyelipkan beberapa lembar uang poundsterling ke saku bartender tersebut sembari membisikkan perintah rahasia.

​Sesuai prediksi Alana, tidak lama kemudian Fraya berjalan ke arah meja bar. Dengan gerakan kikuk, ia duduk di kursi tinggi di depan meja panjang itu, merasa sedikit bodoh berdiri sendirian di sana.

"Can i get you anything, My Lassie?" tanya seorang bartender berumur pertengahan 20 dengan tato bergambar ular ditangan kanannya.

​"Bisa minta air mineral?" tanya Fraya canggung saat bartender bertato ular itu menghampirinya.

Namun sebelum permintaannya dikabulkan, sosok Alana Highmore muncul bak supermodel yang baru turun dari panggung. Ia sengaja berdiri tepat di samping Fraya sambil menyandarkan sisi tubuhnya di pinggiran meja bar.

"Fancy meeting you here, Newbie. I assume you knew my name, didn't you?"

Fraya masih berusaha mengatur napasnya yang menderu saat bayangan Alana Highmore jatuh tepat di atas meja bar, menghalangi cahaya lampu pesta yang berkedip.

Alana berdiri di sana, setiap jengkal tubuhnya memancarkan aura permusuhan yang mahal.

Gaun pendeknya berkilau, namun tidak sekilau sorot matanya yang penuh kebencian saat memindai gaun putih Fraya yang tampak begitu kontras dan suci di tengah kerumunan yang kotor.

Fraya menghela napas panjang, memutar kursi bar tingginya hingga mereka berhadapan.

Ia merasa lelah, drama kasta sekolah ini terasa begitu kekanak-kanakan.

"Sepertinya mustahil untuk sosok seterkenal kamu tidak diketahui oleh semua orang di Milford Hall," jawab Fraya datar, tanpa sedikit pun nada terkesan.

​Alana mengangguk angkuh, menyilangkan tangan di depan dadanya.

"Kalau begitu, kamu harusnya cukup cerdas untuk tahu posisi. Di Milford, siapapun tidak bisa—dan tidak boleh—merebut Damian Nicholas Harding dari seorang Alana Highmore."

​Bukannya tersinggung, Fraya justru menyemburkan tawa sarkastik yang menusuk seperti kebiasaannya dari dulu. Tawa itu keluar begitu saja, terdengar renyah namun mengandung racun.

"Apa katamu? Merebut? Siapa yang sudah bodoh sekali mengarang laporan sampah seperti itu pada kamu? Coba panggil informanmu sekarang juga, supaya aku bisa menertawakan wajahnya karena dia sudah memberimu berita basi yang bahkan tidak layak masuk tempat sampah."

​Wajah Alana yang semula pucat pualam mendadak memerah. Amarahnya memuncak. Biasanya, satu tekanan dari Alana saja mampu mematahkan setiap keberanian yang mencoba dilemparkannya kepada Alana. 

Tapi gadis di depannya ini justru menantang legitimasinya sebagai ratu Milford.

​"Kamu merasa sudah di atas angin ya karena bisa menggandeng Damian malam ini?"

Alana bergerak maju, memperpendek jarak hingga ujung sepatu hak tingginya bersentuhan dengan sepatu Fraya.

Ia condong ke depan, menusuk manik mata cokelat Fraya dengan tatapan tajam. "Nikmati saja setiap detik yang kamu punya sekarang, Newbie. Karena akan kubuat hari-harimu di Milford seperti di neraka sampai kamu sendiri yang akan datang memohon untuk angkat kaki."

​Fraya tidak bergeming. Alih-alih mundur, ia justru ikut mencondongkan tubuhnya ke depan hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

Keberanian liar yang muncul entah dari mana membuat suaranya terdengar sangat stabil.

"Try me, girl. Try me."

​Alana menegang hebat, rahangnya mengeras.

Ia menarik diri dengan garis wajah kaku, lalu berlalu pergi sambil mengacungkan jari tengah ke arah Fraya tanpa menoleh lagi.

Begitu sosok itu hilang, barulah seluruh pertahanan Fraya seolah luruh. Tangannya sedikit gemetar. Ia butuh sesuatu untuk membungkam debaran jantungnya yang menggila.

​"Sepertinya kamu butuh sesuatu yang lebih keras dari sekadar air," tawar bartender bertato ular itu, matanya berkilat penuh rahasia.

"Seems you need something strong to drink, Lassie."

Bartender ber tato ular di lengan kanannya tadi mencondongkan diri ke hadapan Fraya yang masih bergeming ditempat duduk.

Fraya mengangguk samar seraya berkata, ​"Beri aku apa saja yang bisa diminum," pinta Fraya frustrasi, tanpa menyadari perangkap yang sudah disiapkan Alana.

Si bartender memulas senyum singkat, "Coming right up, Love."

​Si bartender menyodorkan segelas cairan bening yang terlihat polos. Tampilannya seperti air mineral dalam gelas kaca pada umumnya. Yang Fraya tidak tahu, cairan itu bukan sekadar air mineral biasa, melainkan salah satu jenis minuman keras dengan kadar alkohol tinggi yang mampu menumbangkan siapapun yang meminumnya dalam waktu sekejap saja.

Fraya menyambarnya dan menenggaknya dalam satu kali tegukan besar. Cairan itu menuruni tenggorokannya seperti aliran lava—panas, asam, dan meninggalkan rasa pahit yang menyengat lidah.

​"This is not mineral water!" tandas Fraya susah payah, wajahnya memerah saat napasnya mulai berbau alkohol tajam.

​"Kamu bilang mau apa saja. Ini akan membuatmu jauh lebih tenang," sahut si bartender terdengar meyakinkan sekaligus licik.

​Meskipun dadanya terasa terbakar, Fraya mendapati beban di kepalanya tiba-tiba saja menguap. Kepalanya mulai terasa ringan, melayang di antara dentuman bass.

Fraya menyadari kalimat yang kemudian keluar dari bibirnya adalah dorongan liar yang sama sekali bukan seperti Fraya.

"Beri aku beberapa gelas lagi," tantang Fraya, menyerahkan akal sehatnya pada gelas-gelas Cîroc yang disodorkan bartender itu dengan cepat.

...°°°°°...

​Damian menerjang kerumunan pesta yang semakin liar. Matanya berpendar, mencari satu-satunya sosok yang bisa meredam badai di kepalanya setelah konfrontasinya dengan Axel di balkon.

Harapannya melambung tinggi saat ia melihat seorang gadis dalam balutan gaun putih duduk manis di meja bar.

​Senyum Damian merekah seketika. Ia menghampiri Fraya dari belakang dan mendekap tubuh berlekuk itu dengan posesif. "Maaf membuatmu menunggu lama—"

​Kalimatnya terputus saat Fraya menoleh. Kelopak matanya sayu, pipinya merona merah muda, dan aroma alkohol yang sangat pekat langsung menerjang indra penciuman Damian. "Hey you're back!" seru Fraya kegirangan, membelai lembut rahang Damian dengan gerakan yang tidak teratur.

​Amarah Damian memantik dalam sekejap ketika ia mencium aroma alkohol sangat kuat menguar dari hembusan napas Fraya.

Ia menyambar gelas di tangan Fraya dan mencium aroma alkohol apa yang baru saja diminum Fraya. Seketika tatapannya menghunus bartender di depannya yang kini sedang berdiri menuangkan beberapa jenis minuman ke deretan gelas kaca didepannya.

"Kamu beri dia berapa gelas CÎroc sampai dia mabuk secepat ini?!"

​"Itu sudah gelas ke empatnya. For the record, dia sendiri yang minta." jawab si bartender itu acuh tak acuh.

​Damian tahu ada yang tidak beres. Ia membanting gelas keatas meja sambil membentak, "Pacarku ini tidak pernah minum alkohol sedikit pun, apalagi sampai menenggak Cîroc! Tidak mungkin dia sampai minta bergelas-gelas seperti ini!"

Si bartender tadi mengedikkan bahunya dengan acuh, "No idea, Man. I gave what she asks. Im just doing my job."

Si bartender itu sebenarnya bisa saja memberikan jenis alkohol dengan kadar lebih rendah dari yang baru saja diberinya tadi. Tapi setumpuk uang yang dimasukkan kedalam sakunya dari tangan gadis berambut pirang tadi menginstruksikannya untuk memberikan jenis minuman dengan kadar alkohol paling tinggi. Dengan setumpuk uang yang saat ini berada di sakunya, jangankan hanya menyajikan beberapa gelas Cîroc, racun pun sanggup ia tuangkan kedalam gelas tersebut.

"Fraya, kita pulang sekarang!" tandas Damian dengan tegas.

​"Home? What do you mean go home?Damian, pestanya baru dimulai! Aku tidak mau pulang!" seru Fraya memberontak sembari menggoyangkan bahunya mengikuti musik yang semakin gila.

​"Kamu mabuk, Fraya. Ayo, aku antar pulang."

​Fraya menggeleng cepat seperti anak kecil yang keras kepala. "Tidak mau! Kamu kan pacarku, Damian. Kamu tidak mau menuruti saja permintaanku!? Aku ingin menari!"

Damian berdecak kesal, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa melihat Fraya dalam kondisi seperti ini—bibir yang sedikit terbuka dan tatapan yang lapar—membuat gairahnya ikut mendidih.

"Kamu ikut ke rumahku," putus Damian. Tanpa memedulikan protes Fraya, ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung gadis itu, mengangkatnya dalam gendongan bridal seolah Fraya hanya seringan kapas.

​Fraya langsung mengalungkan tangannya di leher Damian, membenamkan wajahnya di antara leher dan rambut emas pria itu.

"Aku suka wangi mu, Damian... maskulin dan berbahaya," bisik Fraya tepat di telinganya saat mereka berjalan menembus kerumunan pesta menuju parkiran.

​Sesuatu primitif dalam diri Damian bangkit tanpa peringatan. Erangan rendah lolos dari tenggorokannya saat ia berusaha keras menahan diri. "Akan sangat menyenangkan kalau kamu bicara seperti ini saat sedang sadar, Ace."

​Damian memasukkan Fraya ke dalam Rolls-Royce miliknya. Begitu mobil meluncur membelah malam Inggris yang dingin, Fraya tidak bisa diam.

Ia merangkak mendekat, merapat ke dada Damian hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Damian menyambut kehangatan tubuh Fraya dengan memeluk pinggangnya dengan erat. Menyesap setiap jengkal sisi tubuh Fraya yang menguarkan hawa panas yang mampu mengobarkan hasrat terpendam Damian.

Jemari lentur Fraya meraba dada bidang Damian, menyelinap di antara celah tiga kancing kemeja nya yang terbuka, mengelus kulit telanjang Damian di sana dengan gerakan menggoda.

​Napas Damian memburu. Setiap sentuhan jemari Fraya terasa seperti sengatan listrik. Fraya mendongak, menatap mata biru Damian yang kini berubah menjadi gelap, berkobar penuh hasrat yang murni saat memandangnya dalam diam.

​"Aku yakin aku bukan perempuan pertama yang membuatmu bergejolak seperti ini saat disentuh," goda Fraya pelan.

Damian menyapu ujung hidungnya pada hidung Fraya, ​"Tapi cuma sentuhanmu yang membuatku nyaris hancur, Ace," geram Damian, suaranya parau.

​Fraya memberikan serangan terakhir, ia membisikkan sesuatu yang benar-benar meruntuhkan sisa pertahanan Damian.

"Aku suka kalau kamu panggil aku Ace. It sounds... so sexy. Aku jadi ingin tahu apakah suaramu akan terdengar seseksi itu saat kamu mencium ku."

​Damian tidak sanggup lagi menahan iblis di dalam dirinya.

"Adam, pull over," perintahnya pada sopirnya dengan nada tertahan yang langsung disanggupi sang supir dengan anggukan singkat.

Begitu mobil menepi di bawah bayangan pepohonan jalanan London yang sunyi, Adam turun, memberikan privasi tanpa mau tahu lebih lanjut.

Begitu Adam keluar dari mobil, Damian merengkuh wajah Fraya dengan cepat.

​Ia mendaratkan ciuman yang sangat dalam di bibir Fraya. Ciuman pertama yang mereka ciptakan dalam situasi tak terduga, sekaligus memabukkan.

Awalnya terasa seperti ledakan emosi yang tertahan, namun Damian sempat menarik wajahnya beberapa inci, hanya untuk melihat reaksi Fraya di bawah cahaya lampu jalan yang remang.

Namun, Fraya justru berbisik pelan dengan tatapan menantang dan kehabisan napas, "Why stop, Damian?"

​Pertanyaan itu seperti bensin yang disiramkan ke kobaran api. Damian mengerang rendah sebelum kembali menyerang bibir Fraya dengan ganas dan liar.

Kali ini, ciumannya jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh rasa lapar yang primitif. Lidah mereka bertautan dalam pertarungan gairah yang memabukkan.

Tangan Damian menyusup ke balik rambut Fraya, menariknya pelan agar pagutan mereka semakin erat.

​"Ini... ciuman paling memabukkan yang pernah kurasakan seumur hidupku," bisik Damian lirih di sela-sela pagutan mereka yang panas, napasnya terasa hangat menghantam wajah Fraya.

​Tanpa memutuskan ciuman itu, Damian melingkarkan tangannya di pinggang ramping Fraya, mengangkat tubuh gadis itu dalam satu gerakan kuat hingga Fraya duduk di atas pangkuannya.

Ciuman mereka berubah menjadi sangat buas dan liar. Tangan Damian mulai menjelajah dengan posesif, meremas lekuk tubuh Fraya di balik kain gaun putihnya, sementara Fraya melenguh panjang, tubuhnya melengkung saat merasakan gesekan intim mereka yang semakin panas melalui permukaan inti mereka yang mulai menegang.

​Damian membenamkan wajahnya di leher Fraya, menghisap kulit sensitif di sana, lalu membisikkan kata-kata yang penuh gairah. "Aku ingin sekali melakukan ini... saat kamu benar-benar sadar... saat kamu hanya melihatku, Fraya. Hanya aku."

​Mereka kembali larut dalam cumbuan liar yang seakan tidak ada habisnya, seolah dunia di luar mobil itu telah lenyap. Suasana di dalam mobil terasa terbakar, dipenuhi suara napas yang memburu dan kecipak basah dari bibir yang saling memangsa.

Namun, di tengah puncak panas yang merajai, Fraya tiba-tiba membeku.

​Gairah yang tadi menguasainya mendadak sirna.

Tubuhnya menegang, dan ia menarik diri dengan napas tersengal. Wajahnya yang semula merah kini berubah menjadi pucat pasi.

Ada sesuatu yang bergejolak hebat di perutnya, merayap naik ke tenggorokannya dengan paksa.

​Damian, dengan kemeja yang sudah berantakan dan mata yang masih berkabut gairah, tampak bingung melihat perubahan drastis itu.

"Ace? Ada apa—"

​Tanpa sempat menjawab, Fraya menyambar gagang pintu mobil di sampingnya.

Dengan gerakan refleks yang secepat kilat, ia membukanya lebar-lebar dan memuntahkan seluruh isi perutnya ke aspal jalanan Inggris yang gelap.

Kabut gairah di dalam mobil itu seketika buyar, digantikan oleh aroma tajam alkohol yang menyengat.

1
Ris Andika Pujiono
mana siang2 lagi wkwkwkkwkw
Ris Andika Pujiono: harusnya udah curiga pas baca judul. Tp g mungkinlah seorang Fraya. Adat timur. Ehh looooos 😂
total 2 replies
Ris Andika Pujiono
Fraya ngga asyik
part yg bikin bad mood wkwkwk
tim Damian in action
Ris Andika Pujiono
ditungguin akhirnya muncul juga
terima kasihhhhh bagus ceritanya🥰
SQUIRELL
lanjut dong sampai tamat🙏🙏
Ris Andika Pujiono
Damian dapatin Fraya susah
kalo udah dapat jgn disia2in
Ris Andika Pujiono
Damiaan jahil bgt sih
semangat nunggu ceritamu kak🥰
Ris Andika Pujiono
Fraya naif bgt sih 😂
Ris Andika Pujiono
Fraya 😔
Ris Andika Pujiono
kerennn
tapi lama2 mirip film horor euy serem bacanya🥰
Ris Andika Pujiono
semoga Fraya baik2 saja 🥰
Ris Andika Pujiono
yeayyy jadian10x 😆🥰
bacanya sambil berharap terus nyambung g berhenti 😂 keren ceritanya
Ris Andika Pujiono
semoga mama Fraya panjang umur🙏
Ris Andika Pujiono
aku baca cerita ini seperti ninton film
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
Ris Andika Pujiono: asyik bisa ditungguin dong. sampai tamat 😎🥰🫰
total 4 replies
Ris Andika Pujiono
kaan Alana keluar 😔😎
Ris Andika Pujiono
kini aku punya hobby baru
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
omG sepertinya akan banyak masalah diantara mereka 😔😔😔😔😔
terima kaaih kak udah upp
Ris Andika Pujiono
kasian Damian 🥲
Ris Andika Pujiono
awas lu Damian sampe nyakitin Fraya 😎
Ris Andika Pujiono
yg baca senyum2 sendri thor
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
Ris Andika Pujiono
semoga semoga kalian baik2 saja Fraya & Damian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!