Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi berikutnya, kabut masih menyelimuti Gunung Lin ketika Lin Feng berdiri di gerbang utama keluarga. Jubah hitamnya yang baru dibuat khusus oleh para penjahit keluarga berkibar pelan, di lengan kanannya terbordir api emas kecil—lambang baru yang ia pilih sendiri. Di punggungnya tergantung pedang api palsu (hanya untuk penyamaran), dan di jarinya melingkar cincin ruang angkasa yang ia rampas dari Klan Huo, kini penuh dengan harta rampasan.
Patriark Lin Tianhao, Lin Hao yang masih lemah, dan puluhan tetua serta pelayan berdiri mengantar. Lin Mei tidak muncul—ia mengurung diri di kamar sejak kekalahan sekte gurunya.
“Feng’er,” suara ayahnya berat, “dunia luar jauh lebih kejam daripada yang kau bayangkan. Kekaisaran Xuanyuan penuh ular dan naga. Jangan percaya siapa pun.”
Lin Feng tersenyum tipis. “Ayah, aku bukan lagi anak yang dulu. Api ini sudah cukup untuk membakar segala ular dan naga.”
Ia menoleh ke Lin Hao. Saudara tirinya menunduk, tubuhnya masih gemetar setiap kali melihat api di mata Lin Feng.
“Jaga keluarga, adik. Kalau ada yang berani ganggu… kirim burung pesan. Aku akan kembali membakar mereka.”
Lin Hao hanya mengangguk cepat, tak berani bicara.
Lin Feng melangkah keluar gerbang. Begitu kakinya menyentuh jalan batu di luar gunung, ia tidak memanggil kuda roh. Dengan **Langkah Api Bayangan**, tubuhnya berubah menjadi bayangan api merah keemasan, melesat seperti meteor menyusuri jalan pegunungan. Dalam hitungan menit, Gunung Lin sudah mengecil di belakangnya.
Yan Di Shen Zun bergumam di dalam kesadarannya.
“Bagus. Tinggalkan sarang kecil itu. Api sejati tidak boleh terkurung di satu gunung.”
Perjalanan ke Kota Kekaisaran Xuanyuan memakan waktu sepuluh hari dengan kultivator biasa. Bagi Lin Feng, ia bisa memangkasnya menjadi empat hari. Tapi ia sengaja memilih rute melalui **Hutan Liar Seribu Gunung**—tempat penuh binatang roh tingkat tinggi dan reruntuhan kuno yang jarang dijamah orang.
Hari ketiga di hutan, matahari mulai condong ke barat. Pepohonan raksasa menjulang ratusan meter, akar-akarnya seperti ular raksasa. Udara penuh kabut beracun dan teriakan binatang.
Lin Feng berhenti di tepi sungai kecil yang airnya berwarna merah karena mineral api. Ia duduk bersila, menyerap qi api alami dari tanah yang kaya mineral itu. Tungku Api Abadi di dadanya berputar pelan, menyerap energi dengan rakus.
Tiba-tiba, angin berubah.
**Whoosh! Whoosh! Whoosh!**
Enam belas bayangan hitam melompat keluar dari balik pepohonan. Mereka mengenakan jubah putih salju yang sudah kotor—sisa pasukan Sekte Bunga Salju yang selamat dari pembantaian. Pemimpinnya adalah seorang elder tingkat tinggi bernama Xue Feng, tangan kanannya memegang pedang es berukir naga salju.
“Lin Feng!” teriak Xue Feng, suaranya penuh dendam. “Kau membunuh Tetua Agung kami! Hari ini kami akan balas dendam meski harus mati bersama!”
Lin Feng membuka mata perlahan. Ia tidak berdiri.
“Enam belas orang? Sekte kalian benar-benar miskin pasukan sekarang.”
Xue Feng menggeram. “Formasi Salju Pembunuh Iblis!”
Keenam belas orang membentuk lingkaran. Pedang mereka menyala biru dingin, qi es abadi menyatu menjadi seekor naga es raksasa sepanjang lima puluh meter yang mengaum ganas ke arah Lin Feng.
Naga es itu meluncur, mulutnya terbuka lebar siap menelan.
Lin Feng tetap duduk. Ia hanya mengangkat satu jari.
**Reinkarnasi Api Abadi – Tahap Dua: Tubuh Api Tak Hancur + Napas Api Jiwa.**
Tubuhnya berubah total menjadi api keemasan murni. Naga es menghantamnya… dan langsung disedot masuk ke dalam tubuh Lin Feng seperti air ke dalam lautan api. Qi es abadi yang seharusnya membekukan segalanya itu malah menjadi bahan bakar, membuat api Lin Feng semakin terang.
Enam belas elder membelalak.
“Tidak mungkin… formasi kami…”
Lin Feng berdiri. Sekarang ia benar-benar seperti dewa api—tubuh api keemasan, mata menyala seperti dua matahari kecil.
“Terima kasih untuk makanan,” katanya pelan.
Ia melangkah satu kali. **Langkah Api Bayangan** membawanya muncul di tengah-tengah formasi. Dua telapak tangan menyambar dua elder sekaligus. Api menyusup, tubuh mereka langsung menyusut menjadi abu sebelum sempat berteriak.
Dalam waktu sepuluh detik, hanya Xue Feng yang tersisa, berdiri gemetar dengan pedang es yang sudah meleleh setengah.
“Ka… kau monster…” bisiknya.
Lin Feng menatapnya dingin. “Katakan pada sisa sekte kalian di gunung salju—jika masih ada yang bernapas, jangan pernah sebut nama Lin Feng lagi. Atau aku akan datang sendiri membakar gunung kalian menjadi danau magma.”
Satu percikan api kecil melesat ke dada Xue Feng. Elder itu terbakar dari dalam, jatuh berlutut, lalu menjadi abu yang beterbangan.
Hutan kembali sunyi.
Lin Feng kembali ke wujud manusia, membersihkan jubahnya yang tak terkena kotoran sedikit pun. Ia hendak melanjutkan perjalanan ketika tiba-tiba suara lembut terdengar dari balik pohon besar di sebelah kanan.
“Bagus sekali… bahkan formasi Salju Pembunuh Iblis bisa kau serap dalam sekejap.”
Seorang gadis berjubah hitam keluar dari balik bayangan. Usianya sekitar 17 tahun, rambut panjang hitam lurus, wajah cantik seperti patung jade tapi matanya tajam seperti pisau. Di pinggangnya tergantung lonceng kecil berukir bulan sabit, dan aura di tubuhnya samar-samar—seperti bayangan yang hidup.
Lin Feng langsung waspada. Tungku Api Abadi di dadanya berputar cepat, siap menyerang.
“Siapa kau? Pengikut Sekte Bunga Salju lagi?”
Gadis itu tersenyum kecil, menggeleng. “Namaku Ye Qingyu. Aku… hanya seorang pengembara seperti kau. Aku melihat pertarungan tadi dari kejauhan. Teknik apimu… sangat mirip dengan legenda Api Abadi yang hilang ribuan tahun lalu.”
Yan Di Shen Zun di dalam kesadaran Lin Feng tiba-tiba bergetar.
“Anak ini… memiliki aura bayangan kuno. Hati-hati, pewarisku. Dia bukan orang biasa.”
Lin Feng menyipitkan mata. “Apa maumu?”
Ye Qingyu melangkah lebih dekat, lonceng di pinggangnya berdenting pelan. “Aku juga menuju Kota Kekaisaran. Ada… sesuatu yang aku cari di sana. Sendiri terlalu berbahaya. Kalau kau tidak keberatan, kita bisa jalan bersama sampai gerbang kota. Aku bisa bayar dengan informasi tentang reruntuhan kuno di dekat sini—tempat yang bahkan Klan Huo pun belum pernah temukan.”
Lin Feng diam sejenak. Ia bisa membunuh gadis ini sekarang, tapi ada sesuatu di matanya—bukan takut, bukan dendam, melainkan… rasa ingin tahu yang sama seperti dirinya dulu.
“Baik,” katanya akhirnya. “Tapi kalau kau coba sesuatu yang mencurigakan… kau akan jadi abu berikutnya.”
Ye Qingyu tersenyum lebar, seperti anak kecil yang mendapat permen. “Deal! Ayo, Tuan Muda Api. Reruntuhan itu hanya setengah hari perjalanan dari sini. Katanya ada **Bunga Api Abadi** di dalamnya—bunga yang bisa membuat api kultivatormu naik satu tingkat penuh.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri hutan. Ye Qingyu bicara ringan tentang rumor kekaisaran, tapi Lin Feng tetap waspada. Di dalam dadanya, Yan Di Shen Zun bergumam pelan.
“Anak ini menyembunyikan rahasia besar… tapi mungkin dia bisa menjadi sekutu pertama yang berguna. Atau… api baru yang ingin kau bakar.”
Matahari hampir terbenam ketika mereka tiba di depan sebuah bukit batu yang tertutup ilalang tebal. Di balik ilalang itu, samar-samar terlihat pintu gua kuno dengan rune api yang masih bercahaya samar.
Lin Feng merasakan getaran familiar di dadanya.
Api di dalam sana… memanggilnya.
Petualangan sejati baru saja dimulai.