Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Konyol
Ruang sampel yang biasanya tenang dan damai, pagi ini berubah menjadi arena perang. James Han berdiri menjulang di depan meja potong kain, tempat yang selalu berubah fungsi menjadi meja meeting seperti saat ini.
Belakangan ini, semuanya berjalan dengan baik. Tetapi entah bagaimana, pagi ini sebuah kekacauan terjadi disana. Pak Sony, manajer departemen finishing yang juga sama sama berasal dari Korea, tiba-tiba saja datang dan memarahi Maria dan juga staff sampel yang lain.
Karena perdebatan itu tidak menemukan titik terang, akhirnya Pak Sony meminta James untuk datang dan turut serta dalam pembahasan panas ini.
Jadilah mereka disana, bersitegang di depan meja potong dengan beberapa potong pakaian yang berserakan diatas meja. Wajah dingin James Han yang kemarin sempat hilang, kini kembali lagi.
"Saya tidak mau tahu, Pak Han! Ini murni kesalahan departemen Sample," seru Pak Sony sambil membanting pelan baju itu ke meja. "Pola yang dibuat tim Sample tidak memperhitungkan shrinkage (penyusutan). Begitu masuk proses steam di bagian Finishing, bajunya menciut dua sentimeter! Ukuran L jadi S! Kita tidak bisa kirim barang rusak begini ke buyer."
James tidak langsung menjawab, ia justru menoleh pada Maria untuk meminta penjelasan. Meskipun ia adalah Ayahnya para staff sampel, tetap saja ia merasa harus mendengar penjelasan dari dua belah pihak terlebih dahulu.
"Pak Sony jangan asal bicara," potong Maria sengit. "Kami sudah tes kainnya. Kalau tim Bapak di Finishing menggunakan suhu uap yang terlalu tinggi dan tidak sesuai SOP, ya pasti menciut! Jangan limpahkan kesalahan operasional ke kami."
“YA, MARIA! KAMU BERANI BICARA KERAS KEPADA SAYA?” Pak Sony berteriak sembari melotot ke arah Maria.
James Han mendelik tajam, “tidak perlu berteriak, Pak Sony. Kita selesaikan dengan kepala dingin, bukan emosi.”
“HAH, Kalian selesaikan saja masalah ini. Saya lelah ribut dari tadi. Sampai bertemu di ruang meeting bersama Mr. Douglas.” Pak Sony menggerakan tangannya di udara kemudian pergi dari sana.
“Apa kemungkinan terburuknya?” tanya James tanpa basa-basi pada Maria dan staff lainnya.
Maria menyerahkan laporan bukti bahwa kain yang mereka gunakan telah melalui proses steam terlebih dahulu. “Ini, Pak. Kami sudah melakukan proses steam sebelum kain di potong.”
“Lalu bagaimana bisa terjadi penyusutan seperti ini?”
“Kemungkinan karena suhu yang digunakan berbeda, Pak. Suhu yang terlalu tinggi bisa menyebabkan penyusutan yang terlalu signifikan.”
James tidak menjawab, dia fokus pada data-data yang ada didepannya. Berusaha mencerna kemungkinan yang terjadi.
Felicia yang sedari tadi hanya diam memperhatikan disisi James, perlahan bergerak ke dekat Maria dan Lina - asisten baru Maria. “Lin, kamu udah make sure belum sama Mas Agung?”
“Soal suhu yang digunakan saat proses steam, Kak?” tanya Lina yang dibalas dengan anggukan oleh Felicia.
“Sudah, Mas Agung bilang suhunya seperti biasa. Sesuai SOP.” jawab Lina agak panik. Wajar saja, dia baru bekerja satu bulan dan masalah ini sudah terjadi.
“Oke, kamu tenang aja. Pasti ada miss disini. Aku bantu cari tahu ya.” Felicia yang memang sudah berpengalaman menjadi asisten Maria mulai membedah satu persatu kemungkin yang terjadi hingga terjadi selisih ukuran sebanyak ini.
Felicia bergerak menuju meja kerja Maria, “Mbak, izin pinjem telfon ya.”
Wanita itu menekan tombol panggilan menuju departemen gudang kain, hanya perlu beberapa detik hingga panggilannya dijawab.
"Mbak, boleh minta tolong panggilin Mas Agung?” tanya Felicia pada bagian administrasi gudang.
Setelahnya, Felicia meminta laporan harian Mas Agung - operator mesin steam kain - untuk menjadi bukti saat rapat nanti. Hanya perlu waktu lima menit sampai Mas Agung mengirimkan foto laporannya ke ponsel Felicia.
Felicia kembali ke meja potong, meletakkan ponselnya disana. “Ini, suhu yang dipakai hari rabu lalu sudah sesuai. Delapan puluh derajat, dan lot kain yang dipakai untuk sampel juga ada disini.” Felicia menunjuk barisan daftar lot kain yang selesai di steam.
“Jadi, kayaknya kita bakal aman.” Felicia menatap rekan kerjanya bergantian. “Terlepas dari apa penyebab penyusutan hasil produksi, yang jelas kita aman.”
Maria mengangguk menyetujui, “aku sudah jelaskan ke Pak Sony tadi. Tapi beliau nggak mau terima.”
“Dia memang tidak pernah mau kalah.” ucap James sembari melipat kedua tangannya di dada. “Tapi dengan bukti ini, juga hasil laporan dari pihak QC Sampel, ya kita akan aman.”
“Syukurlah. Terimakasih Pak Han.” ucap Maria.
“Terimakasih pada Feli karena ide nya meminta bukti laporan pada bagian gudang. Manusia seperti Sony ini memang perlu ditampar realita sesekali.” James menghela nafasnya.
“Baik, saya kembali dulu. Kita bertemu jam sebelas di ruang meeting.” James melangkah keluar dari ruang sampel diikuti oleh Felicia di belakangnya.
“Pak Han, bisa kita bicara sebentar?” suara Tuan Doughlas bergema di antara suara mesin jahit yang ritmis.
“Baik, di ruangan anda?” tanya James mengangguk sopan.
“Ya, mari.”
James memberikan isyarat kecil agar Felicia kembali ke meja kerjanya lebih dulu, sementara ia mengekori Tuan Douglas menuju ruang pimpinan.
Tuan Douglas adalah Factory Manager yang memegang kendali penuh atas seluruh proses produksi, mulai dari tahap awal sampel hingga proses finishing.
Dinamika hubungan kerja mereka cukup unik. Jika dilihat dari posisinya sebagai Manajer Sample, James secara hierarki berada di bawah komando Tuan Douglas, apalagi pria senior itu telah mengabdikan dirinya selama puluhan tahun di perusahaan ini.
Namun, dalam kapasitasnya sebagai Manajer Pemasaran, James berdiri di level yang setara. Ia adalah jembatan antara keinginan pasar dan kemampuan produksi, sebuah posisi yang membuatnya memiliki kekuatan tawar yang seimbang di hadapan sang manajer pabrik.
Rapat mengenai penyusutan ukuran itu dilaksanakan lebih cepat. Prosesnya sangat sengit, dan saling menyalahkan satu sama lain antara departemen sample, cutting, finishing bahkan hingga gudang.
Rapat berjalan sangat alot hingga akhirnya titik terang ditemukan. Ada kelalaian di departemen cutting dalam pengambilan lot kain. Kain yang mereka potong adalah kain yang belum melalui proses steaming sehingga tentu saja hasil akhirnya akan menyusut.
Surat peringatan diberikan kepada para staf yang bertanggung jawab karena perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar. Setelah selesai rapat, James dan Felicia kembali ke ruangan.
Mereka bahkan melewatkan makan siang sehingga saat ini perut Felicia terasa sangat keroncongan.
Melihat atasannya itu sangat kelelahan, Felicia berinisiatif mengambilkan James sebotol air mineral dari pantry. Felicia meletakkan botol air mineral itu di atas meja kerja James yang penuh dengan tumpukan dokumen.
"Diminum dulu, Mas. Sejak rapat tadi pagi, kamu belum minum sama sekali," ucapnya lirih, memastikan suaranya tidak terdengar sampai ke luar ruangan.
James mendongak, gurat kelelahan di wajahnya perlahan memudar digantikan oleh binar hangat saat menatap Felicia. Ia meraih botol itu, meneguknya hingga tersisa separuh, lalu menghela napas panjang seolah beban di pundaknya baru saja luruh.
"Terima kasih, Fel. Dan... kerja bagus hari ini," ucap James tulus. "Data yang kamu siapkan tadi sangat membantu. Kalau kamu tidak jeli memeriksa lot kain itu, mungkin Pak Sony dan Maria masih akan saling tuduh sampai sore nanti."
Felicia tersenyum tipis, merasa dihargai bukan hanya sebagai kekasih, tapi juga sebagai rekan kerja yang kompeten. "Itu sudah jadi tugas saya, Pak Manajer."
James terkekeh rendah mendengarnya. Ia melirik ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat, lalu beralih menatap kursi kebesarannya. Dengan gerakan pelan, ia menarik kursi itu sedikit ke belakang dan mengulurkan tangannya pada Felicia.
"Kemari sebentar," pintanya.
Felicia sempat ragu, namun ia melangkah mendekat. Dalam satu gerakan lembut namun pasti, James menarik tangan Felicia, membawanya masuk ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan kepalanya di perut Felicia sementara tangannya melingkar di pinggang gadis itu.
"Mas... ini masih di kantor," bisik Felicia panik, meski ia tidak menolak.
"Sebentar saja, Fel. Biarkan saya recharge energi dulu," gumam James, suaranya teredam di balik pakaian Felicia.
Ia memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Felicia yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk masalah pabrik yang memusingkan. "Satu jam berdebat dengan Tuan Douglas rasanya lebih melelahkan daripada bekerja lembur sampai malam."
Felicia akhirnya luluh. Ia mengusap bahu James yang tegang dengan gerakan sangat lembut. Ia tahu pria ini memikul tanggung jawab besar, dan di balik ketegasannya tadi, ada rasa lelah yang luar biasa.
Hanya butuh waktu singkat bagi James untuk mendapatkan kembali kekuatannya. Sesuai janjinya soal profesionalitas, ia melepaskan pelukannya sebelum situasi menjadi terlalu intim. Ia kembali duduk tegak, merapikan kemejanya, dan kembali menjadi sosok pemimpin yang tangguh.
"Sudah cukup. Terima kasih, penyemangatku," James mengedipkan sebelah matanya, membuat Felicia kembali salah tingkah.
"Sekarang, karena kita sama-sama melewatkan makan siang, saya tidak mau sekretaris saya pingsan karena kelaparan. Ayo, kita cari makan di luar kantor. Anggap saja ini rapat koordinasi berdua."
***
Setelah ayam panggang di piring mereka ludes tak bersisa, Felicia merasa energinya kembali terisi penuh. Sembari menunggu James menyelesaikan pembayaran di kasir, ia mengeluarkan cermin kecil dan mulai memoles kembali lipstiknya yang luntur akibat minyak.
"Jangan terlalu cantik, Fel. Nanti saingan saya makin banyak," celetuk James yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, memasukkan dompet ke saku celana.
Felicia tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari cermin. "Cuma touch up sedikit, Mas. Biar nggak pucat-pucat amat pas balik ke kantor."
James mendengus pelan, menyandarkan pinggulnya ke meja sembari melipat tangan di dada. Matanya menyipit penuh selidik.
"Ngomong-ngomong soal itu... katanya kamu mau panggilan yang spesial buat saya. Tapi tadi, si 'Operator Kukusan' itu kamu panggil Mas juga."
Felicia bengong, tangannya yang memegang lipstik tertahan di udara. "Operator kukusan? Siapa, Mas?"
"Itu... Agung. Yang bagian steaming," jawab James dengan wajah sedatar papan penggilesan.
Begitu sadar siapa yang dimaksud, tawa Felicia meledak seketika. "Mas! Bisa-bisanya, ih! Operator kukusan katanya? Bahasa dari mana coba itu?"
James mengedikkan bahu dengan wajah tak berdosa. "Ya memang kenyataannya begitu, kan? Pekerjaannya mengukus kain seharian supaya tidak menciut."
"Ada-ada saja jokes Bapak Manajer satu ini," ujar Felicia sambil berusaha meredakan tawanya yang tersisa di ujung napas.
"Saya tidak bercanda, Felicia. Kembali ke topik. Kenapa dia kamu panggil Mas juga?" tuntut James, kali ini nada suaranya terdengar sangat posesif sekaligus konyol untuk pria seumurannya.
Felicia menyimpan lipstiknya, lalu menatap James dengan sisa-sisa tawa di matanya. "Ya karena Mas Agung itu orang Jawa, semua orang di pabrik juga manggilnya begitu. Masa aku manggil dia Mister?"
"Kamu harus jadi pengecualian," sahut James cepat.
"Loh, kenapa?"
"Masa panggilan kesayangan saya disamakan dengan operator kukusan? Yang benar saja, Fel." gerutu James, wajahnya terlihat sangat tersinggung yang dibuat-buat.
Felicia memutar bola matanya, gemas dengan tingkah pria di depannya. "Nanti kalau aku panggil Mas Agung beda sendiri, orang-orang malah curiga, Mas. 'Kok Felicia panggil Agung cuma nama aja? Sombong banget sekarang semenjak jadi sekretaris kesayangan Pak Han'. Gitu nanti omongan orang."
James tampak berpikir keras sejenak, menimbang-nimbang antara logika kantor dan ego laki-lakinya. Akhirnya, ia menegakkan tubuh, menatap Felicia dengan tatapan final yang biasa ia gunakan saat rapat direksi.
"Ya sudah. Pilihannya cuma dua, Felicia," ucap James dengan nada tegas. "Pertama, kamu berhenti panggil dia 'Mas'. Atau kedua, kamu berhenti panggil saya 'Mas' dan mulai panggil saya Sayang."
Felicia tersedak ludahnya sendiri. "Mas!"
"Pilihan kedua kedengarannya lebih bagus, kan?" James mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan mendahului Felicia menuju mobil dengan langkah ringan, meninggalkan Felicia yang masih berdiri kaku dengan pipi yang mulai berubah warna menjadi merah tomat.
DOUBLE UPDATE LAGIIIII ✨✨
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa dengan komen dan like
Terimakasiiih