NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tenang Sebelum Badai Kedua

Beberapa bulan terakhir, hidup mereka… terlalu damai.

Pagi-pagi selalu dimulai dengan suara Cantika yang cerewet minta sarapan ini-itu.

Kevin yang dulu dingin, sekarang malah hafal jadwal kartun anaknya.

Siska pun terlihat berbeda. Senyumnya lebih ringan. Tatapannya tak lagi dipenuhi ragu.

Arman?

Kesehatannya membaik drastis sejak rumah itu tak lagi penuh pertengkaran.

Semuanya terasa seperti potongan puzzle yang akhirnya menyatu.

Sampai sore itu.

Sebuah email masuk ke ponsel Kevin.

Awalnya biasa saja.

Tapi semakin ia membaca… alisnya makin berkerut.

Bukan ancaman.

Bukan pesan misterius.

Laporan keuangan.

Dan ada transaksi besar…

atas namanya.

Jumlahnya fantastis.

Kevin langsung memanggil manajer kepercayaannya.

“Ini siapa yang tanda tangan?” suaranya rendah, tapi menekan.

Manajer itu menelan ludah.

“Secara sistem… atas nama Bapak.”

Kevin berdiri.

“Saya tidak pernah menyetujui ini.”

Ruang kerja mendadak terasa dingin.

Ini bukan sekadar uang.

Ini sabotase.

Malamnya, Kevin pulang dengan wajah serius.

Siska langsung tahu.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

Kevin duduk di sofa, menatap kosong.

“Perusahaan ada masalah.”

“Masalah besar?”

Kevin mengangguk.

“Ada transaksi ilegal atas namaku.”

Siska terdiam beberapa detik.

“Surya?”

Kevin menggeleng pelan.

“Belum tahu. Tapi bisa jadi.”

Siska menghela napas panjang.

“Kita baru aja tenang…”

Kevin menatapnya dalam.

“Dan mungkin ini cara baru.”

Siska menggenggam tangannya.

“Kita hadapi lagi.”

Kevin tersenyum tipis.

“Kamu nggak capek?”

Siska menggeleng.

“Capek. Tapi kalau capeknya bareng, rasanya nggak berat.”

Kalimat itu membuat hati Kevin hangat… sekaligus tertekan.

Ia tidak takut kehilangan uang.

Ia takut… rumah ini retak lagi.

Beberapa hari kemudian, masalah membesar.

Media mulai mencium dugaan penggelapan dana.

Nama Kevin disebut-sebut.

Meski belum terbukti, gosip menyebar cepat.

Sepulang sekolah, Cantika bertanya polos.

“Papa, temenku bilang Papa masuk berita.”

Kevin tersenyum lembut.

“Papa cuma lagi kerja keras.”

Cantika mengangguk. Ia belum paham dunia orang dewasa.

Tapi Siska paham.

Dan ia bisa melihat tekanan di mata suaminya.

Malam itu Kevin duduk sendirian di ruang kerja.

Siska masuk tanpa mengetuk.

“Kamu nggak makan dari tadi.”

Kevin menghela napas.

“Aku nggak mau ini jadi beban buat kalian.”

Siska mendekat.

“Kamu pikir kalau kamu simpan sendiri jadi lebih ringan?”

Kevin terdiam.

Siska duduk di pangkuannya, menatap wajahnya.

“Kita udah pernah miskin. Pernah hampir cerai. Pernah diteror. Ini cuma satu masalah lagi.”

Kevin tersenyum lemah.

“Kamu sekarang kayak motivator.”

Siska terkekeh kecil.

“Karena aku udah belajar.”

Kevin memeluknya erat.

“Aku cuma takut kamu kecewa lagi…”

Siska menjauh sedikit dan menatapnya tegas.

“Aku dulu kecewa karena aku nggak kuat. Sekarang aku lebih kuat.”

Kevin menelan ludah.

“Dan kalau semua harta ini hilang pun…

asal kamu tetap jadi kamu, aku nggak ke mana-mana.”

Kevin menutup mata sejenak.

Dulu Siska pergi karena kemiskinan.

Sekarang… ia memilih tinggal meski ada ancaman kehilangan.

Itu perbedaan yang besar.

Beberapa minggu penyelidikan berjalan.

Akhirnya terungkap—

salah satu direksi lama bekerja sama dengan pihak luar untuk menjatuhkan Kevin.

Motifnya sederhana.

Ambisi.

Surya tidak terlibat langsung.

Tapi Kevin sadar satu hal—

dunia tak pernah benar-benar aman.

Ancaman tidak selalu datang dengan teror.

Kadang datang… lewat pengkhianatan diam-diam.

Setelah masalah mulai terkendali, Kevin pulang lebih awal.

Ia menemukan Siska dan Cantika tertawa di dapur.

“Ada apa?” tanyanya.

Cantika berlari menghampiri.

“Mama gagal bikin kue lagi!”

Siska langsung protes.

“Eh! Ini cuma kurang gula!”

Kevin tertawa kecil.

Perusahaan bisa goyah.

Reputasi bisa diuji.

Tapi rumah ini…

Inilah alasan ia tetap berdiri.

Malam itu, setelah Cantika tidur, mereka duduk di balkon.

“Aku hampir takut kehilangan semuanya,” kata Kevin pelan.

Siska menatapnya.

“Kamu kehilangan apa?”

Kevin terdiam sejenak.

“Waktu.”

Siska mengernyit.

“Kalau aku terlalu sibuk menyelamatkan perusahaan, aku bisa kehilangan momen kayak tadi.”

Siska tersenyum lembut.

“Makanya jangan kejar dunia sampai lupa pulang.”

Kevin tertawa kecil.

“Iya, Bu Guru.”

Siska menyandarkan kepala di bahunya.

“Kita nggak bisa kontrol semua hal. Tapi kita bisa pilih tetap saling percaya.”

Kevin memandang langit malam.

Masalah memang selalu datang.

Kadang besar. Kadang kecil.

Tapi kali ini… ia tidak sendirian.

Ada seseorang yang tak akan lari lagi.

Dan ada seorang anak kecil yang setiap hari mengingatkannya kenapa ia harus tetap kuat.

Kevin menggenggam tangan Siska lebih erat.

Mungkin hidup tak akan pernah benar-benar tenang.

Tapi selama mereka tetap memilih tinggal—

Itu sudah cukup untuk melawan apa pun yang datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!