NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari sial

"Mmm... kak Kairi, aku suka kakak!""

Deg deg... deg deg... deg deg... ,hening tidak ada suara apapun di ruangan ini selain degup jantungku. Aku tidak berani menatap ke depan, seluruh keberanianku telah kucurahkan pada sepenggal kalimat singkat itu. Kenapa tidak ada tanggapan? Apa artinya ini? Aku ditolak?. Kuberanikan diri melihat lawan bicaraku. Mata kami saling bertatapan. Aku sungguh tidak mengerti arti tatapan matanya.

"Sudah sore, ayo kita pulang Jen."

Sepersekian detik aku berusaha mencerna kata-katanya.

"Kenapa bengong, kamu dijemput supir kan? Ayo aku antar ke parkiran."

Sebelum ia melangkah melewatiku, tangannya mengacak acak rambutku pelan sambil tersenyum.

Apa sih maksudnya? Aku beneran ditolak ya ini?

"Jen... ",panggilnya lagi.

Akhirnya aku berjalan pelan mengikutinya. Kami berjalan berdampingan, selama itu pula aku hanya berani menundukkan kepalaku.

"Mobil kamu parkir dimana?"

"Eh... ya... apa kak?"

"Mobil kamu dimana?"

"Mmm... aku jalan sendiri aja kak, makasih sudah antar aku sampai sini.

"Ya udah aku pulang duluan ya Jen.

Iya kak.

Aku menatap punggungnya berjalan ke arah parkiran motor, akhhh... hari sial memang ga ada di kalender, ucapku pelan.

Tok tok... ini aku Belva.

"Bel..." jawabku sambil membuka pintu.

"Jadi bagaimana tadi? Kamu udah resmi jadian?."

"Apanya yang jadian? Ditolak iya kayanya."

"Kok kayanya? Gimana sih Jen?"

"Tau ah Bel, ga jelas, aku bingung, tapi pasti ditolak sih cuma akunya aja yang masih berharap gini."

"Lah... gimana sih? Ga mungkin deh Jen, coba cerita, lengkap ya, sedetailnya."

Aku menarik nafas panjang, mengembuskannya, lalu mulai bercerita.

"Udah? Cuma gitu aja? Kamunya yang ga nangkep kali Jen, kebanyakan bengong."

"Bel, aku ga sebengong itu sampai ga bisa mencerna kata-kata dia. Beneran aku ga terlewat sedikitpun Bel."

"Tapi selama ini dia memperlakukanmu berbeda Jen. Aku aja yang beda jurusan sama kamu bisa nangkep kalau dia suka kamu. "

"Itu mungkin karena kamu ada dipihakku, jadi apa yang selama ini aku ceritakan berdasarkan POV aku Bel, jadi kamu ikutan subjektif.

"Akh... masa sih Jen, aku kan ga sebodoh kamu dalam urusan asmara gini."

"Heh... , protesku sambil memicingkan mata kearahnya.

"Hahaha... ya maaf, kamu kan baru sekali pacaran itupun jarak jauh begitu, ga lama lagi, mana bisa dihitung pacaran sih."

"Ih rese ya..." ucapku sambil melempar bantal. Sedangkan yang dilempar bantal hanya tertawa cekikan.

Tok tok... non Jeny, non Belva dipanggil ibu untuk makan malam.

"Baik terima kasih mba, ucapku dari dalam kamar."

"Udah sana keluar, aku mandi dulu, ga enak ditungguin mama kamu."

"Ok ok..." ucap Belva sambil masih senyum senyum sendiri menggodaku.

Sudah hampir 3 tahun aku menumpang tinggal di keluarga Belva. Aku anak yatim piatu, mama meninggal karena sakit kanker 10 tahun yang lalu, dan tepat 1.5 tahun yang lalu papaku menyusul mama karena kecelakaan lalu lintas. Papaku dan papa Belva adalah sahabat karib dari jaman mereka kuliah dulu, lalu membuka bisnis bersama. Papa Belva memegang kantor pusat di Jakarta, sedangkan papaku memegang kantor cabang di Surabaya. Sebenarnya kalau bisa memilih aku lebih baik menyewa kos atau apartemen selama kuliah di Jakarta, tapi aku sungguh tidak enak menolak keluarga Belva. Meski kami berbeda kota namun kami sering bertemu, entah karena bisnis papa atau sekedar liburan bareng. Jadi aku seperti sudah seperti bagian dari keluarga mereka, apalagi aku dan Belva seumuran dan kini berada di universitas yang sama namun beda jurusan. Belva mengambil bisnis, sedangkan aku mengambil jurusan hubungan internasional.

*POV, point of view, pemikiran/pengalaman berdasarkan sudut pandang 1 orang tertentu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!