Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Malam itu, kediaman Pramoedya sudah sunyi. Shaka baru saja terlelap setelah sesi dongeng singkat yang dibacakan Awan dengan nada suara yang lebih mirip laporan audit tahunan daripada cerita pengantar tidur. Di ruang kerja, Awan masih berkutat dengan laptopnya, kacamata bertengger di hidungnya, dan rahang yang mengeras karena tumpukan berkas dari firma hukum Paman Wijaya.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Jasmine masuk dengan setelan kasual—jeans denim, kaos putih, dan jaket bomber.
"Ayo ikut aku," ucap Jasmine sambil menarik tangan Awan secara paksa.
"Jas, lo liat nggak gue lagi ngapain? Gue lagi nyusun strategi buat nendang paman lo itu ke kutub selatan!" protes Awan, namun ia tidak melepaskan cengkeraman tangan Jasmine.
"Lupain kerjaan bentar aja, Wan. Terus jadi manusia biasa. Lo itu suami gue, bukan robot pengolah data," Jasmine menariknya lebih kuat. "Ayo, atau aku pergi sendiri!"
Mendengar kata 'pergi sendiri', Awan langsung menutup laptopnya dengan kasar. "Nggak ada sejarahnya istri Awan Pramoedya kelayapan malem-malem sendirian. Tunggu, gue ambil kunci mobil."
Awan mengira mereka akan pergi ke restoran fine dining atau setidaknya ke sebuah galeri seni privat. Namun, matanya membelalak saat Jasmine mengarahkannya ke sebuah lapangan luas yang dipenuhi lampu warna-warni neon, suara musik dangdut remix yang memekakkan telinga, dan aroma gorengan yang sangat kuat.
Pasar Malam.
Awan turun dari mobilnya yang seharga miliaran rupiah dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan kemeja sutra dan celana kain formal, terlihat sangat kontras di antara kerumunan orang yang memakai sandal jepit dan kaos oblong.
"Lo serius ngajak gue ke sini?" tanya Awan, wajah judesnya mencapai level maksimal. Ia menatap tanah yang sedikit becek dengan tatapan jijik. "Banyak kuman, polusi suara, dan... itu apa? Kenapa ada orang makan kapas warna pink?!"
"Itu arum manis, Wan! Norak banget sih," tawa Jasmine pecah. Ia menarik lengan kemeja Awan, membawanya masuk ke dalam keramaian.
Awan berjalan kaku seperti robot yang butuh oli. Ia terus-menerus merapikan kemejanya setiap kali ada orang yang tidak sengaja menyenggolnya. "Jas, hati-hati tas lo! Pegang tangan gue kenceng-kenceng. Kalau lo ilang di sini, gue nggak bakal nemuin lo di antara ribuan orang bau keringat ini!"
Langkah Jasmine terhenti di depan sebuah wahana yang terlihat cukup ekstrem untuk ukuran pasar malam: sebuah rollercoaster mini yang relnya tampak berderit setiap kali keretanya melintas.
"Ayo naik itu!" Jasmine menunjuk ke atas dengan antusias.
Wajah Awan yang biasanya pucat menjadi semakin pucat. "Gak. Gak akan. Gue punya asuransi jiwa yang mahal, Jasmine. Gue nggak mau mati konyol karena baut karatan di wahana ini copot!"
"Haha, kamu takut?!" Jasmine menatapnya dengan nada menantang, matanya berkilat jahil. "Pimpinan Pramoedya Group yang ditakuti musuh bisnis ternyata takut sama wahana pasar malam?"
Awan langsung tegak. Egonya yang setinggi langit terusik. "Takut? Gue nggak tau arti kata itu dalam kamus gue!"
"Buktikan!"
"Oke! Beli tiketnya! Dua!" perintah Awan pada Jasmine, seolah ia sedang memerintahkan pembelian saham mayoritas.
Mereka kini duduk di kursi terdepan. Awan memeriksa sabuk pengamannya berkali-kali dengan wajah sangat serius. "Jas, kalau terjadi sesuatu, lo pegang tangan gue. Gue bakal jadi bantalan lo kalau kita kepental," bisiknya, meski suaranya sedikit bergetar.
"Iya, Wan. Cerewet banget sih!"
Kereta mulai bergerak perlahan, menanjak ke titik tertinggi dengan suara krek... krek... krek... yang sangat mencemaskan. Awan mencengkeram besi pengaman di depannya hingga buku jarinya memutih.
"Jasmine, gue rasa rel ini miring tiga derajat ke kiri—"
Belum sempat Awan menyelesaikan analisanya, kereta itu meluncur jatuh dengan kecepatan tinggi.
"WAAAAAAAARRRRGGGHHHHH!!!!"
Awan berteriak sangat kencang. Bukan teriakan berwibawa, melainkan teriakan panik yang membuat Jasmine tertawa sampai mengeluarkan air mata. Saat kereta itu menikung tajam, Awan refleks memeluk lengan Jasmine kencang-kencang, memejamkan matanya rapat-rapat.
"SIAAALAAANNN! TURUNIN GUEEE! JASMINE, GUE PECAT OPERATORNYA BESOK!!!" raung Awan di tengah angin yang menerpa wajahnya.
Setelah tiga putaran yang terasa seperti tiga abad bagi Awan, wahana itu berhenti. Awan turun dengan langkah gontai, rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan ke segala arah. Ia harus berpegangan pada tiang lampu agar tidak jatuh.
"Hahahaha! Wan, muka kamu lucu banget!" Jasmine tertawa sampai memegangi perutnya. "Tadi siapa yang bilang nggak takut?"
Awan mencoba merapikan kemejanya dengan tangan gemetar. Ia mengatur napasnya, mencoba mengembalikan martabatnya yang sudah jatuh ke tanah becek pasar malam. "Gue nggak takut! Gue cuma... gue cuma kaget sama percepatan gravitasi yang nggak sesuai standar keamanan internasional!"
Jasmine mendekat, ia merapikan rambut Awan yang acak-acakan dengan jari-jarinya. "Makasih ya udah mau jadi 'manusia biasa' malam ini."
Awan terdiam. Ia menatap wajah Jasmine yang tampak sangat bahagia di bawah cahaya lampu pasar malam yang kekuningan. Perlahan, amarah dan rasa gengsinya mencair. Ia menarik Jasmine ke dalam pelukannya di tengah keramaian.
"Bawel lo," gumam Awan, suaranya kembali lembut. Ia mencium kening Jasmine tanpa peduli ada beberapa anak kecil yang menonton mereka sambil memegang balon. "Lain kali kalau mau naik ginian, bilang-bilang. Biar gue beli wahananya sekalian terus gue ganti bautnya pake titanium."
Mereka menghabiskan sisa malam dengan berjalan-jalan santai. Awan akhirnya mau mencoba arum manis, meski ia mengeluh karena tangannya menjadi lengket. Ia bahkan memenangkan sebuah boneka beruang besar untuk Shaka dari permainan lempar gelang—setelah menghabiskan hampir satu juta rupiah hanya untuk melempar gelang plastik ke botol.
"Nih, bawa. Jagoan gue pasti suka," ucap Awan sambil menyodorkan boneka itu pada Jasmine dengan wajah judes yang dibuat-buat untuk menutupi rasa bangganya.
Saat berjalan menuju mobil, Jasmine menggandeng tangan Awan. "Wan, tadi seru banget kan?"
Awan mendengus, tapi ia menggenggam balik tangan Jasmine dengan erat. "Seru dari mana? Jantung gue hampir pindah ke lambung. Tapi... liat lo ketawa kayak tadi, gue rasa satu rollercoaster karatan lagi juga gue jabanin."
Jasmine tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Awan. Malam itu, di tengah hiruk pikuk pasar malam yang sederhana, Awan membuktikan bahwa ia tidak hanya bisa menjadi pelindung yang kaku, tapi juga pria yang rela terlihat konyol demi kebahagiaan istrinya.
Selamat berbuka puasa ^^