Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Tiba di bangku taman, di bawah naungan pohon kamboja yang sejuk, Laura menaruh piring sarapannya dan mencoba menghirup udara segar. Namun, keheningan taman itu terasa seperti keheningan yang mengawasinya.
Setiap daun yang jatuh, setiap kicauan burung, terasa seperti mata-mata Lexi.
Ia menatap roti panggang di piringnya. Rasanya mustahil menelannya.
Bagaimana ia bisa makan dengan tenang sementara ia membawa benih dari dua orang di hatinya, dan benih Lexi secara harfiah ada di dalam rahimnya?
Ia mengambil ponselnya, jarinya ragu di atas nama Alex. Ia ingin lari, berteriak, mengakui segalanya, tetapi ia tahu Alex akan hancur—dan Lexi tidak akan membiarkan itu terjadi.
Lexi akan memastikan kehancuran itu menjadi milik Alex, bukan dirinya.
Sebuah notifikasi baru muncul. Pesan teks. Tentu saja, dari Lexi.
Lexi: Aku melihatmu di jendela. Jangan lupakan aturanku, Laura. Anakku harus mendapatkan nutrisi terbaik. Sekarang, habiskan sarapanmu, atau aku akan datang dan menyuapimu sendiri. Aku yakin Alex tidak keberatan dengan sedikit kemesraan pagi hari antara kita, keluarga.
Laura tersentak. Ia tahu Lexi tidak main-main. Ancaman untuk datang ke taman dan melakukan tindakan posesif di depan Alex adalah hal yang paling ditakuti Laura.
Itu akan menghancurkan citra "istri rapuh" yang ia coba pertahankan.
Dengan tangan gemetar, Laura mulai memotong sarapannya.
Setiap gigitan terasa seperti pasir. Ini bukan demi dirinya, ini demi si kecil, darah daging Lexi, yang kini menjadi satu-satunya jaminan dan juga satu-satunya penjara bagi Laura.
Setelah sarapan yang dipaksakan, Laura kembali ke dalam, berniat mencari kesibukan yang bisa mengalihkan pikirannya.
Ia melihat Alex dan Lexi sedang duduk di ruang keluarga, terlibat dalam pembicaraan bisnis yang serius.
"Ini adalah perjanjiannya, Alex. Kamu tanda tangani saja di bagian ini," kata Lexi, menunjuk pada sebuah dokumen dengan pulpen emasnya. "Aku sudah mengurus semua yang lain."
Alex tampak lega. "Terima kasih banyak, Kak. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas budi. Kamu benar-benar menyelamatkan proyek ini."
"Keluarga di atas segalanya," balas Lexi dengan nada yang tidak membiarkan perdebatan. Pandangannya bergerak dari Alex ke Laura, yang berdiri tak jauh dari mereka, tatapan itu menelanjangi Laura seolah dia adalah properti yang baru diakuisisi.
Laura berusaha keras untuk mempertahankan ekspresi kosong.
"Sayang, kenapa kamu di situ saja? Sini, duduk di sebelahku," panggil Alex, menepuk sofa di sampingnya.
Laura menurut, duduk di sebelah Alex. Bau Lexi, bau parfumnya yang mahal dan maskulin, memenuhi udara, bersaing dengan bau Alex.
"Laura, kamu harus mulai berolahraga ringan. Jalan kaki di pagi hari," ujar Lexi tiba-tiba, menyela pembicaraannya dengan Alex.
"Aku akan menemaninya, Kak," sela Alex, memeluk pinggang Laura dengan lembut.
Lexi tersenyum kecil, senyum yang mencapai matanya dan terasa sangat dingin. "Tentu saja, Alex. Tapi jika kamu sibuk, aku juga bersedia. Aku tidak mau keponakanku lahir dengan kesulitan hanya karena ibunya malas bergerak."
Nada itu adalah sebuah perintah, bukan tawaran. Lexi memberitahu Laura bahwa dia akan tetap mengawasi dan mengontrol, bahkan dalam hal rutinitas harian yang paling pribadi sekalipun.
"Aku akan memastikan aku rajin berolahraga," kata Laura dengan suara datar. Ia tidak berani menatap mata Lexi.
"Bagus," Lexi bersandar di sofa, tampak sangat puas. "Aku akan pergi sebentar. Jangan khawatir, Alex, aku akan kembali sebelum makan malam."
Lexi bangkit, dan saat berjalan melewati Laura, tangannya menyentuh bahu Laura, sentuhan yang hanya berlangsung sepersekian detik, tetapi cukup untuk mengirimkan gelombang peringatan dan hasrat yang tak terucapkan.
Alex, yang sibuk melihat dokumen yang baru ditandatangani, tidak melihat interaksi singkat itu.
Setelah Lexi pergi, Alex menghela napas lega. "Aku senang dia pergi, Sayang. Rumah terasa lebih ringan. Dia memang orang yang dominan, tapi dia sudah banyak membantu kita. Aku tidak tahu apa yang akan kita lakukan tanpanya."
Laura menelan ludah. Aku tahu apa yang harus kita lakukan tanpanya, Alex. Tapi aku tidak bisa melakukannya.
Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Kebaikan Alex, kepercayaan Alex, adalah belenggu yang mengikat Laura lebih erat pada Lexi. Ia telah menjual jiwanya, dan sekarang ia harus membayar harganya.
***
Malam harinya, setelah makan malam yang tegang, Alex tertidur pulas, kelelahan karena perjalanan dan urusan bisnisnya.
Laura berbaring di sampingnya, matanya terbuka lebar, menatap langit-langit.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas nakas.
Ia meraihnya, jantungnya berdetak kencang. Itu pesan baru dari nomor tak dikenal yang sudah ia kenali.
Lexi: Datanglah ke ruang kerja, sekarang. Aku punya sesuatu yang harus kamu lihat, yang berhubungan dengan anak kita. Jangan membuat suara. Aku tidak suka menunggu.
Laura menggigit bibirnya. Ruang kerja berada di lantai bawah, di ujung koridor. Itu adalah ruangan yang jarang digunakan. Perintah itu jelas, cepat, dan tidak terhindarkan.
Ia harus pergi. Jika Lexi datang ke kamar ini, Alex akan bangun, dan segalanya akan terbongkar. Demi menjaga ilusi ini, demi melindungi Alex dari kebenaran yang kejam, Laura harus patuh.
Dengan hati-hati, ia bangkit dari ranjang, memastikan tidak ada kasur yang berderit. Ia mencuri pandang pada wajah damai Alex.
Maafkan aku, Sayang.
Mengenakan gaun tidur satinnya, Laura melangkah keluar dari kamar. Koridor rumah itu terasa sangat panjang dan gelap. Setiap langkahnya terasa seperti pengkhianatan yang baru.
Ia mencapai ruang kerja. Pintunya sedikit terbuka, menyisakan celah sempit. Ia mendorongnya pelan.
Di dalam, Lexi duduk di kursi kulit mewah, dikelilingi oleh bayangan, hanya diterangi oleh lampu meja kecil. Ia tidak memegang dokumen, tidak ada yang berhubungan dengan 'anak mereka' selain tatapan mata gelap yang terpaku pada Laura.
"Masuk," perintahnya, suaranya pelan dan mengancam, seperti bisikan iblis.
Laura masuk dan menutup pintu di belakangnya.
"Apa yang kamu inginkan, Lexi? Alex bisa bangun kapan saja." Bisik Laura, mencoba terdengar berani, meskipun ia gemetar.
Lexi tersenyum, senyum predator. Ia berdiri dan melangkah mendekat, mengurung Laura di antara pintu dan dirinya.
"Aku ingin memastikan kamu tahu tempatmu, Laura," bisiknya, tangannya yang kuat memegang dagu Laura, memaksanya mendongak. "Kamu milikku. Anak yang kamu kandung adalah milikku. Dan aku tidak suka penolakan seperti tadi malam."
Laura memejamkan mata, air mata menggenang. "Aku... aku sedang hamil, Lexi. Aku berhak menolak mu."
"Kenapa kamu juga menolak suamimu hmm?"
"Aku lelah,lagipula darimana kamu tahu soal itu? Kau memata matai kami?"
"Jangan lupa kalau rumah ini adalah milikku Laura,,," Lexi mendengus. "Kamu melakukannya. Karena kamu tahu, jauh di lubuk hatimu, hanya aku yang bisa memberimu apa yang kamu butuhkan. Kebutuhan biologis itu, seperti yang kamu sebutkan, hanya bisa dipenuhi oleh tiranmu."
"Aku membencimu," bisik Laura.
"Bagus," Lexi menariknya lebih dekat, tangannya yang lain melingkari pinggang Laura, tepat di atas benjolan kehamilannya. "Benci itu membuatmu liar. Dan aku suka wanita liar. Sekarang, tunjukkan padaku pengabdianmu. Tunjukkan pada ku bahwa kamu adalah tawanan yang patuh. Atau aku akan membangunkan Alex dan menjelaskan mengapa istrinya menolak sentuhannya."
Lagi lagi ancaman Lexi membuatnya tidak berkutik.
Laura menyerah. Rasa bersalahnya tenggelam oleh ketakutan yang dingin dan kebutuhan yang ia sangkal. Malam itu, di ruang kerja yang gelap, di bawah hidung suaminya, Laura kembali menyerah pada musuhnya, menegaskan kembali posisinya sebagai tawanan Lexi, dalam sangkar yang terbuat dari kebohongan dan kenikmatan terlarang.
"Aku membenci mu Lexi,," Erang Laura ditengah desahannya.
"Aku tahu sayang,,," Tanggap Lexi cepat.
Sentuhan Lexi jauh lebih lembut dan penuh hati hati.
Mungkin karena Lexi takut bayinya kenapa napa di dalam.
"Tubuhmu sudah menjadi canduku Laura,kamu sangat nikmat,," Lagi lagi Lexi memuji Laura.
Ibu hamil itu tidak menanggapi,,sibuk menikmati permainan panas kakak iparnya tersebut.
Aaahhhh..!
Laura mengejang,menumpahkan cairan hangatnya,menyiram pusaka Lexi yang masih bersarang didalam.
"Kamu keluar lagi sayang,membuat pusakaku terasa hangat," Senyum Lexi puas.
Puas melihat istri adiknya itu puas.
Lexi menghentak miliknya dibawah sana,menyatukan kembali milik nya ke liang hangat Laura,menghunjam liang itu berulang-ulang,hingga membuat nya mencapai puncak.
Lexi juga mengerang,menumpahkan benihnya di rahim Laura.
Setelahnya Laura ambruk di sofa kulit mahal milik Lexi.
Tenaganya benar benar terkuras.
Sampai sampai tenaganya tidak ada lagi walau hanya sekedar berpindah ke kamar.
Bersambung...