NovelToon NovelToon
Cinta Salah Sasaran

Cinta Salah Sasaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia X

Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takut ketahuan

Kirana yang baru selesai mandi, langsung berlari kecil menghampiri ponselnya yang berdering, dan nama Dewa yang tertera disana.

“Hallo..” sapa Ana pelan.

“Kemana aja sih elo lama banget.” semprot Dewa dari dalam kamarnya.

“Mandi mas Dewa, kenapa sih ngereog terus,” jawab Ana santai.

“Cepat bawakan makanan ke kamar, gak tahu apa gue sudah hampir mati kelaparan,” ucap Dewa galak, Ana hanya menghela nafas berat.

“Iya mas, ditunggu sebentar, ganti baju dulu.” jawab Ana menahan sabar tidak ingin berdebat dengan majikan laknatnya yang sepertinya lagi sensi, pembicaraan terputus dengan Dewa yang mematikan panggilan. Dewa menggerutu tidak jelas, sembari melihat ponselnya.

“Dasar pendek, gak peka kalau gue dari tadi belum makan, perutku sudah bunyi dari tadi, kenapa sekarang gampang lapar sih,” gerutu Dewa lagi, ia tidak sadar apa kalau yang ia minum dulu adalah vitamin penambah nafsu makan bahkan Ana selalu memberikannya setiap malam hingga satu botol itu hampir habis, dan tubuh Dewa sekarang tidak sekurus biasanya, sudah lebih berisi dan kelihatan segar, pintu di buka perlahan, Dewa mendongak melihat Ana membawa nampan, Dewa langsung berdiri menuju pintu dan menguncinya.

“Lho, kenapa dikunci mas, mas Dewa gak mau berbuat jahat kan?” tanya Ana panik. Dewa hanya memutar bola matanya malas.

“Gak usah kepedean ikan buntal, siapa juga yang minat sama cewek pendek kayak loe, gak merubah keturunan jadi baik, malah pendek semua nanti keturunan Bramasta, gak banget,” ucap Dewa sadis, membuat Ana hanya mengerucutkan bibirnya.

“Lalu kenapa dikunci,” tanya Ana penasaran, karena biasanya tidak.

“Nanti tuh makhluk jadi-jadian masuk gimana, malas banget gue direcoki tuh bocah,” jawab Dewa santai dan duduk, Ana mengangguk setuju, ia juga malas nanti kalau ditanya macam-macam. Dewa membuka mulutnya tidak sabar, ia sudah kelaparan karena siang tidak makan., Ana langsung menyuapi bayi besarnya dengan telaten.

“Laper banget gue, siang gak makan,” adu Dewa tanpa sadar

“Kenapa gak makan, mas Dewa dari mana sih, pulang telat banget pasti habis nongkrong sama teman-teman mas Dewa yang laknat itu, kurangi nongkrong sama mereka mas, biar gak ikutan gesrek juga,” ucap Ana apa adanya, membuat Dewa mengerutkan alisnya,

“Mereka baik kok, selalu ada untuk aku, ya walau memang begitu mereka, suka bercanda kelewatan,” jawab Dewa sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.

“Baik apa, kalau baik kenapa mas Dewa sampai kelaparan coba,” balas Ana lagi.

“Aku yang gak mau makan, males gak ada yang nyuapin, kalau gini kan enak tinggal mangap.” balas Dewa tanpa sadar kalau bahasa mereka pake aku kamu, Ana berdecak mendengar alasan Dewa.

“Aku kan gak selalu ada untuk mas Dewa, nanti kalau hutang ku sudah lunas kan, kita juga gak bersama lagi, belajar mandiri mulai sekarang, hidup dengan baik, jangan nyusahin orang, pasti orang tua mas Dewa bangga.” Ana berbicara seperti emak-emak nasehati anaknya, membuat Dewa gantian berdecak.

“Gak usah bahas orang tua, mana mereka perduli, anaknya masih hidup atau gak aja mereka gak tahu, lebih mentingin pekerjaan mereka, jadi gak salah dong kalau aku menghamburkan uang yang mereka cari mati-matian.” jawab Dewa tanpa dosa.

“Heh, gak boleh begitu mas, kualat nanti.” ucap Ana menabok lengan Dewa, membuat Dewa meringis.

““Tangan apa besi, sakit banget,” ucap Dewa mengusap lengannya.

“Tangan kecil gini loe mas, masa iya sakit,” sahut Ana mengangkat telapak tangannya.

“Pasti ada besinya,” ucap Dewa meraih telapak tangan itu, melihatnya dengan teliti.

“Iya kecil banget,” lanjut Dewa menggenggam tangan Ana, membuat Ana melongo, ada rasa yang lain yang tersalurkan lewat hangatnya tangan Dewa yang besar, Dewa juga terdiam melihat tangan mungil itu, ia juga merasa ada yang beda mengalir ke tubuhnya, Dewa pun berdehem, dan melepas tangan Ana.

“Tangan mu kayaknya bau terasi,” ucap Dewa asal, agar suasana tidak canggung.

“Sembarangan, aku habis mandi, trus ngambil makanan untuk mas Dewa, gak ikut masak,” sanggah Ana polos tidak tahu kalau Dewa hanya mengalihkan suasana.

“Aku dah kenyang, makan gih,” ucap Dewa meminum air mineral yang ada dihadapannya.

“Aku makan dibawah sama bik Sum ya mas, tadi bik Sum nyambal kemangi soalnya.” izin Ana dengan wajah penuh permohonan.

“Ya udah sana,” jawab Dewa singkat, membuat Ana melongo, tadi ditelfon ngereog , kok sekarang berubah baik, Ana jadi waspada.

“Mas Dewa ada yang diperlukan lagi?” tanya Ana untuk meyakinkan.

“Gak ada, dah sana pergi, aku mau main game lagi,” usir Dewa, membuat Ana yakin, ia berpikir mungkin karena perut majikannya ini sudah kenyang, jadi mode monster nya juga hilang. Ana pun membawa nampan itu keluar kamar, namun baru berbalik dari menutup pintu.

“Aaa.. hantu,” teriak Ana, jantung nya hampir copot karena ada mahluk jadi-jadian yang berdiri didepannya.

“Sembarangan ye ya ngatain gue hantu,” ucap Angga dengan wajah tidak terima.

“Lha ngapain situ muncul tiba-tiba bikin kaget aja, untung jantung ku gak copot, kalau copot emang situ bisa ganti,” omel Ana, malah lebih galak.

“Ubur-ubur ikan lele, gak perduli ye..” jawab Angga mendayu dan menabrak bahu Ana sedikit, dan masuk kedalam kamar Dewa. Membuat Ana kesal sekali.

“Astaga, kayaknya, harus menyetok sabar menghadapi tu si mangga, alah bodo amat, makan dulu, sudah kelaparan ini,” ucap Ana bergegas turun menuju dapur, sedangkan Dewa berdecak kesal melihat Angga yang masuk kedalam kamarnya.

“Mau apa sih loe kesini, ganggu tahu, sana dah pergi.” usir Dewa tanpa perasaan.

“Ye, itu mulutnya gak pernah berubah, ngapain ubur-ubur keluar dari kamar loe?” tanya Angga langsung.

“Punya mata kan?, kenapa gak dipake, masih juga gitu gue harus jawab, buang waktu.” ucap Dewa yang masih fokus ke layar HP nya.  Angga berdecak kesal mendapat jawaban dari Dewa. Mereka memang tidak pernah akur, selalu saja saling olok, namun tidak sampe yang berkelahi.

“Ya kenapa loe makan dikamar, gak dibawah, kan gue jadi makan sendiri, ngomong-ngomong, tuh ubur-ubur cakep juga, walau galak, masih sekolah kah?” tanya Angga penasaran ingin tahu reaksi Dewa, apakah saudara nya yang satu ini masih sama seperti dulu atau sudah berubah tabiatnya tentang bully membully.

“Tanya aja sendiri, kenapa jadi tanya gue, emang gue emaknya,” jawab Dewa menekan ucapannya agar terlihat tidak perduli, padahal ia sudah dongkol setengah mati, ingin menabok mulut Angga yang memuji Ana. Pokoknya tidak ada yang boleh memuji atau membully nya selain dia, karena Ana adalah miliknya. Nah lho kan, jadi posesif.

1
Ria Ningsih
up nya 2 x sehari kak klau bsa
Sabia X: Waduuh, keriting nanti otak sama jariku kak Ria, 🤣 diusahakan.
total 1 replies
Heni Mulyani
lanjut
Heni Mulyani
lanjut.tetap semangat up nya
Heni Mulyani: tetap semangat
total 2 replies
Ria Ningsih
ceritanya seru
Sabia X: terimakasih..👍
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!