Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Rahasia di Balik Cahaya Safir
Suasana di dalam mobil Rolls-Royce yang membawa mereka pulang terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk aula lelang yang baru saja mereka tinggalkan. Di leher Valerie, kalung Blue Tear terasa berat dan dingin, namun memberikan kehangatan yang aneh di hatinya. Jerome duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di sandaran kursi dengan mata terpejam, mencoba mengatur napasnya yang tidak stabil.
"Jerome, kau tampak sangat pucat," bisik Valerie sembari mengusap pelipis suaminya yang berkeringat dingin. "Apakah sesakit itu? Maafkan aku... tadi aku benar-benar meledak saat melihat Aiden."
Jerome membuka matanya perlahan. Tatapannya yang biasanya tajam kini tampak sayu, namun terpancar kasih sayang yang mendalam. Ia meraih tangan Valerie, menciumi telapak tangannya dalam waktu yang lama.
"Rasa sakit ini adalah pengingat bahwa kau nyata, Valerie," suara Jerome terdengar serak di tengah kesunyian mobil. "Jangan minta maaf. Aku lebih suka merasakan perih ini daripada tidak merasakan apa-apa dan kehilanganmu lagi seperti dalam mimpi burukku."
Jerome kemudian menegakkan posisi duduknya. Ia mengambil sebuah map cokelat tua yang tersegel rapi dari samping kursinya—dokumen yang didapatkan Raka dari brankas rahasia penyelenggara lelang. Map itu ternyata menyimpan dokumen asli kepemilikan kalung tersebut sejak pertama kali dibeli oleh mendiang ibu Valerie, Sofia Vaughn.
"Valerie, ada alasan kenapa kalung ini sangat diincar oleh banyak orang, bukan hanya karena harganya," ucap Jerome sembari membuka segel itu dengan hati-hati.
Jerome menyerahkan selembar kertas yang sudah menguning kepada Valerie. Di sana tertera surat wasiat tambahan yang ditulis oleh Sofia Vaughn hanya beberapa hari sebelum kecelakaan maut itu merenggut nyawanya.
"Baca bagian bawahnya, Val," perintah Jerome lembut.
Valerie mulai membaca baris demi baris, dan perlahan, Jerome melihat mata istrinya melebar. Napas Valerie mulai memburu, tanda kecemasan mulai menyerang.
“...dan kepada putriku, Valerie, kalung Blue Tear ini bukan sekadar perhiasan. Di balik pengaitnya terdapat micro-chip yang berisi bukti pengalihan saham ilegal yang dilakukan oleh suamiku, Edward Vaughn. Aku tahu dia merencanakan sesuatu yang besar bersamamu, Aiden Renfred. Jika surat ini sampai ke tangan Valerie, ketahuilah bahwa Edward bukanlah orang yang seharusnya kau panggil Ayah...”
"Apa?!" Valerie berteriak kecil, kertas di tangannya bergetar hebat. "Edward... bukan ayah kandungku? Bagaimana mungkin? Lalu siapa?!"
Jerome segera menarik Valerie ke dalam pelukannya, mencoba meredam getaran hebat di tubuh wanita itu. Melalui ikatan mistis mereka, Jerome merasakan badai emosi yang berkecamuk di dalam diri Valerie—perpaduan rasa bingung, dikhianati, dan takut yang luar biasa. Perut Jerome melilit hebat, seolah-olah jiwanya sedang diaduk-aduk oleh ketakutan istrinya sendiri.
"Tenang, Sayang... Bernapaslah denganku," bisik Jerome di telinga Valerie. "Ugh..." Jerome mengerang saat rasa mual yang kuat menghantamnya akibat sinkronisasi rasa sakit. Ia mencoba menahannya agar tidak membuat Valerie semakin panik.
"Jerome, kau kesakitan! Berhenti memikirkan rasanya, fokuslah pada dirimu sendiri!" tangis Valerie pecah melihat penderitaan Jerome.
"Aku tidak bisa, Val. Selama kau hancur, aku juga akan hancur," Jerome memaksakan sebuah senyum tipis, meski penglihatannya sedikit kabur. "Raka sudah menelusuri identitas aslimu. Ibumu dulu memiliki kekasih sebelum dipaksa menikah dengan Edward karena hutang keluarga. Pria itu adalah... musuh bebuyutan keluarga Renfred di masa lalu, Arthur Blackwood."
Dunia Valerie serasa runtuh seketika. Blackwood? Keluarga yang kabarnya diasingkan dan dihancurkan oleh kakek Jerome puluhan tahun lalu karena persaingan bisnis yang berdarah?
"Jadi... aku adalah anak dari musuh keluargamu?" suara Valerie bergetar hebat. "Jerome, ini gila. Jika kakekmu tahu, dia akan membenciku lebih dari apa pun. Hubungan kita... pernikahan ini..."
Valerie mencoba melepaskan diri dari pelukan itu, merasa bahwa keberadaannya hanyalah ancaman bagi posisi Jerome. Namun, Jerome justru mempererat dekapannya, mengunci tubuh Valerie dengan kekuatannya yang protektif.
"Dengarkan aku, Valerie Vaughn... atau Valerie Blackwood, aku tidak peduli siapa namamu," Jerome menangkup wajah Valerie, memaksa mata wanita itu menatap matanya yang berkilat obsesif. "Aku tidak peduli pada permusuhan masa lalu. Aku tidak peduli pada silsilah darah. Sepuluh tahun aku memujamu dalam gelap bukan karena namamu, tapi karena jiwamu."
"Tapi keluargamu—"
"Keluargaku sudah menghancurkanmu di kehidupan lalu melalui Aiden! Aku tidak akan membiarkan mereka melakukannya lagi!" Jerome membentak pelan, emosinya meluap. "Jika seluruh dunia, termasuk keluarga Renfred, menentangmu... maka aku akan menghancurkan dunia itu untukmu."
Jerome menarik kalung itu dari leher Valerie. Ia menekan sebuah tombol tersembunyi di balik pengait safir tersebut. Benar saja, sebuah benda kecil berwarna emas terjatuh ke telapak tangannya.
"Ini adalah bukti bahwa Edward Vaughn membunuh ibumu untuk menutupi perselingkuhannya dengan ibu Serena," Jerome menatap benda itu dengan tatapan dingin yang mematikan. "Dan ini adalah tiket kita untuk membuat Edward, Aiden, dan Serena membusuk di penjara selamanya."
Valerie terpaku menatap benda kecil itu. Air matanya jatuh, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Di sampingnya, Jerome kembali mengerang pelan dan menyandarkan kepalanya di bahu Valerie.
"Kau sangat lega sekarang, ya?" gumam Jerome dengan senyum tipis yang tulus. "Rasa mualku hilang... berganti dengan rasa hangat yang nyaman. Terima kasih sudah tenang, Val."
Valerie memeluk suaminya erat, menciumi puncak kepala Jerome dengan penuh kasih. "Kita akan menghadapi mereka besok, Jerome. Bersama."
Jerome memejamkan mata, menikmati detak jantung mereka yang kini mulai sinkron dalam ketenangan. "Besok, kita tidak hanya mengambil kembali hakmu. Besok, kita akan menghapus nama Vaughn dan Renfred dari penderitaanmu, dan menuliskan takdir yang baru."
...****************...