NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Sanatorium di Ujung Harapan

BAB 17: Sanatorium di Ujung Harapan

Malam itu, aspal jalanan menuju pantai utara Jawa seolah membara di bawah ban mobil Rangga. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan yang melampaui batas kewarasan.

Pikirannya kosong, hanya ada satu nama yang bergema seperti mantra di kepalanya: Arini. Nama yang baru saja ia kutuk selama sebulan terakhir, kini menjadi satu-satunya alasan jantungnya masih mau berdetak.

"Bodoh! Kamu benar-benar pria paling bodoh di dunia, Rangga!" teriaknya pada diri sendiri, memukul stir mobil hingga tangannya perih.

Rasa pusing yang hebat menghantam pelipisnya, tapi ia tidak peduli. Ia terus teringat bagaimana kasarnya ia melempar uang gaji pertamanya ke wajah Arini sebulan lalu. Ia teringat betapa dingin tatapannya saat melihat Arini berpura-pura mencintai pria lain.

Bagaimana bisa ia tidak sadar? Bagaimana bisa ia tidak melihat binar kepedihan di balik mata Arini yang saat itu mencoba mengusirnya?

Setelah menempuh perjalanan lima jam yang terasa seperti selamanya, Rangga sampai di sebuah gerbang besi tinggi yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Papan namanya kecil dan kusam: Sanatorium Adiguna.

Tanpa menunggu satpam membukakan gerbang, Rangga turun dan menggedor besi itu dengan kalap. "Buka! Buka gerbangnya! Aku Rangga Adiguna!"

Satpam yang terjaga kaget melihat putra pemilik yayasan itu datang dengan kondisi berantakan—jas kusut, mata merah, dan wajah penuh peluh. Gerbang pun terbuka. Rangga tidak kembali ke mobilnya; ia berlari menembus jalan setapak menuju bangunan putih di pinggir tebing yang menghadap laut.

Suara ombak yang menghantam karang terdengar seperti suara tangisan alam. Bau antiseptik bercampur dengan amis laut menyambut indra penciumannya saat ia mendobrak pintu lobi.

"Di mana pasien bernama Arini?" tanya Rangga pada perawat jaga dengan suara parau.

"Tuan Rangga? Tapi Ibu Sarah berpesan tidak ada yang boleh—"

"Aku tidak peduli apa pesan ibuku! Di mana dia?!" bentak Rangga hingga seluruh ruangan itu gemetar.

Perawat itu gemetar, menunjuk ke arah koridor paling ujung yang menghadap ke laut. "Kamar... Kamar Melati, Pak. Paling ujung."

Rangga berjalan menyusuri koridor itu. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah lantai di bawah kakinya berubah menjadi lumpur hisap. Harapannya setipis benang, namun ketakutannya sebesar gunung.

Ia sampai di depan pintu kayu berwarna putih. Ia ragu sejenak. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu. Ia takut dengan apa yang akan ia temukan di balik sana. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menghadapi kenyataan yang ia ciptakan sendiri.

Cklek.

Pintu terbuka. Ruangan itu sangat sunyi, hanya ada suara mesin oksigen yang berdesis pelan dan bunyi ombak dari kejauhan. Di atas ranjang yang menghadap jendela besar, sosok itu terbaring.

Rangga berhenti bernapas.

Sosok itu tidak lagi terlihat seperti Arini yang ia kenal. Tubuhnya sangat tipis di balik selimut putih, seolah-olah ia hanya terdiri dari tulang dan kulit yang transparan. Kepalanya tertutup kain kasa, dan wajahnya sangat pucat, hampir menyatu dengan warna bantalnya.

Namun, yang membuat pertahanan Rangga runtuh sepenuhnya adalah apa yang didekap oleh wanita itu.

Arini sedang tidur, namun tangannya memeluk erat tumpukan uang kertas yang sudah kusam dan kotor. Uang gaji pertama Rangga dari gudang logistik. Uang yang dulu dilemparkan Rangga dengan penuh kebencian, kini menjadi harta paling berharga yang dipeluk Arini di ambang mautnya.

"Rin..." bisik Rangga, suaranya pecah menjadi isakan yang tak terbendung.

Ia berjalan mendekat, jatuh berlutut di samping ranjang. Ia meraih tangan Arini yang bebas—tangan yang terasa sangat dingin, sedingin es. Rangga menangis sejadi-jadinya di atas tangan itu.

"Maafkan aku... Sayang, maafkan aku. Aku pria paling jahat di dunia. Kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu membiarkanku membencimu?" Rangga meraung dalam diam, takut suaranya akan mengejutkan Arini yang sedang berjuang di batas kesadarannya.

Seolah mendengar suara yang paling ia rindukan, kelopak mata Arini bergerak pelan. Dengan usaha yang luar biasa berat, ia membuka matanya. Pandangannya kabur, tertutup kabut dari sisa-sisa kesadaran yang menipis.

"Rang... ga?" suaranya hampir tidak terdengar, hanya berupa desisan udara.

"Iya, ini aku. Ini aku, Sayang. Aku di sini. Aku sudah tahu semuanya. Maafkan aku," Rangga menciumi tangan Arini berkali-kali, membasahinya dengan air mata penyesalan.

Arini tersenyum tipis. Sangat tipis. Sebuah senyuman yang tidak lagi mengandung sandiwara dingin, melainkan senyum yang penuh dengan cinta yang murni. "Kamu... sudah sukses, kan? Kamu... sudah pakai jas lagi..."

"Persetan dengan sukses! Aku tidak mau semua ini kalau tidak ada kamu, Rin! Aku akan membuang semuanya lagi, aku akan bekerja di gudang lagi, aku akan menyapu jalanan lagi, asal kamu tetap bersamaku. Jangan pergi, aku mohon!"

Arini menggerakkan tangannya yang memegang uang kusam itu, memberikannya kepada Rangga. "Uang ini... baunya... bau keringatmu. Aku suka... ini bukti kamu... berjuang untukku."

Rangga mengambil uang itu, hatinya seperti diiris sembilu. "Jangan simpan uang sampah ini, Rin. Aku akan berikan kamu seluruh duniaku. Aku akan membawamu ke dokter paling hebat di dunia. Kita akan ke luar negeri sekarang juga!"

Arini menggeleng sangat pelan. Air mata jatuh dari sudut matanya yang cekung. "Sudah... capek, Ga. Sakitnya... sudah sampai di sini," ia menunjuk dadanya yang bergerak naik turun dengan sangat lemah.

"Nggak! Kamu nggak boleh capek! Kamu harus lawan, Arini! Kamu bilang kamu mencintaiku, kan? Kalau kamu mencintaiku, jangan tinggalkan aku sendirian di dunia yang kejam ini!" Rangga mulai panik. Ia melihat monitor jantung di samping ranjang menunjukkan garis yang semakin tidak stabil.

"Rangga... berjanjilah satu hal," bisik Arini. Napasnya mulai pendek-pendek. "Jangan... benci ibumu. Dia melakukan itu... karena dia sayang kamu. Dan... cari kebahagiaanmu... jangan hidup dalam dendam."

"Kebahagiaanku itu kamu, Arini! Cuma kamu!"

Monitor jantung berbunyi panjang. Beeeeeeeepppp....

"Rin? Arini! Jangan bercanda! Bangun!" Rangga mengguncang bahu Arini dengan lembut, lalu semakin keras. "Dokter! Suster! Tolong!"

Tim medis berhamburan masuk ke dalam ruangan. Rangga ditarik menjauh dari ranjang. Ia melihat dokter mencoba melakukan resusitasi, memompa dada Arini yang ringkih. Rangga berdiri di pojok ruangan, memegang tumpukan uang kusam itu dengan erat, tubuhnya gemetar hebat.

"Ayo, Arini... jangan menyerah... aku mohon..." gumamnya terus menerus seperti orang gila.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, dokter berhenti. Ia menatap Rangga dengan wajah penuh duka, lalu menggelengkan kepala perlahan. Dokter itu menarik selimut putih, menutupi wajah Arini yang kini tampak sangat tenang, bebas dari rasa pusing dan sakit yang selama ini menyiksanya.

Waktu seolah berhenti bagi Rangga. Dunianya yang baru saja ia bangun kembali, kini hancur berkeping-keping menjadi debu. Tidak ada lagi teriakan. Tidak ada lagi amarah. Hanya ada kesunyian yang mematikan di dalam kamar yang menghadap laut itu.

Rangga melangkah maju, membuka selimut yang menutupi wajah Arini untuk terakhir kalinya. Ia mengecup dahi wanita itu dengan lembut.

"Tidur yang nyenyak, Sayang. Tunggu aku di sana. Aku janji... di kehidupan selanjutnya, aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita. Bahkan takdir sekalipun."

Malam itu, di Sanatorium Adiguna, seorang pria kehilangan separuh jiwanya. Dan di tangannya, tersisa tumpukan uang kusam yang menjadi saksi bisu dari sebuah cinta yang terlalu besar untuk dunia yang sempit ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!