NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewi Dosa

Reinkarnasi Dewi Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.

[On Going]

Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.

Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.

Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?

Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?

Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.

2 hari, 1 bab! Jum'at libur!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 — Sudah kubilang, aku akan menang

Miju Xie membuka matanya.

Bukan lagi hutan. Tidak ada pepohonan, tidak ada langit biru. Tanah telah digantikan lantai hitam yang membentang tanpa batas. Sejauh mata memandang, tidak terlihat ujung dari tempat itu.

"Tempatnya berubah?" pikirnya. "Tidak, mungkin... aku yang dipindahkan."

Langit di atas berwarna abu-abu gelap, dipenuhi garis-garis tak beraturan yang bergerak samar. Pemandangan itu membuat bulu kuduknya meremang sesaat.

Meski begitu, ia tidak merasakan kehilangan kekuatan sedikit pun.

"Jika ini adalah domain. Seharusnya memiliki syarat untuk mengaktifkannya. Lalu... efeknya."

Tap. Tap. Tap.

Langkah Malingsheng menggema di ruang kosong itu, suaranya memantul tanpa arah.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan."

Ia menatap Miju Xie. Bukan dengan tatapan meremehkan, bukan pula hormat. Hanya datar dan tenang.

"Tempat ini, adalah domainku." Ia membuka lebar kedua tangannya.

Dagunya terangkat tinggi.

"Meski terlihat seperti ini, sayangnya domain ini tidak memiliki efek apa-apa selain mengurung kita berdua, sampai pertarungan selesai."

Satu tangannya terangkat lurus ke arah Miju Xie.

Seolah-olah lawannya sudah berada dalam genggamannya.

"Namun, sisi baiknya aku tidak membutuhkan syarat apa pun untuk mengaktifkannya."

Miju Xie tetap diam dengan wajah tanpa ekspresi. Ia tidak pernah membayangkan akan menghadapi seseorang yang mampu menggunakan domain.

Walau Malingsheng berkata domain itu tidak memiliki efek tambahan, apakah itu bisa dipercaya sepenuhnya?

Satu-satunya cara keluar hanyalah mengalahkannya. Dan Miju Xie belum yakin bisa melakukannya dengan cepat.

"Meski bisa, akan membutuhkan waktu yang lama. Dewi, Yao Li, Xun'er, dan Yuan Xi... aku mungkin akan sedikit lama di sini."

Satu kakinya mundur sebagai tumpuan.

Kedua tangannya terangkat di depan dada. Petir hitam kembali menyelimuti telapaknya, berderak liar dan ganas.

Malingsheng pun menyelimuti tangannya dengan sihir peningkatan kekuatan. Ia memasang kuda-kuda yang kokoh, siap menyerang kapan saja.

Dimulai.

Malingsheng melesat cepat. Di lantai kosong itu, gerakannya bebas tanpa hambatan.

"Hiaghh!"

Ia melompat tinggi lalu mengayunkan tangannya ke arah Miju Xie.

BUGH!

Miju Xie terpental mundur setelah menahan pukulan itu dengan kedua lengannya.

Namun kewaspadaannya tidak goyah.

Saat Malingsheng kembali bergerak mengitari dirinya, setiap langkah dan setiap hembusan angin yang terbelah oleh gerakan itu tertangkap jelas oleh indra Miju Xie.

"Kena."

WUSHH!

Ia memiringkan tubuhnya ketika pukulan Malingsheng hampir mengenainya lagi.

"Apa."

Malingsheng mendarat dengan satu kaki, lalu berputar dan kembali menerjang.

Tangannya diayunkan bertubi-tubi.

Pukulannya menghantam pertahanan Miju Xie berulang kali.

BUGH! BUGH!

Satu pukulan meleset.

Celah terbuka.

Miju Xie langsung menunduk.

Lalu meluncurkan pukulan vertikal ke atas.

"Black Flash!"

BUGH!

Pukulan itu menghantam dagu Malingsheng dengan telak. Tubuhnya terpental jauh dan berguling beberapa kali di lantai hitam yang keras.

Ia terbatuk keras sebelum perlahan bangkit. Darah muncrat dari mulutnya dan menetes di permukaan lantai yang gelap.

Miju Xie melangkah maju satu langkah. Ia mengangkat satu tangan dan memberi isyarat dengan jarinya, menyuruh lawannya mendekat.

"Ada apa? Sudah tidak kuat?" ucapnya.

Tangan Malingsheng perlahan diselimuti api.

Ia bangkit dan menatap Miju Xie dengan mata yang berkilat tajam.

"Lumayan."

Api itu membesar, menjalar hingga menutup seluruh lengannya. Panasnya terasa menyengat, namun bagi Malingsheng tidak menimbulkan rasa sakit sedikit pun.

Di sisi lain, Miju Xie kembali membungkus kedua tangannya dengan petir hitam. Ia merasakan sesuatu yang berbeda, hanya dari sorot mata lawannya. Ada tekanan yang lebih berat dari sebelumnya.

Malingsheng melangkah maju, hanya satu langkah.

Namun tekanan dari langkah itu membuat Miju Xie spontan melompat mundur beberapa kali, menjaga jarak. Lantai hitam yang kosong memantulkan gema langkah mereka.

"Ada yang aneh. Mana-nya? Tidak, ini seperti..."

Miju Xie memundurkan satu kakinya, menurunkan pusat gravitasinya.

"Ia baru bertarung dengan serius."

WUSH!

Rambut Miju Xie berkibar tertiup angin. Dalam sepersekian detik, Malingsheng sudah berada tepat di depannya, tangan berapi terayun dengan kecepatan mematikan.

Refleks, Miju Xie memiringkan tubuhnya dan menghindari tinju yang dibungkus api itu. Hawa panasnya tetap terasa menyapu pipinya.

Ia membungkuk lalu meloncat mundur, memberi ruang untuk membalas.

"Black Flash."

Dengan satu ayunan kaki yang tajam, ia mengirim tendangan balasan ke arah Malingsheng.

BUGH!

Tidak berpengaruh.

Malingsheng bahkan tidak bergeming. Ia kembali bergerak, melangkah zig-zag dengan kecepatan tinggi dan melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah Miju Xie.

Semua serangan itu berhasil dihindari. Tubuh Miju Xie meliuk lincah, bergerak di sela-sela pukulan yang datang tanpa henti.

"Ada apa dengannya," pikir Miju Xie.

Ia memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan dari samping.

Serangan itu ditahan oleh Malingsheng dengan satu tangan, api di lengannya berdesis keras.

"Sihir Penciptaan Api. Flame Fist!"

Tinju Malingsheng melesat dari kanan, mengarah lurus ke wajah Miju Xie.

Terlalu dekat untuk dihindari.

Miju Xie mengangkat tangan kirinya yang dibalut petir hitam dan menahan serangan itu. Benturan keras mengguncang lengannya. Ia terdorong mundur beberapa langkah sebelum kembali menstabilkan diri.

"Black Flash."

Tubuhnya seketika melesat dan menghilang dari pandangan. Dalam sekejap ia muncul di belakang Malingsheng.

"Hiaghh!"

Ia melayangkan pukulan penuh tenaga.

Namun sebelum pukulan itu mengenai sasaran, gelombang aura yang dilepaskan Malingsheng menghantamnya lebih dulu.

Miju Xie terpental ke belakang.

Ia memuntahkan seteguk darah segar yang membasahi lantai hitam. Kakinya bergeser panjang sebelum akhirnya ia berhasil berdiri tegak kembali.

"Kalau begini, tidak akan ada habisnya."

Ia tahu, ia tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi.

Miju Xie menyeka darah di sudut bibirnya, sorot matanya berubah lebih tajam.

Malingsheng melayang di udara. Angin berputar di sekelilingnya, menggigit dingin lalu setitik api muncul di tengah pusaran itu. Api itu membesar, menyatu dengan angin, menjelma pusaran api yang menderu dan bergetar hebat.

"Mari selesaikan ini," ucapnya.

Miju Xie memundurkan satu kaki. Petir hitam membalut seluruh tubuhnya, berdenyut liar, siap dilepaskan kapan saja.

Ia melesat.

Cepat. Tepat.

Langsung melompat ke arah Malingsheng.

Keduanya bertempur di udara. Tabrakan demi tabrakan mengguncang ruang kosong itu. Kilat hitam dan api bercampur angin saling melahap, saling menekan. Seperti dua bintang yang bertabrakan, pecah, lalu menghantam kembali tanpa ampun.

BUGH!

Pukulan mereka terus beradu tanpa jeda. Gelombang kejut menyebar ke segala arah, mengguncang udara di sekitarnya.

Miju Xie mundur sesaat dan mendarat di lantai hitam.

Energi petir meluap dari tubuhnya.

Lebih kuat. Lebih liar dari sebelumnya.

"Hagh!"

Ia menyatukan kedua tangannya dan membentuk pola jari yang rumit.

"Sihir Penciptaan Petir."

Tubuhnya kembali melesat. Gerakannya kini tak tertebak, berpindah dari satu titik ke titik lain dalam kilatan cahaya hitam.

Ia mengelilingi Malingsheng, menyerang dari berbagai arah, muncul dan menghilang dalam sepersekian detik.

Malingsheng menyadari niat itu. Ia hanya tersenyum tipis.

"Baik." Ia menyatukan kedua tangannya dan membentuk lingkaran sihir berwarna biru di belakangnya. "Akan kuladeni kau."

Lingkaran sihir itu berputar dan mencapai bentuk sempurna.

"Sihir Peningkatan Kekuatan."

Dari belakangnya, kilatan hitam muncul.

Miju Xie datang dengan kekuatan dahsyat yang menyelimuti tubuhnya. Tanpa terkekang, ia mengayunkan tangannya dengan seluruh tenaga yang tersisa.

Malingsheng berbalik. Lingkaran sihir di belakangnya menghilang, digantikan simbol yang muncul pada tangan kanannya. Pola berwarna hitam terbentuk, berdenyut selaras dengan napasnya.

Keduanya akan bertabrakan.

Lagi.

"Black Flash!"

"Blue!"

BOOM!

Ledakan besar mengguncang domain. Asap tebal menutupi pandangan. Dentumannya menggema di seluruh kekosongan, memekakkan siapa pun yang berada di dalamnya.

Perbenturan dua kekuatan yang tak bisa diremehkan.

Asap perlahan memudar. Dua sosok berdiri saling berhadapan. Jarak memisahkan mereka, cukup jauh namun masih dalam garis lurus yang sama.

Bibir Miju Xie melengkung tipis.

Kemenangan.

Itu yang ia pikirkan.

Lalu dunia bergoyang.

Pandangannya kabur. Bukan seperti kabut yang bisa disibakkan, melainkan seperti cahaya yang perlahan diredupkan dari dalam dirinya sendiri. Ia mengerjap sekali, lalu dua kali. Kelopak matanya terasa berat, seolah ada beban yang menariknya turun.

Kenapa?

Ia menunduk.

Dan dunianya berhenti.

Perutnya kosong.

Bukan sekadar luka. Bukan hanya robek. Kosong.

Sebuah lubang menganga di tempat dinding perutnya seharusnya berada. Tepinya hangus dan menghitam seperti kertas terbakar. Di dalamnya, bayangan tulang belakang tampak pucat. Organ-organ yang masih berdenyut lemah terlihat jelas, terbungkus lapisan tipis yang hampir tak mampu menahan tekanan.

Darah tidak sekadar mengalir. Darah mengucur deras dan hangat, membasahi celana, sepatu, dan lantai di bawah kakinya.

Tubuhnya kehilangan kekuatan.

Ia jatuh dan terbaring di lantai.

Tatapannya kosong. Tidak ada penyesalan di sana. Tidak ada kekecewaan atas kekalahannya.

"Aku tidak bisa kembali. Kuserahkan sisanya pada kalian."

Itu pikiran terakhirnya sebelum kesadaran benar-benar padam.

Domain mulai runtuh.

Kekosongan hitam digantikan pepohonan. Lantai kembali menjadi tanah. Langit abu-abu berubah menjadi langit yang normal.

Malingsheng mendekat perlahan. Napasnya memburu. Meski menang, ia juga menerima serangan balik yang tidak ringan. Darah mengalir dari tangan kanannya, menjadi bukti kerasnya pertarungan barusan.

"Sudah kubilang, aku akan menang."

Ia berbalik dan melangkah menjauh dengan susah payah.

Seluruh tubuhnya terasa nyeri karena terus-menerus menahan petir hitam. Setelah pertarungan usai, rasa sakit itu merambat lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Ia menoleh sesaat.

"Kau lawan yang hebat. Aku tidak akan melupakanmu, orang yang bisa melawanku hanya dengan satu sihir."​

1
Kabuki
turut lega thor. akhirnya Xinyi berhasil ngalahin petaka petir ketiga 😭
Kabuki
aww co cwitt
Kabuki
ini klo di anime, lagu opening udh di stel nih🤭
Anindita Annazwa: bwahahaha😭 iya lagi
total 1 replies
Kabuki
ahh souka? agak kejam juga tetua Yuan xi. menyuruh orang luar yang tak tahu apa², untuk membebaskan kaum darah berdosa dari kutukan dengan ritual petaka petir/Frown/
Anindita Annazwa: karena dia di anggap sebagai 'orang itu' yg entah siapa🗿
total 1 replies
Kabuki
kecewa? buat apa penduduk asli kecewa terhadap orang luar? bukannya mereka cuma penasaran aja sama xinyi?😌
Anindita Annazwa: udh nyentuh petir ke 3 soalnya, satu2nya yg berhasil kesitu
total 1 replies
Kabuki
biasa gundule. dia imo jir
Kabuki
slurrppp ak jga mw😋
ユリ
sadis
ユリ
mengejutkan😱
ユリ
entah kenapa dia terlalu percaya diri
ユリ
terlalu op😱
元元
Masterpiece, dah gtu aj
元元
KOK BISA GINIII!
元元
bjirr, apa-apaan iniii
Panda
aku penasaran sama nama malingsheng ini deh kak

apa ada sejarah dengan nama itu?
Jing_Jing22
dia tangguh dan kuat kita lihat saja apa yang akan terjadi dengan xinyi, sementara takdir dia tidak bisa mati
Jing_Jing22
xinyi masih bisa bertahan saja itu sudah keajaiban untukmu
CACASTAR
petaka petir apa itu
CACASTAR: iya dah, apa kata Thor deh, saya nyimak baca cerita aja
total 3 replies
putri bungsu
seperti nya dia terlalu bersemangat untuk menguji kekuatan nya sendiri
Kabuki
ganbatte Xinyi! teruslah bertahan. karena tinggal satu Sambaran petir lagi/Determined//Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!