Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 First Love
Pagi itu, gerbang Stella Musica Academy dipenuhi suara langkah kaki dan napas tergesa.
Siswa-siswi berlarian masuk, tas terayun di punggung, napas terengah. Tak ada yang mau Jadi yang terakhir melewati gerbang—karena semua tahu, kalau terlambat maka mereka akan di hukum.
Di tengah keramaian, seorang siswi berdiri tegap. Ban Kuning melingkar di lengan kirinya, dengan tulisan Ketua OSIS tercetak jelas.
“Ayo, cepat masuk! Lima menit lagi gerbang aku tutup!”
Suaranya lantang, memotong hiruk-pikuk pagi.
“Yang telat, siap-siap aja aku hukum.”
Ia menghentikan seorang murid tepat di depan gerbang.
“Eh Stop!!, kamu berhenti!!. Jangan masuk dulu. Mana dasimu?”
Seorang siswa menunduk gugup. “A a… aku lupa bawa, Ketua.”
“Enggak bisa!,” jawabnya tegas tanpa ragu.
“Masuk sekolah wajib pakai dasi. Kalau nggak lengkap, pulang aja!.”
Siswi itu bernama Siva. Rambutnya panjang bergelombang, kulit sawo matang, dan meski sikapnya keras, senyumnya dikenal manis.
Ia bukan cuma Ketua OSIS. Di sekolah ini, nama Siva juga selalu ada di urutan teratas Three Golden Voice—posisi yang bikin banyak siswa segan, kagum, sekaligus iri.
“Dahlah, Siv,” sebuah suara lembut menyela dari samping.
“Kasih keringanan dikit. Dia ke sekolah buat belajar, masa langsung kamu suruh pulang?”
Siva menoleh.
Seorang gadis berkerudung berdiri di sana, wajahnya tenang, sorot matanya hangat.
Rahmalia Khairunnissa—yang lebih sering dipanggil Icha oleh teman-teman terdekatnya—menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS, sekaligus berada di peringkat tiga Three Golden Voice.
Berbeda dari Siva yang tegas, Rahmalia selalu datang dengan nada yang lebih lembut.
“Enggak bisa, Ca. Pokoknya tata tertib tetap harus dijalanin,” kata Siva bersedekap.
“Hemm… iya, iya,” Rahmalia menghela napas kecil.
“Tapi aku lebih setuju kalau dihukum aja. Nggak usah sampai diusir segala.”
“Emm, iya ya. sahabat ku,” balas Siva sambil mencubit pipi Rahmalia dengan manja.
Rahmalia hanya tersenyum, pasrah dengan perlakuan sahabatnya itu.
“Ketua, udah mau pukul tujuh. Gerbang harus segera ditutup,” ujar salah satu anggota OSIS mendekat.
“Iya, tutup. Tutup,” jawab Siva singkat.
Baru saja gerbang hendak digeser, dari kejauhan terdengar suara teriakan disertai langkah kaki tergesa.
“WOI! TUNGGU! JANGAN DITUTUP! GUE BELUM MASUK!”
Siva menyipitkan mata, menatap ke arah suara itu.
Dari kejauhan, seorang siswa berlari dengan tas menggantung asal di bahu.
Dio.
Teman sekelasnya. Anak yang terkenal nakal, berisik, dan menyebalkan.
Melihat senyum jahil di wajah Dio, Siva justru tersenyum kecil—senyum yang tidak berarti baik.
“WOI, CEPET!” teriak Siva.
“TUTUP GERBANGNYA!”
“WOI JANGAN DITUTUP, NJIR!” balas Dio sambil mempercepat larinya.
“Ketua… kayaknya masih ada satu murid yang belum masuk,” kata anggota OSIS ragu.
“Hah? Mana?” Siva berpura-pura menoleh ke kanan dan kiri. “Nggak lihat tuh.”
Ia melirik jam tangannya sekilas.
“Udah jam tujuh,” katanya dingin.
“Tutup aja.”
Dio akhirnya sampai di depan gerbang yang sudah tertutup. Kedua lengannya mencengkeram pagar besi, kepalanya setengah masuk ke sela-sela gerbang.
Ia menunduk, terengah-engah, mengatur napas. Beberapa detik kemudian, kepalanya terangkat, menatap lurus ke arah Siva.
“SIVA ROSDIANA!!!” teriaknya dengan mata melotot.
Siva sedikit terkejut dengan tatapan itu.
“A—apa?”
“Udah gue bilang jangan ditutup. Gue belum masuk!”
“Salah sendiri telat,” jawab Siva santai sambil menoleh ke jam di atas gerbang.
“Udah jam tujuh.”
“ANJIRR,” Dio menunjuk jam tangannya.
“Liat nih! Masih enam lima puluh sembilan!”
“Tunggu bentar,” kata Siva sambil pura-pura memperhatikan jam.
Dio terdiam, menatapnya penuh curiga.
“NAH!” seru Siva.
“Udah jam tujuh nol nol. Fix telat.”
Dengan kaget, Dio menunjuk Siva dari balik gerbang.
“WOI! Kok gitu sih? Mana ada aturan kayak gitu!,curang itu namanya.”
Siva malah menjulurkan lidah.
“SIALLAN KAMU, CEWE TOA!”
Senyum Siva langsung menghilang.
“Apa kamu bilang tadi?”
Belum sempat Dio mundur, Siva sudah menjulurkan tangan ke sela gerbang dan menjambak rambutnya, memaksa kepala Dio masuk ke dalam pagar.
“ANJIR! JANGAN JAMBAK RAMBUT GUE! SAKIT!”
“Biar tahu rasa,” balas Siva dingin.
“Sudah, sudah, Siv. Kasian Dio,” ujar Rahmalia lembut.
Dio yang rambutnya masih dijambak langsung terdiam.
Tatapannya tertuju pada Rahmalia.
Mata gadis itu bening, pipinya bulat, senyumnya hangat. Kulitnya tampak semakin terang oleh cahaya matahari pagi di belakangnya, membuat suasana hati Dio lebih damai, seolah sapuan angin di lapangan yang gersang, membuatnya lebih tenang.
Bahkan ia lupa, bahwa saat itu, ia sedang berhadapan dengan batu bara yang bisa membakar habis rambut nya saat itu juga.
“Gapapa,” kata Dio tiba-tiba sambil tersenyum.
“Aku rela botak, kok.”
“Eh, mata!”
Siva langsung mencolok mata Dio dengan jari.
“ANJIR! SAKIT, BRENGSEK!”
“Udah, udah,” Rahmalia menahan Siva.
“Cepet buka gerbangnya. Tapi karena telat, kamu tetap harus dihukum.”
“Aku nggak telat, Ca,” kata Dio memelas.
“Tadi kamu lihat sendiri, aku datang enam lima puluh sembilan.”
“Itu tetep masuknya telat, Dio,” jawab Rahmalia halus.
“Harusnya kamu datang lebih awal.”
Nada suaranya lembut, tapi tidak memberi ruang untuk membantah.
“Hehe,” kata Siva sambil tersenyum bangga.
“Sesuai tata tertib sekolah Pasal 356 ayat 2, bahwa siswa yang datang melewati jam masuk sekolah pukul tujuh akan dihukum memungut sampah sampai satu trash bag ini penuh.”
Siva mengucapkannya dengan wajah serius—terlalu serius untuk sesuatu yang jelas-jelas ia karang sendiri. Nada suaranya tegas seperti guru BK, lengkap dengan ekspresi tanpa celah seolah aturan itu benar-benar tertulis di buku tata tertib sekolah.
Padahal kenyataannya?
Pasal sebanyak itu bahkan tidak pernah ada.
Rahmalia yang berdiri di sampingnya langsung menahan senyum, pura-pura menunduk sambil merapikan map OSIS agar wajahnya tidak terlihat. Ia tahu persis Siva sedang mengerjai seseorang.
Dan targetnya sudah jelas.
Dio.
“ANJIR,” keluh Dio.
“Banyak amat aturan sekolah sampai tiga ratus lima puluh enam pasal. Lagian itu kantong gede banget. Abis berapa jam gue ngisinya? Lu tau kan sekolah ini bersih banget, hampir nggak ada sampah.”
Wajah Siva mendekat ke arah Dio, matanya melotot.
“Gue nggak mau tau.”
“Hah…?” Dio menelan ludah.
“Udah, udah,” Rahmalia menyela cepat.
“Kalian nggak capek apa berantem terus? Kalau kelamaan, nanti kantongnya gak akan penuh takutnya jam pelajaran pertama keburu mulai.”
“Gapapa, Ca,” jawab Dio mantap.
“Akan ku usahakan kantong ini penuh. Demi kebersihan sekolah kita.”
“Iya iya,” Rahmalia tersenyum tipis.
“Awas aja kalau kamu kabur dari hukuman. Dan ingat, harus selesai sebelum pelajaran pertama dimulai.”
“Siap, Icha,” jawab Dio dengan nada lembut, hampir seperti merayu.
“Akan ku kerjakan dengan sebaik-baiknya.”
“Nih,” kata Siva sambil menyodorkan kantong sampah dengan kasar.
“Cepet ambil. Gue mau cek siswa pelanggar yang lain.”
“Cih,” gumam Dio pelan.
“Ya udah, aku tinggal dulu ya,” ujar Rahmalia.
“Oh iya, baik,” jawab Dio cepat. “Sampai ketemu nanti di kelas.”
...----------------...
Beberapa jam pun berlalu. Dio akhirnya berhasil mengisi penuh kantong sampah yang diberikan Siva. Ia duduk di pinggir lapangan, mengusap keringat di dahinya sambil mengatur napas.
“WAAAHHH, MANTAP!” serunya sendiri.
“Akhirnya penuh juga. Gila, nyari sampah di sini susah banget. Sampai gue nungguin orang-orang makan dulu biar bisa ngambil sampahnya.”
Matanya melotot menatap kantong besar di sampingnya, setengah tidak percaya.
Tiba-tiba, seseorang menghampirinya.
Dio mendongak.
Rahmalia berdiri di depannya, dengan sebotol minuman isotonik dingin di tangan. Ia menyodorkannya pelan ke arah Dio.
“Nih,” ucapnya lembut.
“Pasti kamu capek.”
Dio terdiam sesaat. Lagi-lagi sosok itu. Wanita yang sama.
“Ini… buat ku?” tanyanya ragu.
“Iya. Ambil.”
“Makasih, Ca,” Dio tersenyum lebar.
“Sumpah, kamu baik banget. Kok bisa tahu aku sering beli minuman isotonik merek ini?”
Rahmalia mengerutkan dahi sebentar.
“Perasaan sekolah kita jualnya memang merek ini doang.”
“Oh…” Dio terkekeh kecil.
“Iya juga ya. Hehe.”
Rahmalia ikut duduk di samping Dio. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Dio merasa canggung. Ia menunduk sebentar, mencoba mencari kata yang tepat.
“Emm, Ca… sebenarnya…” ucapnya pelan, lalu terhenti.
Belum sempat ia melanjutkan, Rahmalia lebih dulu berbicara.
“Nanti kalau kita naik kelas, kamu mau pilih jurusan apa?”
“Eh?” Dio menoleh kaget.
“Aku sih milih vokal."
"Aku suka nyanyi.”
“Oh,” Rahmalia tersenyum kecil.
“Vokal ya. Kalau gitu sama. Aku juga tertarik sama vokal.”
Dada Dio terasa menghangat.
“Berarti mungkin nanti kita bisa sekelas lagi.”
“Semoga,” jawab Rahmalia ringan.
“Lagipula aku udah tahu kamu pasti milih vokal,” kata Dio cepat.
“Dari mana kamu tahu?” tanya Rahmalia.
“Abis suara kamu bagus,” jawab Dio jujur.
“Punya ciri khas. Jadi walau aku buta, aku pasti tahu itu kamu yang nyanyi.”
Rahmalia tertawa kecil.
“Haha, mana ada. Kamu berlebihan.”
Tapi senyumnya bertahan lebih lama dari biasanya.
Bel sekolah pun berbunyi, menandakan pelajaran pertama dimulai.
“Eh, bel udah bunyi. Ayo masuk kelas,” ujar Rahmalia sambil berdiri tergesa.
“Jangan lupa setorin kantong sampahnya ke bank sampah.”
“Siap laksanakan!” jawab Dio sambil tersenyum.
“Ya udah, aku duluan ya.”
“Oke. Hati-hati.”
Dio berdiri di tempatnya, menatap punggung Rahmalia yang menjauh hingga menghilang di balik koridor kelas.
Ada sesuatu di dadanya yang bergerak pelan—
dan ia Tidak yakin ingin memahaminya.
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔