NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Ketua OSIS, Satu Menit, dan Anak yang Telat

Pagi itu, gerbang Stella Musica Academy dipenuhi suara langkah kaki dan napas tergesa.

Siswa-siswi berlarian masuk, tas terayun di punggung, napas terengah. Tak ada yang mau Jadi yang terakhir melewati gerbang—karena semua tahu, kalau terlambat maka mereka akan di hukum.

Di tengah keramaian, seorang siswi berdiri tegap. Ban Kuning melingkar di lengan kirinya, dengan tulisan Ketua OSIS tercetak jelas.

“Ayo, cepat masuk! Lima menit lagi gerbang aku tutup!”

Suaranya lantang, memotong hiruk-pikuk pagi.

“Yang telat, siap-siap aja aku hukum.”

Ia menghentikan seorang murid tepat di depan gerbang.

“Eh Stop!!, kamu berhenti!!. Jangan masuk dulu. Mana dasimu?”

Seorang siswa menunduk gugup. “A a… aku lupa bawa, Ketua.”

“Enggak bisa!,” jawabnya tegas tanpa ragu.

“Masuk sekolah wajib pakai dasi. Kalau nggak lengkap, pulang aja!.”

Siswi itu bernama Siva. Rambutnya panjang bergelombang, kulit sawo matang, dan meski sikapnya keras, senyumnya dikenal manis.

Ia bukan cuma Ketua OSIS. Di sekolah ini, nama Siva juga selalu ada di urutan teratas Three Golden Voice—posisi yang bikin banyak siswa segan, kagum, sekaligus iri.

“Dahlah, Siv,” sebuah suara lembut menyela dari samping.

“Kasih keringanan dikit. Dia ke sekolah buat belajar, masa langsung kamu suruh pulang?”

Siva menoleh.

Seorang gadis berkerudung berdiri di sana, wajahnya tenang, sorot matanya hangat.

Rahmalia Khairunnissa—yang lebih sering dipanggil Icha oleh teman-teman terdekatnya—menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS, sekaligus berada di peringkat tiga Three Golden Voice.

Berbeda dari Siva yang tegas, Rahmalia selalu datang dengan nada yang lebih lembut.

“Enggak bisa, Ca. Pokoknya tata tertib tetap harus dijalanin,” kata Siva bersedekap.

“Hemm… iya, iya,” Rahmalia menghela napas kecil.

“Tapi aku lebih setuju kalau dihukum aja. Nggak usah sampai diusir segala.”

“Emm, iya ya. sahabat ku,” balas Siva sambil mencubit pipi Rahmalia dengan manja.

Rahmalia hanya tersenyum, pasrah dengan perlakuan sahabatnya itu.

“Ketua, udah mau pukul tujuh. Gerbang harus segera ditutup,” ujar salah satu anggota OSIS mendekat.

“Iya, tutup. Tutup,” jawab Siva singkat.

Baru saja gerbang hendak digeser, dari kejauhan terdengar suara teriakan disertai langkah kaki tergesa.

“WOI! TUNGGU! JANGAN DITUTUP! GUE BELUM MASUK!”

Siva menyipitkan mata, menatap ke arah suara itu.

Dari kejauhan, seorang siswa berlari dengan tas menggantung asal di bahu.

Dio.

Teman sekelasnya. Anak yang terkenal nakal, berisik, dan menyebalkan.

Melihat senyum jahil di wajah Dio, Siva justru tersenyum kecil—senyum yang tidak berarti baik.

“WOI, CEPET!” teriak Siva.

“TUTUP GERBANGNYA!”

“WOI JANGAN DITUTUP, NJIR!” balas Dio sambil mempercepat larinya.

“Ketua… kayaknya masih ada satu murid yang belum masuk,” kata anggota OSIS ragu.

“Hah? Mana?” Siva berpura-pura menoleh ke kanan dan kiri. “Nggak lihat tuh.”

Ia melirik jam tangannya sekilas.

“Udah jam tujuh,” katanya dingin.

“Tutup aja.”

Dio akhirnya sampai di depan gerbang yang sudah tertutup. Kedua lengannya mencengkeram pagar besi, kepalanya setengah masuk ke sela-sela gerbang.

Ia menunduk, terengah-engah, mengatur napas. Beberapa detik kemudian, kepalanya terangkat, menatap lurus ke arah Siva.

“SIVA ROSDIANA!!!” teriaknya dengan mata melotot.

Siva sedikit terkejut dengan tatapan itu.

“A—apa?”

“Udah gue bilang jangan ditutup. Gue belum masuk!”

“Salah sendiri telat,” jawab Siva santai sambil menoleh ke jam di atas gerbang.

“Udah jam tujuh.”

“ANJIRR,” Dio menunjuk jam tangannya.

“Liat nih! Masih enam lima puluh sembilan!”

“Tunggu bentar,” kata Siva sambil pura-pura memperhatikan jam.

Dio terdiam, menatapnya penuh curiga.

“NAH!” seru Siva.

“Udah jam tujuh nol nol. Fix telat.”

Dengan kaget, Dio menunjuk Siva dari balik gerbang.

“WOI! Kok gitu sih? Mana ada aturan kayak gitu!,curang itu namanya.”

Siva malah menjulurkan lidah.

“SIALLAN KAMU, CEWE TOA!”

Senyum Siva langsung menghilang.

“Apa kamu bilang tadi?”

Belum sempat Dio mundur, Siva sudah menjulurkan tangan ke sela gerbang dan menjambak rambutnya, memaksa kepala Dio masuk ke dalam pagar.

“ANJIR! JANGAN JAMBAK RAMBUT GUE! SAKIT!”

“Biar tahu rasa,” balas Siva dingin.

“Sudah, sudah, Siv. Kasian Dio,” ujar Rahmalia lembut.

Dio yang rambutnya masih dijambak langsung terdiam.

Tatapannya tertuju pada Rahmalia.

Mata gadis itu bening, pipinya bulat, senyumnya hangat. Kulitnya tampak semakin terang oleh cahaya matahari pagi di belakangnya, membuat suasana hati Dio lebih damai, seolah sapuan angin di lapangan yang gersang, membuatnya lebih tenang.

Bahkan ia lupa, bahwa saat itu, ia sedang berhadapan dengan batu bara yang bisa membakar habis rambut nya saat itu juga.

“Gapapa,” kata Dio tiba-tiba sambil tersenyum.

“Aku rela botak, kok.”

“Eh, mata!”

Siva langsung mencolok mata Dio dengan jari.

“ANJIR! SAKIT, BRENGSEK!”

“Udah, udah,” Rahmalia menahan Siva.

“Cepet buka gerbangnya. Tapi karena telat, kamu tetap harus dihukum.”

“Aku nggak telat, Ca,” kata Dio memelas.

“Tadi kamu lihat sendiri, aku datang enam lima puluh sembilan.”

“Itu tetep masuknya telat, Dio,” jawab Rahmalia halus.

“Harusnya kamu datang lebih awal.”

Nada suaranya lembut, tapi tidak memberi ruang untuk membantah.

“Hehe,” kata Siva sambil tersenyum bangga.

“Sesuai tata tertib sekolah Pasal 356 ayat 2, bahwa siswa yang datang melewati jam masuk sekolah pukul tujuh akan dihukum memungut sampah sampai satu trash bag ini penuh.”

Siva mengucapkannya dengan wajah serius—terlalu serius untuk sesuatu yang jelas-jelas ia karang sendiri. Nada suaranya tegas seperti guru BK, lengkap dengan ekspresi tanpa celah seolah aturan itu benar-benar tertulis di buku tata tertib sekolah.

Padahal kenyataannya?

Pasal sebanyak itu bahkan tidak pernah ada.

Rahmalia yang berdiri di sampingnya langsung menahan senyum, pura-pura menunduk sambil merapikan map OSIS agar wajahnya tidak terlihat. Ia tahu persis Siva sedang mengerjai seseorang.

Dan targetnya sudah jelas.

Dio.

“ANJIR,” keluh Dio.

“Banyak amat aturan sekolah sampai tiga ratus lima puluh enam pasal. Lagian itu kantong gede banget. Abis berapa jam gue ngisinya? Lu tau kan sekolah ini bersih banget, hampir nggak ada sampah.”

Wajah Siva mendekat ke arah Dio, matanya melotot.

“Gue nggak mau tau.”

“Hah…?” Dio menelan ludah.

“Udah, udah,” Rahmalia menyela cepat.

“Kalian nggak capek apa berantem terus? Kalau kelamaan, nanti kantongnya gak akan penuh takutnya jam pelajaran pertama keburu mulai.”

“Gapapa, Ca,” jawab Dio mantap.

“Akan ku usahakan kantong ini penuh. Demi kebersihan sekolah kita.”

“Iya iya,” Rahmalia tersenyum tipis.

“Awas aja kalau kamu kabur dari hukuman. Dan ingat, harus selesai sebelum pelajaran pertama dimulai.”

“Siap, Icha,” jawab Dio dengan nada lembut, hampir seperti merayu.

“Akan ku kerjakan dengan sebaik-baiknya.”

“Nih,” kata Siva sambil menyodorkan kantong sampah dengan kasar.

“Cepet ambil. Gue mau cek siswa pelanggar yang lain.”

“Cih,” gumam Dio pelan.

“Ya udah, aku tinggal dulu ya,” ujar Rahmalia.

“Oh iya, baik,” jawab Dio cepat. “Sampai ketemu nanti di kelas.”

...----------------...

Beberapa jam pun berlalu. Dio akhirnya berhasil mengisi penuh kantong sampah yang diberikan Siva. Ia duduk di pinggir lapangan, mengusap keringat di dahinya sambil mengatur napas.

“WAAAHHH, MANTAP!” serunya sendiri.

“Akhirnya penuh juga. Gila, nyari sampah di sini susah banget. Sampai gue nungguin orang-orang makan dulu biar bisa ngambil sampahnya.”

Matanya melotot menatap kantong besar di sampingnya, setengah tidak percaya.

Tiba-tiba, seseorang menghampirinya.

Dio mendongak.

Rahmalia berdiri di depannya, dengan sebotol minuman isotonik dingin di tangan. Ia menyodorkannya pelan ke arah Dio.

“Nih,” ucapnya lembut.

“Pasti kamu capek.”

Dio terdiam sesaat. Lagi-lagi sosok itu. Wanita yang sama.

“Ini… buat ku?” tanyanya ragu.

“Iya. Ambil.”

“Makasih, Ca,” Dio tersenyum lebar.

“Sumpah, kamu baik banget. Kok bisa tahu aku sering beli minuman isotonik merek ini?”

Rahmalia mengerutkan dahi sebentar.

“Perasaan sekolah kita jualnya memang merek ini doang.”

“Oh…” Dio terkekeh kecil.

“Iya juga ya. Hehe.”

Rahmalia ikut duduk di samping Dio. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Dio merasa canggung. Ia menunduk sebentar, mencoba mencari kata yang tepat.

“Emm, Ca… sebenarnya…” ucapnya pelan, lalu terhenti.

Belum sempat ia melanjutkan, Rahmalia lebih dulu berbicara.

“Nanti kalau kita naik kelas, kamu mau pilih jurusan apa?”

“Eh?” Dio menoleh kaget.

“Aku sih milih vokal."

"Aku suka nyanyi.”

“Oh,” Rahmalia tersenyum kecil.

“Vokal ya. Kalau gitu sama. Aku juga tertarik sama vokal.”

Dada Dio terasa menghangat.

“Berarti mungkin nanti kita bisa sekelas lagi.”

“Semoga,” jawab Rahmalia ringan.

“Lagipula aku udah tahu kamu pasti milih vokal,” kata Dio cepat.

“Dari mana kamu tahu?” tanya Rahmalia.

“Abis suara kamu bagus,” jawab Dio jujur.

“Punya ciri khas. Jadi walau aku buta, aku pasti tahu itu kamu yang nyanyi.”

Rahmalia tertawa kecil.

“Haha, mana ada. Kamu berlebihan.”

Tapi senyumnya bertahan lebih lama dari biasanya.

Bel sekolah pun berbunyi, menandakan pelajaran pertama dimulai.

“Eh, bel udah bunyi. Ayo masuk kelas,” ujar Rahmalia sambil berdiri tergesa.

“Jangan lupa setorin kantong sampahnya ke bank sampah.”

“Siap laksanakan!” jawab Dio sambil tersenyum.

“Ya udah, aku duluan ya.”

“Oke. Hati-hati.”

Dio berdiri di tempatnya, menatap punggung Rahmalia yang menjauh hingga menghilang di balik koridor kelas.

Ada sesuatu di dadanya yang bergerak pelan—

dan ia Tidak yakin ingin memahaminya.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!