Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Sang Penjaga Sanubari
Baron melangkah maju, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara di atas lumut perak yang tebal. Ia mengepalkan tangannya, siap menyelesaikan apa yang sudah ia mulai sejak sepuluh tahun lalu. Rian berusaha berdiri, namun tubuhnya masih terasa lemas dan gemetar akibat getaran energi dari alat pengacau Baron.
"Di dunia luar, aku adalah 'Pembersih'," bisik Baron sambil menatap Aruna yang masih terduduk lemas. "Di sini, aku akan menjadi penguasa baru Adiwangsa. Serahkan kalung itu, Aruna. Jangan buat aku harus mengotori hutan yang indah ini dengan darahmu."
Tepat saat Baron mengangkat tangannya untuk memegang Aruna, suasana hutan mendadak berubah. Angin yang tadinya tenang seketika berubah menjadi hembusan yang sangat kuat, membawa aroma bunga melati yang menyengat. Aroma yang sangat Aruna kenali.
"Cukup, Baron."
Suara itu lembut, namun berwibawa, menggema dari segala penjuru hutan. Baron terdiam dan menghentikan langkahnya. Tangannya yang baru saja ingin menyentuh Aruna ditarik kembali dengan cepat. Ia menoleh ke sekeliling dengan waspada. "Siapa itu?! Tunjukkan dirimu!"
Dari balik kabut perak di antara pepohonan raksasa, sesosok wanita muncul. Ia mengenakan gaun panjang berwarna putih gading yang tampak seolah ditenun dari cahaya hutan itu sendiri. Wajahnya tenang, memancarkan keanggunan yang tidak tersentuh oleh waktu.
Aruna terdiam. Dunianya seolah berhenti berputar saat matanya menangkap sosok itu. Jantungnya berdegup kencang, dan untuk sesaat, ia lupa bagaimana cara bernapas. Lidahnya kelu, hanya mampu membisikkan satu kata yang selama sepuluh tahun ini hanya berani ia sebut dalam mimpi.
"Lidya?" Baron berbisik. Suaranya yang tadi berat dan penuh kuasa mendadak serak dan tidak stabil. Ia mundur satu langkah, menggenggam patahan tongkat peraknya begitu kencang hingga tangannya gemetar. "Tidak mungkin... aku sendiri yang memastikan ledakan itu menghanguskan seluruh ruangan!"
Lidya tidak menjawab. Ia melangkah ringan, kakinya hampir tidak menyentuh permukaan lumut saat berjalan menghampiri Aruna dan Rian. Setiap langkah yang ia ambil membuat tanah di sekitarnya seolah bernapas, memunculkan kelopak bunga liar yang mekar dalam sekejap. Sebuah sambutan dari hutan yang telah lama merindukan tuannya.
Ia berdiri tepat di depan Aruna, menutup jalan Baron dengan ketenangan yang mematikan. Seketika, akar-akar pohon besar di sekeliling mereka bangkit melilit, membentuk pagar pelindung dengan duri-duri tajam yang mengarah tepat ke dada Baron.
"Hutan ini tidak menerima tamu yang membawa busuknya kebencian di hatinya, Baron," ucap Lidya tenang. Matanya yang jernih menatap pria itu dengan pandangan yang membuat seluruh nyali Baron seolah tersedot habis ke dalam tanah. "Kamu telah mengejar anakku sejauh ini, hanya untuk menemukan akhir dari perjalananmu sendiri."
Baron terdiam, lalu ia tertawa pendek dengan suara yang serak. Tawa itu terdengar sangat dipaksakan, sekadar cara untuk menutupi napasnya yang mendadak terasa berat. Ia menghapus keningnya yang mulai basah oleh keringat dingin.
"Kamu pikir hanya karena kamu berada di dimensi ini, kamu bisa menghentikanku?" Baron bicara dengan nada rendah dan tajam, mencoba memanggil kembali sisa-sisa wibawanya. Ia meraba sakunya, mencari alat pengacau frekuensi cadangan, namun tangannya hanya menyentuh kain kosong.
Di Hutan Sanubari, semua benda logam miliknya mulai berkarat dalam hitungan detik. Bahkan kancing kemeja mahalnya pun memudar dan hancur menjadi serpihan abu di bawah tatapan Lidya.
"Teknologimu tidak lebih dari sampah di hadapan hukum alam, Baron," ujar Lidya. Ia menoleh sedikit ke arah Aruna, memberikan senyum tipis yang terasa begitu hangat sekaligus pedih. "Berdirilah, Sayang. Bawa temanmu menjauh dari sini. Biarkan Ibu yang menyelesaikan urusan lama ini."
Aruna ingin berlari memeluk ibunya, namun Rian memegang lengannya, menahan gadis itu agar tetap di tempat. Rian menatap Lidya dengan sorot mata penuh kewaspadaan. Ia bisa merasakan bahwa wanita di depannya ini bukan lagi sekadar manusia, melainkan sesuatu yang menyatu dengan detak jantung hutan ini.
"Aruna, kita harus mundur!" bisik Rian dengan nada mendesak. Genggamannya di lengan Aruna menguat, mencoba menarik gadis itu menjauh dari pusat keributan yang membuat instingnya terus memberi peringatan bahaya. "Ibumu benar, ini bukan lagi wilayah yang bisa kita pahami dengan logika. Lihat sekelilingmu."
Aruna menatap sekeliling. Akar-akar raksasa itu berdenyut mengikuti irama napas ibunya. Namun, ia juga melihat Baron. Pria itu, meski senjatanya hancur, tidak benar-benar menyerah. Baron justru mengambil sesuatu dari balik ikat pinggangnya; sebuah pisau kecil berbahan keramik hitam gelap yang tidak terpengaruh oleh hukum alam di tempat itu. Matanya memancarkan kegilaan orang yang sudah tidak punya jalan pulang.
"Tidak, Rian," Aruna menarik tangannya dengan kasar hingga pegangan Rian terlepas. Ia berdiri tegak, meski kakinya masih sedikit gemetar. "Aku sudah kehilangan dia selama sepuluh tahun. Aku tidak akan membiarkannya menghadapi monster ini sendirian lagi."
Lidya menoleh, wajahnya menunjukkan gurat kecemasan. "Aruna, pergi sekarang. Hutan ini sedang lepas kendali, Ibu tidak ingin kamu berada di tengah-tengahnya saat semua ini berakhir."
"Ibu," potong Aruna dengan suara rendah namun sangat tegas. Ia melangkah maju hingga berdiri sejajar di samping ibunya, menantang tatapan Baron tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku sudah menempuh jalan yang sangat panjang untuk sampai di sini. Aku sudah menyeret Tristan dan Siska ke pengadilan hutan ini, bahkan aku sendiri yang menarik Ayah keluar dari masa kritisnya. Aku bukan lagi gadis kecil yang harus Ibu sembunyikan."
Aruna menatap lurus ke mata Baron yang mulai terlihat goyang dan tidak fokus. Pria itu tak lagi seperti pembunuh yang percaya diri; ada retakan besar pada topeng keberaniannya saat menyadari bahwa gadis yang ia remehkan kini berdiri dengan kekuatan penuh di samping ibunya.
"Sekarang Ayah sudah aman dan sedang dalam masa pemulihan di rumah sakit. Itu semua karena aku sudah belajar bagaimana menguasai kristal ini. Jadi, jangan suruh aku pergi."
Lidya terdiam. Ia menatap profil samping wajah Aruna, menyadari bahwa putrinya telah tumbuh menjadi penguasa dimensi yang tangguh. Kesadaran itu membuat gurat kecemasan di wajah Lidya perlahan memudar, digantikan oleh sorot kebanggaan yang dalam. Ia akhirnya mengangguk, memberikan ruang bagi Aruna untuk berdiri di sisinya.
Baron merasa terhina karena diperlakukan seolah dia sudah tidak punya peluang. Ia mempererat genggaman pada pisau keramiknya, bersiap untuk menerjang. "Cukup omong kosongnya! Kalian berdua hanya akan mati di sini bersama sejarah busuk Adiwangsa!"
Baron melesat maju, mengabaikan fakta bahwa alam di sekitarnya sudah mulai mengepungnya.
"Rian, tetap di belakangku!" perintah Aruna.
Tanpa perlu bergerak, Aruna memusatkan pikirannya pada kristal di lehernya yang kini berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Tiba-tiba, permukaan lumut di bawah kaki Baron terbelah. Akar-akar hitam yang tebal dan berduri melesat keluar dari dalam tanah, bergerak secepat kilat seperti cambuk naga yang tidak memberi ampun.
Serangan itu begitu mendadak hingga Baron terpaksa melompat mundur dengan sisa-sisa tenaganya. Namun, hutan ini seolah sudah membaca setiap gerak-gerik pelariannya. Dari balik bayangan pepohonan, ranting-ranting yang ujungnya meruncing seperti mata paku merunduk rendah, menutup jalan keluar dan mengunci ruang gerak pria itu hingga ia terdesak ke batang pohon raksasa.
"Sialan!" Baron mengayunkan pisau keramiknya secara membabi buta, mencoba memotong jeratan akar yang berusaha membelit lehernya. Namun, setiap kali ia berhasil memutus satu, dua akar lainnya justru melesat keluar dari kegelapan tanah. Kali ini gerakannya jauh lebih gesit dan lilitannya terasa semakin menyesakkan.
Lidya mengangkat tangannya dengan tenang. Gerakannya begitu halus, namun setiap ayunan jarinya membuat akar-akar di sekitar Baron menyerang dengan presisi mematikan. "Kamu tidak bisa menang melawan tempat di mana napasmu pun dipinjamkan oleh kami, Baron."
Aruna bisa merasakan aliran kekuatan yang luar biasa dari ibunya mengalir masuk ke dalam kristalnya. Ia tidak lagi merasa lemas. Justru sebaliknya, ia merasa seolah setiap jengkal hutan ini adalah bagian dari tubuhnya sendiri. Dengan satu gerakan tangan yang tepat, Aruna memerintah tanah di sekeliling Baron untuk terbuka, menciptakan lubang besar yang siap menelan pria itu hidup-hidup.
"Aruna, tahan dia di sana!" seru Rian. Ia melihat Baron mulai kewalahan dan segera mengambil tasnya, mencari alat apa pun yang masih bisa dipakai untuk membantu serangan Aruna.
Baron berteriak frustrasi. Di dunianya, ia adalah pemangsa yang ditakuti. Namun di sini, di bawah tatapan dingin Aruna dan ibunya, ia hanyalah seekor serangga yang sedang menunggu waktu untuk diremukkan oleh kekuatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.