Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Tiga hari setelah tinggal di rumah kontrakan Kak Rita, kesempatan itu akhirnya datang.
“Pabrik lampu di kawasan industri lagi buka lowongan,” kata Kak Rita pagi itu, sambil merapikan jilbabnya di depan cermin kecil.
“Kalau mau, kita berangkat sekarang. Biasanya cepat penuh.”
Aku yang sedang melipat selimut langsung berdiri.
“Sekarang?
”
“Iya. Kota ini nggak nunggu orang yang lambat.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi terasa seperti peringatan.
Aku menggenggam map cokelat berisi fotokopi ijazah dan KTP.
Tanganku sedikit berkeringat.
Hari ini bisa jadi penentu.
Bangunan pabrik itu besar.
Dindingnya tinggi, berwarna abu-abu pucat.
Di atas gerbang besi tertulis jelas:
PT CAHAYA ABADI ELEKTRIK
Namanya membuatku diam sejenak.
Cahaya.
Lucu rasanya.
Aku yang bernama Senja, berdiri di depan tempat yang memproduksi cahaya.
Seolah takdir sedang bercanda padaku.
Di ruang pendaftaran, puluhan perempuan duduk menunggu.
Sebagian memakai pakaian rapi, sebagian terlihat sederhana sepertiku.
Ada yang berbisik gugup.
Ada yang tampak percaya diri.
Namaku dipanggil.
“Senja Aninditha"
Aku masuk ke ruangan wawancara. Seorang pria berkacamata dan seorang wanita paruh baya duduk di balik meja.
“Kamu lulusan SMA?” tanya pria itu.
“Iya, Pak.”
“Pengalaman kerja?”
Aku menelan ludah.
“Belum ada, Pak. Tapi saya siap belajar.”
Wanita itu menatapku tajam.
“Kerja di sini berdiri delapan jam. Target produksi ketat. Salah sedikit bisa dipotong. Kuat?”
Bayangan ibu yang bangun jam tiga pagi terlintas.
“Kuat, Bu.”
Hening beberapa detik.
Pria itu akhirnya berkata,
“Besok masuk. Shift pagi. Bagian perakitan.”
Dadaku seperti meledak.
Aku diterima.
Hari pertama.
Jam lima pagi aku sudah bangun.
Seragam biru muda terasa kaku di badan.
Sepatu tertutup pinjaman Kak Rita sedikit kebesaran.
Di dalam ruang produksi, lampu-lampu neon menyala terang.
Barisan meja panjang dipenuhi komponen kecil: bohlam kaca, filamen tipis, dudukan logam.
Suara mesin berdengung tanpa henti.
Udara terasa panas meski kipas besar berputar di langit-langit.
“Anak baru?” tanya seorang supervisor wanita bernama Bu Ratna.
“Iya, Bu.”
“Kamu di meja tiga. Pasang filamen dan tutup kaca. Hati-hati. Retak satu, tanggung jawab kamu.”
Aku mengangguk.
Tanganku gemetar saat memegang kaca tipis itu.
Sekali salah tekan, bisa pecah.
Satu lampu.
Dua lampu.
Sepuluh lampu.
“Cepat sedikit!” teriak Bu Ratna dari ujung ruangan.
Aku mempercepat gerakan.
Keringat mulai mengalir di pelipis.
Jam terasa berjalan lambat.
Kakiku mulai nyeri.
Punggungku pegal.
Tapi aku tidak berhenti.
Aku tidak bisa berhenti.
Setiap lampu yang kurakit terasa seperti satu langkah kecil menuju mimpi.
Istirahat siang.
Aku duduk di sudut kantin membawa bekal nasi dan telur dadar.
Beberapa pekerja tertawa bersama.
Sebagian mengeluh soal target.
“Baru masuk ya?” tanya seorang gadis berambut pendek yang duduk di sebelahku.
“Iya.”
“Namaku Mira. Aku sudah dua tahun di sini.”
“Senja.”
Ia tersenyum tipis.
“Hati-hati sama Bu Ratna. Dia paling galak kalau target nggak tercapai.”
Aku mengangguk pelan.
Belum satu hari, dan aku sudah belajar satu hal—
di pabrik ini, bukan hanya mesin yang keras.
Manusianya juga.
Sore hari menjelang pulang, kejadian itu terjadi.
Tanganku yang mulai lelah salah menekan kaca.
Crack!
Bohlam di tanganku retak.
Suara pecahnya kecil, tapi cukup membuat beberapa orang menoleh.
Bu Ratna datang cepat.
“Kamu tahu ini berapa harganya?” suaranya dingin.
“Maaf, Bu… saya—”
“Maaf tidak memperbaiki kerugian. Fokus!”
Aku menunduk.
Pipi terasa panas.
Malu.
Takut.
Itu kesalahan pertamaku.
Dan rasanya seperti gagal besar.
Malamnya di kamar kontrakan, aku merendam kakiku dengan air hangat.
Kak Rita menatapku.
“Capek?”
Aku tersenyum lemah.
“Lumayan.”
Ia tertawa kecil.
“Semua orang capek di awal. Yang penting jangan kalah sama capeknya.”
Aku memandangi tanganku.
Sedikit memerah.
Sedikit kasar.
Tapi ini baru hari pertama.
Jika ibu bisa bertahan bertahun-tahun,
aku tidak boleh kalah di hari pertama.
Minggu pertama berlalu dengan berat.
Beberapa kali hampir salah pasang.
Beberapa kali ditegur.
Tapi perlahan tanganku mulai terbiasa.
Gerakanku makin cepat.
Dan suatu sore, Bu Ratna hanya berkata singkat,
“Lumayan.”
Hanya satu kata.
Tapi itu terasa seperti penghargaan besar.
Saat menerima gaji pertamaku, aku memegang amplop itu lama.
Alhamdulillah
ini hasil dari keringatku sendiri.
Aku langsung mengirim sebagian ke ibu.
Beberapa menit kemudian, pesan masuk.
Ibu bangga sama kamu, Nak. Jangan terlalu capek.
Air mataku jatuh.
Di kota yang tidak mengenalku ini,
aku mulai menemukan tempat berdiri.
Namun aku belum tahu…
Di lantai atas pabrik itu,
di balik kaca ruang kantor yang gelap,
sepasang mata memperhatikanku.
Bukan karena kesalahan.
Bukan karena kasihan.
Melainkan karena sesuatu yang bahkan aku sendiri belum mengerti.
Namaku Senja.
Aku merakit lampu setiap hari.