"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : SATU PESAN SERIBU HARAPAN
Percakapan kami berlanjut malam itu dengan ritme yang pelan namun terasa hangat. Tidak terburu-buru, tidak pula canggung. Nisa bercerita tentang kegiatannya di kampus, tentang rapat organisasi yang sering selesai hingga malam, tentang mimpinya ingin berkontribusi di dunia pendidikan setelah lulus nanti. Setiap kalimat yang ia tulis terasa tulus dan penuh semangat.
Aku membalas dengan hati-hati, berusaha tetap menjadi diriku sendiri. Aku tidak ingin terlihat berlebihan atau terlalu ingin mengesankan. Aku hanya menceritakan keseharianku—tentang pekerjaan di kantor, tentang suasana yang sehat tanpa senioritas berlebihan, dan tentang kebiasaanku membawa cemilan untuk keluarga setiap pulang kerja.
“Seru sekali ya kantornya,” tulisnya suatu saat.
“Iya, aku bersyukur sekali bisa ada di lingkungan seperti itu,” balasku. “Jarang rasanya menemukan tempat kerja yang benar-benar saling merangkul.”
Percakapan kami terhenti sekitar pukul sepuluh malam karena ia harus menyiapkan materi presentasi untuk esok hari. Sebelum menutup obrolan, ia menulis,
“Terima kasih sudah ngobrol malam ini ya. Semoga besok harimu menyenangkan ”
Aku menatap layar beberapa detik sebelum membalas, “Terima kasih juga, Nisa. Semoga presentasinya lancar.”
Malam itu, aku tidur dengan perasaan berbeda. Ada semangat baru yang entah datang dari mana. Bukan semata karena berbincang dengan seorang gadis yang menarik, tetapi karena aku merasa sedang membuka lembaran baru dalam hidupku—lembaran yang berisi keberanian, harapan, dan kemungkinan.
Keesokan paginya, aku bangun dengan lebih bersemangat dari biasanya. Setelah mandi dan bersiap, aku kembali memeriksa motorku seperti rutinitas yang tak pernah terlewatkan. Aku mengecek oli, memastikan tidak ada kebocoran kecil, dan memastikan lampu sein berfungsi dengan baik. Motor itu bukan hanya alat transportasi bagiku; ia simbol konsistensi dan tanggung jawab.
Di perjalanan menuju kantor, aku teringat pesan Nisa tentang presentasinya. Dalam hati aku berdoa semoga semuanya berjalan lancar. Angin pagi terasa lebih segar. Aku tersenyum kecil, merasa hidupku yang sederhana ternyata bisa terasa begitu penuh.
Sesampainya di kantor, suasana tetap hangat seperti biasanya. Seorang rekan kerja menyapaku dengan candaan ringan tentang kopi pagi. Atasanku memanggilku untuk berdiskusi tentang proyek baru yang akan kami jalankan. Diskusi itu berjalan lancar, penuh ide dan tanpa tekanan berlebihan.
Aku menyadari sesuatu: kebahagiaan sering kali datang dari dua hal—lingkungan yang sehat dan hubungan yang tulus. Di kantor, aku mendapat lingkungan yang mendukung. Di rumah, aku mendapat kehangatan keluarga. Dan kini, mungkin, aku sedang membangun sesuatu yang baru bersama Nisa.
Menjelang siang, ponselku bergetar. Pesan dari Nisa.
“Presentasinya tadi lancar Deg-degan sih, tapi alhamdulillah dosennya responsif.”
Aku langsung tersenyum.
“Mantap. Pasti kamu hebat bawainnya,” balasku.
Ia membalas lagi, “Masih banyak yang harus dipelajari. Tapi aku senang kalau bisa berbagi hal yang aku suka.”
Kata-katanya sederhana, tapi menunjukkan kerendahan hati. Aku semakin kagum. Ia bukan hanya aktif dan cerdas, tetapi juga tidak sombong.
Hari-hari berikutnya, percakapan kami semakin rutin. Tidak setiap jam, tidak pula setiap menit, tetapi cukup untuk membuat kami saling mengenal sedikit demi sedikit. Kami berbicara tentang mimpi, tentang keluarga, tentang tantangan hidup.
Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya, “Apa yang membuatmu begitu mencintai pendidikan?”
Ia membalas cukup panjang. Tentang masa kecilnya yang terinspirasi oleh seorang guru, tentang keinginannya melihat anak-anak di daerah terpencil mendapatkan akses belajar yang layak. Aku membaca pesannya dengan penuh perhatian. Ada semangat besar dalam dirinya.
Aku pun mulai menceritakan tentang diriku lebih dalam—tentang perjuanganku menabung untuk membeli motor bekas itu, tentang bagaimana aku belajar bertanggung jawab sejak muda, dan tentang mimpiku suatu hari memiliki usaha sendiri yang bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.
“Motor bekas itu saksi perjuangan ya,” tulisnya.
“Iya,” balasku. “Mungkin terlihat sederhana, tapi bagiku itu pencapaian.”
Ia mengirim emoji senyum dan berkata, “Aku suka cara kamu menghargai hal kecil.”
Kalimat itu membuatku terdiam cukup lama. Tidak banyak orang yang melihat nilai dalam hal-hal kecil. Tapi ia melihatnya.
Suatu sore di kantor, ketika pekerjaan sedang tidak terlalu padat, aku duduk sejenak sambil memikirkan sesuatu. Sudah hampir dua minggu kami berkomunikasi lewat pesan. Rasanya menyenangkan, tapi aku tidak ingin semuanya berhenti hanya di layar ponsel.
Aku ingin mengenalnya lebih nyata.
Malamnya, setelah makan bakwan buatan kakak dan menikmati teh manis dari mama, aku kembali ke kamar. Aku membuka Instagram dan melihat pesan terakhir dari Nisa tentang kegiatan sosial yang akan ia ikuti akhir pekan nanti.
Dengan hati yang sedikit berdebar, aku mengetik:
“Kalau tidak keberatan, mungkin suatu hari kita bisa ngobrol langsung. Sekadar ngopi atau diskusi ringan tentang pendidikan. Tentu kalau kamu merasa nyaman.”
Aku membaca ulang pesan itu berkali-kali sebelum akhirnya menekan kirim.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Aku mencoba menenangkan diri dengan merebahkan badan. Pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan jawaban.
Ponselku berbunyi.
Aku langsung duduk dan membukanya.
“Boleh saja Tapi mungkin setelah kegiatanku selesai minggu ini ya. Kita atur waktunya.”
Aku menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Senyum lebar terukir di wajahku. Bukan hanya karena ia mengiyakan, tetapi karena jawabannya menunjukkan ia mempertimbangkan dengan matang, bukan sekadar asal setuju.
“Siap. Nanti kabari saja kapan luang,” balasku.
Malam itu, aku merasa hidupku berjalan perlahan ke arah yang lebih cerah. Tidak ada yang instan. Semua tumbuh secara alami—seperti caraku merawat motor, seperti hubunganku dengan rekan kerja, seperti kehangatan di rumah.
Aku sadar, perjalanan ini mungkin masih panjang. Bisa saja ada rintangan di depan. Tapi untuk saat ini, aku ingin menikmatinya selangkah demi selangkah.
Pagi, aku akan tetap berangkat kerja dengan motorku yang setia. Siang, aku akan bekerja dengan penuh tanggung jawab di lingkungan yang sehat. Sore, aku akan pulang membawa cemilan untuk keluarga. Dan malam, mungkin, aku akan berbagi cerita dengan seseorang yang perlahan mengisi ruang di hatiku.
Hidupku mungkin sederhana. Tapi di dalam kesederhanaan itu, ada rasa syukur, ada usaha, dan kini, ada harapan baru yang mulai tumbuh pelan-pelan.
Hari yang kami tunggu akhirnya tiba. Setelah sepakat menentukan waktu, aku bersiap dengan perasaan campur aduk antara gugup dan bahagia. Motor kesayanganku kembali menjadi saksi perjalanan penting dalam hidupku. Aku memastikan tampil rapi dan sederhana, seperti biasa. Sesampainya di tempat yang kami janjikan, aku melihat Nisa duduk sambil tersenyum. Senyumnya sama manisnya seperti di foto, lengkap dengan lesung pipit yang membuatku semakin tenang. Percakapan kami mengalir lebih hangat dibanding di layar. Di momen itu aku sadar, beberapa keberanian kecil ternyata mampu membawa kita pada pertemuan yang begitu berarti.