NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:716
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Pagi itu, Arcelia bangun sebelum alarmnya berbunyi.

Langit Lumin masih abu-abu pucat. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik, menarik napas panjang. Rambutnya sedikit berantakan, matanya masih berat.

Hari ini jangan panik. Jangan gegabah.

Ia berdiri, masuk ke kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin. Sensasi dingin itu membuat pikirannya lebih jernih. Setelah mandi cepat dan berpakaian rapi, ia turun ke bawah.

Aroma roti panggang dan kopi sudah memenuhi ruang makan. Mama Mirella sedang mengaduk sup hangat untuk Elvarin yang kurang enak badan sejak semalam.

“Pagi, Ma, Pa.”

“Pagi, sayang.” jawab Mama Papa nya barengan "Tidurnya cukup Sayang?” lanjut tanya Mamanya

“Lumayan Ma.”

Arcelia membantu mengambilkan mangkuk dan sendok tanpa diminta. Gerakan kecil. Tapi terasa berarti. Papa Alveron duduk dengan laptop terbuka. Grafik dan email memenuhi layar.

Kaiven berdiri di dekat jendela sambil menerima telepon. “Ya. Tunda dulu pertemuannya. Kita evaluasi ulang,” katanya tegas sebelum menutup panggilan.

Suasana tidak lagi setenang dulu. Tapi tidak juga kacau. Ada ketegangan. Namun juga kesadaran bahwa mereka berdiri bersama.

Di sekolah,

Pengumuman proyek semester mulai bergerak ke tahap presentasi awal. Kelompok Arcelia dan Kaelion mendapat jadwal minggu depan.

Mereka duduk di perpustakaan sore itu. Laptop terbuka. Buku berserakan. Suara halaman dibalik terdengar pelan.

“Aku sudah susun analisis data pasar,” kata Kaelion tanpa menoleh.

Arcelia mengangguk. “Aku akan tambahkan bagian strategi mitigasi krisis.”

Kaelion berhenti mengetik.

“Mitigasi krisis?”

Arcelia tersenyum tipis. “Contoh kasus hipotetis. Perusahaan yang diserang rumor.”

Tatapan Kaelion bertemu dengannya.

“Kau menyelipkan realita ke dalam tugas sekolah.”

“Aku belajar dari yang terbaik.”

Sudut bibir Kaelion bergerak sedikit. Mereka kembali fokus. Beberapa menit berlalu dalam diam yang nyaman.

Tiba-tiba, ponsel Arcelia bergetar.

Pesan dari Kaiven.

Adek, jangan kaget kalau nanti ada berita baru. Tetap tenang ya.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Ada apa?” tanya Kaelion, memperhatikan perubahan ekspresinya.

“Sesuatu akan terjadi.”

Dan benar saja. Tak lama kemudian, notifikasi berita muncul di layar beberapa siswa di perpustakaan.

Judul besar terpampang:

“Direksi Virellia Diduga Terlibat Manipulasi Kontrak.”

Bisik-bisik mulai terdengar. Arcelia merasakan darahnya berdesir panas.

Manipulasi?

“Itu tuduhan langsung,” gumamnya.

Kaelion segera membuka artikel lengkapnya.

“Tidak ada bukti konkret. Hanya ‘sumber anonim’.”

“Ini bukan sekadar rumor lagi,” bisik Arcelia. “Ini framing.”

Tangannya mengepal di atas meja. Ia bisa merasakan tatapan beberapa siswa mulai mengarah padanya.

Ada yang penasaran.

Ada yang berbisik.

Ada yang terang-terangan membaca berita sambil meliriknya.

Suara hatinya mencoba menenangkan.

Jangan runtuh di sini. Jangan beri mereka tontonan.

Ia menarik napas perlahan. Menegakkan bahu.

“Lanjutkan tugas,” katanya tenang.

Kaelion menatapnya beberapa detik.

“Kau kuat.”

“Tidak. Aku cuma tidak mau terlihat lemah.”

Itu lebih jujur.

Sore itu,

Saat Arcelia pulang, suasana rumah jauh lebih tegang. Televisi di ruang keluarga menyala. Cuplikan berita bisnis diputar ulang.

Seorang analis sedang membicarakan “dugaan penyalahgunaan kontrak” oleh perusahaan besar yang tidak disebut langsung, tapi semua orang tahu arah tudingannya.

Mama Mirella mematikan televisi saat Arcelia masuk.

“Elvarin di kamar,” katanya pelan. “Kami tidak ingin dia dengar.”

Papa Alveron berdiri di dekat meja, wajahnya lebih keras dari biasanya. “Ini sudah serangan langsung.”

Kaiven meletakkan map di meja dengan agak keras.

“Kita punya bukti transaksi bersih. Tapi opini publik bergerak lebih cepat dari fakta.”

Arcelia melangkah mendekat.

“Apa yang bisa aku lakukan Pa?”

Papa Alveron menatap putrinya.

“Kau tetap jadi dirimu sendiri. Itu sudah cukup.”

Tapi Arcelia tahu itu bukan jawaban yang ia cari.

Malam itu,

Setelah makan malam yang terasa lebih sunyi dari biasanya, Arcelia duduk di kamarnya. Ia menatap layar ponsel.

Pesan masuk.

Dari nomor tak dikenal.

Hati-hati. Ini baru awal.

Napasnya tertahan. Ia langsung mengirim pesan pada Kaelion.

“Aku juga dapat,” balas Kaelion tak lama kemudian.

Jadi bukan kebetulan. Seseorang sengaja menekan mereka dari dua sisi. Arcelia berdiri, berjalan ke balkon kamarnya. Udara malam terasa lebih dingin.

Lampu-lampu kota Lumin berkelip seperti biasa, seolah dunia tetap berjalan tanpa peduli badai yang sedang datang. Ia menggenggam pagar balkon. Kalau ini garis depan… maka aku tidak akan mundur.

Di kejauhan,

Di sebuah ruangan dengan lampu redup, Selena Ravert menatap layar ponselnya.

Dua pesan terkirim.

Dua reaksi berbeda.

Ia tersenyum pelan.

“Tekanan kecil saja sudah cukup membuat orang goyah,” gumamnya.

Namun yang tidak ia sadari, Arcelia tidak sedang goyah. Ia sedang belajar berdiri lebih kokoh. Dan ketika tekanan semakin besar… Garis depan itu akan berubah menjadi medan yang sebenarnya.

Malam itu,

Arcelia tidak langsung tidur. Ia duduk di meja belajarnya, lampu kamar menyala redup. Buku terbuka, tapi tidak satu pun kalimat benar-benar ia baca.

Ponselnya masih menampilkan pesan anonim tadi.

Hati-hati. Ini baru awal.

Ia memperbesar nomor pengirim. Nomor baru. Tidak tersimpan.

Kalau ini Selena… dia sengaja ingin aku tahu. Tapi ada sesuatu yang terasa janggal. Selena tipe orang yang menikmati konfrontasi langsung. Mengirim ancaman anonim terasa… terlalu tersembunyi.

Pintu kamarnya diketuk pelan.

“Masuk,” jawabnya.

Mama Mirella masuk sambil membawa segelas susu hangat.

“Kamu belum tidur Sayang?”

“Belum ngantuk Ma.”

Mama Mirella duduk di tepi tempat tidur. “Berita hari ini… kamu jangan terlalu dipikirkan ya Sayang.”

Arcelia tersenyum kecil. “Aku akan berusaha Ma.”

Mamanya menatapnya lembut, tapi ada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.

“Kamu masih remaja, Arcelia.”

“Aku juga bagian dari keluarga ini.”

Mama Mirella menghela napas pelan. “Kami tidak pernah meragukan itu. Tapi kami ingin kamu tetap punya hidup yang normal.”

Normal.

Kata itu terasa jauh akhir-akhir ini.

“Aku baik-baik saja, Ma.”

Itu setengah jujur.

Keesokan paginya,

Situasi di sekolah semakin canggung. Beberapa siswa terang-terangan membicarakan berita itu di lorong.

“Katanya Keluarga Virellia manipulasi kontrak.”

“Serius?”

“Makanya sahamnya turun.”

Arcelia berjalan lurus tanpa menoleh. Langkahnya stabil. Bahu tegak.

Kalau aku berhenti sekarang, mereka menang. gumam dalam hatinya

Kaelion menyusul di sampingnya. “Komentar mereka tidak penting.”

“Aku tahu.”

“Tapi tetap menyebalkan.”

Arcelia mendengus pelan. “Sedikit.”

Mereka masuk kelas. Guru belum datang.

Salah satu siswa di baris belakang tiba-tiba berkata cukup keras, “Eh, Arcelia… benar nggak sih perusahaan keluargamu lagi bermasalah?”

Suasana kelas mendadak sunyi. Semua menunggu jawabannya.

Arcelia menoleh perlahan.

“Setiap perusahaan pasti punya tantangan,” jawabnya tenang. “Tapi kami tidak melakukan hal ilegal.”

Nada suaranya stabil. Tidak meninggi. Tidak defensif.

Siswa itu mengangkat bahu, seolah tidak puas tapi juga tidak bisa memancing reaksi lebih jauh.

Kaelion menatap Arcelia dari samping. Dia belajar cepat.

Siang itu,

Saat istirahat, Arcelia menerima telepon dari Kaiven.

“Ada perkembangan Dek,” katanya langsung.

“Buruk?”

“Kita menemukan kebocoran.”

Jantung Arcelia berdegup.

“Siapa Bang?”

“Bukan penasihat eksternal. Salah satu staf administrasi. Dia menerima transfer dana mencurigakan tiga minggu lalu.”

Arcelia menutup matanya sebentar.

“Dari perusahaan cangkang itu?”

“Ya.”

“Dan perusahaan itu… terhubung ke Ravert.”

“Betul.”

Hening beberapa detik.

“Dia mengaku?” tanya Arcelia.

“Belum. Tapi bukti transfer cukup kuat.”

Arcelia menelan ludah.

“Papa?”

“Sedang mempertimbangkan langkah hukum.”

Setelah panggilan berakhir, Arcelia duduk diam beberapa saat. Jadi memang ada orang dalam. Tapi satu pertanyaan belum terjawab. Apakah Selena hanya memanfaatkan kesempatan… atau dia yang merancang semuanya dari awal?

Sore hari,

Kaelion mengirim pesan.

Aku perlu bicara. Ketemu di parkiran belakang sekolah.

Arcelia datang beberapa menit kemudian. Area itu lebih sepi. Hanya beberapa motor terparkir.

Kaelion berdiri dengan tangan di saku.

“Keluargamu sudah menemukan kebocoran, kan?”

Arcelia menatapnya tajam. “Kau sudah tahu?”

“Aku dengar dari seseorang di internal Ravert. Selena kesal.”

“Kesal?”

“Rencananya tidak berjalan semulus yang dia kira.”

Arcelia menyilangkan tangan.

“Jadi memang dia.”

Kaelion terdiam sejenak.

“Ya.”

Kata itu jatuh seperti palu. Tidak lagi dugaan. Bukan lagi asumsi.

Fakta.

“Dia tidak akan berhenti,” lanjut Kaelion pelan. “Kalau satu cara gagal, dia akan cari cara lain.”

Arcelia mengangguk pelan.

“Aku juga tidak akan menawarkan pipi yang lain.”

Kaelion menatapnya lebih dalam.

“Kau sadar ini bisa jadi perang terbuka antar keluarga.”

“Ini sudah perang,” jawab Arcelia tenang. “Hanya saja belum semua orang mengakuinya.”

Angin sore berembus pelan di antara mereka. Suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar. Untuk pertama kalinya, keduanya berdiri bukan sebagai siswa. Bukan sebagai remaja. Tapi sebagai dua orang yang berada di garis konflik yang sama.

“Kalau keadaan memburuk,” kata Kaelion perlahan, “aku tidak ingin kau jadi sasaran langsung.”

Arcelia tersenyum tipis.

“Kalau aku jadi sasaran, berarti aku cukup berarti untuk diserang.”

Jawaban itu membuat Kaelion hampir tertawa.

Hampir.

Namun jauh di suatu tempat, Seseorang sedang menyiapkan langkah berikutnya. Dan retakan yang tadi kecil… Perlahan mulai melebar.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!