"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Siang itu, matahari Jakarta serasa membakar ubun-ubun. Abdi berdiri di pinggir jalan dengan tiga kardus besar yang sudah mulai sobek di bagian sudutnya. Itu adalah sisa hidupnya hanya pakaian dan beberapa barang pribadi yang tidak sempat dijual atau diangkut oleh Disa. Ia menatap kontrakan yang kini sudah terkunci rapat. Pemilik kontrakan tadi benar-benar mengusirnya tanpa ampun karena masa sewa yang sudah habis.
Dengan sisa uang di kantong yang hanya cukup untuk ongkos ojek pangkalan, Abdi akhirnya menyerah. Tidak ada tempat lain. Disa tidak bisa dihubungi, teman-temannya menjauh sejak kasus audit itu mencuat. Pilihannya hanya satu yaitu rumah ibunya. Rumah yang ia bangun dengan tetesan keringat dan penderitaan anak istrinya.
Di teras rumah yang tampak asri itu, Mama Ratna dan Andi sedang duduk santai menikmati camilan. Mama Ratna sontak berdiri, matanya membelalak kaget melihat putra sulungnya datang dengan keadaan kuyu dan membawa kardus layaknya gelandangan.
"Abdi? Kok jam segini sudah pulang? Terus itu kardus apa, Di?" tanya Mama Ratna dengan nada tinggi, bingung sekaligus cemas.
Abdi menghempaskan kardusnya ke lantai teras. "Disa, Ma. Disa memutus sewa kontrakan diam-diam. Semua barang yang ada di kontrakan dijual dan diangkut tadi pagi. Aku... aku diusir dari sana karena nggak bisa bayar sisa sewanya."
"Lho! Kok bisa?!" Mama Ratna murka, wajahnya memerah. "Disa itu sudah keterlaluan! Mama dengar dari Amel kalau sekarang posisinya di kantor sudah bagus, dikasih mobil segala. Masak bayar uang kontrakan yang nggak seberapa saja dia nggak bisa? Sombong sekali dia!"
Abdi menyandarkan punggungnya di tiang teras, napasnya terasa berat. "Gajiku bulan ini masuk bahkan masuk ke dalam ATM yang dia pegang juga Ma. Aku bahkan nggak pegang uang buat bensin. Hari ini aku terpaksa meliburkan diri dari kantor karena kepalaku mau pecah."
"Kurang ajar!" Mama Ratna menggebrak meja kecil di sampingnya. "Istri macam apa itu? Berani-beraninya dia menelantarkan suaminya sendiri! Dia pikir dia hebat karena jadi orang kantoran lagi? Dia itu lupa kalau dulu dia cuma ibu rumah tangga yang kamu kasih makan!"
Abdi hanya menggeleng lemah. Dia melihat mamanya masih menganggap sepele perubahan Disa, padahal dia sendiri sudah merasakan dinginnya tatapan istrinya yang sekarang menyerupai algojo.
"Halah, Di! Kamu jangan lemas begitu!" Mama Ratna tiba-tiba tersenyum sinis, seolah punya kartu as. "Istri modelan Disa itu kalau dibuang juga nanti bakal ngemis-ngemis lagi. Dia itu cuma lagi kaget punya uang banyak. Biarin saja dia pergi! Mama malah senang kalau dia nggak mau sama kamu lagi."
Mama Ratna mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat dahi Abdi berkerut. "Kamu ingat Jeng Rini? Janda kaya raya di kota lama kita dulu? Yang nggak punya anak dan punya toko emas besar? Dia itu dari dulu naksir kamu, bahkan sampai sekarang dia masih tanya-tanya kabar kamu ke Mama. Kalau Disa mau jual mahal kita cari yang lebih berkelas yang bisa kasih kamu modal dan nggak perlu kerja capek-capek begini."
Abdi hanya bisa terdiam. Pikirannya tidak sampai ke sana. Dia masih terbayang tatapan tajam Disa yang seolah siap mengulitinya hidup-hidup. Tapi Mama Ratna tampak sudah mengatur rencana besar di kepalanya. Baginya, Disa hanyalah kerikil yang harus disingkirkan demi "masa depan" Abdi yang lebih menguntungkan keluarganya.
"Sudah, nggak usah dipikirkan. Masuk sana! Kamar kamu di rumah ini juga masih ada," ujar Mama Ratna sambil membukakan pintu dengan senyum kemenangan. "Biar dia rasakan sendiri tinggal di apartemen atau di mana pun dia mau. Kita lihat berapa lama dia bertahan tanpa ada kamu di sisinya."
Abdi melangkah masuk, menyeret kardusnya ke dalam rumah megah yang dibangun dari air mata istrinya, tanpa menyadari bahwa di luar sana, Disa sedang menunggu saat yang tepat untuk merobohkan istana pasir ini sampai ke akarnya.