"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI YANG DI INGKARI
BAB 3
Satu bulan berlalu sikap Tama terhadap Alisya masih selalu hangat, kapanpun dan dimanapun lelaki ini selalu terlihat bucin dengan sang Istri. Lalu bagaimana dengan sikap Alisya?
Apalah daya Alisya hanya bisa mengikuti maunya sang Suami..
Hari ini adalah hari jadi pernikahan mereka, Baru dua jam Tama meninggalkan Rumah Bel sudah berbunyi, Seorang kurir paker datang mengantarkan satu kotak cantik berwarna merah muda.
“Siapa pengirimnya?”
“Mr Merpati..” Alisya menyipitkan kedua matanya, dia tidak asing dengan sebutan Merpati, namun dia tak banyak berpikir, Alisya menerima paket tersebut dan membawanya ke dalam rumah.
“Astaga.. aneh – aneh saja!”
Alisya membuka dengan perlahan pita putih yang mengikat kotak itu, sangat cantik bahkan sampai membuat Alisya terkesima.
“Ya Allah..”
Kedua mata Alisya membola dikala terbuka kotak tersbeut dan ternyata di dalamnya adalah Gaun Indah berwarna Hitam, Alisya langsung tersenyum manis.
“Ah ada kartu ucapannya..”
Dan seketika Alisya membaca sebuah kalimat di dalam sana, senyum Wanita cantik itu kembali merekah.
Berhiaslah yang cantik, aku akan menjemputmu jam tujuh malam...
Satu kalimat yang mempu membuat Alisya seakan melayang, membaca kalimat indah yang di kirimkan suaminya, tak lama ponselnya berdering Dan Alisya langsung meraihnya.
“Iya Mas?”
“Suka?”
Alisya tersenyum, di pandang lagi gaun indah itu sehingga membuat Alisya tak hentinya merekahkan senyuman.
“Suka banget, bagaimana bisa kamu memilih gaun seindah ini Mas?”
“Karena aku tau seleramu sayang..”
Hal – hal seperti inilah yang membuat Alisya seakan tergila – gila dengan suaminya, Tama selalu tau apa yang Istrinya suka, dan dikala merajuk Tama selalu memiliki berribu cara untuk mengembalikan Mood sang Istri.
Di luar prediksi BMKG,
Alisya rupanya sudah siap sejak pukul lima sore, si cantik itu begitu semangat untuk di jemput sang Suami.
“Kemana Mas Tama akan membawa aku pergi?”
“Kenapa harus dengan kejutan kotak..”
“Apa lagi Itu... MR Merpati.. astaga..”
Alisya tertawa sendiri kerena Suaminya masih sangat inget dengan sebutan Alisya untuknya.
“Tapi ini masih sore.. mas Tama kan mau jemput aku jam Tujuh,, apa aku harus menunggu dua jam?”
Begitu tidak sabarnya Alisya bahkan sampai dia terus menancap polesan di wajahnya, benar – benar sangat cantik.
Sedangkan di tempat lain Tama sudah sangat tampan dengan jas hitamnya, baru saja dia ingin beranjak pergi pintu ruangan kerjanya terbuka, Tama melihat seseorang memasuki ruangannya.
“Selin? Ada apa?”
“Mau kemana kamu?”
“Mau ajak Alisya Diner..”
“Harus sekarang?” Gadis berambut panjang itu begitu jeli melihat penampilan Tama dari atas sampai bawah, bahkan gadis itu mengendus wangi tubuh Tama yang lebih spektakuler dari biasanya.
“memangnya kenapa?”
“Bagaimana bisa kamu pergi sedangkan Pak Cahyo sudah menunggumu di Ruang Meeting?”
“Cahyo?” Selin menganggukan kepalanya.
“Siapa yang menyuruhnya datang jam segini?” Lagi – lagi Selin hanya bisa menaikkan kedua bahunya dia pun tidak tau apa alasannya.
“Suruh dia pergi..”
“Tama jangan gila kamu!”
Mendengar Selin menaikan nada bicaranya membuat Tama langsung menoleh.
“Hati – hati kalau bicara Sel..”
“Ah Sorry..”
Tama merapikan pakaiannya si tampan itu siap untuk menjemput istrinya.
“Kamu tidak bisa pergi sebelum menemui Pak Cahyo, Tama..”
“Itu sudah menjadi tugasmu Selin... aku tidak bisa sekarang,, aku ingin pergi dengan Istriku..”
“Tama.. Pak Cahyo sangatlah penting..”
Tama menggretakan giginya dia sudah sangat panas di buatnya.
“Maksud kamu Istri ku tidak penting? Begitu?”
“Bukan begitu maksud aku Tama..”
Tok..
Tok..
Tok..
Belum lagi Selin terselesaikan sudah datang biang kerok kedua, Rangga datang dengan satu buah kotak di tangannya.
“Mau kemana Mas?”
“Ah Rangga!! Tolong temani Selin dan temui Pak Cahyo,, saya harus pergi..”
Rangga mengalangi langkah Tama, wajah dinginnya benar – benar membuat darah Tama seakan mendidih.
“Minggir!!”
“Tidak Bisa Mas..”
“Saya bilang minggir Rangga!!”
“Tidak sebelum bapak menemui Pak Cahyo..”
Sudah beberapa kali Tama seakan ingin mengamuk, tapi apa boleh buat kalau sudah Rangga yang sudah turun tangan berarti situasi benar – benar genting, dan mau tidak mau Tama menurutinya.
“Astaga!! Apa pentingnya lelaki itu sampai – sampai saya harus menemuinya..”
“Dua setengah sahammu akan hilang, Tama.. jangan lupakan itu..”
Lelaki yang sudah sangat tampan itu memutar bola matanya, mau tidak mau dia menunda keberangkatannya dan Tama memutuskan untuk menemui tamu pentingnya itu.
“Senyummu tuan..”
“Diam kau Selin!!”
Berulang kali Tama melirik jam di pergelangan tangannya, masih ada waktu satu jam dan Tama harus secepat mungkin menyelesaikan semuanya, dia tidak mau membuat Istrinya menunggu.
Dan benar saja kini sudah pukul setengah sembilan malam, namun pertemuan ini belum juga selesai.
Apa yang harus Tama lakukan?
Pasti istrinya sudah lama menunggunya.
“Sayang Maafkan aku..”
Sesal di ungkapkan Tama hanya bisa di dalam hati, dia melirik ponselnya namun belum ada Satupun Chat dari istrinya.
“Apa bisa saya pamit undur diri?”
Dua pria paruh baya di depannya sontak langsung menoleh, mereka tersenyum menatap Tama yang sudah sangat gelisah.
“Apa ada yang menganggumu Tuan?”
“Ah tidak!! Hanya saja saya punya janji setelah ini..”
Pria paruh baya itu tersenyum dia menundukan sedikit kepalanya mempersilakan Tama untuk pergi.
“Silakan Tuan..”
“Baiklah saya permisi,, kabarkan kelanjutannya, Ada Pak Rangga yang akan mewakili saya..”
Dengan wajah datarnya Pria bernama Rangga itu hanya bisa menatap kepergian Sang Bos, Tama memang sangat sulit dilarang jika itu memang kehendaknya.
“Astaga.. Al pasti marah padaku..”
Tanpa pikir panjang Tama menekan pedal gas mobilnya sekuat mungkin, berulang kali dia menghubungi sang Istri namun tak ada jawaban.. benar – benar membuat Tama resah.
“Semarah ini kah kamu sampai – sampai enggan menjawab panggilanku, sayang..?”
Tepat Jam Sepuluh malam Tama tiba di rumahnya, dan betapa paniknya dia saat melihat pintu Rumahnya yang terbuka lebar.
“Al!”
Bum!
Tama membelalakan kedua matanya saat melihat Fatimah membersihkan sisa air yang tumpah di atas meja.
“Fat, ada apa? Apa ada tamu?”
Asisten rumah tangganya itu menggelengkan kepala.
“Tidak Den, Saya juga tidak tau, saya keluar dari siang dan baru saja tiba tapi ada gelas berantakan seperti ini..”
Tama berpikir sejenak, apa yang istrinya lakukan?
“Dimana Istri saya Fat?”
“Nona di kamarnya..”
Tama berlari menuju lantai dua rumahnya disanalah kamarnya dan Alisya berada.
Krek!
Pintu terbuka dan betapa terkejutnya dia saat melihat Istrinya tertidur dengan tubuh bersandar lemari, kedua kakinya ditekuk. Fatimah terlihat begitu pucat dengan wajahnya yang memerah.
Dan bukan hanya itu sisa sesegukannya pun masih terdengar.
“Sayang?”
Tama langsung berlutut menghampiri sang Istri.
“Sayang.. Ya Tuhan, maafkan aku..”
Tama mengusap sisa – sisa air mata di pipi istrinya, belum mengering itu berrati istrinya baru saja tertidur.
“Al..” Di panggil berulang kali namun si cantik itu tak kunjung bangun, apa yang harus Tama lakukan?
Bagai hancur berkeping – keping, melihat Istrinya menangis bagai melati menancap jantung Tama.
“Apa yang harus aku lakukan? Pasti aku membuatmu kecewa lagi.. maafkan aku sayang..”
Dengan lelehan air mata Tama memindahkan sang Istri ke atas ranjang, di selimuti dengan hangat sampai Wanita cantik itu terlihat nyaman.
“Tidurlah sayang.. aku harap kamu bisa memaafkanku..”
Mentari sudah begitu terik menyinari celah – celah jendela kamar Alisya, wanita cantik itu pun masih terlelap di bawah selimut tebal yang menutupi dirinya.
“Hheeemmm...”
Entah mengapa Alisya merasakan tenggorokkannya sakit, mungkin karena menangis hampir semalaman, dan tak menyentuh air minum sedikitpun.
Namun saat membuka mata Alisya terkejut, siapa yang memindahkannya ke atas ranjang? Dan mengapa busananya sudah berganti menjadi baju tidur? Lalu hiasannya? Semua sudah bersih..
Alisya tau ini semua pasti perbuatan suaminya, karena hanya Tama yang bisa melakukan ini semua..
“Dimana mas Tama?”
Kedua mata Alisya seolah mencari sosok sangat dia kenali, tapi kamarnya terlihat begitu sepi, Suaminya tak ada disana.
“Bagaimana bisa aku di bohongi Suamiku sendiri? Berapa lama aku menunggunya semalam? Tapi sekarang dia malah menghilang.”
Alisya menangis sesegukan, dia menopangkan kepalanya di ke dua lututnya, sungguh ini sangat menyakitkan.
CUP!
Mendapat sebuah kecupan di kening membuat Alisya langsung mengangkat kepalanya.
“Good Morning, sayang.”
Kedua mata Alisya sudah memerah, dia mendapati Suaminya sudah berada di sampingnya.
“Kamu?”
“Iya aku? Mengomelnya nanti ya sayang, lebih baik makan dulu..” Tama meletakan nampan putih berisikan sepiring nasi goreng Seafood dan jus jeruk, tentu saja menu ini adalah kesukaan Istrinya.
“Kita harus bicara Mas!” Dengan tegas Alisya berucap namun Tama berusaha mengalihkan.
“Aku tau apa yang harus kita bicarakan, tapi aku tau kamu pasti lemas..”
“Kenapa kalau aku lemas?” tanya Alisya dengan nada sinisnya.
“Kamu harus punya tenaga untuk memukuliku bukan? Makanlah yang banyak setelah ini kita baru bicara..”
Kalah sudah jika sudah berdu argumen dengan seorang Tama, selain pintar mengeles Tama juga sangat pandai mengambil hati seseorang.
“Ya! Sesuap lagi, habiskan Nona...”
Prang!
Sangat kesal Alisya melepar sendok di atas piringnya. Kesal memang tapi mau bagaimana lagi makanan yang dia makan sangatlah lezat dan itu berarti Tama yang memasaknya sendiri.
“Baiklah,, aku siap mendapatkan omelanmu sayang, caci maki aku, silakan..”
Alisya menatap kedua mata Suaminya, ada penyesalan disana dan Alisya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Suaminya.
“Aku tau kamu sibuk, aku juga tau kalau kamu pasti banyak sekali agenda, aku tau aku bukan prioritas mu tapi bisakah kabari aku kalau kamu tidak akan datang semalam?”
Kedua mata Tama berkedip sorotan matanya meremang, dia tak kuasa melihat wanita kesayangannya melinangkan air mata.
“Sayang maafkan aku.”
“Aku tau kamu hanya akan meminta maaf, tapi untuk apa mas kalau selanjutnya kamu akan mengulanginya lagi?”
“Apa aku tak penting bagimu Hah? Dan sepenting apa waktu lemburmu itu sampai – sampai kamu mengingkari janji pada Istrimu?”
Dan untuk pertama kali Tama kalah dalam berdebat, bisanya seorang Tama tak akan pernah terkalahkan bahkan dengan siapapun lawan Debatnya.
“Apa gunanya gaun mewah itu kalau ujung – ujungnya hanya untuk menampung air mataku Mas?”
Alisya menangis bahkan tubuhnya melemas, entahlah sampai kapan dia harus mengumpat Suaminya ini, setidaknya sampai hatinya benar – benar terasa lega.
“Sayang.. Aku tau kamu pasti kecewa banget sama aku, tapi semalam memang keadaan di luar kendaliku, Investor ku datang dan aku harus cepat menanganinya..”
“Bolehkah aku beli waktumu Mas?”
“Hah?” kedua mata Tama melongo dia tak percaya Istrinya berkata seperti itu.
“Sayang...”
“Bolehkah aku membeli waktumu seharian? Berapa yang harus aku keluarkan untuk waktu berhargamu itu mas Tama? Katakan padaku!”
Alisya sudah menangis tak tertahankan, bagaimana bisa seorang suami sangatlah sibuk sampai – sampai dia tak punya waktu untuk istri tercintanya.
Dua jam berdebat membuat Tama seakan kehilangan kewarasannya, namun dia berhasil menenangkan sang Istri, sampai Alisya tertidur di pelukannya.
"Sayang.. sungguh maafkan aku.. ampuni aku.."
Tama menciumi kening Istrinya, jika ada satu hal yang paling dia takuti di dunia ini hanya kehilangan sang Istri, istri yang sangat dia cintai.
Ting!
Ponselnya berdenting dan sesuai dugaannya, nama Selin sudah terpampang jelas di layar ponsel Tama.
“Astaga,, bisakah kamu tidak menelpon satu hari saja Selin?”
Panggilan terhubung, Tama sudah memasang wajah sangarnya.
“Bisakah kamu tidak menganggu saya satu hari ini, ah mungkin tiga hari kedapan saya Cuti.. handle semuanya dan jangan hubungi saya Selin..”
Panggilan terputus sepihak tanpa Selin mengeluarkan sepatah katapun.
“Sial.. menyebalkan sekali..”
Tanpa Tama tau rupanya sang Istri mendengar ocehannya di telepon, Alisya hanya bisa terdiam.
“Siapa Selin? Kenapa perempuan ini selalu berhubungan dengan Suamiku?”
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya