Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Bayangan dari Masa Lalu
...— ✦ —...
Namanya Vivienne Chandra.
Kirana tahu nama itu — ia yang menciptakannya, seperti ia menciptakan segalanya di sini. Vivienne Chandra, tiga puluh empat tahun, pengacara korporat, teman lama Gwyneth dari masa sebelum pernikahan. Yang dalam novel Kirana hanya muncul satu kali, dalam satu paragraf kecil yang ia tulis sebagai pelengkap latar: *teman-teman lama yang tidak lagi teman, yang tetap ada di lingkungan sosial yang sama karena dunia orang-orang seperti mereka memang tidak terlalu besar.*
Ia tidak pernah memberi Vivienne lebih dari satu paragraf karena ia pikir Vivienne tidak penting.
Sekarang Vivienne duduk di seberangnya di kafe yang langit-langitnya tinggi dan cahayanya hangat keemasan, dengan kopi di tangannya dan senyum di wajahnya yang terasa seperti pisau yang disimpan rapi di dalam sarung kulit.
"Kamu terlihat berbeda," kata Vivienne. Bukan basa-basi. Pengamatan.
"Orang bilang begitu," jawab Kirana dengan nada Gwyneth yang paling datar.
"Bukan berbeda yang buruk." Vivienne memiringkan kepalanya sedikit. "Hanya... berbeda. Lebih lunak. Seperti kamu sedang belajar sesuatu yang membuatmu mengendurkan bahu."
Kirana mengambil cangkir kopinya. "Apa tujuan pertemuan ini, Vivienne?"
Vivienne tersenyum — senyum yang tidak berubah, tidak goyah. "Kita sudah berteman dua belas tahun. Aku butuh tujuan khusus untuk mengajak minum kopi?"
"Kita tidak pernah sekadar minum kopi."
Sedetik keheningan. Lalu Vivienne tertawa kecil — tulus, mengejutkan. "Benar juga. Kita memang tidak pernah seperti itu."
...✦ ✦ ✦...
Pertemuan ini dimulai tiga hari lalu, ketika Vivienne mengirim pesan singkat ke telepon Gwyneth.
Sudah lama tidak ketemu. Kopi minggu ini?
Kirana hampir tidak membalasnya. Tapi kemudian ia ingat — dalam novel, Vivienne adalah orang yang tahu lebih banyak tentang Gwyneth dari yang tampak. Bukan sahabat sejati, tapi saksi. Orang yang ada di cukup banyak momen penting untuk menyimpan potongan-potongan gambaran yang, jika disatukan, bisa membentuk sesuatu yang berbahaya.
Lebih baik menghadapinya langsung daripada membiarkan jarak menimbulkan pertanyaan yang lebih besar.
Jadi Kirana membalas. Dan kini ia duduk di sini, di kafe dengan langit-langit tinggi, belajar membaca seseorang yang ia ciptakan hanya dalam satu paragraf.
"Xavier bilang ibunya berkunjung minggu lalu," kata Vivienne, mengaduk kopinya.
"Bagaimana?"
"Baik."
"Ibu Zhang tidak pernah benar-benar menyukaimu."
Pernyataan itu diucapkan ringan, seperti fakta cuaca. Kirana tidak terlonjak — ia sudah belajar bahwa Vivienne bergerak seperti air: mengalir ke tempat yang rendah, menemukan celah, tidak terburu-buru.
"Hubungan kami sudah membaik," kata Kirana.
Alis Vivienne naik tipis. "Sungguh."
"Sungguh."
Vivienne menatapnya beberapa detik — menatap dengan cara yang berbeda dari cara orang biasanya menatap, lebih dalam, lebih lama, seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu yang spesifik. Kirana bertahan di bawah tatapan itu dengan tenang yang ia harap terlihat seperti tenang Gwyneth dan bukan tenang seorang penulis yang sedang berpura-pura.
"Amethysta?" tanya Vivienne akhirnya.
"Baik."
"Kamu tidak biasanya menjawab pertanyaan tentang Amethysta dengan 'baik' saja."
Kirana meletakkan cangkirnya. "Biasanya aku menjawab bagaimana?"
Vivienne tersenyum lagi — kali ini ada sesuatu di baliknya yang Kirana tidak bisa langsung baca. "Biasanya kamu mengalihkan topik. Atau menjawab dengan cara yang membuat pertanyaannya tidak perlu dijawab." Jeda kecil. "Kamu tidak melakukan itu hari ini."
Kirana memilih diam sebagai jawaban — bukan diam yang defensif, tapi diam yang memberi ruang bagi Vivienne untuk mengisi sendiri.
Dan Vivienne mengisinya. "Aku mendengar dari Rena bahwa kamu mulai mengantar Amethysta ke sekolah sendiri."
*Rena.* Kirana menyimpan nama itu — orang tua murid lain, rupanya, yang melihat dan menyampaikan. Dunia kecil. Selalu dunia kecil.
"Ya," kata Kirana.
"Setiap hari?"
"Hampir setiap hari."
Vivienne memandanginya lagi dengan tatapan yang sama — mencari, menimbang. Lalu ia meletakkan cangkirnya dan bersandar ke kursi, mengubah bahasa tubuhnya dari yang formal-sosial menjadi sesuatu yang lebih langsung.
"Gwyneth," katanya, dan kali ini nada namanya berbeda — lebih pelan, lebih pribadi. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
...✦ ✦ ✦...
Kirana menatap wanita di seberangnya.
Dua belas tahun persahabatan — atau apapun yang bisa disebut persahabatan di antara dua orang seperti Gwyneth dan Vivienne. Dua belas tahun yang Kirana tidak alami, yang hanya ia ketahui dalam garis besar dari tulisannya sendiri. Dan di balik pertanyaan itu ada sesuatu yang Kirana tidak antisipasi ketika ia hanya menulis Vivienne dalam satu paragraf: kepedulian yang nyata, meski datang dalam kemasan yang tidak mudah diidentifikasi sebagai kepedulian.
"Tidak ada yang terjadi," kata Kirana. "Atau mungkin lebih tepatnya — sesuatu yang seharusnya sudah lama terjadi akhirnya terjadi."
Vivienne tidak langsung menjawab.
"Kamu tahu," kata Vivienne akhirnya, pelan, "aku sudah mengenal kamu cukup lama untuk tahu kapan kamu sedang membangun dinding. Dan aku mengenal kamu cukup lama untuk tahu bahwa dinding yang kamu bangun biasanya tidak untuk melindungi dirimu dari orang lain." Jeda. "Tapi dari dirimu sendiri."
Kirana menatapnya. Kalimat itu terasa seperti pisau yang masuk dari sudut yang tidak ia duga.
"Dan sekarang," lanjut Vivienne, "dinding itu tidak ada. Atau setidaknya, ada lubang di sana-sini." Ia mengangkat cangkirnya lagi. "Itu tidak buruk, Gwyneth. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja di tengah proses apapun yang sedang kamu jalani."
Kirana duduk dengan kata-kata itu selama beberapa detik. Dua belas tahun. Dan Vivienne, yang ia tulis hanya dalam satu paragraf karena ia pikir tidak penting, rupanya menyimpan versi Gwyneth yang tidak pernah Kirana tulis — versi yang lebih kompleks, yang punya kerentanan yang disembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
Kamu menulis monster,* batin Kirana, *tapi kamu tidak cukup lama duduk bersamanya untuk melihat bahwa monster juga punya orang yang mau repot-repot bertanya apakah ia baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja," kata Kirana. Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, kalimat itu tidak terasa seperti sandiwara.
...✦ ✦ ✦...
Mereka berbicara dua jam.
Bukan dua jam yang Kirana rencanakan — ia berencana tiga puluh menit, cukup untuk menjaga hubungan ini tidak menjadi sumber pertanyaan berbahaya, lalu pergi. Tapi percakapan mengalir ke arah yang tidak ia antisipasi, dan Kirana menemukan dirinya mendengarkan lebih banyak dari yang ia rencanakan.
Vivienne bercerita tentang kasus yang sedang ia tangani — dengan cara yang tidak menjelaskan detailnya tapi menggambarkan beratnya. Tentang klien yang membutuhkan lebih dari sekadar pengacara. Tentang batas antara profesional dan manusiawi yang semakin sulit dijaga.
Dan di tengah cerita itu, tanpa peralihan yang jelas, Vivienne berkata, "Aku iri padamu, tahu tidak."
Kirana menatapnya. "Iri?"
"Dulu aku pikir kamu punya segalanya dalam kendali." Vivienne menatap kopinya yang sudah hampir habis. "Rumah yang sempurna. Suami yang tidak pernah mempertanyakan keputusanmu. Hidup yang berjalan persis seperti yang kamu inginkan." Jeda. "Tapi kendali yang sempurna juga dingin yang sempurna. Dan aku tidak pernah benar-benar iri pada kamu, sebenarnya. Aku hanya tidak punya kata yang lebih tepat untuk apa yang aku rasakan waktu itu."
Kirana diam, membiarkan Vivienne menemukan ujung kalimatnya.
"Sekarang," kata Vivienne, "kamu terlihat lebih hangat. Kurang terkendali. Lebih seperti orang yang sedang belajar tinggal di dalam hidupnya sendiri daripada mengelolanya dari jarak aman." Ia mengangkat matanya. "Dan itu terlihat lebih baik. Meski aku tahu itu pasti lebih sulit."
Kirana tidak menjawab segera. Di luar jendela kafe, kota bergerak dengan ritmenya sendiri — orang-orang yang tidak tahu bahwa di dalam sini, seseorang yang bukan siapa yang ia tampakkan sedang menerima pengamatan yang lebih akurat tentang dirinya dari yang ia sadari.
"Lebih sulit," akhirnya Kirana mengakui. "Tapi ya — lebih baik."
Vivienne mengangguk pelan. Meneguk sisa kopinya. Dan tidak bertanya lebih jauh — seolah jawaban itu sudah cukup, seolah ia sudah mendapatkan apa yang sebenarnya ia cari dari pertemuan ini, dan itu bukan informasi atau konfirmasi atau apapun yang strategis.
Hanya kepastian bahwa temannya — versi temannya yang manapun yang sedang duduk di sini hari ini — baik-baik saja.
...✦ ✦ ✦...
Kirana pulang dengan kepala yang lebih penuh dari saat ia berangkat.
Di mobil, ia menatap kota yang bergerak di luar jendela dan memikirkan Vivienne — satu paragraf yang ia tulis tanpa cukup memperhatikan, yang ternyata menyimpan lebih banyak dari yang ia berikan. Berapa banyak lagi karakter seperti ini yang ada di sini? Berapa banyak orang yang ia ciptakan dengan tangan kanan sambil berpikir tentang hal lain, yang ternyata punya kehidupan dalam yang tidak pernah ia luangkan waktu untuk menuliskan?
Gwyneth bukan hanya monster yang melahirkan monster.
Gwyneth adalah manusia yang tidak sempurna yang hidup di antara manusia-manusia tidak sempurna lainnya, di dunia yang — meski Kirana yang menciptakannya — sudah berkembang melampaui imajinasi penciptanya.
Pemikiran itu terasa berat dan ringan pada saat yang sama.
Amethysta sudah pulang dari sekolah ketika Kirana tiba. Ia ada di ruang belajar, mengerjakan PR dengan teliti, dan menoleh sebentar saat Kirana melongok dari pintu.
"Mama dari mana?" tanya Amethysta.
"Ketemu teman lama." Kirana masuk, duduk di kursi kecil di sudut ruangan. "PR-nya banyak?"
"Matematika." Amethysta mengernyit pada kertasnya. "Pecahan. Aku tidak suka pecahan."
"Kenapa?"
"Karena angkanya tidak bulat. Setengah, sepertiga, seperempat — terasa tidak selesai."
Kirana menatap gadis kecil itu. Tujuh tahun, dan sudah punya filosofi tentang angka. "Tapi hal-hal yang tidak bulat bisa tetap berguna. Setengah lingkaran masih bisa jadi mangkuk. Sepertiga dari sesuatu masih bisa berarti."
Amethysta mempertimbangkan ini. "Seperti cerita yang belum selesai?"
Kirana tersenyum kecil. "Seperti cerita yang belum selesai."
Amethysta mengangguk dengan ekspresi seseorang yang menerima analogi itu sebagai jawaban yang cukup memuaskan, lalu kembali ke pecahannya dengan sedikit lebih sedikit kernyitan di dahiNya.
Kirana duduk di kursi sudut dan menemaninya mengerjakan PR — tidak membantu kalau tidak diminta, tidak mengisi keheningan dengan kata-kata yang tidak perlu. Hanya ada, di ruangan yang sama, dengan cahaya sore masuk dari jendela dan suara pensil bergerak di atas kertas.
Hal-hal biasa.
Yang ternyata adalah hal-hal yang paling tidak biasa dari semua yang ia alami sejak terbangun di tubuh ini.
...✦ ✦ ✦...
Malam itu, setelah Amethysta tidur, Kirana menemukan Xavier di teras belakang.
Ia berdiri di sana dengan tangan di saku, menatap taman yang sudah gelap, langit di atasnya bersih setelah beberapa hari hujan. Bintang-bintang ada tapi tidak seramai yang Amethysta gambar di kertas-kertasnya — cahaya kota memakan sebagian besar dari mereka, hanya menyisakan yang paling terang.
"Vivienne menghubungimu?" tanya Kirana, berdiri di sisinya.
Xavier menoleh sebentar. "Tadi sore. Bilang kamu terlihat baik. Itu saja." Jeda kecil. "Vivienne tidak banyak bicara kalau yang ia katakan sudah cukup."
"Aku tahu."
Mereka berdiri berdampingan di teras, menatap taman yang gelap dan langit yang setengah berbintang. Di dalam rumah, Amethysta tidur dengan atlas bintangnya. Di suatu tempat di kota, Vivienne mungkin masih bekerja atau mungkin sudah pulang ke apartemennya yang Kirana bayangkan rapi dan sedikit terlalu sunyi.
"Xavier," kata Kirana.
"Hm."
"Kamu pernah bertanya-tanya apakah kamu mengenal seseorang sepenuhnya? Orang yang sudah lama bersamamu?"
Xavier diam sebentar. Berpikir sungguhan, bukan mengulur waktu. "Sering," katanya akhirnya. "Tapi aku rasa mengenal seseorang sepenuhnya bukan tujuan yang realistis. Yang lebih realistis adalah terus belajar mengenal mereka. Setiap hari sedikit lebih banyak dari kemarin."
Kirana menatap langit yang setengah berbintang. Setiap hari sedikit lebih banyak dari kemarin.
"Itu jawaban yang baik," katanya pelan.
"Itu jawaban yang jujur," koreksi Xavier. Lalu, setelah jeda singkat, "Kamu juga orang yang terus aku pelajari. Setiap hari."
Kirana tidak menjawab. Tapi ia tidak perlu menjawab — ada hal-hal yang cukup didengar, yang tidak membutuhkan kata untuk menanggapinya, yang hidupnya justru ada di dalam keheningan setelah ia diucapkan.
Di atas mereka, di antara cahaya kota yang memakan sebagian besar bintang, tiga titik cahaya berbaris rapi — samar, tapi ada.
Sabuk Orion.
Kirana menatapnya dan berpikir tentang Amethysta yang menemukannya pertama kali di taman belakang, tentang anak tujuh tahun yang memilih konstelasi pelindung sebagai favoritnya, tentang satu paragraf yang ia tulis tanpa cukup memperhatikan yang ternyata menyimpan dua belas tahun persahabatan yang tidak sempurna tapi nyata.
Tentang dunia yang tumbuh melampaui imajinasi penciptanya.
Mungkin,* pikir Kirana, *itu memang seharusnya begitu.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...