Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Hari Minggu di Desa Asih adalah jeda yang sakral. Matahari pagi merambat pelan di sela ranting pepohonan, membawa kehangatan yang kontras dengan embun yang masih menempel di dedaunan. Bagi sebagian besar warga, ini adalah waktu untuk beristirahat di rumah atau pergi ke pasar kecamatan. Namun bagi Mika dan Alvaro, ini adalah kesempatan langka untuk menghirup udara yang sama tanpa harus bersembunyi di balik tumpukan laporan.
Mika sudah berdiri di persimpangan jalan setapak yang menuju ke arah perbukitan pinus, area yang jarang dilewati warga karena jalannya yang terjal. Ia mengenakan celana legging hitam dan jaket hoodie tipis. Tak lama, sosok Alvaro muncul dengan pakaian santai—kaos hitam yang mencetak jelas otot dadanya dan celana kargo.
"Kamu yakin ini nggak ada orang lewat, Al?" bisik Mika, suaranya sedikit gemetar karena waswas.
Alvaro mendekat, memberikan senyum tenang yang menghanyutkan. "Yakin. Warga biasanya jam segini kumpul di pasar bawah. Ayo..."
Mereka mulai berjalan beriringan. Awalnya ada jarak satu langkah di antara mereka, namun perlahan, jemari Alvaro menyelinap ke sela jemari Mika, menggenggamnya erat. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi ilalang tinggi, sesekali melirik ke kiri dan ke kanan seperti sepasang buronan yang sedang mencari kebebasan.
"Ternyata jalan-jalan tanpa perlu bahas irigasi itu enak ya," gumam Mika sambil menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Alvaro saat mereka berjalan.
"Itu karena kamu terlalu sering menganggapku robot," balas Alvaro rendah, ia mengayunkan genggaman tangan mereka.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekejap.
"Aduh, Ga! Haha kamu lucu banget sih!"
Suara tawa Asia pecah dari arah balik bukit kecil di depan mereka. Jantung Mika seolah merosot ke perut. Itu suara Asia, dan tak salah lagi, Arga ada di sana.
"Al, i... itu sembunyi, Al!" panik Mika. Suara langkah kaki dan deru motor Arga terdengar semakin mendekat.
Tanpa banyak bicara, Alvaro menarik tangan Mika dengan sentakan kuat. Mereka tidak bisa kembali ke jalan utama. Satu-satunya jalan adalah masuk lebih dalam ke arah hutan jati yang rimbun di sisi kiri jalan.
"Cepat, Mika!" bisik Alvaro.
Mereka berlari menembus semak belukar. Ranting-ranting kecil menyabet pakaian mereka, namun adrenalin membuat Mika tidak merasakan perih. Mereka terus berlari, menjauh dari suara Asia dan Arga yang mulai memudar, masuk semakin dalam ke jantung hutan di mana pepohonan tumbuh rapat dan cahaya matahari mulai kesulitan menyentuh tanah.
Setelah merasa cukup jauh, Alvaro menghentikan langkahnya. Napas mereka memburu, bersahutan di tengah kesunyian hutan yang hanya diisi suara gesekan daun.
Mika membungkuk, memegangi lututnya yang lemas. "Duh, Al... ini kita udah terlalu jauh nggak sih? Aku takut. Aku nggak pernah ke area sini sebelumnya."
Alvaro melihat sekeliling. Pohon-pohon di sini jauh lebih besar dan tua. Jalur setapak yang tadi mereka lewati sudah benar-benar hilang tertutup rimbunnya pakis hutan. Mereka tersesat.
"Tenang, Mika. Aku tahu arah mata angin. Kita hanya perlu istirahat sebentar sampai napasmu stabil," ucap Alvaro. Ia menuntun Mika duduk di sebuah batang pohon tumbang yang tertutup lumut hijau lembut.
Kondisi hutan yang lembap dan sepi menciptakan suasana yang sangat terisolasi. Dunia luar, KKN, Asia, Arga, dan masalah desa seolah lenyap, menyisakan mereka berdua di tengah rahim alam yang liar.
Alvaro berdiri di depan Mika, menatap gadis itu yang wajahnya memerah karena berlari. Keringat tipis mengalir di pelipis Mika, jatuh ke lehernya. Sudut mata Alvaro menggelap. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan bagaimana keberadaan Mika di tengah hutan yang sunyi ini membangkitkan insting purbanya.
"Kamu masih takut?" tanya Alvaro, suaranya kini berubah menjadi serak dan berat.
Mika mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Alvaro yang begitu intens. "Sedikit... tapi karena ada kamu, jadi nggak terlalu."
Alvaro berlutut di depan Mika, meletakkan kedua tangannya di paha Mika. Sentuhan itu terasa panas meski terhalang kain legging. "Maaf ya, jalan-jalan santainya malah jadi pelarian begini."
Mika menggeleng pelan, jemarinya bergerak menyisir rambut Alvaro yang sedikit berantakan. "Nggak apa-apa. Malah jadi petualangan, kan?"
Keheningan hutan seolah memberikan izin bagi mereka untuk melampaui batas yang biasanya mereka jaga di desa. Alvaro menarik Mika agar berdiri, lalu menyandarkan tubuh gadis itu ke batang pohon besar di belakang mereka.
"Al..." desis Mika saat merasakan tubuh Alvaro yang kokoh menghimpitnya.
Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih dalam dan menuntut daripada sebelumnya. Di sini, di bawah kanopi daun yang rapat, tidak ada lagi protokol Kepala Desa. Ciuman itu terasa liar, bercampur dengan aroma tanah basah dan gairah yang sudah lama mereka tekan sejak kejadian di rumah joglo semalam.
Tangan Alvaro menyelinap ke balik jaket hoodie Mika, menyentuh kulit pinggang Mika yang halus, memberikan sensasi terbakar yang membuat Mika melenguh pelan di sela ciuman mereka. Mika menarik kaos Alvaro, meremas otot punggung pria itu dengan kuku-kukunya yang mungil.
"Kamu tahu..." bisik Alvaro di ceruk leher Mika, napasnya memburu dan panas. "Berada di sini bersama kamu... membuat saya ingin egois. Saya ingin waktu berhenti, agar saya tidak perlu berbagi kamu dengan siapa pun di bawah sana."
Mika merasakan getaran di setiap sarafnya. Ia menarik kepala Alvaro agar kembali menatapnya. Mata pria itu penuh dengan damba dan kepemilikan. "Maka jangan berbagi sekarang, Al. Malam ini, besok, atau lusa... aku milik kamu."
Di tengah kesunyian hutan yang tersesat, mereka menciptakan dunia mereka sendiri. Setiap sentuhan Alvaro adalah janji, dan setiap rintihan Mika adalah pengakuan. Gairah itu meledak di tengah sunyinya pepohonan, sebuah rahasia yang terkunci rapat di antara batang-batang jati yang menjulang tinggi.
Waktu seolah terdistorsi. Saat mereka akhirnya memutuskan untuk mencari jalan pulang, matahari sudah mulai condong ke barat. Alvaro dengan sigap memandu Mika, menebas semak-semak dengan ranting kayu untuk membuka jalan.
Begitu mereka sampai di pinggir desa, hari sudah mulai temaram. Mika merapikan rambutnya yang berantakan dan jaketnya yang terkena noda tanah.
"Aku balik lewat jalan belakang posko ya, Al," ucap Mika pelan, wajahnya masih menyisakan rona bekas kejadian tadi.
"Iya. Sampai ketemu besok di Balai Desa, Neng Mika," balas Alvaro, kembali ke mode formalnya namun matanya tetap mengedipkan rahasia.
Mika menyelinap masuk ke posko melalui pintu dapur. Ia pikir ia sudah aman, sampai ia melihat Asia dan Siti sedang duduk di meja makan sambil menatapnya dengan tatapan "interogasi tingkat tinggi".
"Dari mana lo, Mik? Katanya cari sinyal, kok baju lo penuh daun kering sama tanah gitu?" tanya Siti sambil menunjuk noda di bahu Mika.
Asia mendekat, ia menarik selembar daun pakis kecil yang tersangkut di rambut Mika. "Dan sejak kapan di tempat cari sinyal ada tanaman hutan yang cuma tumbuh di puncak bukit ini, Mik?"
Mika mematung di tempat. Ia lupa kalau Asia adalah mahasiswi biologi yang sangat hafal jenis tanaman.
"Itu... tadi gue... gue tadi liat ular lagi! Gue kejar sampe ke semak-semak!" jawab Mika asal, berusaha menutupi kepanikannya.
Siti dan Asia saling lirik, lalu tertawa serempak. "Ular ya? Gede nggak? Atau ularnya pake baju Kades?" sindir Asia pedas.
Mika segera kabur ke kamar mandi, mengunci pintu dan menyandarkan kepalanya di sana. Ia menyentuh bibirnya yang masih sedikit perih, tersenyum kecil di tengah rasa takutnya yang ketahuan. Tersesat bersama Alvaro ternyata adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya di desa ini—meskipun risikonya adalah menjadi bahan gosip abadi kedua temannya.