NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

BAB 15

 SABOTASE DI TENGAH LARUT

​Malam di lokasi proyek Green Oasis biasanya hanya diisi oleh dengung lampu merkuri dan langkah kaki petugas keamanan yang berpatroli. Namun, malam ini, keheningan itu pecah oleh sirine peringatan yang memekakkan telinga dari ruang kendali pusat.

​Adrian Aratama, yang baru saja hendak meninggalkan kantor lapangan, berlari menuju area sensor beban fondasi. Di sana, Aisha sudah berdiri lebih dulu, menatap layar monitor dengan wajah pucat di balik cadarnya.

​"Apa yang terjadi?" suara Adrian menggelegar di antara deru mesin pompa yang mendadak bekerja di luar kendali.

​"Seseorang meretas sistem kontrol tekanan hidrolik pada shoring (penyangga) sementara di sektor selatan, Pak," jawab Aisha, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard komputer industri. "Tekanannya dinaikkan secara paksa hingga batas kritis. Jika ini terus berlanjut, dinding penahan tanah akan jebol dan menimpa area pemukiman di bawahnya dalam waktu kurang dari dua jam."

​Adrian mengumpat keras. "Sabotase. Bianca atau ayahnya... atau mungkin kompetitor lain. Barja! Mana tim IT lapangan?"

​"Server pusat dikunci dari luar, Pak! Kami tidak bisa masuk ke protokol manual!" teriak Barja dari arah ruang mesin.

​Adrian menatap Aisha. Di bawah lampu neon yang berkedip, mata wanita itu memancarkan konsentrasi yang luar biasa. Tidak ada ruang untuk tangisan atau ketakutan akan perjodohan yang menghantuinya sore tadi. Di saat krisis, arsitek di dalam dirinya mengambil alih sepenuhnya.

​"Pak Adrian, saya butuh Anda di katup manual sektor B. Saya akan mencoba membobol firewall dari sini, tapi kita butuh pelepasan tekanan secara fisik untuk mengulur waktu," perintah Aisha.

​Adrian tertegun sejenak—jarang ada orang yang berani memerintahnya—namun ia segera mengangguk. "Beri aku radio. Pandu aku dari sini."

​Selama tiga jam berikutnya, lokasi proyek berubah menjadi panggung perjuangan hidup dan mati. Adrian, sang CEO yang biasanya hanya menyentuh pena mahal, kini berkubang lumpur dan oli. Ia memutar tuas besi raksasa yang macet, otot-otot lengannya menegang hingga gemetar, sementara instruksi Aisha terus mengalir melalui earpiece di telinganya.

​"Putar ke kiri tiga kali, sekarang! Pak Adrian, tekanannya naik lagi, Anda harus lebih cepat!" suara Aisha terdengar tegas namun ada nada kecemasan yang tertahan.

​"Aku... sedang... berusaha!" geram Adrian, keringat membanjiri wajahnya.

​Setelah perjuangan yang melelahkan, tekanan akhirnya stabil. Sistem berhasil diambil alih kembali oleh Aisha setelah ia menemukan backdoor yang sengaja ditinggalkan oleh sang peretas.

​Larut malam pun tiba. Jam di dinding kantor menunjukkan pukul 02.00 pagi. Suasana menjadi sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air dan napas mereka yang masih memburu. Adrian kembali ke kantor lapangan dengan kemeja yang sudah robek di bagian lengan dan noda oli di pipinya.

​Ia menemukan Aisha masih duduk di depan monitor, bahunya tampak merosot karena kelelahan yang luar biasa.

​"Kita berhasil," ucap Adrian pelan. Ia menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, menatap Aisha dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Aisha mendongak, matanya tampak sangat letih. "Alhamdulillah. Jika terlambat sepuluh menit saja, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada rumah-rumah di bawah sana."

​Adrian berjalan mendekat, mengambil sebuah botol air mineral dan memberikannya kepada Aisha—meletakkannya di meja agar tidak terjadi sentuhan. "Kau menyelamatkan proyek ini. Lagi."

​"Kita menyelamatkannya, Pak," koreksi Aisha.

​Adrian duduk di atas meja, tidak jauh dari Aisha. Kelelahan fisik tampaknya meruntuhkan tembok pertahanan emosionalnya. "Aisha... tentang pembicaraan kita sore tadi. Tentang... pria itu. Ustadz itu."

​Aisha terdiam, menatap jemarinya yang terbungkus sarung tangan hitam. "Kenapa Anda membahasnya sekarang?"

​"Karena di tengah kekacauan tadi, saat aku pikir gedung ini akan runtuh, hal pertama yang terlintas di pikiranku bukan kerugian materinya," Adrian menjeda, suaranya merendah dan menjadi sangat intim. "Hal pertama yang kupikirkan adalah: jika proyek ini gagal, kau akan punya alasan untuk berhenti dan mengikuti kemauan ayahmu. Dan aku menyadari... aku lebih takut kehilangan rekan kerjaku yang menyebalkan ini daripada kehilangan seluruh hartaku."

​Aisha merasakan dadanya sesak. "Pak Adrian, jangan katakan hal-hal yang tidak bisa Anda pertanggungjawabkan."

​"Aku serius," Adrian mencondongkan tubuh, aroma oli dan keringatnya terasa begitu maskulin di ruangan sempit itu. "Logikaku bilang kau adalah masalah besar bagi hidupku. Kau berhijab, kau punya aturan yang ketat, kau percaya pada Tuhan yang tidak bisa kulihat. Tapi malam ini, saat kau memanduku di tengah bahaya... aku merasa seolah kaulah satu-satunya hal yang nyata di dunia yang penuh tipuan ini."

​Aisha berdiri, mencoba menjaga jarak. "Dunia saya dan dunia Anda tetap tidak akan pernah bertemu, Pak. Ayah saya... beliau tidak akan pernah menerima pria yang bahkan tidak mengenal arah kiblat."

​"Maka ajari aku," tantang Adrian.

​Kalimat itu membuat Aisha terpaku. "Apa?"

​"Ajari aku tentang apa yang membuatmu begitu tenang. Ajari aku tentang 'keseimbangan' yang sering kau bicarakan," Adrian berdiri, menatap mata Aisha dengan intensitas yang meluluhkan. "Jangan menyerah pada perjodohan itu dulu. Beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi apa yang kau butuhkan, tanpa aku harus kehilangan diriku sendiri."

​"Itu mustahil," bisik Aisha, air mata mulai menggenang di pelupis matanya. "Anda melakukan ini karena obsesi, bukan karena iman."

​"Mungkin awalnya begitu," aku Adrian jujur. "Tapi malam ini, saat aku melihatmu berdoa di pojok ruangan setelah sistem pulih... aku merasa iri. Aku iri karena kau punya tempat untuk mengadu, sementara aku hanya punya diriku sendiri yang lelah ini. Aku ingin tahu apa yang rasanya memiliki 'pegangan' itu."

​Aisha terisak pelan. Ia merasa sangat rapuh. Tekanan dari ayahnya, ancaman sabotase, dan kini pengakuan dari Adrian yang begitu mengguncang imannya. Di ruangan yang sepi dan remang-remang itu, godaan untuk bersandar pada bahu pria di depannya terasa begitu kuat.

​Adrian melangkah maju, tangannya ragu-ragu menggantung di udara. Ia ingin menghapus air mata yang membasahi kain cadar Aisha, namun ia teringat pada batasan wanita itu. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya di samping tubuh.

​"Jangan menangis," ucap Adrian lembut, sebuah nada yang sangat asing keluar dari bibirnya. "Arsitek hebat tidak menangis karena masalah yang bisa diperbaiki. Kita akan cari jalannya, Aisha. Aku akan bicara pada ayahmu jika perlu."

​"Jangan!" cegat Aisha. "Itu hanya akan memperburuk keadaan. Ayah akan mengira saya sudah... menyimpang."

​"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Adrian putus asa. "Membiarkanmu menikah dengan pria yang tidak tahu betapa cerdasnya kau saat menghitung beban angin? Membiarkanmu menjadi ibu rumah tangga yang terkubur di balik tembok-tembok rumah sementara kau punya sayap untuk membangun dunia?"

​Aisha menatap Adrian, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Adrian yang tidak sombong. Ia melihat seorang pria yang jujur dalam ketidaktahuannya.

​"Berikan saya waktu," ucap Aisha akhirnya. "Minggu depan Ustadz Salman akan datang. Saya akan... saya akan mencoba bicara pada Ayah sekali lagi. Tapi tolong, Pak Adrian... jangan buat ini semakin sulit bagi saya dengan menunjukkan perasaan Anda secara terbuka di kantor."

​Adrian menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang penuh kemenangan sekaligus kepedihan muncul di bibirnya. "Baik. Aku akan menjadi CEO yang dingin lagi besok pagi. Tapi ingat, Aisha... di bawah helm proyek dan di balik laporan keuangan ini, ada seorang pria yang sedang belajar untuk tidak sekadar percaya pada angka."

​Mereka berdiri diam dalam keheningan yang romantis namun sarat dengan beban. Di luar, fajar mulai menyingsing, memberikan warna ungu di langit Jakarta yang berdebu. Sabotase itu mungkin sudah teratasi, namun sabotase di dalam hati mereka masing-masing baru saja meledak, menghancurkan tatanan lama dan menyisakan reruntuhan yang harus mereka bangun kembali menjadi sesuatu yang baru.

​"Pulanglah, Aisha," kata Adrian sambil mengambil kunci mobilnya. "Aku akan mengantarmu sampai depan gang. Kau butuh istirahat sebelum menghadapi hari esok."

​Aisha mengangguk pelan. Saat mereka berjalan menuju parkiran, embun pagi menyentuh pakaian mereka. Aisha merasa seolah ia sedang berjalan di atas jembatan yang sangat tipis. Di satu sisi ada kewajiban dan restu, di sisi lain ada cinta yang tumbuh di tempat yang paling tidak mungkin.

​Dan di antara keduanya, ia hanya bisa terus melangkah, berharap bahwa "Mizan" atau keseimbangan yang ia agungkan akan memberikan jawaban sebelum jembatan itu patah.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!