Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Sore itu, suasana di apartemen mewah Fharell terasa tenang hingga bel pintu berbunyi dengan nada yang mendesak. Fharell, yang hanya mengenakan kaos santai sambil duduk di karpet bermain bersama Andreas Sunny, mengernyitkan dahi. Paroline sedang keluar belanja keperluan bulanan, meninggalkan dua jagoannya di rumah.
Begitu pintu dibuka, sosok Danesha Smith berdiri di sana. Wajahnya tidak lagi sesombong di kafe, ada gurat kelelahan dan kecemasan yang mendalam akibat serangan bisnis bertubi-tubi dari Desmon Group.
"Kau datang kemari, Danesha? Kurasa kita punya urusan yang harus diselesaikan di meja hijau atau di bursa saham, bukan di depan pintu rumahku," ujar Fharell dengan suara dingin yang menusuk.
Danesha menarik napas panjang, mencoba meredam egonya. "Fharell, aku kemari bukan untuk bertengkar. Aku ingin memperbaiki hubungan bisnis kita. Ayahku terus menekan ku, dan aku sadar... aku mungkin terlalu jauh mencampuri urusan pribadimu. Bisakah kita bicara?"
Fharell terdiam sejenak, lalu memberikan jalan. "Masuklah. Tapi jangan harap ada kopi untuk tamu sepertimu."
Mereka duduk di ruang tengah. Andreas Sunny, yang sedang asyik dengan mobil-mobilannya, merangkak mendekat ke arah kaki Fharell.
"Papa... Papa... ayo Tita main! mobil...!" celoteh Sunny sambil menarik ujung celana Fharell, meminta perhatian.
Fharell membungkuk, mengangkat Sunny ke pangkuannya dengan gerakan yang sangat protektif. Namun, saat ia menatap wajah Sunny dari jarak sedekat ini, dan kemudian melirik ke arah Danesha yang duduk di depannya sebuah kilatan aneh melintas di otak Fharell.
Tunggu dulu, batin Fharell. Ia menatap hidung Sunny yang bangir, lalu menatap hidung Danesha. Ia memperhatikan bentuk mata Sunny yang besar, lalu membandingkannya dengan Danesha.
Selama ini, Fharell merasa Sunny mirip dengan Paroline karena ia percaya Paroline adalah ibunya. Dan uniknya, karena mereka sering bersama, orang-orang mulai bilang Sunny mirip Fharell, mungkin karena ikatan batin yang kuat. Tapi saat Danesha duduk tepat di hadapannya, Fharell menyadari sesuatu yang mengerikan. Ada kemiripan yang sangat familiar di sana. Garis wajah Sunny adalah versi malaikat dari garis wajah iblis milik Danesha Smith.
Danesha sendiri tampak terpaku. Matanya tidak lepas dari Andreas Sunny. Ia merasa jantungnya berdegup tidak karuan. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya, rasa familiar yang tidak bisa ia jelaskan.
"Kenapa kau melihat anakku seperti itu?" tanya Fharell, suaranya kini mengandung nada ancaman yang lebih dalam.
Danesha berdehem, mencoba mengalihkan pandangannya meski sulit. "Entahlah, Rell... kenapa aku merasa sangat familiar dengan anakmu? Rasanya seperti... seperti aku pernah melihat wajah ini di suatu tempat. Sangat dekat."
Fharell tertawa sinis, meski hatinya mulai berkecamuk. Ia mengeratkan pelukannya pada Sunny. "Jelas familiar, Danesha. Dia anakku. Dan karena kau sering melihat wajahku di berita bisnis, mungkin itu sebabnya kau merasa dia mirip denganku."
Danesha mematung. Ia menatap Sunny lagi yang kini sedang tertawa sambil memutar roda mobil mainannya. "Ya... mungkin kau benar. Memang ada kemiripan antara kau dan dia. Tapi matanya... matanya mengingatkanku pada seseorang."
Danesha teringat pada Sania. Namun, karena ia sangat terobsesi pada Paroline, otaknya menolak menghubungkan Sunny dengan Sania. Ia justru berpikir, Apakah ini anak Paroline denganku saat malam di klub itu? Tidak, dia menamparku. Tapi bagaimana jika... Pikiran gila Danesha mulai berkelana ke arah yang salah, mengira Sunny adalah hasil hubungannya dengan Paroline yang ia lupakan karena mabuk.
"Jadi, apa maumu?" potong Fharell, tidak ingin Danesha menatap putranya lebih lama lagi.
"Hentikan seranganmu pada perusahaan ayahku, Fharell. Aku minta maaf soal kata-kataku di kafe. Aku akui, aku hanya iri padamu. Kau mendapatkan Paroline, wanita yang sejak dulu tidak pernah bisa ku sentuh," Danesha mengakui dengan suara rendah, harga dirinya hancur berkeping-keping di lantai apartemen Fharell.
Fharell menatap Danesha dengan pandangan muak. "Kau tidak hanya berutang maaf padaku, Danesha. Kau berutang maaf pada setiap orang yang kau hancurkan hidupnya hanya demi egomu."
Fharell berdiri, menggendong Sunny yang masih asyik mengoceh "ngeng... ngeng...".
"Pulanglah, Danesha. Aku akan mempertimbangkan untuk menghentikan serangan ku jika kau berjanji tidak akan pernah menampakkan wajahmu lagi di depan istri dan anakku. Jika kau melanggar... aku tidak hanya akan menghancurkan perusahaanmu, tapi aku akan memastikan kau tidak punya tempat untuk bersembunyi di kota ini."
Danesha berdiri, kakinya terasa lemas. Saat ia berjalan menuju pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah Sunny. Bocah itu melambaikan tangan kecilnya, sebuah gerakan polos yang membuat Danesha merasakan sesak yang luar biasa di dadanya.
Begitu pintu tertutup, Fharell langsung terduduk lemas di sofa. Ia menatap Sunny dalam-dalam.
Hampir saja, bisik Fharell dalam hati. Ia menyadari bahwa kemiripan itu semakin nyata seiring bertumbuhnya Sunny. Ia harus segera mempercepat proses hukum adopsi dan mengganti semua data medis Sunny sebelum Danesha menyadari bahwa rasa familiar itu adalah ikatan darah yang nyata.
Fharell mencium kening Sunny dengan posesif. "Kau anak Papa, Sunny. Hanya anak Papa. Tidak akan kubiarkan pria brengsek itu mengklaim mu, bahkan jika dia memohon sambil bersujud di depanku."
Malam itu, Fharell menyadari bahwa perang yang sesungguhnya bukan lagi di bursa saham, melainkan perang untuk menjaga identitas putra yang sangat ia cintai agar tidak jatuh ke tangan seorang Smith.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰