NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Jejak Pertama ke Dunia yang Tak Terlihat

Tak butuh waktu lama bagi Kiara dan Aditya untuk sampai ke rumah Bima. Hanya beberapa gang dan komplek perumahan yang memisahkan rumah mereka dengan rumah Bima. Namun bagi Kiara, setiap langkah terasa seperti menembus jarak yang lebih panjang daripada nyata, seolah hatinya ditarik ke arah sesuatu yang tidak terlihat.

Kiara menuruni motor dengan hati-hati, melepas helm sambil menatap rumah yang familiar, namun kini terasa berbeda. Ada ketegangan yang menggantung di udara, aroma cemas yang tampak bisa disentuh.

“Makasih udah anterin aku,” ujar Kiara, suaranya lembut namun tegas.

Aditya tersenyum tipis, matanya masih khawatir. “Sama-sama, kecil. Btw, aku ikut ya?” ujarnya, nada suaranya sangat jelas menunjukkan kekhawatiran yang selama ini tersimpan sejak Kiara syok di rumah sakit kemarin.

Kiara menatap Aditya sesaat, menimbang apakah ia harus menolak atau menerima. Akhirnya ia mengangguk pelan.

“Tapi…” Kiara menahan kata-katanya, matanya menatap Aditya serius.

“Apapun yang ada di dalam nanti, Kakak jangan banyak tanya, sepenasaran apapun,” katanya. “Ini… bukan urusan kita sepenuhnya.”

Aditya mengangguk tanpa banyak bicara, menuruti permintaan Kiara, meski raut wajahnya menampilkan ketidakpuasan terselubung.

Sky tetap diam di samping mereka, melayang di atas bahu Kiara. Aura protektifnya tebal, seolah ingin menelan udara di sekitarnya untuk menutupi kemungkinan bahaya. Sorot matanya menusuk ke rumah Bima, tidak setuju sama sekali dengan keputusan Kiara untuk menuruti permintaan Laras.

Kiara menarik napas dalam-dalam dan mengetuk pintu rumah Bima dengan perlahan.

“Assalamualaikum… Tante… Ini aku, Kiara…” suara Kiara terdengar lebih lirih dari biasanya, nyaris bergetar karena gugup.

Beberapa detik terasa panjang, sebelum balasan terdengar:

“Waalaikumsalam… Eh, Kiara? Masuk Nak… Kebetulan Nayla juga ada di dalam,” ujar Bu Lina dengan senyum hangat namun terlihat lelah, matanya sayu, tubuhnya menunduk terlihat tampak sangat kelelahan, kantung mata menghitam di kedua sisi.

Di dalam rumah, Kiara melihat Nayla duduk di sofa dengan wajah kosong, berbeda jauh dari keceriaan biasanya. Kiara tahu, sebagai teman sepermainan Bima sejak kecil, Nayla sangat menyayangi Bima. Sekalipun sering bertengkar dan berdebat, nyatanya keduanya sudah seperti saudara.

Nayla menatap Kiara dan langsung berdiri, berlari kecil, lalu memeluknya. “Kiara… kamu nggak apa-apa? Kemarin waktu di rumah sakit aku lihat kamu mendadak pulang… Maaf, aku nggak sempat nanya kondisi kamu, terlalu fokus sama Bima.”

Kiara tersenyum tipis, menepuk punggung Nayla dengan lembut. “Aku nggak apa-apa kok, Nay. Cuma… agak pusing aja kemarin,” ia berbohong. Ia tidak mungkin menceritakan kengerian yang ia lihat,Bara menempel di tubuh Bima, karena itu akan membuat semua orang panik.

Beberapa saat kemudian, ayah Bima, Pak Arman, keluar dari kamar Bima, diikuti oleh om Hardi. Begitu mereka keluar, perdebatan kecil pun dimulai.

“Mas, mau nunggu apa lagi buat bawa Bima ke Mbah Kromo? Kondisinya sudah separah itu!” ujar om Bima, nada suaranya mendesak.

Pak Arman menggeleng, ragu. “Aku bukannya nggak mau bawa Bima ke orang pintar seperti yang kita omongin di rumah sakit Di... Tapi… Mbah Kromo itu dikenal sebagai dukun ilmu hitam. Aku nggak mau anakku dimacem-macemin, dan malah bikin dia tambah parah.”

Bu Lina hanya terdiam, pasrah. Beliau lebih memilih fokus untuk mengelap wajah pucat Bima dengan handuk basah yang sudah di rendam air hangat. Sementara Kiara dan Nayla hanya menahan napas sambil menunduk. Mereka tahu ini urusan keluarga, bukan tempat mereka ikut campur.

Aditya menyandarkan diri ke dinding, menatap dengan skeptis perdebatan dua orang tua itu. Dengan nada pelan ia berbisik ke Kiara yang ada di sebelahnya.

“Hari gini kok orang masih percaya mistis ya… Kolot banget.”

Kiara terdiam sejenak. Jika dulu dia mungkin akan setuju dengan perkataan Aditya, tapi setelah semua yang terjadi, kali ini ia tidak setuju.

Kiara menoleh dan menyikut perut Aditya pelan. “Hargai, Kak. Ini kepercayaan mereka. Kakak gak tau apa-apa.”

Om Hardi terus mendesak. “Kalau kita nggak segera pergi, Bima bisa makin parah. Waktu nggak menunggu siapa pun.”

Setelah beberapa menit perdebatan, Pak Arman akhirnya menyerah, berat hati beliau terpaksa setuju“Baiklah… kita pergi,” katanya. Ia menatap Bu Lina dengan lembut. “Ibu tetap di rumah, ya. Jangan khawatir, kita akan jaga Bima sebaik mungkin.”

Bu Lina mengangguk, matanya berlinang. Nayla segera mendekat, menggenggam tangan ibunya. “Aku akan menemani tante di sini” katanya menenangkan Bu Lina.

Kiara menunduk sejenak, merasakan dadanya berdegup kencang. Ia tahu tujuannya datang bukan sekadar menjenguk Bima, tapi sesuatu yang lebih besar menunggu di luar sana. Dengan langkah mantap, ia mendekati Pak Arman. “Om... aku ingin ikut mengantarkan Bima,” ucapnya.

Ekspresi semua orang berubah. Bahkan Aditya terlihat kaget. “Wait? Apa? Kamu serius ngomong gitu Ki?” tanyanya, tak bisa menyembunyikan rasa bingung dan khawatir.

Kiara mengabaikan pertanyaan Aditya dan menatap Pak Arman, suaranya mantap. “Aku ingin menemani Bima. Aku janji tidak akan merepotkan. Aku cuma ingin… memastikan dia aman.”

Pak Arman menghela napas panjang, menatap Kiara dengan ragu. “Nak… ini urusan keluarga. Bukan tempat teman ikut campur.”

Aditya ikut menimpali. “Kiara, aku nggak setuju. Ini bisa bahaya. Aku memang gak percaya mistis, tapi aku gak mau kamu asal pergi ke tempat asing!”nada suaranya tegas, tak seperti biasanya yang selalu bercanda dan penuh candaan usil.

Sky menambahkan dengan nada dingin, hampir mengancam. “Aditya bener! Jangan ikut!”

Namun Kiara tetap teguh. “Aku harus ikut. Semalaman aku nggak bisa tidur memikirkan Bima. Aku nggak bisa cuma diam.”

Raut wajah Pak Arman berubah, menyadari tekad Kiara sungguh-sungguh. Ia menunduk, akhirnya mengangguk. “Baiklah. Tapi kamu cuma boleh menunggu di luar saja setelah kita sampai di tempat Mbah Kromo. Kalau ada apa-apa... Kamu langsung pulang!”

Kiara tersenyum tipis, menerima syarat itu. “Baik, Pak.”

Melihat itu, Aditya segera melangkah maju. “Kalau Kiara ikut, aku juga ikut. Titik.”

Kiara menatapnya, ingin menolak. “Kak… aku bisa sendiri-”

“Tidak! Aku nggak bisa tinggal diam kalau kamu mau masuk ke tempat yang belum kita tahu itu,” tegas Aditya. “Kalau aku nggak ikut, aku bakal menyeret kamu pulang!”

Kiara terdiam, menelan ludah. Ia tahu jika Aditya sudah bersikap keras begitu, ia tak bisa menolak. Perlahan ia mengangguk. “Baiklah, Kakak boleh ikut.”

Sky menatap keduanya, ekspresinya campur aduk, marah, cemas, tapi tak bisa berkata apa-apa. Ia memilih melayang menjauh keluar lebih dulu dari rumah itu.

Beberapa menit kemudian, Pak Arman membantu Bima duduk di kursi roda. Kiara menatapnya dari jauh, mencoba menenangkan napasnya. Ia tidak berani melihat terlalu lama ke arah Bima, takut melihat sosok Bara yang menempel padanya. Sky melayang di dekatnya, menenangkan. “Tak ada apa-apa, Kiara. Fokus saja.”

Pak Arman mendorong kursi roda, Kiara berjalan di samping dengan Aditya di belakangnya. Langkah mereka terasa lambat, berat, namun setiap detik dipenuhi ketegangan yang tak bisa dijelaskan.

Rumah-rumah di gang tampak biasa saja, namun bagi Kiara, bayangan-bayangan yang bergerak di tepi jalan, aroma yang tiba-tiba berubah, dan suara-suara samar membuat jalanan itu terasa seperti lorong menuju dunia lain.

Dan ketika mereka keluar dari gang terakhir, menuju jalan besar tempat mobil Pak Arman menunggu, Kiara menelan ludah. Di sana, sesuatu menanti, sesuatu yang akan menguji keberanian dan tekadnya lebih daripada sebelumnya.

Karena langkah yang baru saja ia ambil...

Mengikuti Bima ke rumah Mbah Kromo...

bukan lagi hanya sekadar menemani teman.

Ini adalah jejak pertama Kiara memasuki dunia yang tidak terlihat, dunia yang akan mengubah hidupnya selamanya.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!