apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kekhawatiran mertua
" Vin"
"iya, Ma..."
"Sejak kapan istrimu memanggilmu 'Om'?" Suara Mama Hera memecah kesunyian kamar yang beraroma terapi kayu Cendana itu.
Mata wanita paruh baya itu menatap tajam, penuh selidik. "Seingat Mama, dulu dia selalu memanggilmu Lǎogōng ,apa manggil kamu sayang yah ,apa itu hanya sandiwara kalian Jawab Mama, Cavin! Jangan diam saja seperti patung"
Cavin memijit pelipisnya. "Dia sudah kehilangan ingatannya ma" gumamnya datar.
"Hus! Jaga bicaramu!" Puk! Sebuah tepukan mendarat di puncak kepala Cavin.
"Aduh, sakit Ma! Ini kepala anak mama loh bukan samsak tinju yang bisa Mama pukul sesuka hati," ringis Cavin sembari mengusap kepalanya yang tak bersalah.
"Terlalu dramatis! Makanya, bicaralah yang benar. Sekarang ceritakan pada Mama, apa yang sebenarnya terjadi pada istrimu selama mama dan Papamu pergi ke luar kota?" tanya Mama Hera menuntut.
Kesibukan bisnis memang sempat merenggut kehadiran Mama Hera dan Pak Ru.
Seharusnya Cavin yang berangkat, namun karena kondisi Thalia yang memburuk,
sang ayah yang meski sudah memasuki masa senja namun tetap memiliki wibawa
memilih untuk turun tangan kembali ke medan bisnis demi keutuhan keluarga putranya.
Cavin terdiam sejenak. Ia mulai merangkai kata, berdasarkan informasi yang di dapat dari asisten nya,ia mencerita kan perubahan drastis Thalia sejak ia menjemput gadis itu dari rumah sakit.
Namun, ada satu rahasia yang ia kunci rapat .
kenyataan bahwa ia sebenarnya menjemput Thalia dari kantor catatan sipil untuk sebuah perceraian, bukan dari rumah sakit.
Di mata dunia, dan terutama di mata ibunya, mereka masihlah pasangan yang utuh.
"Oh, satu lagi..." Mama Hera menunjuk rambut Cavin yang kini sedikit panjang dan diikat ke belakang. "Kenapa rambutmu harus diikat begitu? Pantas saja dia memanggilmu Om. Kau terlihat seumur seperti papa mu , apa kau ingin bersaing dengan Papamu?"
"Bersaing apa, Ma?" Sebuah suara berat dan rendah menyambar dari ambang pintu.
Pak Ru berdiri di sana, rapi dengan setelan jasnya, siap berangkat menuju keriuhan kota.
"Hehe... tidak, Pa. Ini tu anak mu yang mau menyaingi usia bapaknya" sahut Mama Hera dengan tawa kecil yang anggun.
Pak Ru mendekat, mengecup kening istrinya dengan kasih sayang yang tak luntur dimakan waktu. "Biarpun Papa sudah tua, Papa masih kuat mengangkat Mama ke manapun."
Wajah Mama Hera seketika merona merah, bak kelopak bunga mawar di pagi hari.
"Apa sih, Pa? Ingat umur," bisiknya malu-malu.
Ehem! Cavin berdehem keras, mencoba memutus kemesraan yang membuatnya merasa menjadi figuran di rumah sendiri.
"Ma, Papa mau berangkat. Mama mau ikut atau tetap di sini?"
"Mama akan menunggu Thalia siuman, mungkin nanti siang mama Temanin papa lunch"
"Ya sudah, Papa berangkat dulu. Hati-hati di rumah," pamit Pak Ru sebelum langkah sepatunya menjauh menyisir koridor.
Keheningan kembali merayap, namun Mama Hera masih tak puas.
"Mama yakin, ini pasti karena rambut gondrong mu itu, Cavin. Thalia pasti merasa suaminya sudah seperti pria tua. Lagipula, apa rambutmu itu tidak gatal dan penuh kutu?"
"Ma, aku tidak sejorok itu," Cavin membela diri dengan raut wajah jengah.
Di tengah perdebatan kecil itu, di atas ranjang jemari lentik Thalia bergerak perlahan. Kelopak matanya yang indah terbuka perlahan, tampak bingung dan kosong.
"Om..." Suara itu nyaris menyerupai bisikan angin, sangat lirih hingga nyaris tak tertangkap indra pendengar.
"Nak, kau sudah sadar? Cavin, cepat ambilkan air!" seru Mama Hera penuh syukur.
Thalia mengerjap kan matanya berulang kali. Saat Mama Hera mendekat dengan wajah penuh kecemasan, gadis itu justru memundurkan kepalanya. "Bibi... eh, Tante ini siapa?"
Dunia seakan berhenti berputar bagi Mama Hera. "Tante? Kau tidak ingat pada Mamamu sendiri, Nak?"
Thalia hanya menggeleng pelan, sebuah jawaban yang lebih menyakitkan daripada tamparan.
"Cavin! Hubungi Dokter Tom, cepat!" perintah Mama Hera dengan suara bergetar.
Tiga puluh menit kemudian, Dokter Tom datang dengan langkah tergesa. Setelah pemeriksaan yang cukup lama di bawah tatapan cemas penghuni rumah, ia akhirnya meletakkan stetoskopnya.
"Nyonya Hera, tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara fisik. Menantu Anda hanya dehidrasi dan kelelahan yang luar biasa dan maag nya kambuh.
Namun, jangan sekali-kali disepelekan. Ia butuh asupan nutrisi yang teratur dan istirahat yang berkualitas. Hindari angin malam dan tekanan pikiran," jelas Dokter Tom dengan nada menenangkan.
Setelah dokter itu berpamitan dan diantar keluar oleh Cavin, Mama Hera menghela napas panjang. Ada tanya yang menggantung di udara, mengapa ingatan menantunya seolah terhapus
"Cavin, buatkan bubur untuk istrimu. Cepat, sebelum maag nya kambuh lagi."
"Aku pesan saja lewat aplikasi, Ma. Lebih cepat."
"Tidak ada alasan. Cepat buat sendiri lebih higienis !"
Dua puluh menit kemudian, Cavin kembali dengan semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan uap hangat, menyebarkan aroma gurih yang seharusnya menggugah selera.
"Ini, Ma."
"Suapi istrimu."
Cavin membelalakkan mata. "Ma, jangan berlebihan. Dia punya tangan untuk makan sendiri, lagi pula dia udah mendingan"
"Cavin " Satu tatapan tajam dari sang ibu sudah cukup untuk membuat Cavin menyerah.
Pria itu duduk di tepi ranjang. Thalia bersandar pada dua bantal besar, tampak begitu rapuh dan pucat. "Buka mulutmu," ujar Cavin, mencoba melembutkan suaranya meski tatapan matanya tetap menyiratkan kejengkelan.
"Cavin, yang lembut sedikit!" tegur Mama Hera dari sudut ruangan.
Cavin menarik napas dalam. "Ayo, buka mulutmu... aaa..." ucapnya dengan nada yang dipaksakan manis, meski batinnya berteriak ingin segera pergi.
Thalia menatap sendok itu dengan enggan. "Om... Thalia tidak suka bubur. Rasanya pahit."
"Memangnya aku peduli?" bisik Cavin sangat lirih, nyaris tak terdengar, seraya melemparkan tatapan tajam yang seolah berkata, 'Jangan banyak tingkah atau kau habis'.
"Cavin!" Mama Hera kembali memperingatkan.
"Iya, Ma... Sayang, kau harus makan sedikit saja, ya?" tanya Cavin kembali dengan nada semanis madu yang beracun.
Thalia tetap menggeleng. Sejak kepulangannya dari rumah sakit, tubuh Thalia kian menyusut. Dunia terasa asing baginya. Segala makanan yang tersaji tampak aneh dan tak menggugah selera di lidahnya yang kini hambar.
Ia seringkali hanya sanggup menelan beberapa suap makanan dalam sehari, membuat tubuhnya yang dulunya lebih berisi kini tampak lebih kurus bahkan berat badan nya kini menyentuh angka 36 kilo yang awalnya 40 kilo