Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Mandor Tidak Bersih
Dongkou Port tidak pernah benar-benar tidur.
Pagi dan sore berganti tanpa jeda jelas. Truk kontainer keluar masuk seperti aliran darah di tubuh raksasa baja. Bau solar, karat, dan keringat bercampur menjadi satu, menempel di udara dan pakaian para buruh.
Gu Yanqing berdiri di luar area utama, mengenakan jaket lusuh dan topi yang ditarik rendah. Ia tidak masuk ke zona kerja. Ia hanya mengamati.
Dari jarak aman, Wang Jicheng mudah dikenali.
Posturnya tegap, perut sedikit maju, helm kerja selalu bersih. Seragamnya berbeda dari buruh lain—lebih rapi, lebih baru. Ia berdiri dengan tangan di pinggang, suara kerasnya memotong kebisingan mesin.
“Cepat sedikit! Kontainer itu bukan hiasan!”
Seorang buruh muda mengangguk cepat, menurunkan kepala. Tangannya gemetar saat menarik tuas derek manual. Gerakannya tidak rapi.
Wang Jicheng mendekat. Terlalu dekat.
“Kau kerja pakai otak atau tidak?” bentaknya. “Kalau rusak, siapa yang tanggung jawab?”
Buruh itu menelan ludah. “Saya—saya hati-hati, Mandor Wang.”
Wang Jicheng mendengus. Ia tidak langsung pergi. Matanya menyapu ke kantong jaket buruh itu, lalu ke wajahnya.
“Upah bulan ini sudah dihitung?” tanyanya, nada suaranya turun.
Buruh itu terdiam sejenak. Lalu mengangguk pelan.
Wang Jicheng tersenyum tipis. “Bagus. Jangan sampai ada masalah.”
Ia berbalik dan pergi.
Tidak ada transaksi terlihat. Tidak ada ancaman eksplisit. Namun pesan sudah sampai.
Gu Yanqing mencatatnya dalam benaknya.
Itu bukan kejadian pertama yang ia lihat pagi itu.
Di sisi lain area pelabuhan, seorang buruh paruh baya berdebat pelan dengan Wang Jicheng. Suara mereka tenggelam oleh mesin, tetapi bahasa tubuhnya jelas.
Buruh itu menunjuk ke kertas absen. Wang Jicheng menggeleng. Tangannya bergerak cepat, menunjuk ke arah kantor administrasi.
“Laporan disiplin,” katanya singkat.
Wajah buruh itu pucat. Ia menurunkan tangan, lalu mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Gu Yanqing melihat buruh itu keluar dari area kerja lebih awal. Bahunya turun. Langkahnya berat.
Pola mulai terlihat.
Pemotongan upah tidak diumumkan.
Ancaman tidak ditulis.
Tekanan disampaikan lewat isyarat yang dipahami semua orang.
Gu Yanqing pernah berada di posisi itu.
Ia ingat hari ketika Wang Jicheng berdiri di hadapannya, suara tinggi, tatapan merendahkan. Tuduhan lalai kerja dilontarkan tanpa bukti. Upah ditahan tanpa kesempatan membela diri.
Saat itu, ia mengira dirinya sial.
Sekarang, ia tahu itu bukan soal nasib.
Ia berjalan perlahan menyusuri area publik di luar pelabuhan. Kedai-kedai kecil berdiri di tepi jalan, tempat buruh makan cepat sebelum giliran kerja berikutnya. Dari kejauhan, ia melihat Wang Jicheng duduk di salah satu meja plastik.
Dua buruh duduk di depannya. Kepala mereka sedikit menunduk. Wang Jicheng berbicara pelan, hampir santai.
Tidak ada kemarahan. Tidak ada teriakan.
Salah satu buruh mengeluarkan dompet. Gerakannya canggung. Ia menggeser beberapa lembar uang ke tengah meja, tertutup oleh gelas teh.
Wang Jicheng tidak melihat langsung. Ia hanya mengangkat gelasnya, meminumnya, lalu berdiri.
“Kerja yang baik,” katanya ringan. “Besok datang lebih awal.”
Ia pergi tanpa menoleh.
Gu Yanqing tidak mendekat. Ia tidak perlu mendengar lebih jelas. Yang ia lihat sudah cukup.
Uang rokok.
Istilah lama, praktik lama. Legalitasnya abu-abu, penerapannya kejam. Bagi buruh, itu harga untuk bertahan. Bagi mandor, itu sumber kuasa.
Ia mulai menghubungkan titik-titik yang selama ini terpisah.
Kecelakaan ayahnya.
Laporan yang kabur.
Janji kompensasi yang menguap.
Saksi yang memilih diam.
Jika Wang Jicheng melakukan ini sekarang, maka ia hampir pasti melakukannya dulu.
Kasus ayahnya bukan insiden tunggal. Itu bagian dari pola.
Gu Yanqing merasakan kejernihan dingin menyebar di dadanya. Amarah tidak meledak. Ia justru merasa pikirannya bekerja lebih cepat.
Wang Jicheng bukan sekadar mandor arogan. Ia adalah simpul.
Simpul yang menghubungkan tekanan lapangan, manipulasi laporan, dan kebungkaman kolektif. Selama simpul itu tidak disentuh, semua kasus akan tetap terlihat sebagai kecelakaan individual.
Gu Yanqing menatap kembali ke arah pelabuhan. Truk kontainer terus bergerak. Buruh terus bekerja. Sistem kotor itu berjalan tanpa hambatan.
Ia tahu satu hal dengan pasti.
Jika ia ingin membuka masa lalu ayahnya, ia tidak bisa menghindari Wang Jicheng.
Dan begitu ia menjadikan simpul itu sebagai fokus, risiko akan berbalik mengarah kepadanya.
Namun Gu Yanqing tidak menghindar.
Ia sudah berhenti berharap pada keberuntungan.
Ia hanya bergerak mengikuti sebab dan akibat.
Dan sebabnya kini terlihat jelas.
....
Malam turun perlahan di Linhai.
Lampu jalan memantul di genangan air aspal, membentuk garis-garis terputus seperti jalur yang belum selesai digambar. Gu Yanqing duduk sendirian di bangku besi taman kecil dekat kawasan permukiman lama. Tempat itu netral, tidak terhubung langsung dengan pelabuhan, tidak juga dengan rumah sakit.
Tempat berpikir.
Ia menyusun ulang semua yang telah ia lihat dan dengar, satu per satu, tanpa emosi.
Kecelakaan ayahnya di Dongkou Port.
Laporan kerja yang tidak pernah muncul.
Janji kompensasi yang hanya disampaikan lisan.
Rekan kerja yang memilih bungkam.
Liu Haifeng yang mengakui laporan pernah ada—lalu “dipindahkan”.
Dan Wang Jicheng, yang hari ini masih melakukan pola yang sama.
Pemerasan sistematis.
Manipulasi laporan.
Ancaman kehilangan kerja sebagai alat kendali.
Tidak ada satu bukti tunggal yang cukup kuat. Namun ketika disusun bersama, garisnya mulai menyatu. Bukan kebenaran yang bersih, tetapi struktur masalah yang jelas.
Pada titik itu, panel sistem muncul dengan tenang, seolah hanya menanggapi proses berpikirnya.
[ Wealth Ascension System ]
Status Analisis: Gugatan Ketenagakerjaan
Objek Utama: Wang Jicheng
Entitas Terkait: Dongkou Port Group
Probabilitas Legal Saat Ini: 41%
Angka itu lebih tinggi dari sebelumnya. Tidak melonjak drastis, tetapi cukup untuk mengubah status dari “hampir mustahil” menjadi “realistis dengan risiko”.
Gu Yanqing menatap panel itu tanpa reaksi.
Empat puluh satu persen berarti peluang masih lebih kecil daripada kegagalan. Namun itu juga berarti jalur hukum tidak lagi kosong. Bukti-bukti lemah mulai saling menguatkan. Pola berulang menciptakan konteks. Nama Wang Jicheng menjadi poros.
Panel tidak menampilkan saran lanjutan. Tidak ada dorongan emosional. Sistem tetap pasif, seperti alat ukur yang hanya menunjukkan angka.
Gu Yanqing memahami maknanya.
Tahap mengumpulkan hampir selesai.
Tahap berikutnya adalah memaksa sistem bergerak.
Ia menyadari satu hal yang selama ini ia tunda: selama semua ini hanya berupa penyelidikan pribadi, tekanan tidak akan pernah berbalik arah. Wang Jicheng bisa terus beroperasi di bawah radar. Perusahaan bisa terus menyangkal.
Diperlukan satu langkah formal.
Satu tindakan yang tercatat.
Melaporkan.
Begitu laporan resmi masuk ke biro tenaga kerja, permainan berubah. Wang Jicheng tidak lagi hanya seorang mandor yang menekan buruh. Ia menjadi subjek pemeriksaan. Dongkou Port Group tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu.
Risikonya jelas.
Wang Jicheng akan bereaksi.
Tekanan balik akan muncul.
Dan jika langkah berikutnya gagal, posisi Gu Yanqing akan semakin terjepit.
Namun Gu Yanqing tidak ragu.
Ia berdiri dari bangku taman. Wajahnya tenang, pikirannya jernih. Tidak ada kepuasan, tidak ada euforia. Hanya keputusan yang sudah diambil.
Begitu laporan masuk, tidak ada jalan mundur.
Ia melangkah pergi, meninggalkan taman yang kembali sunyi.
Di balik keputusan itu, satu kesimpulan berdiri kokoh di benaknya:
Orang yang memecatnya secara sewenang-wenang hari itu bukan sekadar atasan yang mencari muka.
Ia adalah bagian dari masa lalu yang sengaja ditutup.
Dan kini, pintu itu akan dipaksa terbuka—secara legal.