NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Bertemu Yumna

Sasa berulang kali menghubungi Yumna tapi tidak diangkat. Pesan pun tak satu pun mendapat balasan. Sehingga dia memutuskan untuk pergi ke rumah pak Jodi. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Yumna.

"Sa, tumben...?" sapa Bu Indri.

"Iya, mbak. Aku ke sini mau ketemu sama Yumna." jawabnya. Sasa tak ingin terlalu banyak basa-basi.

"Yumna...?!" Bu Indri mulai terlihat canggung.

"Ada apa, mbak?" tanya Sasa. Dia merasa ada yang aneh dengan gelagat istri kakaknya itu.

"Yumna..., dia sedang ada acara sama teman-temannya." jawabnya.

"Mama...!" sahut Nasya tiba-tiba, sambil membawa snack. "Mama jujur saja sama Tante Sasa. Tidak usah ditutupi. Biar Tante Sasa tahu kak Yumna itu seperti apa." katanya.

"Nasya, mama sedang bicara dengan Tante Sasa. Tidak sopan asal potong seperti itu!" tegur Bu Indri. Tak suka dengan sikap Nasya.

"Tapi yang aku katakan benar kan, ma...? Nanti juga bakalan tahu. Daripada terlambat, kasih tahu saja sekarang." ujar Nasya menimpali sambil duduk di samping mamanya.

"Apa yang ingin kamu katakan, Nasya?" Sasa menatap Nasya, menuntut penjelasan.

"Nasya, masuk kamar!! Biar mama yang bicara." sahut Bu Indri.

"Biarkan dia bicara, mbak!" ujar Sasa.

"Jadi, tan..."

"Nasya!!" bentak mamanya. "Kamu tidak dengar ucapan mama?!!" Bu Indri mulai kesal.

"Cukup, mama!" balas Nasya tak mau kalah. "Kak Yumna sudah memutuskan untuk pergi, sejak tahu dia cuma anak pungut! Dia gak akan kembali ke rumah ini. Mama cari ke ujung dunia pun gak akan ketemu. Dia udah diumpetin sama sugar daddynya!!" ujar Nasya, sangat cepat.

Bu Indri sampai tak bisa berbuat apa-apa saking syoknya. Sejak Yumna pergi, Nasya jadi berubah. Perilakunya tak lagi lembut seperti dulu. Cara bicaranya juga sangat kasar.

"Apa maksud kamu?!" balas Sasa.

Sasa bukannya tak mengerti. Dia mendengar semuanya dengan jelas. Dia hanya tak terima Nasya memfitnah Yumna seperti itu.

"Keponakan yang selama ini Tante banggain itu. Gak lebih dari seorang cewek murahan. Dia jadi simpanan bos-bos. Sugar daddynya banyak." jawabnya dengan lantang.

Plak...!!

Sebuah tamparan jatuh di pipi Nasya. Bukan dari Sasa, tapi dari ibu kandungnya. Bu Indri juga merasa sakit hati, mendengar Nasya bicara buruk tentang Yumna.

"Mama kok tampar aku?!!" Nasya tak terima.

"Karena mulutmu sangat jahat. Mama yakin Yumna tidak seperti itu!!"

"Kalau mama yakin. Kenapa waktu papa hajar dia, mama tidak membelanya?!" teriak Nasya.

"Cukuuuup....!! Cukuuuup...!!" Bu Indri teriak histeris sambil menutup telinganya.

Sasa muak dengan keributan di rumah itu. Akhirnya Sasa memutuskan untuk pergi. Tanpa pamit pada tuan rumah. Satu-satunya tempat yang akan dia tuju adalah kediaman Bu Kartika.

___

Sasa tiba di rumah itu. Tapi hanya security yang bicara dengannya.

"Cari siapa, nona?" tanya security saat Sasa keluar dari mobil.

"Apa Yumna di dalam? Guru privat Aluna." tanya Sasa balik.

"Tidak, nona. Sudah beberapa hari nona Yumna tidak datang. Kabarnya sedang sakit. Nyonya Kartika dan non Aluna sedang pergi menjenguk nona Yumna." ujarnya.

"Sakit..?!!" Sasa terkejut. "Bapak tahu dirawat di rumah sakit mana?" tanya Sasa lagi.

"Maaf, saya tidak tahu kalau soal itu." jawabnya.

Kemudian Sasa undur diri, dia kembali menjalankan mobilnya.

"Yumna..., kamu dimana sayang...?!"

Sasa bingung harus mencari Yumna kemana. Kemudian dia teringat dengan Elbara. Tak ingin buang waktu lebih lama lagi, Sasa segera menghubungi Elbara. Tapi tidak diangkat. Sasa juga menghubungi Niko. Hasilnya tetap sama.

"Bi Nuri..."

Kali ini Sasa menghubungi bi Nuri. Dan bi Nuri langsung menerima panggilannya.

"Nona Sasa..."

Suara di seberang sana membuat hatinya lega. Akhirnya ada yang menerima panggilannya.

"Akhirnya. Bibi..., bibi tahu dimana Yumna? Saya mencarinya dimana-mana tidak ada." ujar Sasa mengadu.

"Nona Yumna sama saya, non. Tapi saya tidak tahu ini dimana. Pokoknya kami ada di apartemen tuan Bara."

"Hah...?!! Apa yang terjadi?!"

"Ceritanya panjang nona. Sudah dulu ya non Sasa. Nona Yumna datang."

"Bi..., bibi...?!!"

Sambungan tiba-tiba terputus. Sasa bingung, karena bi Nuri seperti ketakutan saat menerima teleponnya.

"Bara...? Apa ini ulahnya?!!" geram Sasa.

Sasa pun mengambil arah menuju kantor Elbara.

___

"Tuan, ada Tante Sasa." ujar Niko melaporkan.

"Suruh masuk!" titah Elbara.

Sasa masuk ke ruangan Elbara. Tetap sopan, tidak gegabah seperti ibu-ibu pada umumnya.

"Silahkan duduk, Tante. Kenapa Tante mencari saya?" tanya Elbara kemudian.

"Maaf, apa Yumna ada sama kamu?" tanya Sasa.

"Iya." jawabnya.

"Dimana?" tanya Sasa lagi.

"Di apartemen saya." jawabnya dengan santai. "Apa tante tahu apa yang terjadi?" kemudian Elbara bertanya.

Sasa lalu menyampaikan semua yang dia dengar di rumah pak Jodi tadi.

"Dia memang pergi dengan kemauannya sendiri. Tapi itu ada sebabnya." kata Elbara.

"To the point saja. Jangan bertele-tele." balas Sasa.

"Yumna dianiaya. Dimaki. Difitnah. Direndahkan. Di rumah itu. Lalu saya memutuskan untuk membawanya. Karena dia tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarganya. Termasuk Tante Sasa." ujar Elbara menjelaskan.

"Tidak mungkin. Kamu bohong. Yumna sangat baik. Kami sangat dekat. Setiap ada masalah, dia selalu datang ke saya. Kamu juga tahu itu kan...?!!" bantah Sasa. Tak terima dengan pernyataan Elbara.

"Tapi Yumna sendiri yang bilang."

Elbara menyodorkan ponselnya pada Yumna. Di sana ada pesan yang dikirim oleh Yumna.

"Saya awalnya juga mengira dia akan ke rumah Tante Sasa. Tapi dia justru bilang mau cari kontrakan. Karena sudah malam, akhirnya saya siapkan satu unit apartemen untuk dia tinggal sama bibinya. Dan hari ini saya tahu alasan dia tidak ingin ke rumah Tante." tutur Elbara.

"Tunggu...!!" sahut Sasa. Sasa menatap Elbara. "Di sini dia bilang bersedia menikah?! Sama kamu...?!"

"Iya, kami akan segera menikah." jawab Elbara tanpa ada yang dia tutupi. Dengan pembawaan yang tenang.

"Kenapa? Bagaimana bisa?!" Sasa tak percaya. Dia merasa ada yang aneh.

"Bisa, karena dia sudah menyetujuinya." balas Elbara sekenanya.

"Yumna..., apa kamu mau jadikan ini sebagai pelarian karena sakit hatimu?" pikir Sasa.

"Sore ini saya akan menemui Yumna. Kalau dia mau bertemu Tante, Tante bisa ikut dengan saya."

Elbara mengambil handphonenya kembali. Lalu mengirim pesan pada Yumna.

"Mau atau tidak. Saya tetap akan menemuinya!" ujar Sasa menegaskan.

___

Sore itu pun Elbara mendatangi Yumna bersama Sasa. Yumna sangat kaget ketika melihat tantenya itu.

"Yumna...!!" Sasa langsung memeluknya.

Sayangnya, Yumna tak sehangat dulu lagi. Dia diam terpaku, tidak tersenyum, apalagi membalas pelukan tantenya.

"Saya akan segera kembali." kata Elbara.

Elbara memutar kursi rodanya. Dia sengaja keluar, agar Yumna dan Sasa bisa ngobrol berdua.

"Sayang...., Tante sangat mengkhawatirkanmu. Kenapa tidak menjawab telepon Tante?" ujar Sasa.

Yumna menarik tangannya yang sedari tadi dipegang oleh Sasa.

"Mau apa kemari?" tanya Yumna. Dingin. Tanpa ekspresi.

"Anak ini berubah begitu cepat. Mereka benar-benar menghancurkannya." batin Sasa.

"Tante tahu semuanya. Tapi Tante tidak peduli. Kamu tetap anak kebanggaan Tante. Bukankah Tante sudah katakan sebelumnya. Kamu boleh tinggal sama Tante. Karena mereka tidak memperlakukan kamu dengan baik." tutur Sasa.

"Siapa yang mau menerima anak yang asal usulnya saja tidak jelas." sahut Yumna begitu saja.

"Tante. Jadi, ikut Tante pulang ya...! Tinggal sama Tante. Bi Nuri juga boleh ikut." bujuk Sasa.

Sasa menatap bi Nuri yang berada di dapur. Bi Nuri mengangguk sambil tersenyum. Dia berharap Sasa bisa membujuk Yumna.

"Tidak. Aku tidak mau berhubungan lagi dengan keluarga kalian. Lagi pula, aku akan segera menikah dengan pak Bara." balas Yumna.

"Yumna..., kamu yakin soal itu? Tante rasa ini tidak benar. Jangan seperti ini." ujar Sasa.

"Aku memang tidak pernah benar. Semua yang aku lakukan selalu salah. Jadi jangan pernah peduli padaku lagi. Apapun yang aku lakukan, itu urusanku." kata Yumna.

"Tante tahu, kamu kecewa dengan banyak orang. Tapi kenapa harus Elbara yang kamu jadikan sandaran. Dia dan keluarganya hanya orang asing." sahut Sasa.

"Oke, kamu memang pernah menolong mereka. Sampai pada akhirnya mereka ingin membalas semua kebaikan kamu." sambungnya. "Tapi, itu tidak mungkin selamanya. Dan kamu mau menikah dengan Elbara. Kamu pikir dia benar-benar mencintaimu? Dia hanya merasa hutang Budi sama kamu."

"Iya, benar. Dan karena tidak ada cinta. Itu akan lebih baik. Jadi tidak akan ada yang tersakiti." balas Yumna.

"Yumna...?!" Sasa sungguh tak mengerti, bagaimana bisa Yumna berubah begitu cepat.

"Ini hidupku. Aku yang memutuskan semuanya." kata Yumna. Sangat tegas, tak ingin dibantah lagi.

Sasa pun menyerah.

"Baik. Terserah kamu. Tapi boleh Tante minta sesuatu?"

Yumna tidak menjawab.

"Jangan bersikap seperti ini sama Tante. Tante sudah anggap kamu anak Tante sendiri. Apapun yang terjadi, akan tetap sama. Boleh...?!" pinta Sasa.

Yumna menatap mata Sasa, mata yang selalu menenangkan ketika dipandang. Yumna melihat ketulusan itu.

"Yumna..., Tante juga sendirian. Sejak suami dan anak Tante meninggal. Kakek kamu selalu memaksa Tante menikah dengan pilihannya. Kamu tahu itu kan. Sampai pada akhirnya Tante memilih pisah dari mereka. Tapi Tante sangat bersyukur. Tante memilikimu." ujarnya. "Andai saja anak Tante masih ada. Pasti usianya tak jauh beda dari kamu." Sasa mengusap pipi Yumna.

Sasa tersenyum, sorot matanya penuh kerinduan. Entah pada anaknya yang telah tiada, atau pada Yumna. Mereka sama-sama menitihkan air mata. Lalu saling berpelukan.

"Janji ya. Jangan menghindar lagi." kata Sasa. Yumna hanya mengangguk dalam pelukan Sasa.

"Tante ingin lebih lama." katanya lagi sambil mengurai pelukannya. "Tapi Elbara bilang mau bicara sama kamu. Tante pamit ya. Besok Tante akan datang lagi." katanya.

"Terimakasih Tante." balas Yumna.

Saat bertemu Elbara dan Niko di luar, Sasa menghentikan langkahnya. Lalu dia menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup.

"Saya tidak mengerti. Kenapa kalian tiba-tiba memutuskan untuk menikah? Tapi apapun alasannya, saya harap kamu bisa menjaga Yumna. Dan jangan menjauhkan dia dari saya. Saya tidak peduli status kamu setinggi apa. Kamu sehebat apa. Saya tidak akan tinggal diam, kalau sampai kamu menyakiti Yumna." ujarnya panjang lebar.

Elbara hanya tersenyum tipis, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat. Sasa kemudian pergi meninggalkan mereka.

"Tuan..., apa tuan tidak merasa kalau mereka ada kemiripan jika diperhatikan lebih dekat?" begitu kata Niko.

Elbara kemudian menatap punggung Sasa yang sudah semakin menjauh.

......................

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus ceritanya doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!