NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: YANG DILEPASKAN

Aira datang paling pagi hari itu.

Langit masih kelabu, sisa hujan semalam meninggalkan jejak basah di trotoar.

Gedung kantor masih setengah kosong.

Suasana seperti ini biasanya ia sukai.

Tenang. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada tatapan.

Namun pagi ini berbeda.

Tangannya menggenggam map tipis berisi satu lembar kertas.

Bukan draft lagi.

Sudah dicetak.

Sudah ditandatangani.

Sudah final.

Ia berdiri beberapa detik di depan lift, menatap pantulan dirinya di dinding logam.

Wajahnya terlihat lebih dewasa.

Atau mungkin lebih lelah.

Lift terbuka.

Ia masuk.

Dan setiap lantai yang terlewati terasa seperti hitungan mundur.

Di ruangannya, Arlan sudah lebih dulu datang.

Lampu menyala. Laptop terbuka. Kopi belum tersentuh.

Ia tidak benar-benar bekerja.

Ia hanya menatap layar tanpa membaca.

Sejak percakapan terakhir mereka, ia tahu sesuatu berubah.

Dan perubahan itu tidak kecil.

Ketika pintu diketuk dua kali, ia tahu siapa itu.

“Masuk.”

Aira melangkah masuk.

Tenang seperti biasa.

Namun ada sesuatu dalam cara ia berdiri hari ini.

Lebih tegak.

Lebih mantap.

Arlan langsung menyadarinya.

“Ada yang ingin kau bicarakan?”

Aira meletakkan map itu di atas meja.

Tidak tergesa. Tidak dramatis.

Hanya satu gerakan sederhana.

“Saya sudah mempertimbangkannya dengan matang.”

Kalimat pembuka yang terlalu formal untuk percakapan pribadi.

Arlan tidak langsung membuka map itu.

Ia menatap wajah Aira terlebih dahulu.

Mencari keraguan.

Menunggu celah.

Namun tidak ada.

“Pengunduran diri saya,” lanjut Aira pelan. “Efektif tiga puluh hari sesuai kontrak.”

Hening.

Jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya.

Arlan akhirnya mengambil map itu.

Membukanya.

Membaca satu kalimat, lalu kalimat berikutnya.

Bahasanya rapi.

Profesional.

Tidak ada emosi yang tertinggal di sana.

Dan justru itu yang membuatnya terasa dingin.

“Karena tekanan?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.

“Karena pilihan.”

“Pilihan untuk lari?”

Aira tidak tersinggung.

“Saya tidak lari.”

Ia menatapnya lurus.

“Saya memilih keluar sebelum saya menjadi titik yang bisa digunakan untuk menjatuhkan Anda.”

Kata-kata itu tidak tinggi nadanya.

Tapi berat.

Arlan menutup map perlahan.

“Kau pikir aku tidak bisa mengatasi mereka?”

“Saya tahu Anda bisa.”

Jawaban itu cepat.

Tulus.

“Yang saya ragukan… apakah saya ingin terus jadi alasan mereka menyerang.”

Udara di ruangan itu berubah.

Bukan panas.

Bukan dingin.

Tapi padat.

Arlan berdiri.

Langkahnya perlahan mengitari meja.

Berhenti beberapa langkah dari Aira.

“Kalau kau pergi, mereka akan melihat itu sebagai kemenangan.”

“Mungkin.”

“Dan kau tidak keberatan?”

Aira tersenyum kecil.

Tipis.

“Sejak awal ini bukan permainan saya.”

Kalimat itu seperti mengembalikan semua ke titik awal.

Kontrak. Dendam. Permainan kekuasaan.

Dan untuk pertama kalinya—

Arlan menyadari betapa egoisnya ia saat menarik Aira kembali ke hidupnya.

Tanpa bertanya apakah ia ingin terlibat.

“Kau tidak pernah minta masuk ke sini,” katanya pelan.

“Tidak.”

“Dan aku tidak pernah benar-benar memberimu pilihan.”

Aira tidak menjawab.

Karena itu benar.

Hening yang terjadi kali ini berbeda.

Bukan penuh ketegangan.

Tapi penuh kesadaran.

“Aira.”

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi CEO. Tidak lagi pria yang memegang kendali.

“Kalau aku memintamu tinggal?”

Pertanyaan itu tidak keras.

Tidak memerintah.

Hanya… jujur.

Aira menatapnya lama.

Dan untuk sesaat, ia ingin mengatakan iya.

Ingin percaya bahwa semua ini bisa lebih sederhana.

Namun bayangan motor hitam itu kembali muncul di pikirannya.

Dan wajah ibunya di ruang rumah sakit.

“Saya tidak ingin tinggal karena diminta,” ucapnya pelan. “Saya ingin tinggal karena aman.”

Kalimat itu menghancurkan sisa argumen yang ada.

Arlan terdiam.

Ia bisa menolak surat itu.

Kontrak memberinya hak.

Ia bisa memperpanjang masa kerja.

Menahan.

Memaksa.

Tapi apa artinya seseorang tinggal jika hatinya sudah keluar?

Ia berjalan kembali ke meja.

Mengambil pulpen.

Dan menandatangani bagian penerimaan.

Gerakannya stabil.

Tanpa ragu.

Namun di dalam dirinya—

sesuatu bergeser.

Ia menggeser map itu kembali ke arah Aira.

“Efektif tiga puluh hari.”

Tidak ada tambahan kalimat.

Tidak ada penjelasan.

Hanya keputusan.

Dan itu lebih menyakitkan dari penolakan.

Aira mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Formal lagi.

Jarak kembali dipasang.

Ia berbalik.

Langkahnya terdengar jelas di lantai marmer.

Dan setiap langkah terasa seperti sesuatu yang perlahan dilepaskan.

Ketika pintu tertutup—

ruangan itu terasa lebih besar.

Lebih kosong.

Arlan berdiri tanpa bergerak selama beberapa detik.

Lalu menatap meja yang biasanya dipenuhi suara langkah Aira.

Sekarang sunyi.

Ia mengeluarkan ponsel.

Menatap nomor yang beberapa hari ini terus mengusiknya.

Pesan terakhir masih tersimpan.

Bidakmu rapuh.

Jarinya mengetik balasan singkat.

Kau baru saja membuat kesalahan.

Ia menekan kirim.

Lalu bersandar di kursi.

Untuk pertama kalinya sejak ia memulai permainan ini—

ia tidak merasa menang.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!