NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Skenario yang Gagal

Maya membenci bau lobi kantor ini. Bau pengharum ruangan otomatis yang terlalu kuat bercampur dengan aroma kopi mahal yang hambar. Namun, lebih dari itu, ia membenci kenyataan bahwa kakinya terasa lemas hanya karena melihat sebuah nama di papan pengumuman digital di samping lift.

Arlan Dirgantara – CEO.

"Mbak Maya? Pak Arlan sudah menunggu di ruangannya," sapa sekretaris dengan senyum yang terlalu simetris.

Maya mengangguk kaku. Ia meremas tali tas selempangnya seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang ia miliki. Ia sudah menyiapkan mental selama tiga hari. Ia sudah menyusun kalimat-kalimat profesional yang dingin. Ia sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arlan yang sekarang hanyalah orang asing dengan nama yang sama.

Namun, saat pintu kayu jati itu terbuka, semua benteng yang dibangun Maya runtuh dalam satu detik.

Arlan sedang berdiri membelakangi pintu, menatap kaca besar yang memperlihatkan kemacetan Jakarta. Bahunya lebih tegap dari terakhir kali Maya melihatnya—lima tahun lalu, di bawah lampu jalan yang remang-remang saat hubungan mereka hancur berkeping-keping.

"Duduk, Maya," suara itu terdengar tanpa Arlan perlu berbalik.

Maya menahan napas. Suara itu masih sama. Berat, tenang, dan memiliki cara aneh untuk membuat Maya merasa kecil sekaligus terlihat. Maya duduk di kursi kulit di depan meja besar itu.

"Terima kasih atas waktunya, Pak Arlan," ujar Maya. Suaranya sedikit bergetar, dan ia benci itu.

Arlan berbalik. Tidak ada senyum di wajahnya. Wajah yang dulu sering tertidur di bahu Maya itu kini tampak begitu asing dan keras. Ia meletakkan sebuah map di depan Maya, lalu duduk dengan gaya yang begitu dominan.

"Saya membaca portofoliomu," Arlan memulai, matanya mengunci mata Maya. "Desain interior kamu punya karakter. Tapi saya tidak suka gaya bicaramu yang seolah-olah kita baru pertama kali bertemu."

Darah Maya terasa naik ke wajah. "Saya rasa itu cara terbaik untuk tetap profesional, Pak."

"Profesional?" Arlan terkekeh pelan, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata. Ia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan. "Setelah apa yang kamu lakukan lima tahun lalu, kamu pikir kata 'profesional' bisa menutupi semuanya?"

"Itu masa lalu, Arlan," bisik Maya, pertahanannya mulai retak. Ia lupa harus memanggilnya 'Pak'.

"Bagi kamu mungkin masa lalu," potong Arlan cepat. Matanya berkilat marah, tapi ada kesedihan yang tersembunyi di sana. "Tapi bagi saya, ini adalah alasan kenapa saya membeli perusahaan yang hampir mempekerjakan kamu. Saya ingin memastikan kamu tahu, bahwa dunia ini sempit bagi orang-orang yang lari dari tanggung jawab."

Maya terpaku. Jadi ini bukan kebetulan? Ini adalah jebakan.

"Kamu ingin menghukumku?" tanya Maya dengan suara serak.

Arlan terdiam sesaat. Tatapannya turun ke jemari Maya yang sedang memilin ujung bajunya—sebuah kebiasaan lama Maya saat sedang ketakutan. Arlan mengenal gerakan itu. Dan jauh di lubuk hatinya, kemarahan itu sedikit goyah karena rasa iba yang tidak diinginkan.

"Bukan menghukum," Arlan menyandarkan punggungnya, kembali menjaga jarak. "Saya hanya ingin kamu menyelesaikan apa yang belum selesai. Proyek renovasi rumah tua di Dago. Kamu desainer-nya, dan saya pengawasnya. Kita akan bekerja bersama setiap hari selama enam bulan ke depan."

Maya menggeleng pelan. "Aku nggak bisa."

"Kamu harus bisa, Maya. Kecuali kamu ingin membayar denda pembatalan kontrak yang... saya yakin kamu tidak punya uang sebanyak itu sekarang."

Arlan berdiri, berjalan memutari mejanya dan berhenti tepat di samping kursi Maya. Ia merunduk, berbisik tepat di samping telinga Maya hingga Maya bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang dulu sering ia hirup dari kemeja pria itu.

"Selamat datang kembali, Maya. Mari kita lihat, seberapa baik kamu bisa berpura-pura bahwa kita adalah orang asing."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!