Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Efek Gavin
"Kalo gue suka sama lo, gimana?"
Sebuah pertanyaan dari Gavin ini membuat Kanaya terdiam beberapa saat, kemudian terkekeh lalu menatap Gavin seolah melihat sesuatu yang lucu.
"Kenapa lo ketawa?"tanya Gavin sambil mengerutkan kening, heran.
"Ya lucu aja sih, sama pertanyaan lo."jawab Kanaya.
"Gue rasa, cowok kayak lo itu pasti suka semua cewek deh, kan buat temen tidur aja, iya kan?"lanjut Kanaya.
Gavin menepuk keningnya, tak menyangka arah pikiran gadis di hadapannya.
"Maksud gue, bukan kayak gitu Nay, ini lebih dalem lagi dari itu, maksudnya kayak... Kayak perasaan lo ke cowok lo dulu!"ucap Gavin, menjelaskan .
"Oh, gak mungkin banget!"jawab Kanaya sambil tertawa.
"Lo kan suka sama cewek buat lo ajak bobo bareng aja, iya kan?"lanjut Kanaya, yang membuat Gavin menarik nafas panjang.
Tak ada lagi pembicaraan setelah itu, Kanaya sibuk dengan dengan apa yang kini dilihatnya dan Gavin yang melihat ponselnya namun sesekali menatap wajah Kanaya di sampingnya.
Jujur saja, Gavin merasa ada perasaan lain yang semakin besar untuk gadis di sampingnya, sebuah rasa ingin melindungi juga menyayangi gadis itu, mungkinkah Gavin benar-benar menyukai Kanaya?
Gavin pun perlahan mendekat, dan duduk di samping Kanaya dengan badan mereka yang menempel, membuat Kanaya menatapnya.
"Ngapain..?"tanya Kanaya heran.
"Pengen deketan aja."jawab Gavin sedikit salah tingkah.
Sementara Kanaya menggelengkan kepalanya heran melihat sikap pria di sampingnya. Kanaya kembali melihat ke depan tanpa mempedulikan pria yang kini merapat padanya, entahlah Kanaya tidak peduli dengan apapun yang di lakukan pria itu sekarang.
Namun tiba-tiba, terdengar suara petir yang menggelegar, membuat Kanaya spontan meringsut juga ke badan besar Gavin di sisinya.
"Jam segini, ko ada suara petir ya?"Ucap Kanaya seperti pada dirinya sendiri. Gavin hanya menganggukan kepalanya, mendengar ucapan Kanaya.
Kanaya mengalihkan pandangannya nya ke arah jendela, terlihat hujan yang cukup lebat mengguyur kota siang ini.
"Padahal kalo gak hujan, kita bisa main lagi ya Gav?"tanya Kanaya yang langsung mendapat tatapan Gavin.
"Mau main, kemana?"tanya Gavin.
"Kemana aja sih, pengen ngelepasin beban aja!"Jawab Kanaya sambil membayangkan beberapa tempat yang di inginkan untuk di kunjunginya.
"Tempat kayak apa?"tanya Gavin, yang sedikit tidak mengerti maksud gadis di hadapannya.
"Mmm... Gue pengen naik gunung mungkin, apa liat taman bunga yang sejauh mata memandang tuh cuma ada bunga aja."jawab Kanaya sambil tersenyum dan menghayalkan dia berada di taman bunga yang indah.
"Lo tau gak Nay, apa yang biasa gue lakuin kalo untuk menghilang sress gue?"tanya Gavin, yang langsung membuat Kanaya menggeleng.
"Bentar, gue contohin..."ucap Gavin.
Dan kini, Kanaya tepat di hadapan Gavin dengan posisi duduk di sebuah karpet bulu yang tebal. Kanaya terus menatap Gavin begitupun sebaliknya, ada desiran aneh yang Kanaya rasakan saat melihat wajah tampan di hadapannya.
Gavin adalah seorang laki-laki yang nyaris sempurna secara fisik, jika di tanya apa yang kurang dari Gavin, Kanaya pun akan bingung untuk menjawabnya.
Tubuh Gavin tinggi, mungkin sama dengan opa-opa korea yang sering dilihat Kanaya, badannya terbentuk indah layaknya seseorang yang memang rajin berolahraga.
Sementara untuk wajah, Gavin memiliki wajah khas pria Asia, dengan warna kulit putih kekuningan dengan rambut lebat dan hitam berkilau, jika Kanaya di tanya seperti siapa wajah Gavin, maka Kanaya akan menyebut seorang yang selama ini ia kagumi ketampanannya,Cha eun wo, seperti itulah seorang Gavin.
Merasakan sedekat ini dengan Gavin dengan posisi saling berhadapan, dan cuaca yang cukup dingin, membuat Kanaya berdebar. Entahlah ini tak baik untuk jantung Kanaya, bagaimanapun juga Kanaya hanya gadis biasa yang bisa saja terpesona saat melihat keindahan di hadapannya.
Sementara Gavin pun berusaha menetralkan debar jantungnya, melihat gadis yang begitu cantik dengan bare face nya.
Perlahan Gavin semakin mempertipis jarak mereka, sampai hidung mereka nyaris bersentuhan, tangan Gavin terangkat menyusuri wajah cantik Kanaya, menyingkirkan beberapa helai anak rambut dari wajah Kanaya, kemudian membelai pipi mulus Kanaya.
Gavin tak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari mata Kanaya, dan bak terhipnotis Kanaya pun tak bisa mengalihkan tatapannya dari Gavin, sampai saat jari Gavin menyentuh bibir Pink alami Kanaya, membelai nya lembut, membuat Gavin meneguk air liurnya sendiri.
Gavin tak bisa lagi menahan keinginannya kali ini, dengan tanpa ijin Kanaya, Gavin perlahan memajukan wajah nya lalu menempelkan bibirnya dengan bibir Kanaya, Gavin membawa tangannya untuk menarik tubuh Kanaya agar semakin menempel dengan tubuhnya, dapat Gavin rasakan sesaat tubuh Kanaya sempat menegang namun hanya beberapa saat, setelahnya Gavin merasakan tubuh itu kembali rileks seolah telah pasrah dengan apa yang akan di lakukannya.
Gavin memejamkan matanya, menikmati ciuman lembutnya pada bibir lembut Kanaya, menikmati bibir atas dan bawah gadis itu yang terasa manis di rasakannya, Kanaya pun tampak tak menolak bahkan Kanaya sengaja membuka mulutnya, untuk membuat akses lebih jauh ,pada Gavin dengan ciumannya.
Tangan kanaya kini sudah melingkar di leher Gavin sementara lidah Gavin tengah menelusuri setiap inci rongga mulut Kanaya, terdengar suara decap dan lenguhan dari Gavin maupun Kanaya, bahkan kini Kanaya pun ikut membalas ciuman Gavin dengan sama menggebunya.
Derasnya hujan masih mengguyur kota membuat udara dingin begitu terasa, di luar beberapa orang tampak mengenakan jaket sambil melakukan aktivitas nya. Sementara di dalam apartemen Gavin, sepasang manusia kini tengah menikmati sensasi hangat dari tubuh mereka yang kini bersentuhan walau masih terhalang pakaian yang mereka kenakan.
Dan beberapa saat kemudian, Kanaya kini sudah berada di ranjang Gavin, dengan posisi Kanaya di bawah, dengan Gavin yang menciumnya makin brutal di atasnya, entah sudah berapa menit dan bagaimana mereka kini berada di kamar Gavin, tangan Gavin mulai turun dan masuk ke dalam kaos yang di gunakan Kanaya, menelusuri punggung lembut Kanaya dengan kedua tangannya, bibirnya pun kini mulai turun dan menciumi leher jenjang Kanaya, membuat Kanaya menengadahkan kepalanya, sambil memejamkan matanya.
"Enghh..." Desahan Kanaya terdengar.
Gavin terus memberikan kecupan-kecupan di leher putih Kanaya, bahkan meninggalkan jejak yang sama, seperti yang di buatnya kemarin malam, bila kemarin dia melakukannya dengan Kanaya yang dalam keadaan setengah sadar, maka kali ini ia yakin, Kanaya menyadari semua yang mereka lakukan saat ini.
Gavin mulai merangkak, dan menaikkan kaos yang di pakai Kanaya, untuk melihat kembali benda bulat kenyal kesukaannya, yang sempat di lihat kemarin malam, tanpa perlawan Gavin bisa kembali melihat benda indah itu untuk kedua kalinya.
Gavin pun mulai menjatuhkan bibirnya disana dan menikmati kembali benda favorit nya ini, terdengar lenguhan Kanaya ,yang membuat Gavin semakin bersemangat bermain disana, mengecup dan memberi tanda kemerahan lagi untuk yang kesekian kalinya.
Ketika Gavin merasa aktivitasnya sedikit terganggu dengan kaos yang masih di gunakan Kanaya, Gavin pun mencoba membuat Kanaya melepaskannya. Namun sebelum Gavin berhasil melepaskannya, tiba-tiba suara Kanaya terdengar.
"Gav..."suara Kanaya terdengar.
"Ja... Jangan... Aku malu."ucap Kanaya, tak menyadari dengan perubahan bahasa yang di gunakan nya barusan.
"Aku udah pernah melihat yang lebih dari ini dari kamu, Nay, "jawab Gavin.
"I've never done this before, Gav."ucap Kanaya ragu.
Gavin mengusap wajahnya, kemudian mendudukan dirinya, lalu menatap Kanaya yang masih terbaring di ranjang nya.
"Sorry Nay,,I always can't stop myself when I'm with you."ucap Gavin, lalu membantu Kanaya merapihkan pakaian nya.
"Sorry... Gue ke kamar mandi dulu bentar. "Ucap Gavin, lalu mengelus dan mengecup kening Kanaya lembut.Kanaya tersenyum melihat kepergian Gavin, ada rasa kasihan pada Gavin, tentu Kanaya tau alasan Gavin yang ingin cepat cepat ke kamar mandi, dan ada rasa kagum ketika ternyata Gavin tak seburuk itu. Gavin tak memaksakan kehendaknya pada Kanaya, bahkan di saat Gavin mampu melakukannya andai dia mau.
Kanaya merapihkan kembali pakaian nya, sementara Gavin setelah beberapa menit, ia keluar dari kamar mandi.
"Gav, udah?"tanya Kanaya, yang mendapatkan senyuman paksa Gavin, dengan sedikit salah tingkah.
"Di luar udah gak ujan, anterin aku eh... Maksudnya gue beli baju mau?"tanya Kanaya. Kanaya berusaha mengembalikan lagi sikapnya seperti semula pada Gavin, agar tidak ada kecanggungan di antara mereka, Kanaya juga berusaha memakai kosa kata yang sama seperti biasa nya mereka, namun entah kenapa Gavin sedikit tidak suka mendengar nya, bahasa yang lebih halus dari Kanaya entah kenapa Gavin suka mendengarnya.
"Oh... Ayo, terus baju lo sekarang, itu aja?"tanya Gavin.
"Iya gak apa-apa, lagian gak keliatan jelek banget ko, nanti pas di sana aja gue ganti."jawab Kanaya.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menuju sebuah pusat perbelanjaan yang tak terlalu jauh dari apartemen Gavin, untuk membeli beberapa pakaian untuk Kanaya.
Beberapa saat kemudian...
Kini Kanaya tampak sedang memilih beberapa pakaian casual untuk di pakainya, Kanaya juga sudah mengganti pakaian yang tadi di pakainya dengan yang baru, Kanaya kini terlihat memakai sebuah overall jeans, yang tampak pas dan cantik tubuh rampingnya.
Setelah selesai dengan segala kebutuhannya Kanaya bergegas ke arah kasir dengan Gavin yang setia mengikuti langkahnya.
Kanaya menyerahkan barang barang belanjaannya pada kasir dan mengambil dompet untuk membayarnya, namun sebelum berhasil ,tangan yang akan mengambil dompet tiba-tiba di genggam oleh Gavin, lalu Gavin menyerahkan sebuah kartu kredit kepada kasir yang sedang menghitung belanjaan Kanaya.
"Bayar pake ini mba."ucap Gavin, yang di angguki si kasir, Kanaya langsung menggelengkan kepalanya berusaha melarang Gavin membayar belanjaannya.
"Gav jangan, biar gue aja."ucap Kanaya.
"Ga usah, pake kartu gue aja..!"ucap Gavin tak mempedulikan respon Kanaya.
"Gak bisa gitu Gav, itu belanjaan gue, lagian gue gak semiskin itu ko, buat bayar keperluan gue sendiri. "Ucap Kanaya, namun Gavin lagi-lagi tak mempedulikan ucapan Kanaya.
Belanjaan Kanaya sudah di serahkan kasir yang langsung di sambut Kanaya, ada tiga paper bag yang kini Kanaya bawa, dengan Gavin yang berjalan di sampingnya.
"Gav... Gue balikin ya duit lo, gue gak enak, gue ngajakin lo bukan buat minta di tarktirin sama lo ko, beneran."ucap Kanaya yang masih merasa tak enak pada Gavin.
"Gue emang sengaja mau beliin lo Nay, udah deh... Anggap aja traktiran gue karna..."Gavin tampak berpikir sebelum melanjutkan ucapanya.
"Karna...apa?"tanya Kanaya.
"Karna...."Gavin terdiam sesaat berpikir kata apa yang pas, agar Kanaya tak menolak pemberiannya, sejujurnya Gavin sedikit heran, biasanya semua gadis yang bersamanya, cenderung akan sangat senang bila Gavin yang membelikan barang barang yang mereka inginkan. Sangat berbeda dengan Kanaya yang terlihat sekali bahwa gadis itu tak ingin menerima pemberiannya.
"Karna... Lo udah masakin gue, tadi pagi."Jawab Gavin akhirnya, Gavin tiba-tiba teringat dengan masakan yang di buat Kanaya tadi pagi.
"Ada ada aja sih lo, lagian gue itu udah dua malam ngerepotin lo Gav, masa sekarang malah di traktir juga, jangan ya, mending gue balikin aja."ucap Kanaya memelas, berharap Gavin mengerti akan maksudnya, namun Gavin lagi-lagi menggeleng.
"Nggak Kanaya, ya udah lo temenin gue makan aja, sebagai ganti belanjaan lo."ucap Gavin yang akhirnya di angguki Kanaya.
Dan akhirnya setelah selesai dengan segala kebutuhan Kanaya, Gavin dan Kanaya kini sedang berada di sebuah restoran untuk menikmati makan siang .
"Abis ini, gue pulang aja kayaknya, Gav."ucap Kanaya sambil mengunyah makanannya.
"Lo gaj takut, ada mantan lo itu?"tanya Gavin.
"Gue bakal minta papah, buat nambah penjagaan di rumah nanti."jawab Kanaya. Ia pikir tak mungkin ia terus terusan menghindari Rangga dengan cara seperti ini. Kanaya akan mencoba meminta bantuan ayahnya kali ini.
Gavin menganggukan kepalanya mengerti."Oke...nanti gue anterin ke rumah lo kalo gitu."Ujar Gavin.
Gavin dan Kanaya terus berbincang membicarakan banyak hal berdua, ternyata Gavin tak seburuk yang di pikirkannya selama ini, dan mereka tak menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka, terutama Kanaya gadis yang beberapa hari ini selalu di pikirkannya.
Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki, lalu berjalan ke arah meja, yang di tempati Gavin dan Kanaya, matanya tak lepas menatap Kanaya yang sesekali tertawa entah karena apa, sampai ia tiba di hadapan kedua orang itu.
"Nay...."Sapanya.
Gavin dan Kanaya menengok ke arah orang yang menyebut nama Kanaya, dan membuat mereka berdua cukup terkejut ketika melihat pria yang kini ada di hadapan mereka .
"Rai...."Ucap Kanaya dan Gavin bersamaan.
-Bersambung