Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3.
“Lin kamu nggak keberatan?” tanya pemuda itu pada bocil perempuan.
“Tidak Mas Rizky.. ini biasa aja..” ucap bocil perempuan itu, di tangannya mengangkat satu karton besar berisi coklat batangan.
“Elin disuruh bawa lagi juga masih kuat kok Mas.” Saut bocil laki laki yang di kedua tangannya juga membawa satu karton besar berisi margarin.
“Hi..hi.. hi.. iya Mas Rizky, aku masih kuat.. Cuma nanti mataku tertutup kardus.. hi... hi...” suara imut Elin sambil tertawa riang.
“Iya ntar dari depan dikira kardus kardus berjalan bersendiri he he..” Pemuda yang bernama Rizky itu pun tertawa kecil.. Di bahunya juga memikul satu karung tepung.
Aurely dan Ayahnya menatap tiga orang yang begitu menarik perhatiannya itu..
Pak Baskoro masih terus menatap ke arah Rizky dan dua bocah itu hingga mereka menghilang di balik kios.
“Anak-anak itu kok kuat banget ya, Rel. Kalau dilihat dari tampangnya, mereka bukan orang miskin,” ucap Pak Baskoro pelan.
Aurely mengangguk. “Iya, Yah. Bajunya rapi. Sepatunya juga bagus.. dua bocil itu juga bersih dan cakep cakep macam anak orang kota kaya. ”
Tak lama kemudian, seorang ibu paruh baya, pemilik kios bahan bahan makanan.. mendekati mereka. Ia membawa buku catatan pesanan dan terlihat sibuk mengatur beberapa orang pegawainya.
“Oh, itu Rizky,” ujar ibu itu sambil tersenyum ketika menyadari arah pandang mereka. “Anaknya baik. Itu keponakan-keponakannya ”
“Keponakan?” tanya Pak Baskoro sopan, mungkin mendengar kedua bocah tadi tidak memanggil Rizky dengan sebutan Om atau Paman.
“Eh adik sepupu.... Mama dua anak itu.. Tantenya Risky.. pelanggan saya. Dia punya usaha catering di desa,” jelasnya sambil menunjuk ke arah kios terbesar di sudut pasar. “Tantenya Rizky itu, punya usaha catering lumayan besar. Pesanan hajatan, kantor, kadang sampai kota.. sekarang punya kios besar di pasar ini, untuk rumah makan dan toko roti itu.”
Aurely terkejut. “Jadi… mereka bukan kuli pasar?”
Ibu itu tertawa kecil. “Bukan, Mbak. Mereka bantu-bantu saja. Biasain anak kerja sejak kecil. Katanya biar tahu capek yang menghasilkan..”
Jawaban itu membuat Aurely terdiam.
Beberapa menit kemudian, dua bocil itu kembali berlari lari.. “Bu.. masih ada yang kelupaan.. kacang Al... al... “ teriak Elin sambil berlari menatap Ibu paruh baya pemilik kios itu.
Ibu itu tersenyum..”Kacang almond..” katanya paham yang dimaksud oleh Elin.
“Iya Bu.. kacang almond.. dan aku sama Elang mau beli keju dan susu...” ucap Elin lagi..
Anak laki laki yang bernama Elang mengulurkan uang pada ibu itu.. ”Ini uang buat bayar keju dan susu.. uang belanjaan Mama ditransfer ya Bu..”
“Iya anak pintar , buat apa kalian beli keju dan susu. Mama kalian kan sudah beli banyak.” Ucap Ibu itu sambil menerima uang dari Elang.
“Hi... hi.. hi.. mau buat jasuke.. mau dijual di sekolah besok.. Di rumah ada banyak jagung manis ..” ucap Elin sambil tertawa lebar..
Rizky kembali menghampiri kios bahan makanan itu. Ia menunjukkan bukti transfer pembayaran, lalu mengusap pelan kepala Elin dan Elang.
“Sudah belanjaan biar Mas Rizky yang bawa, nanti Mama marah kalau kalian kecapekan,” katanya.
“Enggak capek kok,” protes Elin sambil cemberut. “Aku kan anak catering harus rajin bantu Mama.”
Rizky tertawa. “Iya, anak bos.”
Aurely melihat semuanya dengan perasaan aneh di dada. Mereka punya usaha. Punya keluarga yang utuh. Punya penghasilan. Tapi tetap mau berkeringat, mengangkat barang, mau berjualan dan tertawa lepas.
Tidak ada gengsi di wajah mereka.
“Yah…” Aurely berbisik saat ibu kios itu sudah berlalu.
“Hmm?”
“Kenapa ya… orang yang sebenarnya mampu, justru tidak malu kerja seperti itu?”
Pak Baskoro tersenyum pahit tapi hangat. “Karena mereka tidak pernah mengaitkan harga diri dengan jabatan atau harta, tapi dengan tanggung jawab.”
Kata-kata itu menancap dalam.
Aurely duduk sambil memijat lengannya sendiri. Ia melirik ke arah toko roti. Elin dan Elang membantu menata makanan, tertawa sambil mencicipi sedikit keju atau coklat yang tercecer di nampan. Mama mereka sesekali menegur, tapi dengan wajah penuh kasih sayang.
Aurely menunduk. Ia teringat dirinya sendiri.. yang selama ini merasa jatuh hanya karena harus turun kelas sosial.
Padahal di depannya, ada orang-orang yang punya segalanya untuk tinggi hati, tapi memilih tetap membumi.
Aurely merasa malu… bukan karena hidupnya sekarang sederhana, melainkan karena selama ini ia tidak pernah benar-benar menghargai kerja keras.
Aurely menoleh menatap Ayahnya yang bersiap akan kerja lagi.. Ia berkata pelan pada ayahnya, “Yah… besok kalau ke pasar lagi, aku ikut.”
Pak Baskoro menoleh, sedikit terkejut. “Kamu yakin?”
Aurely mengangguk. “Aku capek… tapi aku mau belajar capek yang benar.”
Sesaat terdengar bunyi notifikasi ponsel yang ada di dalam saku celana nya. Ia meraih ponsel.. kebiasaan lama yang dulu selalu menghadirkan notifikasi menyenangkan.
Kini, yang muncul justru sebaliknya. Ia membuka grup kampus.
Grup: Elite Class 22
Nadya: Eh beneran Aurely pindah ke desa?
Riko: Desa mana? Jangan-jangan sinyal aja susah 😂
Nadya: Ya ampun, kasihan bingit sih… jangan jangan dia jadi petani..
Riko: Sesuai namanya kan.. Tani... 😂
Maya: Tapi jujur, gue lihat auranya sekarang jadi beda ya.
Riko: Beda level maksudnya?
Aurely membaca tanpa berkedip. Jarinya gemetar, tapi ia tidak membalas.
Satu pesan masuk secara pribadi.
Maya:
Rel, gue harap lo nggak salah paham ya. Tapi kayaknya lo butuh waktu buat diri lo sendiri. Kita di sini lagi sibuk banget.
Aurely tersenyum miring. “Sibuk… tanpa aku.” Gumamnya , ia tidak membalas chat Maya.
Ia lalu membuka chat Kevin. Terakhir online: 10 menit lalu.
Aurely mengetik.
Aurely:
Kevin… Aku sekarang tinggal di daerah Yogya.. katanya kamu suka kota Yogya.. Kalau kamu libur bisa main ke sini.. Kita belum putus kan?
Tiga menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Balasan akhirnya datang.
Kevin:
Rel, jujur aja ya. Gue sudah nggak ada urusan ama lo.. nggak ada waktu buat lo..
Lo juga pasti ngerti… hidup kita udah beda sekarang.
Mata Aurely panas.
Aurely: Maksud kamu beda?
Tanda typing muncul lama, lalu hilang.
Pesan masuk.
Kevin: Gue lagi bangun karier. Gue butuh pasangan yang sejalan. Semoga lo bahagia di tempat baru.
Tidak ada kata maaf. Tidak ada usaha bertahan.
Aurely menatap layar ponselnya lama, lalu tertawa pelan.. tertawa yang rapuh.
“Jadi… aku cuma berharga saat hidupku mewah,” gumamnya. Keduanya matanya kini memerah dan berkaca kaca..
Ia mematikan layar dan memberikan ponselnya pada Ayah nya.
Siang itu, Aurely pulang lebih dulu dari pasar. Ayahnya masih membantu bongkar muatan di kios bahan bahan makanan, sementara Aurely memilih pulang naik motor milik tetangga yang dipinjamkan.
“Pelan-pelan ya, Rel itu motor pinjaman . Nanti habis maghrib jemput Ayah..” pesan Ayahnya.
“Iya,” jawab Aurely singkat.
Jalan desa tidak seramai kota, tapi lebih licin.. dan jalan naik turun dan berkelok kelok..
Motor matic itu terasa ringan tapi asing. Aurely mengendarainya perlahan, melewati jalan desa yang sejuk karena di kanan kiri jalan banyak pohon pohon besar.
Angin menerpa wajahnya, tapi tidak menenangkan. Justru mempertegas kemarahannya. Ia masih teringat kalimat kalimat pesan di dalam ponsel-nya..
“Lihat aku sekarang.” batinnya pahit. “Sendirian. Ditinggalkan. Terjebak di tempat yang aku benci.”
Tangannya mencengkeram setang lebih kuat.
Jalan menurun tajam. Di depannya, tikungan sempit dengan batu-batu kecil berserakan.
“Astaga,” gumamnya.
Ia panik. Rem ditekan terlalu mendadak.
Motor oleng.
Waktu seakan melambat.
“Aduh.. !”
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting