NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pengasuh Dadakan 2

Karel, yang baru saja bisa berjalan dengan lancar, mulai melangkah di atas karpet tebal ruangan Abian. Kakinya yang mungil masih sedikit goyah, membuatnya berjalan dengan tertatih-tatih sambil menyeimbangkan tubuhnya yang gempal.

Nana yang melihat itu langsung gemas bukan main. "Aduh, sayang mau ke mana nih?"

Namun, Karel tidak menghiraukan Nana. Mata bulatnya tertuju lurus pada sosok pria jangkung yang sedang duduk kaku di balik meja kerja besar. Karel berhenti tepat di samping kursi Abian, lalu menarik-narik ujung celana kain mahal milik pamannya itu dengan tangan kecilnya yang sedikit lengket bekas biskuit.

"Ommm..... endong..." rengek Karel sambil mendongak, mengangkat kedua tangan mungilnya ke atas.

"Haruna, ambil anak ini. Saya sedang sibuk," perintah Abian.

"Ih, Bapak tega banget! Masa anak sekecil ini ditolak? Lihat tuh mukanya udah mau nangis,"

"Ommm... endong... hwaaa..." Karel mulai mengeluarkan suara tanda akan terjadi ledakan tangis jika keinginannya tidak dituruti.

Panik melihat tanda-tanda bencana suara, Abian akhirnya menyerah. Abian mengangkat Karel dan mendudukkannya di atas pangkuannya.

"Nah, gitu dong, Pak. Ternyata Bapak punya sisi manusiawi juga ya," ledek Nana sambil tertawa renyah.

Abian mendengus, mencoba kembali mengetik dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan punggung Karel agar tidak jatuh. "Diam kamu, Haruna. Cepat siapkan susu untuk anak ini, sebelum dia menghancurkan meja saya."

Karel, yang sudah merasa nyaman di pangkuan pamannya, malah asyik memencet-mencet tombol keyboard laptop Abian secara acak.

Abian benar-benar di ambang batas kesabarannya. Laptopnya sekarang sudah terkunci karena Karel berkali-kali menekan tombol yang salah, dan dasi mahalnya sudah ditarik-tarik hingga miring tak karuan. Belum lagi Karel yang terus bergerak aktif di pangkuannya, membuat Abian keringat dingin.

"Haruna! Cepat, saya sudah tidak tahan lagi!" seru Abian dengan nada frustrasi. Wajahnya yang biasanya rapi kini terlihat acak-acakkan.

"Tolong buatkan susu untuk anak ini, lalu tidurkan dia. Saya tidak bisa kerja kalau begini!"

Nana tertawa kecil melihat bosnya yang biasanya berkuasa kini tak berdaya menghadapi seorang balita. "Sabar, Pak. Namanya juga anak-anak. Oke, saya buatkan susunya dulu."

Sambil menunggu Nana menyiapkan botol, Karel yang masih duduk di pangkuan Abian mulai merasa bosan. Ia menatap wajah pamannya lekat-lekat, lalu dengan semangat tinggi mulai berbicara dengan bahasa anak satu tahun yang campur aduk antara kata-kata sederhana dan ocehan.

"Om... mamam? .. Nana... cucu!" ucap Karel sambil menunjuk ke arah meja pantry kantor tempat Nana berada. Tangannya yang mungil kemudian menunjuk ke arah dasi Abian yang sudah lepas,

"Dasi... jatuh... hancuy!" hanya bisa mengangguk-angguk pasrah dengan wajah datar.

Abian yang tidak mengerti sepenuhnya.

"Iya, iya..." jawab Abian singkat, mencoba mengimbangi ocehan keponakannya itu agar tidak menangis lagi.

"Om... galak? Nda... nda... Nana cantik!" lanjut Karel

"Iya, iya... terserah kamu saja, Karel," ucap Bian lagi sambil memijat pangkal hidungnya.

Nana datang membawa botol susu hangat dan melihat pemandangan itu sambil menahan tawa. "Wah, komunikasinya lancar ya, Pak? Ternyata Karel tahu saja mana yang galak mana yang cantik."

"Jangan banyak bicara, Haruna. Cepat ambil dia!" perintah Abian, meskipun telinganya sedikit memerah.

Nana mengambil Karel dari pangkuan Abian. Begitu botol susu hangat itu menyentuh bibirnya, Karel perlahan menjadi tenang. Nana membawa Karel ke sofa pojok ruangan yang cukup nyaman, menepuk-nepuk punggungnya pelan. Tidak butuh waktu lama sampai mata bulat itu perlahan terpejam.

Abian melirik jam tangannya. Kemudian melirik Karel yang sudah terlelap tenang di pelukan Nana.

Abian berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut akibat ulah keponakannya tadi, dan menyambar map dokumen di atas meja.

"Saya harus ke ruang rapat sekarang," ucap Abian singkat sambil berjalan menuju pintu.

Nana yang masih duduk di sofa, menepuk-nepuk pelan punggung Karel, langsung mendongak kaget. "Saya, Pak? Maksudnya, saya nggak ikut mencatat notulensi rapat?"

Abian menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, lalu menoleh ke arah Nana.

"Kamu di sini saja, temani dia," perintah Abian.

"Saya tidak mau Karel terbangun dan menangis histeris kalau melihat orang asing. Rapatnya biar diatur oleh sekretaris divisi lain saja."

"Tapi Pak, ini kan rapat penting. Bapak yakin saya nggak perlu ikut?"

"Lebih penting memastikan keponakan saya tidak jatuh dari sofa itu, Haruna," jawab Abian.

"Iya, Pak Bos... Bawel banget sih," gumam Nana pelan, hampir tidak terdengar.

Abian hanya mendengus kecil, lalu keluar dan menutup pintu ruangan dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara gaduh. Kini, di ruangan luas itu, hanya tersisa Nana dan Karel yang sedang bermimpi indah.

Nana menatap pintu yang tertutup itu, lalu beralih ke Karel. "Tuh kan, Rel. Om kamu itu sebenarnya baik, cuma bungkusnya aja yang kayak kulkas dua pintu."

Sudah dua jam berlalu sejak Abian pergi rapat. Ruangan yang tadinya tenang tiba-tiba pecah oleh suara tangisan kencang. Karel terbangun dengan wajah merah padam dan tangis yang sangat histeris.

Nana yang kaget langsung sigap menggendongnya. "Eh, eh, sayang... kenapa? Haus ya? Cup, cup..."

Begitu Nana mengangkat Karel, aroma menyengat langsung menusuk hidungnya. Nana meringis sambil menjauhkan sedikit badannya. "Waduh, jagoan... ternyata kamu pup ya?"

Nana segera meraih tas perlengkapan yang dibawa Davina tadi pagi. Ia membongkar isinya dengan cepat, mengeluarkan botol susu, bedak, baju ganti, tapi dahinya berkerut saat merogoh bagian paling dasar. Tidak ada pampers satu pun di dalam tas itu.

"Duh, Kak Davina gimana sih, masa nitip anak pampersnya lupa dibawa!" gumam Nana panik karena tangisan Karel makin menjadi-jadi dan baunya makin semerbak di ruangan mewah Abian.

Dalam keadaan terdesak, Nana meraih ponselnya dan mengirim pesan kilat kepada Abian yang masih berada di ruang rapat direksi.

"Pak, masih lama?"

"Ini Karel pup, tapi pampersnya nggak ada di tas. Saya bingung harus gimana, dia nangis terus ini!"

Ponselnya bergetar. Sebuah balasan singkat dari Abian masuk, namun isinya tidak membuat Nana merasa lebih tenang.

Abian: "Bersihkan dulu sebentar. Saya sudah suruh seseorang datang membelinya. Jangan biarkan dia lari-lari di atas karpet saya."

Nana melotot membaca pesan itu. "Bersihkan dulu katanya? Enak banget ngomongnya! Dia nggak tahu apa medannya seberat apa!" gerutu Nana sambil menghela napas pasrah. Dengan perjuangan ekstra dan berbekal tisu basah yang tersisa, Nana mulai membersihkan Karel di area wastafel ruang kerja Abian yang mewah.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu ruangan terbuka dengan terburu-buru.

"Woi, Bi! Ini pesanan lo udah sampai...."

Kalimat pria itu terhenti. Nana menoleh dengan posisi masih memegangi kaki Karel yang mungil. Di ambang pintu, berdirilah Naufal dengan napas sedikit tersengal dan kantong plastik besar berisi pampers di tangannya.

Mata Naufal membelalak sempurna saat melihat sosok Nana.

"Loh... kamu?!" seru Naufal kaget.

Nana pun tak kalah terkejutnya. Ia mengenali wajah tampan di depannya sebagai pria yang memberinya mawar merah di trotoar semalam.

"Ehhh...."

Naufal menunjuk Nana dengan jari telunjuknya, seolah sedang berusaha meyakinkan penglihatannya sendiri. "Kamu kan cewek yang waktu itu! Yang di trotoar, yang saya kasih bunga mawar merah!"

Nana mendadak salah tingkah, padahal ia sedang memegang bayi yang baru saja pup. "I-iya, Mas..."

"Dunia sempit banget ya! Ternyata kamu asistennya Abian? Si robot kulkas itu?"

Belum sempat Nana menjawab, suara bariton Abian terdengar dari belakang Naufal.

"Naufal, mana pampersnya? Cepat berikan ke Haruna,"

Abian muncul dengan wajah kaku, menatap tajam ke arah Naufal yang tampak terlalu bersemangat melihat asistennya.

1
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
𝐈𝐬𝐭𝐲
bos lucnut EMG bian ya, kasihan itu Nana suruh duduk di paling belakang 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!