"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Bedak
Langkah Rosie terhenti di depan sebuah lapak yang memajang jajaran benda mengkilap. Matanya tertuju pada sebuah cermin perunggu dengan bingkai kayu jati berukir yang bersandar di tumpukan peti.
Dia mendekat, lalu menatap pantulan dirinya dengan dahi berkerut dalam. Di bawah terik matahari Pasar Arcapada, wajahnya terlihat sangat putih merata, seolah dia baru saja mencelupkan kepala ke dalam ember berisi cat tembok dan bibir yang merah menyala.
"Gendis, lihat ini," keluh Rosie sambil menyentuh pipinya yang terasa kaku. "Mukaku berasa tebal pakai topeng begini. Sumpah, ini berat banget."
Gendis yang berdiri tepat di belakangnya segera menarik tangan Rosie agar menjauh dari cermin. "Nona, jangan disentuh! Nanti bedaknya retak. Nona harus terlihat cantik dan bersinar di depan umum. Sangat tidak pantas jika nona bangsawan terlihat kusam di tengah keramaian," bisik pelayan itu dengan nada yang sangat serius.
Rosie mendengus, mencoba menggerakkan otot wajahnya yang terkunci oleh lapisan bedak dingin yang tadi dipoleskan bertumpuk-tumpuk. "Kan cuma mau ke pasar, Gendis. Bukan mau audisi jadi pemeran utama film horor. Kenapa harus sebegininya sih?"
"Kenapa juga Nona mendadak mau keluar?" Gendis membalas dengan bisikan yang sedikit lebih kencang. "Biasanya Nona selalu bilang kalau panas matahari itu musuh bebuyutan kulit. Nona itu anak rumahan yang paling benci kena debu pasar."
Rosie terdiam sejenak. Ingatannya tentang Kirana Merah yang asli memang menggambarkan sosok yang sangat pemilih dan malas berpanas-panasan. Mengingat betapa drastisnya perbedaan gaya hidupnya yang sekarang, dia tidak bisa menahan diri.
"Hah? Jadi aku dulu se-introvert itu ya?" Rosie meledak dalam tawa yang pendek dan renyah. "Hahahaha! Masa cuma gara-gara matahari aja takut?"
"Nona! Jangan tertawa begitu!" Laras yang berdiri di sisi lain segera menyela dengan wajah pucat pasi. "Suara tawa Nona harus lembut seperti denting genta, bukan terbahak seperti kuda! Tolong jaga wibawa Nona."
Rosie segera menutup mulutnya dengan telapak tangan, merasakan sensasi kering dari bedaknya yang nyaris pecah. Dia menghela napas panjang, mencoba mengikuti irama langkah pengawal di depannya.
Pasar Arcapada sedang berada di puncak kesibukan. Aroma amis ikan dari arah sungai beradu dengan bau tajam dupa yang dibakar oleh pedagang bunga di sudut jalan.
Perjalanan menuju pasar di seberang sungai ini sebenarnya sudah dimulai dengan perdebatan panjang di kamar tadi. Rosie awalnya bersikeras ingin memakai kain kemben sederhana, tanpa hiasan berlebihan agar bisa bergerak bebas. Namun, Laras dan Gendis hampir menangis histeris melihat keinginan majikan mereka yang dianggap melanggar adat.
"Tidak sopan, Nona! Pergi ke tempat ramai dengan bahu terbuka dan pakaian harian itu sangat tidak pantas," tegas Laras saat itu sambil membentangkan kain selendang sutra sutra berwarna merah tua yang tebal.
Akhirnya, Rosie harus mengalah. Dia mengenakan pakaian yang jauh lebih tertutup. Sebuah selendang lebar menutupi bahu dan lengannya, diikat dengan peniti emas yang berkilau.
Meski terasa gerah, kain itu memang berfungsi sebagai penyamaran agar warga tidak langsung mengenali wajah Kirana Merah yang biasanya selalu tampil dengan bahu terbuka dan perhiasan yang mencolok di kepala.
Kini, dia berjalan menyusuri jalanan pasar yang dipenuhi orang-orang dengan berbagai urusan. Di sisi kiri, para perajin gerabah sedang menata kendi-kendi tanah liat, sementara di sisi kanan, pedagang kain lurik sedang berteriak menawarkan barang dagangannya kepada serombongan ibu-ibu dari desa seberang.
"Nona, pelan sedikit jalannya!" bisik Gendis dengan napas yang mulai terengah-engah. "Tidak etis bagi seorang bangsawan berjalan secepat itu. Langkah Nona harus tenang dan berwibawa."
Rosie mendengus kesal. Dia terbiasa berjalan cepat di trotoar Jakarta agar tidak ketinggalan kereta, dan sekarang dia harus berjalan seperti siput yang sedang membawa beban berat. "Iya, iya, ini udah pelan," sahutnya sambil berusaha mengatur ritme kakinya.
Tanpa sadar, Rosie mengangkat kain jariknya sedikit tinggi agar kakinya tidak tersangkut saat melewati gundukan tanah yang tidak rata di tengah pasar.
"Nona! Jangan mengangkat kain jarik terlalu tinggi!" tegur Laras dengan nada panik. "Malu dilihat orang jika betis Nona terlihat di depan umum!"
Rosie memutar bola mata, tapi dia menurunkan kembali kainnya. Pandangannya kemudian tertuju pada dua sosok yang berjalan beberapa meter di depan mereka.
Putih dan Melati sedang berhenti di depan sebuah lapak penjual buah-buahan yang ranum. Citra memang sengaja mengirim Putih ke pasar hari ini untuk membeli bahan makanan dapur yang sudah menipis, sebuah tugas rutin yang biasanya dilakukan oleh pelayan, tapi sengaja diberikan kepada Putih.
Rosie memberi isyarat kepada Jaka dan Wira untuk berhenti sejenak di balik tumpukan karung rempah yang sedang diturunkan dari gerobak sapi. Dia ingin melihat apa yang dilakukan adiknya di tengah keramaian ini.
Putih tampak sedang memegang sebutir jeruk dengan gerakan yang sangat lemah lembut. Wajahnya yang polos tanpa bedak tebal justru terlihat sangat bersinar di bawah cahaya matahari, memberikan kesan gadis desa yang jujur dan tertindas.
"Berapa harga jeruk ini, Bibi?" tanya Putih dengan suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat sopan di telinga siapa pun yang mendengarnya.
Pedagang buah itu, seorang wanita paruh baya dengan pakaian lurik lusuh, menatap Putih dengan pandangan yang sangat penuh simpati. "Harganya biasanya dua Keping Aruna, Nona Kecil. Tapi untukmu, bawalah saja. Aku tidak tega melihatmu berjalan jauh-jauh dari kediaman besar hanya untuk membeli beberapa butir jeruk."
Melati yang berdiri di samping Putih segera menyahut dengan nada bicara yang sengaja dibuat sedih. "Terima kasih banyak, Bibi. Nona Putih memang sedang kelelahan. Bayangkan saja, sepanjang malam tadi dia tidak diizinkan memejamkan mata sedikit pun oleh Nona Merah. Dia dipaksa menjaga kakaknya yang sedang sakit panas itu tanpa henti."
Warga yang sedang berdiri di dekat lapak itu segera menoleh, mereka mulai berbisik-bisik dengan wajah yang penuh penghakiman.
"Kasihan sekali Nona Putih," bisik seorang pria yang sedang memikul kayu bakar. "Kirana Merah itu memang benar-benar sudah hilang akal. Bagaimana mungkin ada seorang kakak yang setega itu kepada adiknya sendiri?"
"Benar kata orang, hatinya sudah sehitam arang. Pasti dia sengaja menyiksa Putih agar dia sendiri bisa bersantai," timpal seorang wanita yang sedang menimbang lada.
Rosie yang mendengarkan dari balik karung rempah merasa hatinya mencelos. Rasa marah yang seharusnya muncul justru berganti dengan rasa miris yang menyesakkan dada. Dia menatap tangannya yang tersembunyi di balik kain selendang mahal.
Emang aku sejahat itu ya? batin Rosie pilu.
Dia teringat bagaimana mengusir mereka dari kamarnya saat itu, tapi dia tidak pernah membayangkan kalau tindakannya akan dipelintir sedemikian rupa di depan umum.
Rosie melihat Putih menerima jeruk-jeruk itu dengan kepala yang tertunduk dalam. Putih tampak begitu polos, seolah tidak menyadari bahwa ucapan Melati sedang menghancurkan nama baik kakaknya di seluruh penjuru pasar.
Dia merasa sedih melihat betapa buruknya reputasi yang ditinggalkan oleh pemilik tubuh ini, bahkan ketika dia sudah berusaha untuk berubah sedikit demi sedikit.
"Nona, jangan dengarkan mereka," bisik Gendis yang menyadari perubahan raut wajah Rosie di balik bedak tebalnya.
Rosie hanya menggeleng pelan. "Ayo kita lanjut jalan aja."
Mata Rosie terus menyapu keadaan pasar untuk mengalihkan rasa sedihnya. Di bagian tengah, aktivitas perdagangan semakin ramai. Para pengepul sedang berdebat soal harga cengkeh, sementara di sudut lain, suara pandai besi yang sedang menempa sabit menciptakan kebisingan yang konstan.
Dia menyadari bahwa setiap sudut pasar ini adalah sumber informasi penting. Penampilannya yang tertutup dengan bedak tebal ini ternyata memang diperlukan agar dia bisa mengamati semuanya tanpa harus diserang oleh makian warga yang sudah telanjur membencinya.
"Jaka, Wira," panggil Rosie pelan kepada dua pengawalnya. "Jangan sampai kita ketahuan oleh mereka. Kita harus mengikuti mereka ke arah pedagang minyak di ujung pasar. Aku mau lihat apa lagi yang mereka beli."
Jaka mengangguk patuh, tangannya memegang tongkat kayu dengan lebih erat. Rosie kembali melangkah, kali ini dengan lebih hati-hati. Dia tidak lagi mempedulikan rasa gerah di balik pakaian tertutupnya.
Fokusnya sekarang adalah memahami bagaimana alur perdagangan di pasar ini berjalan, sambil sesekali menahan rasa perih di hatinya setiap kali mendengar nama "Kirana Merah" disebut dengan nada penuh kebencian oleh warga pasar.
Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh
Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/