“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Malam sebelumnya terasa seperti sebuah kemajuan besar bagi Elio. Cokelat-cokelat yang dibawa Jeremy membuatnya terjaga hingga larut malam karena terlalu bersemangat.
Di benak bocah enam tahun itu, segalanya sudah berubah. Daddy sudah baik. Daddy sudah peduli. Maka, dengan jemari mungil yang memegang krayon erat-alih, Elio menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuat sebuah kejutan.
Pagi harinya di ruang makan, Jeremy sedang duduk di kursinya. Namun tatapannya tak lepas dari tablet di tangan kiri dan secangkir kopi hitam pekat di tangan kanannya.
Dahinya berkerut dalam, rahangnya mengeras menatap grafik saham perusahaan yang sedang merah membara.
"Daddy..." panggil Elio pelan.
Jeremy tidak menyahut. Jemarinya sibuk mengetik pesan singkat penuh makian untuk manajer investasinya.
"Daddy, lihat..." Elio mendekat, lalu menyodorkan selembar kertas gambar yang penuh warna. "Lio gambar ini untuk Daddy. Ada Daddy, Elio, dan Kak Aya. Lihat, Daddy pakai mahkota besar karena Daddy adalah raja di rumah ini!"
Cahaya, yang baru saja meletakkan piring roti di meja, tersenyum haru melihat kepolosan Elio. Ia melirik Jeremy, berharap pria itu akan memberikan setidaknya satu kata pujian.
"Singkirkan itu! Aku sedang pusing," gumam Jeremy tanpa menoleh sedikit pun.
"Tapi ini bagus, Dad. Kak Aya bilang Lio pintar gambar wajah Daddy—"
"Aku bilang singkirkan!" bentak Jeremy tiba-tiba sambil mengibaskan tangannya dengan kasar.
Gerakan tangan Jeremy yang tak terkontrol menghantam cangkir kopi di sampingnya. Kopi panas itu tumpah ruah di atas meja dan menyiram tepat di tengah-tengah kertas gambar Elio.
Cairan hitam pekat itu meresap cepat, melunturkan warna krayon dan merobek serat kertas yang malang tersebut. Sosok daddy bermahkota dalam gambar itu kini tertutup noda gelap yang mengerikan.
Elio mematung. Tangannya masih menggantung di udara, memegang ujung kertas yang sudah basah kuyup. Matanya yang bulat perlahan berkaca-kaca, bibirnya mulai bergetar hebat.
"Gambar Lio... rusak," bisik Elio dengan suara yang pecah.
Jeremy, bukannya merasa bersalah, justru berdiri dengan emosi yang meledak. Ia melihat jas mahalnya terkena cipratan kopi.
"Lihat apa yang kau lakukan! Sudah kukatakan jangan mengganggu saat aku bekerja! Kau ini anak yang tidak tahu aturan! Hanya bisa membuat kekacauan sejak pagi!"
"D-Daddy... maaf... Lio cuma mau kasih lihat..." Tangis Elio pecah. Ia terisak sesenggukan, menatap sisa-sisa gambar keluarganya yang kini hanya berupa sampah basah di atas meja.
"Cukup! Cahaya! Bawa anak ini keluar! Dia benar-benar merusak suasana hatiku!" teriak Jeremy tanpa perasaan.
Cahaya yang sejak tadi mematung, merasakan darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Ia berjalan cepat, merenggut kertas basah itu dari meja, lalu menarik Elio ke dalam pelukannya.
"Sstt... Lio, ikut Kak Aya. Jangan lihat pria ini," bisik Cahaya dengan nada yang sangat dingin, matanya menatap tajam ke arah Jeremy.
"Apa kau dengar? Kubilang bawa dia—"
"Tutup mulut anda, Tuan Jeremy Sebastian!" teriak Cahaya membuat seisi ruang makan mendadak hening.
Martha yang berada di dapur sampai terlonjak kaget. Jeremy sendiri terpaku, tidak menyangka gadis itu akan membentaknya dengan suara selantang itu.
"Apa kau bilang?" Jeremy menyipitkan mata.
"Saya bilang tutup mulut anda!" Cahaya melangkah maju, melempar kertas gambar yang basah dan sobek itu tepat di depan dada Jeremy. "Lihat ini! Lihat baik-baik apa yang sudah anda hancurkan!"
"Itu hanya sebuah kertas!" balas Jeremy sengit.
"Bukan! Ini bukan cuma kertas! Ini isi hati putra anda!" teriak Cahaya, air mata amarah mulai menggenang di sudut matanya. "Dia menggambarmu memakai mahkota karena di matanya kau adalah pahlawan. Dia bangga punya ayah sepertimu meski kau memperlakukannya seperti sampah! Tapi apa yang kau lakukan? Hanya karena sahammu turun beberapa persen, kau tega membentak anak sekecil ini?"
"Kau tidak tahu apa-apa tentang beban yang kupikul—"
"Bebanmu itu tidak ada apa-apanya dibanding beban perasaan Lio yang harus terus-menerus mengemis kasih sayang darimu!" potong Cahaya dengan nada menghina. "Om bukan raja. Om hanya pria egois, pengecut, dan tidak punya hati. Om menghukum Lio atas kematian istri Om, padahal Lio adalah satu-satunya peninggalan nyonya Stella yang harusnya Om jaga!"
Jeremy terdiam. Kata Stella yang keluar dari mulut Cahaya seperti tamparan fisik yang membuatnya limbung.
"Mulai sekarang, jangan harap saya mau bicara satu kata pun pada Om," ucap Cahaya. Ia menggendong Elio yang masih menangis tersedu-sedu di bahunya. "Dan jangan harap juga Lio akan memanggil Daddy lagi hari ini. Om tidak pantas dipanggil begitu."
Cahaya berbalik, berjalan pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah kaki yang menghentak keras.
Jeremy berdiri seperti orang bodoh di samping meja yang berantakan. Ia menunduk, menatap kertas gambar yang tadi jatuh ke lantai.
Di sana, di antara noda kopi yang mulai mengering, ia melihat goresan tangan Elio yang menggambarkan sosok dirinya sedang tersenyum.
Ruangan itu terasa begitu kosong. Jeremy mencoba meraih tabletnya kembali, namun tangannya bergetar. Ucapan Cahaya, bahwa ia adalah pria yang tidak punya hati, terngiang-ngiang seperti kutukan.
Entah kenapa, Jeremy merasa bahwa kekalahan telak dalam saham tidak seberapa menyakitkan dibandingkan dengan sunyinya rumah setelah Cahaya memutuskan untuk tidak lagi menganggapnya ada.
"Brengsek!!!"
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭