"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Mereka tiba di gedung perusahaan. Mobil Dexter terparkir di tempat parkir khusus, jadi tidak bercampur dengan kendaraan para pekerjanya.
"Kok mobilku di sini?" tanya Kiandra. Karena sebelumnya mobil Kiandra terparkir di tempat parkir para karyawan.
"Aku yang minta mereka memindahkannya," jawab Dexter. "Jangan takut, aku bakal umumin hubungan kita," sambung Dexter.
"Sebaiknya jangan sekarang," cegah Kiandra. Dexter mengerutkan keningnya.
Kiandra hanya mengatakan, dia tidak ingin dipublikasikan terlebih dahulu tentang pernikahan dadakan mereka.
Dexter pun mengerti, akhirnya Dexter berpendapat, mereka baru akan mempublikasikan pernikahan mereka, nanti di saat resepsi pernikahan mereka.
"Aku masuk duluan," kata Kiandra. Dexter pun mengangguk, tapi sebelum itu, Dexter mengecup kening dan bibir Kiandra dengan lembut.
Dexter menghubungi Viora, tidak perlu menunggu lama, telepon pun terhubung dan langsung diangkat.
"Assalamualaikum. Ada apa Dexter?"
"Waalaikumsalam Oma. Oma ada di mana sekarang?"
"Masih di rumah, katakan saja jika ada perlu."
Dexter pun mengatakan keinginannya agar gaun pengantin dipercepat. Karena sebelumnya Viora sudah menjanjikan akan membuat pakaian pengantin untuk mereka.
"Kamu tenang saja. By the way, kenapa mendadak sekali? Sudah kebelet ya?"
"Sudah ya Oma, aku sudah mau masuk ke kantor. Assalamualaikum."
Panggilan telepon pun ditutup secara sepihak. Viora belum sempat menjawab salam, Dexter sudah buru-buru menutup teleponnya.
"Selamat pagi Tuan," sapa para karyawan dan karyawati secara bersamaan ketika Dexter melewati mereka.
"Hmm." Hanya itu yang terdengar oleh mereka. Mereka sudah biasa dengan sikap dingin tuannya.
Itu sebabnya mereka heran, tuannya bersikap hangat dan perhatian kepada pekerja cleaning service baru.
Dexter langsung masuk ke dalam lift, belum sempat pintu lift tertutup, James dengan terburu-buru masuk.
"Kamu terlambat," kata Dexter.
"Maaf Tuan, lain kali tidak akan terulang lagi," ucap James.
"Hmm."
Lift terus naik, hingga mereka tiba di lantai yang di tuju. Baru saja Dexter keluar dari dalam lift, ponselnya pun berdering.
Dexter mencoba mengabaikan, namun setelah beberapa kali berbunyi, akhirnya Dexter pun menjawabnya.
"Halo."
"Halo Tuan, saya ingin mengundang Anda untuk makan malam, malam ini."
"Maaf, aku tidak bisa."
Dexter langsung menutup teleponnya setelah mengatakan itu. Kemudian dia masuk ke dalam ruangannya.
"Ada-ada saja, baru saja kemarin mereka ingin menjebak ku, sekarang masih belum kapok juga ternyata," gumam Dexter.
Ya, yang menelepon adalah Basuki Wijaya. Dia ingin meminta Dexter mengembalikan perusahaannya seperti semula.
Tentu saja Dexter tidak mau, karena Dexter yakin, sebentar lagi Basuki Wijaya akan menjual perusahaannya.
Dan saat itulah Dexter akan membelinya dengan harga murah. Kemudian akan menyerahkannya kembali kepada Kiandra.
Kiandra tidak bisa mengambilnya secara langsung, karena kepemilikan sudah berpindah kepada Basuki.
Jadi Dexter hanya menggunakan dengan cara seperti itu, walaupun rugi sedikit, tapi bagi Dexter tidak masalah.
"Mereka pikir aku mudah dijebak. Aku tidak sebodoh itu," gumam Dexter.
Kemudian Dexter pun melanjutkan pekerjaannya. Karena kemarin dia pulang lebih awal, jadi pekerjaannya pun tertunda.
Sementara di lantai bawah, Kiandra yang baru mulai bekerja pun dihampiri oleh Sela. Dua rekan Kiandra yang hendak menjauh melihat kedatangan Sela pun dicegah oleh Kiandra.
Kiandra meminta mereka untuk tidak takut. Walaupun Sela bisa karate, tapi Kiandra meminta mereka untuk melawan, walau cuma dengan kata-kata.
"Mau apa kau?" tanya Kiandra dengan nada dingin tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
Kiandra tetap fokus mengepel lantai. Tanpa menghiraukan kehadiran Sela. Karena menurutnya itu tidak penting.
"Apa hubungan mu dengan tuan Dexter? Kenapa dia sampai segitunya membela mu?" tanya Sela balik.
"Tanyakan saja pada tuan Dexter. Bukannya kamu calon istrinya?"
"Iya, bahkan kamu sering mengancam kami untuk memecat kami," timpal rekan kerja Kiandra.
Mereka memang tidak menyukai Sela karena sombong. Namun, setelah kejadian kemarin, karena ada yang berani mengalahkan Sela, mereka jadi mendekati Kiandra.
Kiandra tidak masalah, mungkin mereka butuh perlindungan. Karena mereka sudah pasti akan kalah, jika melawan Sela.
"Eh Sela, apa kamu tidak punya pekerjaan? Baru jadi cleaning service saja sudah belagu," ujar rekan Kiandra yang lain.
"Kamu juga cleaning service," kata Sela.
"Kami cleaning service, tapi masih tahu diri," sahut yang lainnya.
Sekarang mereka semakin berani kepada Sela. Jika dulu, mereka memilih diam dan tidak berani melawan.
Kali ini, mereka akan kompak sekiranya Sela berbuat macam-macam. Beberapa orang yang bekerja sebagai cleaning service pun maju.
Mereka membawa peralatan kerja yang mereka gunakan. Sela kali ini memilih mundur, jika dia membuat masalah lagi di kantor, dia akan dipecat langsung.
"Awas saja kalian. Tunggu pembalasanku!" Sela pun segera pergi ke tempat lain. Tidak ada yang mau dekat-dekat lagi dengannya.
"Kia, di mana kamu belajar seni bela diri?" tanya salah satu rekan kerjanya.
"Kalian mau belajar? Nanti aku kenalkan pada seseorang. Tapi kalian punya waktu, tidak?" tanya Kiandra.
Mereka saling pandang. Mereka setiap hari kerja. Hari Minggu baru bisa libur. Mereka bukan orang dari golongan atas, hidup mereka bergantung pada gaji yang mereka terima.
"Begini saja, kalian seminggu sekali berkumpul di suatu tempat, nanti aku akan meminta orang itu untuk datang ke kalian. Bagaimana?" tanya Kiandra lagi.
"Bayarannya?" tanya salah satu dari mereka.
"Mmm, untuk kalian gratis deh. Asal kalian mau belajar dengan sungguh-sungguh," jawab Kiandra.
Mereka kembali saling pandang. Mereka tersenyum senang. Kemudian secara bersamaan memeluk Kiandra dan mengucapkan terima kasih.
Di sebuah ruangan di lantai atas, Dexter tersenyum mengamati Kiandra. Semua gerak-gerik Kiandra terpantau olehnya.
Dexter mengambil ponsel yang satunya. Kemudian menghubungi Kiandra. Mendengar ponsel Kiandra berdering di saku bajunya.
Mereka pun segera meleraikan pelukannya. Kiandra melihat nama pemanggil suami tersayang.
Kiandra tersenyum, dia juga tidak tahu kalau nama kontak di ponselnya sudah diganti oleh Dexter.
"Huh, kapan dia mengganti nama kontaknya di hp ku?" batin Kiandra.
Kiandra sedikit menjauh untuk menjawab panggilan telepon. Sementara rekan-rekannya melanjutkan pekerjaannya dan berpencar.
"Halo sayang, sibuk ya? Kok lama baru diangkat?"
"Kenapa nelpon jam kerja? Nanti apa kata mereka?"
"Kamu istrinya bos, sayang. Tidak ada yang berani. Oh iya, nanti makan siang jangan ke kantin ya, aku ingin ajak kamu makan di luar."
"Iya, sudah ya, aku mau kerja. Nanti dimarahin bos."
Dexter tertawa, namun ketika hendak berbicara lagi, panggilan telepon sudah duluan terputus.
Dexter hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Sementara Kiandra menyimpan kembali ponselnya di saku bajunya.
Kiandra teringat, jika dia harus segera menghubungi seseorang. Kiandra pun mengambil ponselnya lalu menghubungi asistennya.
Ya, Kiandra menghubungi Louis dan memintanya untuk mengirim seseorang untuk mengajari rekan kerjanya seni bela diri.