Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Harga dari Pilihan”
Keputusan Benny menjadi headline kecil.
Tidak meledak.
Tidak sensasional.
Tapi cukup untuk membuat dunia bisnis bertanya-tanya.
Cessa membaca berita itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Seolah berharap kalimatnya berubah.
Benny Dirgantara Lepas Kendali Operasional Perusahaan untuk Fokus pada Keluarga.
Ia meletakkan ponsel perlahan.
Tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena beratnya makna di balik keputusan itu.
Ini bukan kata-kata.
Bukan janji.
Ini pengorbanan.
Dan itu membuat Cessa justru… takut.
Takut jika semua ini terlalu mahal.
Takut jika suatu hari Benny menyesal—dan menudingnya sebagai alasan.
Nenek memperhatikan dari kejauhan. “Kamu tidak terlihat senang.”
Cessa tersenyum tipis. “Aku tidak tahu harus merasa apa.”
“Itu wajar,” jawab nenek lembut. “Saat seseorang memilihmu sepenuhnya, yang muncul bukan hanya bahagia. Tapi juga tanggung jawab.”
Cessa menunduk. “Aku tidak pernah minta ini.”
“Dan dia tidak menuduhmu,” balas nenek. “Itu bedanya.”
Cessa menghela napas panjang.
Ia mengambil ponsel dan mengetik.
Cessa:
Aku sudah baca beritanya.
Balasan datang hampir seketika.
Ben:
Aku tahu.
Aku nggak minta kamu merasa berutang.
Cessa menutup mata.
Cessa:
Kamu yakin dengan pilihanmu?
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Ben:
Untuk pertama kalinya… iya.
Kalimat itu membuat dada Cessa berdesir.
Sore itu, Benny datang ke rumah nenek lagi.
Tidak membawa bunga.
Tidak membawa hadiah.
Hanya membawa dirinya—dan waktu.
Mereka duduk di teras. Tidak ada topik besar di awal. Hanya teh hangat dan angin sore.
“Aku nggak mau kamu pulang karena merasa harus,” ucap Benny akhirnya.
Cessa menoleh. “Aku tahu.”
“Aku juga nggak mau kamu merasa aku mengorbankan segalanya untukmu,” lanjut Benny. “Aku memilih ini untuk diriku sendiri.”
“Kenapa?” tanya Cessa pelan.
Benny menatap halaman, lalu kembali ke Cessa. “Karena selama ini aku bersembunyi di balik kerja. Di balik kontrol. Di balik jarak.”
Ia menarik napas. “Dan aku lelah hidup setengah-setengah.”
Cessa menelan ludah. “Bagaimana kalau suatu hari kamu merasa aku mengambil terlalu banyak?”
Benny menggeleng. “Kalau itu terjadi, berarti aku kembali jadi versi lama. Dan aku nggak mau kembali ke sana.”
Kejujuran itu membuat Cessa terdiam lama.
“Aku belum bisa pulang,” katanya akhirnya.
Benny mengangguk. Tidak kecewa. “Aku tahu.”
“Tapi aku mau mencoba sesuatu,” lanjut Cessa.
Benny menatapnya penuh perhatian. “Apa?”
“Aku mau kita kencan,” ucap Cessa. “Bukan sebagai suami-istri. Tapi sebagai dua orang yang saling memilih—tanpa tekanan.”
Benny terkejut. Lalu tersenyum kecil. “Aku mau.”
“Pelan,” tambah Cessa. “Dan jujur.”
“Selalu,” jawab Benny.
Malam itu, Diana duduk di ruang tamunya yang sunyi, menatap laporan di layar laptop. Wajahnya datar. Tapi matanya tajam.
“Dia melepas kendali,” gumamnya. “Itu langkah nekat.”
Ponselnya berdering.
“Ya?” jawab Diana.
Suara di seberang terdengar hati-hati. “Rencana kita lanjut?”
Diana tersenyum tipis. “Tentu. Tapi sekarang bukan waktunya menyerang.”
“Lalu?”
“Kita tunggu,” jawab Diana. “Orang yang baru belajar jujur biasanya paling rapuh saat diuji.”
Telepon terputus.
Diana menatap layar ponselnya, lalu membuka galeri. Sebuah foto lama muncul—Benny, tertawa bebas, jauh sebelum semua ini.
“Kalau kamu jatuh,” bisiknya pelan, “jatuhlah karena pilihanmu sendiri.”
Hari kencan itu tiba.
Sederhana.
Tidak mewah.
Tidak ada sorotan.
Cessa mengenakan gaun kasual. Rambut diikat setengah. Wajah polos. Benny menjemput dengan mobil lama—bukan mobil dinas.
“Kamu siap?” tanya Benny.
Cessa tersenyum. “Kamu gugup.”
“Sedikit,” aku Benny jujur.
Mereka tertawa kecil.
Makan di restoran kecil. Berjalan kaki. Berbagi cerita ringan. Tentang masa kecil. Tentang mimpi yang tidak pernah diceritakan.
“Aku dulu ingin jadi atlet,” kata Cessa sambil tertawa.
“Aku ingin hidup tanpa siapa pun,” jawab Benny. “Lucu ya.”
Cessa menatapnya. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku ingin pulang ke satu tempat,” ucap Benny pelan.
Cessa menahan napas.
Malam hampir berakhir ketika mereka berhenti di taman kecil.
“Cessa,” panggil Benny.
“Iya?”
“Aku tidak akan meminta kamu kembali hari ini,” kata Benny. “Aku hanya mau kamu tahu… aku di sini. Sepenuhnya.”
Cessa menatapnya lama. Lampu taman memantul di matanya.
“Aku tahu,” ucapnya pelan. “Dan itu cukup—untuk sekarang.”
Mereka berdiri berhadapan. Jarak tipis. Tidak ada ciuman. Tidak ada sentuhan. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih kuat.
Pilihan.
Namun saat Cessa pulang ke rumah nenek, ponselnya bergetar.
Pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
Ia membuka—dan napasnya tertahan.
Sebuah foto.
Benny.
Di kantor.
Dengan seorang wanita lain.
Sudutnya sengaja diambil agar terlihat intim.
Pesan menyertainya singkat.
Apakah kamu yakin dia tidak kembali ke pola lama?
Cessa menatap layar lama.
Kali ini… ia tidak langsung goyah.
Ia mengunci ponsel.
Menarik napas.
Dan berkata pada dirinya sendiri:
Kali ini, aku akan mencari kebenaran. Bukan kabur.
Cessa memilih bertahan dan mencari kebenaran.
Namun ujian berikutnya akan memaksanya memilih—
percaya pada perubahan, atau melindungi dirinya sendiri.