Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 (seventeen)
Monitor-monitor tua di ruangan Si Buta berkedip liar. Barisan data terenkripsi mengalir seperti air terjun digital. Di sudut layar, sebuah angka digital berwarna merah menyala mulai menghitung mundur:
09:59...
09:58...
"Cepat, Pak Tua!" desak Teguh, matanya terus melirik ke layar CCTV yang dipasang di gang luar.
Si Buta tidak menjawab. Jemarinya yang kurus bergerak di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi orang yang tidak bisa melihat. "Sangkala tidak menggunakan server biasa. Mereka menggunakan sistem saraf digital. Setiap bit data yang aku tarik, mereka merasakannya seperti cubitan di kulit mereka."
Tiba-tiba, sebuah foto muncul di layar utama. Itu adalah foto sebuah bunker rahasia di bawah Monumen Nasional atau sebuah gedung pemerintahan di Jakarta. Di bawahnya tertera daftar nama Dewan Tujuh.
Ratna mendekat, matanya membelalak saat membaca nama ketiga.
"Tidak mungkin..." bisik Ratna. "Jenderal Arman? Dia ada di daftar ini?"
"Apa?!" Teguh tersentak. "Tapi Ibu bilang dia satu-satunya orang yang bisa kita percayai!"
"Itulah cara kerja Sangkala, Detektif," ujar Si Buta dengan suara parau. "Mereka tidak hanya membeli musuh, mereka menciptakan pahlawan palsu agar para pemberontak seperti kalian lari ke pelukan mereka sendiri."
[07:15...]
Di layar CCTV, tiga mobil van hitam tanpa plat nomor berhenti di ujung gang. Sekelompok pria berseragam taktis lengkap dengan helm ballistic dan senapan serbu keluar dengan gerakan yang sangat disiplin. Mereka bukan polisi biasa; mereka adalah unit elit 'Black Cobra', pasukan pribadi milik Dewan Tujuh.
"Teguh, siapkan barikade di pintu depan! Gunakan tabung oksigen dan kabel tembaga di pojok itu!" perintah Ratna, otaknya kembali ke mode tempur jenderal.
"Satu menit lagi!" teriak Si Buta. "Data 'Project Hydra' sedang diunggah ke cloud pribadi Hendra. Sembilan puluh persen..."
[04:30...]
BUM!
Pintu besi di depan diledakkan dengan breaching charge. Asap putih memenuhi lorong masuk. Teguh melepaskan tembakan balasan, namun para penyerbu menggunakan perisai balistik yang sangat kuat.
"Ratna! Ambil harddisk ini!" Si Buta mencabut sebuah perangkat kecil dari konsolnya dan melemparkannya ke arah Ratna. "Jangan lewat depan! Di bawah meja ini ada lubang menuju sistem drainase tua peninggalan Belanda. Itu tembus ke kanal Kota Lama!"
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Ratna.
Si Buta tersenyum tipis, memperlihatkan sebuah remot kecil di tangannya. "Aku sudah terlalu tua untuk merangkak di selokan. Lagipula, aku sudah menyiapkan 'pembersihan' untuk tamu-tamu kita. Pergilah!"
[01:20...]
Ratna menarik paksa Teguh yang masih mencoba menahan musuh. Mereka melompat ke dalam lubang gelap di bawah meja tepat saat pasukan Black Cobra mendobrak masuk ke ruang utama.
"Tembak! Jangan biarkan mereka lolos!" teriak komandan pasukan di atas.
Ratna dan Teguh mendarat di air limbah yang dingin dan berbau karat. Di atas mereka, terdengar suara tembakan bertubi-tubi, disusul oleh suara tenang Si Buta.
"Selamat datang di akhir masa pensiunku, anak-anak muda."
KABOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh lorong bawah tanah. Si Buta telah memasang peledak di seluruh servernya, menghancurkan dirinya sendiri bersama data fisik dan pasukan elit yang mengepungnya.
Getarannya membuat langit-langit selokan runtuh, menutup jalan kembali ke atas.
(Beberapa Saat Kemudian: Di Dalam Selokan Belanda)
Ratna dan Teguh merangkak dalam kegelapan total, hanya dibantu oleh cahaya senter kecil dari ponsel. Napas mereka memburu. Kematian Si Buta meninggalkan lubang di hati Ratna; pria itu mengorbankan nyawanya demi data yang kini ada di saku Ratna.
"Bu... Jenderal Arman," suara Teguh bergetar, bukan karena dingin, tapi karena rasa dikhianati. "Kalau dia bagian dari Dewan Tujuh, berarti seluruh kepolisian sudah dalam genggaman mereka. Kita tidak punya tempat untuk pergi."
Ratna berhenti melangkah, menyandarkan tubuhnya yang kotor ke dinding bata kuno. Ia mengeluarkan harddisk itu. "Masih ada satu nama yang tidak ada di daftar itu, Teguh. Tapi dia bukan di kepolisian. Dia ada di Lembaga Sandi Negara."
"Siapa?"
"Ibuku," jawab Ratna pelan. "Mantan kepala divisi enkripsi yang mereka bilang 'meninggal karena kecelakaan' sepuluh tahun lalu. Data dari Si Buta tadi menunjukkan koordinat sebuah panti jompo di pinggiran Bogor. Ibuku masih hidup, Teguh. Dia disembunyikan di sana bukan untuk dilindungi, tapi karena dia adalah satu-satunya orang yang memegang kunci enkripsi terakhir untuk menghentikan Project Hydra."
Teguh terdiam. Skandal ini ternyata jauh lebih pribadi bagi Ratna daripada yang ia bayangkan.
"Kita tidak akan ke Jakarta," tegas Ratna, matanya berkilat di tengah kegelapan. "Kita ke Bogor. Kita akan menjemput kunci yang sebenarnya."