Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 08: Membakar identitas pemilik toko
Elena memberikan instruksi agar kakaknya mendekat, lalu dengan rasa ingin tahu yang besar, ia meraih tangan kanan Reggiano, tangan yang kemarin terluka. Ia membawa tangan itu mendekat ke wajahnya dan menghirup aromanya secara langsung.
"Di sini," ucap Elena yakin. "Baunya berasal dari tangan Kakak. Sangat kuat... dan sangat menenangkan. Kakak memakai apa?"
Reggiano berusaha menarik tangannya dengan santai agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Hanya... krim pelembap yang direkomendasikan teman di kantor. Katanya bagus untuk kulit kering akibat terlalu lama di ruang ber-AC."
Elena menyipitkan mata, sebuah kebiasaan yang ia tiru dari kakaknya saat sedang merasa curiga. "Pelembap kantor tidak akan berbau seperti mawar dan buah plum manis, Kak. Dan... tunggu." Elena mengamati punggung tangan Reggiano lebih dekat.
"Bukannya kemarin tangan Kakak luka? Aku ingat melihat Kakak menyembunyikan tangan yang merah saat pulang sore tadi."
Reggiano terpaku sejenak. Ia meremehkan ketelitian adiknya. "Hanya luka gores ringan, Elena. Sudah sembuh."
"Sembuh? Tanpa bekas sama sekali?" Elena mengusap kulit tangan kakaknya yang mulus.
"Kulit ini bahkan terlihat lebih sehat daripada kulitku. Kakak bohong ya? Ini pasti dari Nona Seraphine, kan?"
Reggiano menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa membohongi Elena jika sudah menyangkut Seraphine.
"Iya. Dia memberikan sedikit obat herbal untuk goresan itu."
Wajah Elena langsung berubah ceria, seolah-olah mendengar nama Seraphine adalah obat untuk segala rasa takutnya.
"Aku sudah tahu! Nona Seraphine itu bukan orang biasa, Kak. Dia seperti peri di tengah kota yang kusam ini. Apapun yang dia sentuh pasti menjadi hidup."
Elena kembali menghirup aroma yang tertinggal di ruangan itu.
"Kak, sejak bau ini muncul, dadaku tidak terasa sesak lagi. Biasanya pagi-pagi aku harus memakai inhaler, tapi hari ini... rasanya paru-paruku sangat lapang."
Reggiano menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di satu sisi, ia lega karena "obat" dari Seraphine memberikan dampak positif bagi kesehatan Elena yang rapuh. Namun di sisi lain, ia mulai merasa takut. Jika aroma ini begitu kuat hingga Elena bisa merasakannya, maka agen-agen Organisasi dengan indra penciuman terlatih juga akan merasakannya.
Reggiano menyadari bahwa meskipun ia telah mengancam Vauclain, ia tidak bisa menyembunyikan "keajaiban" ini selamanya jika ia terus membawa bagian dari Seraphine ke dalam rumahnya.
"Elena," ucap Reggiano serius. "Jangan bicarakan aroma ini atau obat dari Nona Seraphine kepada siapa pun yang datang ke sini. Mengerti?"
Elena melihat keseriusan di mata kakaknya dan mengangguk pelan. "Aku mengerti, Kak. Ini rahasia kita... dan Nona Seraphine."
Reggiano kembali menatap punggung tangannya. Ia menyadari satu hal yang lebih mendalam tentang Seraphine tidak hanya menyembuhkan luka fisiknya, dia mulai mengubah suasana di dalam rumahnya, sebuah wilayah yang selama ini ia jaga agar tetap dingin dari emosi dan kehangatan.
Suasana di apartemen Reggiano masih diselimuti oleh aroma manis yang dibawa dari toko Seraphine. Namun, ketenangan itu terusik ketika Reggiano menemukan sebuah amplop hitam tebal terselip di bawah pintu depan. Amplop itu tidak memiliki stempel pos, hanya ada segel lilin merah dengan simbol timbangan yang patah, tanda pengenal pribadi dari Vauclain.
Reggiano membawa amplop itu ke ruang kerjanya. Ia membukanya dengan pisau lipat, gerakannya presisi dan waspada. Di dalamnya terdapat sebuah map cokelat tua bertanda CLASSIFIED: EYES ONLY.
Isinya bukan sekadar ancaman, melainkan sesuatu yang jauh lebih mengganggu.
Hasil Penyelidikan: Subjek S.F.
Reggiano mulai membaca lembar demi lembar dokumen tersebut. Vauclain tampaknya tidak main-main dengan perintah mundurnya; ia mundur secara fisik, namun ia meninggalkan sebuah "bom" informasi di atas meja Reggiano.
Dokumen pertama adalah hasil pemindaian biometrik nasional. Reggiano mengernyit. Di sana tertera nama Seraphine Florence, namun kolom nomor identitas kependudukan, catatan rumah sakit, hingga sidik jari yang tersimpan di sistem negara semuanya ditandai dengan kode NULL.
Ia membalik halaman berikutnya. Ada foto usang dari lokasi toko Flower’s Patisserie yang diambil selama lima puluh tahun terakhir. Reggiano merasakan darahnya mendingin. Toko itu sudah ada di sana sejak setengah abad lalu, bentuk bangunannya tidak berubah sedikit pun. Namun, yang mengerikan adalah foto-foto "pemilik" sebelumnya.
Meskipun kualitas foto hitam putih itu kasar, sosok wanita yang berdiri di depan toko pada tahun 1976 memiliki wajah, postur, dan senyum yang identik dengan Seraphine yang ia temui kemarin.
Catatan Vauclain di pinggir kertas:
"Reggiano, kau bilang dia manusia biasa. Tapi manusia lahir, menua, dan memiliki jejak kematian. Subjek ini tidak memiliki catatan kelahiran di belahan dunia mana pun. Dia tidak pernah masuk sekolah, tidak pernah divaksinasi, dan tidak pernah melakukan transaksi perbankan atas namanya sendiri. Dia tidak 'lahir' ke dunia ini, dia hanya 'ada'. Apa kau yakin belati mu bisa melindungi sesuatu yang bahkan konyol untuk dipertahankan?"
Reggiano melempar dokumen itu ke atas meja. Napasnya sedikit memburu. Ia teringat percakapannya dengan Seraphine saat ia bertanya tentang Antonio dan Cecilia. Seraphine berkata bahwa ia tidak mengenal mereka dan bahwa dunia Reggiano membutuhkan "label" untuk merasa tenang.
Sekarang ia mengerti apa maksud kata-kata itu.
Seraphine benar-benar tidak memiliki asal-usul. Dia seolah muncul begitu saja dari tanah, sama seperti tanaman-tanaman ajaibnya. Nama Antonio dan Cecilia Florence yang ditemukan Vince sebelumnya kemungkinan besar hanyalah identitas palsu yang "diciptakan" oleh toko itu sendiri untuk menipu sistem birokrasi manusia.
Tiba-tiba, Elena mengetuk pintu ruang kerja.
"Kak? Ada kiriman lagi?"
Reggiano segera menutup map itu.
"Bukan apa-apa, Elena. Hanya berkas kantor yang membosankan."
"Tapi Kak," Elena melongokkan kepalanya, matanya tampak sedikit cemas. "Tadi aku melihat ke jendela... ada burung-burung gagak besar yang hinggap di balkon kita. Mereka hanya diam, seperti sedang mendengarkan sesuatu di dalam rumah kita."
Reggiano berdiri dan berjalan menuju jendela balkon.
Benar saja, tiga ekor gagak dengan mata hitam yang cerdas sedang bertengger di pagar besi. Mereka tidak terbang saat Reggiano mendekat. Mereka justru menatap Reggiano, lalu salah satunya menjatuhkan sehelai bulu hitam sebelum akhirnya mereka terbang bersamaan ke arah Timur, ke arah toko Seraphine.
Reggiano mencengkeram dokumen dari Vauclain di tangannya. Ia menyadari bahwa ancamannya kepada Organisasi pagi tadi mungkin telah menghentikan serangan fisik mereka, namun itu justru memicu rasa penasaran mereka yang paling berbahaya.
Vauclain tidak ingin membunuh Seraphine, dia ingin tahu apa sebenarnya Seraphine itu. Dan sekarang, Reggiano pun mulai merasakan rasa haus yang sama akan kebenaran.
Reggiano menatap map cokelat itu untuk terakhir kalinya. Kata-kata Vauclain yang provokatif dan foto-foto hitam-putih yang mustahil itu seolah mencoba meracuni persepsinya. Organisasi ingin dia ragu. Mereka ingin dia melihat Seraphine sebagai "beban" yang harus dieksekusi bukan sebagai manusia yang telah memberinya kedamaian.
Dengan gerakan mantap, Reggiano mengambil pemantik gas dari laci mejanya dan merobek kertas tersebut.
Srekk....
Api biru kecil menyambar ujung kertas. Dalam hitungan detik, dokumen-dokumen yang menunjukkan ketiadaan identitas Seraphine mulai dilahap api. Reggiano membiarkan kertas-kertas itu terbakar di dalam wadah, matanya yang biru keperakan memantulkan cahaya jingga yang menari.
Ia tidak butuh untuk tahu siapa Seraphine. Ia tidak butuh catatan kelahiran untuk merasakan kehangatan jemari wanita itu saat mengobati lukanya. Baginya, kenyataan yang tertulis di atas kertas hanyalah sampah jika dibandingkan dengan napas lega Elena pagi ini.
"Kau salah, Vauclain," bisik Reggiano saat abu hitam terakhir jatuh ke dasar wadah.
"Dunia ini tidak hanya tentang apa yang tercatat. Tapi tentang apa yang dirasakan."
Ia memutuskan untuk mengunci rapat-rapat informasi tersebut. Jika Seraphine memang telah ada di sana selama lima puluh tahun tanpa menua, jika dia memang tidak memiliki orang tua, maka itu adalah rahasianya untuk dijaga. Reggiano adalah seorang Eksekutor, dia sudah terlalu sering melihat sisi buruk manusia yang memiliki identitas lengkap. Baginya, seseorang tanpa asal-usul justru terasa lebih murni.
Malam itu, hujan turun dengan deras, menyapu debu kota dan menyamarkan jejak-jejak kegelisahan. Reggiano berdiri di balkonnya, membiarkan beberapa tetes air mengenai wajahnya. Aroma segar dari salep itu masih samar-samar tercium, bercampur dengan bau tanah yang basah.
Keesokan sorenya, ia kembali mendatangi Flower’s Patisserie. Ia datang dengan pikiran yang lebih jernih, tanpa niat untuk menginterogasi atau mencari tahu. Ia hanya ingin berada di sana.
Ting.
Toko itu tampak sedikit remang karena cuaca mendung di luar. Seraphine sedang berdiri di dekat jendela, melihat rintik hujan yang jatuh di daun-daun tanaman hiasnya. Ia menoleh saat Reggiano masuk, dan untuk pertama kalinya, Reggiano tidak melihatnya sebagai "subjek penelitian", melainkan sebagai sosok yang memberikan warna di hidupnya yang abu-abu.
"Anda terlihat lebih tenang hari ini, Tuan Herbert," ucap Seraphine. Ia tidak bergerak dari jendela, seolah-olah ia sedang menyerap energi dari hujan.
"Hanya perasaan anda saja, Nona Florence," jawab Reggiano sambil berjalan mendekat. Ia berdiri di samping Seraphine, ikut menatap hujan.
"Kadang-kadang, mengabaikan banyak hal membuat hidup terasa lebih ringan."
Seraphine tersenyum kecil, sebuah senyum yang tampak sangat tua namun sangat muda di saat yang bersamaan.
"Mengabaikan adalah cara terbaik untuk melihat apa yang benar-benar penting. Banyak orang terlalu sibuk membaca label hingga lupa mencicipi buahnya."
Reggiano melirik tangannya yang sudah sembuh total.
"Saya sudah mencicipi buahnya, dan itu jauh lebih baik daripada label apa pun yang pernah saya baca."
Seraphine menatapnya dengan penuh arti, seolah ia tahu bahwa Reggiano baru saja memusnahkan sesuatu yang mencoba memisahkan mereka.
"Kalau begitu, apakah anda ingin mencoba biskuit baru saya? Saya menamainya 'Kenangan yang Hilang'."
Reggiano mengangguk.
"Terdengar cocok untuk sore ini."
Saat Seraphine berjalan menuju dapur, Reggiano menyadari bahwa meskipun ia telah membakar dokumen Vauclain, tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia telah memilih untuk berpihak pada sebuah "misteri" daripada "kenyataan" organisasinya sendiri, dan di dunia mereka, pilihan seperti itu biasanya memiliki harga yang sangat mahal.